Ji Hye tersenyum kecil sembari menatap Kibum yang bahkan belum mengeluarkan senyumannya sejak pertemuan mereka beberapa menit yang lalu. Gadis berambut pendek itu menarik nafasnya pelan dan terkesan berat, berusaha menahan gejolak hatinya yang ingin menghambur di dalam pelukan pria itu.

Semacam rudal, jantungnya berdetak kencang, membuat seluruh perasaannya tumpah ruah. Kacau. Ia kembali berpikir, apakah pilihan yang dipikirkannya sejak beberapa hari yang lalu sudah benar?

“Kenapa tiba-tiba?” Suara Kibum tercekat, matanya masih menatap Ji Hye dengan tajam

“Karena…”

“Aku menyayangimu Ji-ah… bukankah kau sudah berjanji padaku? Kau berjanji untuk tidak meninggalkanku, tapi sekarang?” Tanya Kibum menahan suara bentakannya, ia tidak ingin memarahi gadis itu, tapi ia juga merasa kesal dengan apa yang harus dihadapinya kini.

M…Mianhae.” sahut Ji Hye pelan, menahan bulir air mata di kelopak matanya. Ia tak boleh menangis! Ya, ia memang tak boleh menangis.

Kibum terdiam, ia memang harus mendengar penjelasan Ji Hye dan tak bisa membentak gadis itu seenaknya. Tangannya lalu bergerak, menelusupi jemari Ji Hye yang bergetar. “Ayo duduk, aku ingin mendengar penjelasannya.”

Ji Hye kembali menarik nafasnya, matanya yang berkaca-kaca menatap punggung Kibum dari belakang, kemudian beralih menatap jemari mereka yang bertautan erat. Mengapa sakit sekali? Pikir Ji Hye.

Tiba-tiba Kibum membalikkan badannya lalu memegang pundak Ji Hye, mendudukkan gadis itu ke sebuah kursi di taman bermain.
Gadis itu tersadar, merutuki waktu yang begitu cepat. Ia belum puas menatap punggung itu, punggung yang akan dirindukannya entah sampai kapan.

Kepalanya lalu mengadah ke atas langit, menatap bulan yang bersinar terang di sana. Namun sayang, hatinya kini tak seterang bulan, tak juga secerah langit malam Seoul hari ini.

“Aku menyayangimu oppa, tapi… pilihanku ini lebih penting,” ucap Ji Hye setelah jeda yang cukup lama. Hati Ji Hye terasa sakit ketika kata-kata laknat itu keluar dari mulutnya sendiri, ia juga merasakan tautan jemarinya yang diremas Kibum.

Mian… Aku harus fokus mengejar mimpiku, aku harus menghabiskan waktuku untuk berpergian jauh oppa, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku pasti tak memiliki waktu yang banyak bersamamu, dan aku tak bisa melakukannya.” Jelas Ji Hye sesekali menarik nafasnya.

Kibum menganggukkan kepalanya pelan, bola matanya bergerak menatap langit, menahan rasa sakit yang menjelajar di hatinya. Nafasnya lalu terhembus pelan, ia melapas tautan jemari mereka lalu menatap Ji Hye intens.

Take care…”

Dada Ji Hye seperti diserang ratusan panah, kalimat singkat itu terlalu menyakitkan hatinya. Ji Hye tahu, pria itu juga pasti merasa sakit dengan pilihannya, tapi? Sesingkat itukah?

Tidak-tidak. Memang lebih baik seperti itu, kalimat singkat itu sudah cukup mengikhlaskan hatinya yang kini sedang bersedih. Setidaknya, ia tidak perlu termehek-mehek karena harus mengingat kata-kata Kibum yang melepaskannya.

“Eum… Take care!” Sahut Ji Hye tersenyum kecil, kini panah-panah itu telah menembus hatinya hingga berlubang, sebuah lubang yang sangat besar di relung hatinya.

Keduanya lalu terdiam, menatap satu titik yang sama, titik yang kini bersinar terang di atas mereka. Titik yang seakan sedang tersenyum cerah menatap kepedihan yang dirasakan dua manusia yang mengaguminya itu.

“Aku tahu, kau pasti akan menjadi seorang penjelajah yang sukses Ji-ah.” Sahut Kibum membuat Ji Hye menganggukkan kepalanya berat, rasanya ia ingin mendengar Kibum merengek, memaksanya untuk tidak mengambil pilihan berat ini. Namun, itu tidak boleh terjadi.

“Eo, kau juga harus menjadi seorang dokter yang hebat oppa…” ujar Ji Hye berat. Ia kemudian berdiri, menghalangi sinar bulan di depan Kibum.

“Fokuslah, aku juga fokus… Jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi,” katanya lalu menggerakkan kakinya, menapaki setiap tanah dengan langkah berat.

Hati Ji Hye terlanjur sakit, ia tak sanggup untuk berbicara dengan pria itu. Ia tak sanggup untuk menahan rasa sesal yang menjelajar di dadanya. Kim Kibum, pria itu pasti bisa menjadi lebih baik tanpa dirinya. Ya, Ji Hye yakin itu.

Langkah Ji Hye terhenti, sebuah tangan menariknya ke dalam pelukan yang erat. “Aku mencintaimu Gwek Ji Hye…” suara parau Kibum membuat jantung Ji Hye berdebar kencang, pikirannya menerawang, mengingat memori yang telah dilewatinya sejak setahun terakhir bersama pria itu.

Setahun yang dilewatinya dengan hati yang riang, setahun yang penuh senyuman mengingat pertemuan pertama mereka di sebuah kereta bawah tanah. Pertemuan yang anehnya terasa sangat manis walau saat itu kondisi keduanya tidak begitu baik.

“Aku harap… dengan ini aku bisa membahagiakanmu.” Bisik Kibum tepat di dekat telingnya. Nafas Ji Hye tercekat, air mata yang telah ditahannya mulai mengalir di wajahnya.

Ji Hye menutup matanya, berharap apa yang dirasakannya ini hanyalah sebuah mimpi buruk, mimpi yang ia harap tak pernah menjadi nyata. “Uljima…” bisik Kibum sembari menepuk-nepuk punggungnya lembut.

Tidak. Ji Hye tidak dapat berhenti menangis, ia bahkan tidak berani membalas pelukan pria itu walau hatinya sudah berteriak kencang menyuruhnya untuk memeluk Kibum untuk terakhir kalinya.

“Jangan pernah merindukanku oppa…” ujar Ji Hye sembari melepas dirinya dari pelukan Kibum. Kedua tanganya bergerak menghapus air mata yang masih mengalir dengan deras di wajahnya.

Mata Ji Hye yang kini sembab menatap Kibum khawatir, bola mata pria itu terlihat berkaca-kaca dengan kelopak mata yang sayu.

Cup…

Ji Hye mengecup pipi Kibum singkat lalu tersenyum simpul. “Terima kasih oppa… maafkan aku. Aku menyayangimu.” Ucapnya lalu berjalan meninggalkan Kibum yang mematung.

Bukankah setiap pertemuan itu ada perpisahan? Ji Hye merasakan jantungnya yang bergetar hebat. Ia tidak berbalik, berusaha menahan gejolak hatinya yang ingin melihat sosok yang dicintainya itu.

Seharusnya, ini bisa menjadi perpisahan yang manis. Tapi, semuanya runtuh… Ji Hye maupun Kibum tidak siap, tidak akan pernah siap menerima semuanya.

END

Hello this is Goo. This story based from my real experience… Actually, it must be happy ending but I dunno… the story walking by itself kkk~

Thanks for reading!!

Advertisements