“Aku bahkan hanya secuil manusia yang beruntung karena bisa melihatnya begitu dekat. Sugoi!!” pekik Ratna heboh. Ia mematung, memperhatikan seorang pria berkulit putih pucat yang sangat jelas sedang disorot oleh kamera.

“SSTTT!! SHUT UP!!”

Ia membekap mulutnya sendiri, sembari membungkukkan badan, meminta maaf pada seorang Nihon-jin yang dilengannya terkait beberapa baju dan celana. Sudah kesekian kalinya ia diperingatkan oleh Nihon-jin itu agar tidak berteriak atau memekik heboh saat syuting berjalan.

“Kau pasti sudah gila?” bisik Jiru, ia tertawa cekikan dengan pelan agar tidak mengganggu syuting yang tengah berjalan itu.

Ratna mengangguk, ia mendekat ke arah telinga Jiru, “Aku memang sudah gila karena Mr. Kakkoii itu Jiruuu…”

Jiru mendesah, ia kembali ‘menonton’ akting Mr. Kakkoii itu dengan khidmat. Sekali-kali ia juga memekik heboh di dalam hatinya karena bisa melihat seorang aktor Jepang yang terkenal, aktor muda bernama Hongo Kanata itu.

Tidak salah memang, Ratna menggilai aktor Jepang itu. Tubuh Kanata memang tidak setinggi aktor Jepang yang Jiru tahu, tapi setidaknya Kanata mempunyai paras yang Kakkoii atau keren. Jiru jadi merasa bangga, negaranya menjadi tempat syuting aktor itu.

Tangannya bergerak, mengambil sebuah kamera DSLR dari tas bertuliskan canon pada sisi depannya. Dengan tangkas ia memasang lensa normal kamera itu lalu mulai mencari angel yang tepat untuk mendapatkan foto Hongo Kanata dengan jelas.

Syuting aktor Jepang itu tengah break, dengan begitu ia bisa mengambil kesempatan untuk memotret Hongo Kanata dan meng-uploadnya di situs-situs internet miliknya.

‘JEPRET!!’

Senyum Jiru menghiasi setiap sisi wajahnya, ia mendekatkan layar kamera pada Ratna. Ratna menyunggingkan senyuman yang tak kalah lebar dengan senyum Jiru. Ia bahkan cengengesan, memeluk kamera Jiru saking senangnya melihat Hongo Kanata dengan sangat real.

Tangan Jiru menepuk-nepuk bahu Ratna. Tubuhnya tiba-tiba menjadi tegang, tatapannya mengarah ke arah depan. Pupil mata Jiru sukses membulat, ia menjadi gugup karena korban pemotretannya tengah berjalan ke arahnya sembari menatapnya datar.

Beberapa remaja yang juga ikut menonton syuting itu berteriak, memekik dengan heboh. Bahkan tak jarang mereka memanggil Hongo Kanata dengan sebutan Chibi. Kanata memang benar-benar Chibi, ia imut.

Ratna ikut berteriak dengan heboh, “Ia ke sini!! Ia ke arah sini!!” pekiknya membuat Jiru jadi salah tingkah.

Jantung Jiru berdetak lebih cepat dari biasanya, tubuhnya bergetar karena saking gugupnya. Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa Hongo Kanata tengah menatapnya. Ia jadi takut bila tiba-tiba Hongo Kanata memarahinya karena telah berani mengambil fotonya.

Konnichiwa Minna-san!!” teriaknya enerjik. Ia berhenti tak jauh dari Jiru, pandangannya beralih pada setiap remaja –wanita dan pria yang tengah berteriak heboh. Tatapan matanya tidak datar lagi, semburat keceriaan terpampang jelas di wajahnya.

Konnichiwaaa!!!” pekik remaja-remaja itu. Sedangkan Jiru hanya bisa bergumam kecil, beberapa kali ia menarik napasnya lebih kuat dan mempertegas bahwa asumsinya salah besar. Mana mungkin seorang Hongo Kanata bisa menatapnya.

Mata Jiru bergerak menatap setiap detail wajah Hongo Kanata. Jiru akui, Hongo Kanata terlihat seperti anak seumurannya, ia tahu Hongo Kanata berumur jauh di atasnya. Tetapi, Hongo Kanata tidak terlihat lebih tua seperti dirinya. Hongo Kanata terlalu cute.

Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memotret Hongo Kanata kembali. Entah sudah beberapa kali ia memencet tombol utama untuk mengambil foto aktor itu. Ia bertekad untuk mendapatkan lebih dari 10 gambar berebeda.

Jiru mengedipkan matanya beberapa kali setelah melihat korban fokus kameranya. Hongo Kanata menatapnya intens dari balik kameranya, ia tidak tersenyum. Wajahnya sangat datar. Bahkan rasanya Jiru ingin membunuh dirinya sendiri karena takut melihat aura aneh Kanata.

Ratna berteriak dengan heboh kembali, “Dia melihatku!! Astaga!!”

Teriakan itu tentu membuat bulu kuduk Jiru meremang, ia menjadi agak malu karena kehebohan temannya itu. Tapi, masa bodoh. Ia kembali mengambil foto Hongo Kanata yang berwajah datar itu.

Tiba-tiba jantung Jiru berdetak tidak normal –kembali. Darahnya berdesir lebih deras membuat tubuhnya menegang, bibirnya terkatup rapat tapi batinnya berteriak takut OH GOSH!! Hongo Kanata berjalan mendekat ke arahnya, tatapan datarnya hampir membunuh setiap fansnya yang juga berdiri mematung melihat pemandangan itu.

Jiru menyunggingkan senyum bodohnya, ia cengengesan menatap Hongo Kanata yang kini berdiri di hadapannya. Sebagai wanita tentu Jiru juga bisa melted melihat Hongo Kanata, tapi apa daya. Tatapan datar itu begitu menakutkan.

Secara sadar Hongo Kanata mengambil tangan kanan Jiru, ia memberikan Jiru sebuah permen karet yang bungkusannya bertuliskan huruf-huruf Katakana. Dan syukurnya Jiru masih bisa mengerti tulisan itu. Gummu.

Senyuman Hongo Kanata merekah lebar, tatapan datarnya berubah menjadi tatapan cerianya. Sangat tampan batin Jiru. “In other time, you have to pay me…” kata Hongo Kanata hampir tak terdengar.

Beberapa remaja berteriak heboh. Ratna menatap Hongo Kanata takjub, mulutnya menganga lebar. Ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan normal ketika Hongo Kanata menghampiri temannya sendiri.

Jiru tersenyum kecil, matanya menatap langkah kaki Hongo Kanata yang menjauhinya. Ia memasukkan permen karet itu ke dalam kantongnya, menjaganya dari serbuan remaja yang mungkin ingin merebut permen itu dari tangannya.

Ia tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang ia rasakan saat ini. Yang terpenting jantungnya belum bisa berdetak normal, tubuhnya mulai rileks tetapi batinnya bergetar hebat. Dia tidak bisa menyembunyikan kesenangannya.

“SUGOI!! AKU IRI!!!!” pekik Ratna. Jiru tertawa lebar, “Lain kali jangan berteriak seperti itu. Dia jadi takut padamu kan?”

Pernyataan itu sukes membuat Ratna mengerucutkan bibirnya kesal, “Oh! jadi begitu. Kalau kau mengambil Kanata-ku aku akan mengambil Nino-mu!!”

Jiru menjitak kepala Ratna, “Itu tidak boleh terjadi.”

Sekilas Ratna dan Jiru tertawa. Mereka kembali menonton syuting Hongo Kanata di tengah-tengah teriknya matahari. Tatapan Jiru terhadap Hongo Kanata kali ini berbeda, entah mengapa ia mejadi sangat sangat dan sangat suka terhadap Nihon-jin seperti Hongo Kanata. Dan dengan sangat berat, ia akui ia bisa saja berpindah hati dari Ninomiya Kazurayama ke Hongo Kanata.

P.s

Ini Fanfic Jepang pertama yang aku publish di blog ini. Damn!! I Love Kanata Hongo so much!! So, don’t ask me about the background :p He is mine, my chibiiiii-kun ❤ Akh! Ninomiya is mine too *o*

Advertisements