Ji Hye menggembungkan pipinya kesal menatap jam yang bertengger di lengan kirinya. Sudah hampir setengah jam ia menunggu seorang gadis ‘jam karet’ bernama Park Juyeong.

Entah sudah berapa kali ia mendengus, mendecakkan lidah, dan mengetuk-ngetuk kakinya di atas lantai marmer stasiun bawah tanah itu. Di sebelahnya seorang pria sedang tertidur, membuat gadis itu makin geram karena harus mendengar dengkuran jelek pria itu. Tapi bukan itu yang ia kesalkan. Ini soal Park Juyeong! Tetangganya itu benar-benar jam karet!!

Ia lalu mengambil handphone dari saku jaket yang ia kenakan, menekan beberapa tombol lalu menempelkannya pada telinga. “Yoboseoyeo? Eo, tidak perlu menemaniku. Sudah telat.” Ujarnya lalu mematikan sambungan telepon.

Sudah cukup membuatnya menunggu lama, seharusnya ia tahu bahwa gadis itu tidak bisa ia percayai. Yeah, walau gadis itu selalu bersikap manis di depannya, tapi tingkah seenaknya tak bisa ditolerir.

Ji Hye melangkahkan kakinya pelan, sebuah kereta baru saja tiba sebelum menumpahkan beberapa penumpangnya. Setelah keadaan mulai sepi, ia pun memasuki kereta itu dan mengambil tempat di dekat seorang pria berkupluk.

“Uwaaa… motjida!”

Ommona! Jinjja!”

Beberapa pelajar wanita berkicau membuat Ji Hye melirik para pelajar itu penasaran.

Ommo! Dia melihatku!!”

Mata Ji Hye membulat, ia lalu tersenyum pada kawanan pelajar itu. Ia mengerti, tatanan rambutnya yang terkesan sangat pendek membuatnya terlihat seperti seorang pria. Wajahnya, ia tak tahu, tapi orang-orang menyebutnya gadis yang tampan.

OMMO!!” Pekikan para pelajar itu membuat Ji Hye menahan tawa. Ia kemudian bergegas, memilih mencari gerbong yang lebih sunyi.

“Yaak! Ige…. yeoja! Namja aniya!”

Langkah Ji Hye terhenti begitu juga dengan pekikan para pelajar itu. Ji Hye memutar tubuhnya, pria berkupluk itu menatapnya dengan satu alis yang terangkat, seakan ingin menantangnya.

“Ah… geurae geurae.” Sahutnya lalu kembali berjalan memasuki gerbong yang lain. Ia tidak mengerti sikap pria itu, pria yang anehnya ingin mencampuri urusannya, yah bahkan tidak penting.

“Dasar pria aneh…”

“Apa? Aku? Aneh?” Ji Hye membulatkan matanya, pria berkupluk itu sudah berada di sampingnya, terduduk dengan manis seperti hantu yang bisa berpindah tempat dalam sekian detik.

“K…Kau? Ah… lupakan.”

“Aku Kim Kibum,” Tangan pria bernama Kibum itu terjulur di depan Ji Hye. Ji Hye mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kim Kibum? Kau Kim Kibum?”

Kibum mengangguk sembari tersenyum sinis, menarik tangannya yang tak kunjung dibalas gadis itu. “Aku baru tahu kalau kau yang bernama Gwek Ji Hye.”

“Tsk… lalu kenapa?” Tanya Ji Hye cuek, ia menatap Kibum dari ekor matanya. Merasa takjub dengan ketampanan idola kampus yang katanya cukup pintar itu.

Aniya, kau memang manusia setengah pria.”

Mwo?” Ji Hye berbalik, menatap Kibum dengan tajam. “Apa kau bilang?”

“Kau, manusia setengah pria.” Jawab Kibum tanpa belas kasihan, ia balas menatap Ji Hye dengan tajam.

Ji Hye lalu memutar bola matanya lalu tersenyum sinis pada pria itu, “awas saja bila kau menyukaiku manusia es, bahkan kau tidak sedingin yang dibicarakan orang hah… kau pasti tertarik padaku sehingga berani mempermalukanku di depan orang banyak.”

Mata Kibum membulat, dengan cepat ia menguasai dirinya kembali. “Tidak, tidak akan pernah.”

Tubuh Ji Hye maju mendekati Kibum. Senyum sinisnya begitu menakutkan di mata Kibum, senyum yang entah mengapa membuat jantung pria itu berdegup dengan kencang.

“Karma menunggumu oppa!”

END

P.s

Hello! This is Goo… One of Ji Hye memory after the Separated. Karma, do you believe it? :3

Advertisements