Duniaku hampir saja runtuh ketika membaca pesan-pesan pendek dari seorang wanita ber-nama Seul Gi di handphone adikku. Aku tahu, aku sebenarnya tidak punya hak untuk membaca ataupun meruntuhkan duniaku sendiri. Rasanya aku ingin memukul adikku itu. Dasar Taeminie!!

“Errghh,” eramku jijik melihat isi pesan yang semuanya terangkai kata Chagiya atau sebuah kata yang tak asing lagi, Saranghae. Ini menjijikkan!!

Akhirnya, aku pasrah mengetahui bila adikku yang masih duduk di bangku sekolah me-nengah pertama ini telah berpacaran dengan wanita bernama Seul Gi. Yang aku yakinkan, hal ini tidak akan bertahan lama. Mengingat tingkah laku adikku yang terlalu childish dan juga wajah-nya yang lebih cocok untuk menjadi perempuan daripada lelaki. Yeah~ si Seul Gi itu pasti akan bosan dengan adikku. Aku harap.

Ku letakkan handphone Taemin kembali ke asal. Sedikit membingungkan. Aku jadi protective mengingat hal ini, aku masih belum sanggup membiarkan adikku diambil oleh seseorang dengan sebutan yeojachingu. Cih! No one can take him from me.

noona, kau sedang apa di situ?” tiba-tiba Taemin menghampiriku dengan wajah yang err… sangat cantik. Syukurlah~ aku tidak tertangkap sedang mengutak-atik handphonenya.

“ohh, aniya. Hanya sedang melihat kamarmu. Aku pikir kau tidak membersihkannya dengan baik,” alasanku. Ku tersenyum simpul padanya sembari melihat wajahnya. Entahlah, aku rasa ingin mengintrogasinya sekarang juga.

Tanpa mendengar ia berbicara aku langsung keluar dari kamarnya itu. Aku masih tidak bisa menghilangkan isi pesan-pesan itu. Aku cemburu! Aku tidak ingin Taemin mempunyai seseorang yang disayangi kecuali diriku. ANDWE!!!

 

@@@

 

“Tae-ya! Neo Gwencanha?” tanya Min Su temanku. Kini, ia sedang sibuk memainkan pulpen biru miliknya sembari melihatku yang berwajah muram.

Aku menggeleng. Ku tarik rambutku, lalu ku ikat dengan kuat. Aku masih kesal dengan Taemin. “Ani. Aku sedang tidak baik! Aku kesal dan pusing memikirkan Taemin!!” teriakku di depannya.

Bisa ku lihat wajah Min Su berubah ketakutan, matanya yang sipit sedikit membulat men-dengarku yang berteriak, “Taemin? Waeyo?” tanyanya penuh keinginan untuk tahu.

Ku tarik napas dengan panjang dan ku hembuskan secepatnya, “Ia sedang berpacaran dengan wanita bernama Seul Gi. Kau tahu? Aku sedang pusing! Mana mungkin ia berpacaran!! Ini tidak mungkin!! Aku tidak ingin anak kecil itu berpacaran sebelum ia duduk di sekolah menengah atas! ANDWEYO!!” jelasku penuh penekanan di setiap kata-kata yang keluar dari mulutku.

Min Su menatapku dengan ling-lung menujukkan wajah polosnya. Mungkin ia shock men-dengarku yang berbicara seperti orang kesetanan. Benar-benar tidak menyenangkan memikirkan Taemin ini. Dasar adik nakal!

“Yaa!! Memangnya kenapa? Itu artinya dia sudah remaja bukan?” tanya Min Su membela Taemin.

“Ishhh… dia masih kecil. Kau tidak lihat? Pikirannya hanya main-main,” jawabku sejujur-nya. Aku tidak pernah membayangkan Taemin yang sedang berpacaran. Ia tidak cocok ber-pacaran!! Don’t you know? Anak itu hanya menghabiskan waktunya dengan dance.

Tiba-tiba Min Su meletakkan pulpennya di depan bibirku menyuruhku untuk diam, “Kenapa kau jadi protective begitu? Kau pernah merasakan jadi anak seperti dia kan? Kau mengerti saja kelakuannya,” nasihat Min Su. Ia benar, tapi…

“Aku yah aku. Dan Taemin, dia belum remaja! Dia masih kecil Min Su-ya,” ucapku, setelah berhasil mengambil pulpen Min Su yang tertempel di bibirku.

Ku dengar Min Su yang tertawa pelan, aku tahu ia pasti geli mendengarkan ucapanku, “Tae-ya. Kau benar-benar Brother complex. Eh, aniya kau hanya protective dengan adikmu. Aku pikir kau harus mengerti si Taemin,” kata Min Su padaku.

Protective? Seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Tapi, apa salahnya? Ini kan demi kebaik-an adikku, Taemin.

“Argghh…” erangku kesal sembari menarik ikatan rambutku, membiarkan rambutku terurai. Sepertinya, aku harus berpikir lagi. Bagaimana caranya untuk mengobrol dengan Taemin yah?

 

@@@

 

“Taemin-ah, Seul Gi itu siapa?” tanyaku. Inilah langkah awal. Sepertinya berbicara empat mata dengan Taemin itu perlu.

Wajah Taemin berubah kaku mendengar pertanyaanku. Ku tahan tangannya sebelum ia me-ninggalkanku di taman belakang rumah ini. Aku sudah mempersiapkan segala hal untuk berbicara dengannya.

“Katakan! Siapa Seul Gi?” tanyaku lagi. Kali ini suaraku berubah garang. Dasar Tae bodoh! Mengapa aku jadi begitu mengerikan di depannya.

“S..seu..Seul Gi, dia temanku. Memangnya kenapa?” tanya Taemin padaku. Ku tarik napas-ku pelan, berusaha bersabar. Be calm Tae-ya! Jangan memarahi Taemin.

Sebelum menjawab, aku berusaha menatap kedua mata Taemin. Aku harap dengan me-natapnya seperti ini, ia bisa menjelaskan semuanya padaku dengan jujur, “Ige yeoja, neo yeojachingu?” Tanyaku dengan raut wajah lembut, yah aku harus bersikap baik dengan Taemin agar ia tidak tertekan.

Aniya. Itu tidak mungkin. Kan hanya noona yang ada di hatiku,” jawabnya. Bohong! Aku rasa aku ingin memarahinya bila ia tidak berkata sejujurnya. Ku lirik wajah Taemin yang masih kaku. Taemin-ah, jujurlah.

Kojitmal? Aku ingin kau serius Taemin-ah. Noona mu ini kan hanya bertanya. Tidak memarahimu,” kataku berpura-pura ngambek. Wajahnya kemudian berubah. Aku tahu maksud wajahnya ini.

noona, kau tidak marah? Ne, geuraesso. Ige yeoja, nae yeojachingu.” Akunya.

“Atas dasar apa kau ingin berpacaran huh?” tanyaku dengan wajah geram. Aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku. Bukannya berbicara dengan baik tapi aku malah memarahinya. Ish! Aku tidak suka mengingat ia berpacaran dengan seorang wanita di sekolahnya.

noona, jangan marah. Aku suka dengan Seul Gi na joha~” jawabnya cemberut.

Aku menggeram kecil, lalu ku tarik napas dengan pelan membiarkan paru-paruku terisi dengan baik. Aku bisa besabar, tidak aku harus bersabar!

noona molla Taemin-ah. Kau masih kecil belum pantas untuk berpacaran. Pikirkanlah matang-matang, apa gunamu berpacaran dan adakah cara lain selain berpacaran bila menyukai seorang wanita. Kau masih kecil,” nasihatku. Ku tatap kedua mata Taemin serius. Aku harap ia berpikir dengan baik atas nasihat yang ku berikan.

Aniya! Noona, Aku sudah remaja bukan anak kecil lagi!! Aku bukan adik kecilmu lagi noona. Aku sudah berubah menjadi adik remajamu!!”

Aku Shock mendengarnya berbicara seperti itu. Jantungku berdetak dengan kencang mendengar seluruh kata-kata yang penuh penekanan yang Taemin berikan padaku. Mataku hampir mengeluarkan cairan bening, ia berkata seperti itu padaku? Benarkah?

Tanpa meresponnya, aku berlari menuju kamarku. Ini benar-benar menyakitkan. Tidakkah ia berpikir? Aku kakakknya dan aku tahu yang terbaik untuknya. Mengapa ia bisa marah padaku hanya karena aku menasehatinya?

Ini yang aku tidak suka, Taemin berubah karena wanita bernama Seul Gi itu. Aku rasa, aku ingin menjambak rambut dan memusnahkan si Seul Gi dari dunia ini sekarang juga.

 

@@@

 

Beberapa hari ini aku tidak pernah berbicara dengan Taemin bahkan untuk melihatnya pun aku enggan. Mengingatnya berbicara dengan kasar membuatku sakit hati. Aku benar-benar geram dengan perubahan pada diri Taemin yang tidak sesuai seperti dulu.

“Taemin-ah, Tae-ya. Kalian ada masalah?” tanya eomma saat kami makan malam bersama. Aku menggeleng cuek, “aniyo,” jawabku acuh. Aku lihat Taemin yang hanya makan tanpa me-ngeluarkan sepatah kata pun.

jinjjayo? Eomma lihat kalian tidak pernah berbicara untuk beberapa hari ini. Tidak seperti biasanya,” aku eomma dengan sirat kekhawatiran. Ku makan nasi terakhirku pada malam itu sebelum merespon eomma.

“Ah~ mollayo. Aku ingat, aku punya banyak tugas. Aku harus menyelesaikannya sebelum besok,” pamitku tanpa memperdulikan panggilan eomma dan Appa. Mian, aku sedang tidak mood untuk membicarakan itu.

Sesampainya di kamar, aku langsung bergegas ke balkon. Aku berbohong pada eomma dan appa. Aku tidak punya tugas sekali pun. Lagipula, akan sangat berat bila membicarakan hal yang telah terjadi pada Taemin pada mereka.

noona…” jantungku hampir saja berhenti berdetak ketika mendengar suara Taemin. Aku melihatnya, si Taemin. Ia tengah menatapku dari jendela kamarnya.

Aku berdehem kecil, tidak meresponnya. Aku tidak punya hal untuk berbicara yang baik padanya. Lagipula, aku sudah malas membicarakan tentang hal yang terjadi padanya. Kalau pun ia berbiaca tentang itu, maka aku akan meledak a.ka marah.

noona… mianheyo. Aku tidak bermaksud untuk berbicara sekasar itu padamu,” ucapnya. Aku mendengarnya berbicara walau aku tak melihat wajahnya. Melihatnya membuatku ingin marah.

noona, aku benar-benar menyukai Seul Gi. Lagipula aku bukan adik kecilmu lagi. Aku sudah besar noona-ya,” katanya membuatku terperanjat.

Lagi-lagi ia mengatakan itu. Tidakkah ia tahu, bahwa itu sangat menyakitkan? Ataukah Ia tidak mengetahui perasaanku sebagai seorang kakak?

Jalja,” ucapku kesal sembari masuk ke kamar. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Ini memuakkan!

 

@@@

 

 

“Tae-ya ottokhae?” tanya Min Su padaku. Wajahnya penuh dengan sirat kekhawatiran, ia tahu benar apa yang terjadi padaku.

Aku menggeleng kesal, “Jangan bertanya tentang hal itu padaku. Aku kesal,” jawabku geram. Ku dengar Min Su berdehem pelan. Sepertinya ia akan memberiku sebuah nasihat lagi. Tapi kan ia tidak mempunyai seorang adik, mana bisa ia mengerti tentang perasaanku.

neo ara Tae-ya? Taemin itu sangat baik, ia pasti mengerti perasaanmu. Mungkin ia hanya menginginkan kau untuk mengerti dirinya,” benar saja, Min Su menasehatiku lagi.

“Apanya? Aku sudah mengerti akan dirinya. Lagipula maksudku baik, aku tidak ingin ia melakukannya. Itu tidak baik untuk anak seumurannya,” akuku.

Min Su menarik napasnya panjang setelah mendengar pengakuanku. Apanya yang salah? Aku memang benar kan? Aku telah mengerti Taemin dan aku selalu melakukan hal yang terbaik untuknya. Apanya yang salah?

“Mengertilah perasaannya sebagai seorang manusia. Ia juga remaja, ia pasti merasakan hal itu. Bukannya itu baik? Setidaknya adikmu normal menyukai seorang wanita dan berpacaran,” kata Min Su. Aku terdiam memikirkan kata-katanya.

“Tapi, dalam menyukai seseorang tidak perlu harus berpacaran bukan? Ini hanya akan merubah sifatnya Min Su-ya. Ini tidak baik bagi Taemin,” kataku membela diriku sendiri. Aku seperti terpojok mendengar perkataan Min Su.

Min Su menggeleng, “Itu cara yang umum. Daripada Taemin hanya mengubur perasaannya? Bisa-bisa ia yang sakit hati karena menahannya. Mana yang lebih sakit coba?”

Kali ini aku terdiam cukup lama, mengapa ini begitu sulit?

“Aku sangsi mengingat kau juga pernah mersakan hal yang Taemin rasakan sekarang. Mengapa kau harus melarangnya? Kau masih belum mengerti perasaan Taemin sepenuhnya,”

 

@@@

 

noona, aku putus dengan Seul Gi. Apakah kau senang sekarang? Kau akan memaafkanku kan?”

Aku terperanjat mendengarkan pengakuan Taemin malam ini. Seperti biasa aku duduk di balkon sedangkan ia menyembulkan kepalanya dari jendela. Aku menatapnya dengan mata yang membulat.

Mwoya? Waeyo?” tanyaku penuh keheranan. Aku sepertinya sangat jahat. Masa hanya karena diriku ia memutuskan seorang wanita ia sukai.

“Hahahah… ige yeoja, noona tahu kan? Bila seorang lelaki melihat pacarnya berselingkuh. Apa yang akan ia lakukan?”

“Memutuskannya… ige bwoya?! Dia berselingkuh. Dasar wanita sialan!!” racauku setelah mengetahui alasannya memutuskan wanita bernama Seul Gi itu. Sialan! Aku benar-benar ingin memusnahkan wanita bernama Seul Gi dari dunia ini sekarang juga.

Aku melihat Taemin yang kini menatapku dengan polosnya, “Yaa! Di mana ia tinggal? Apa kau ingin pembalasan?” tanyaku pada Taemin. Taemin menggeleng sembari mengangkat kedua tangannya.

Ani… noona. Kau masih marah? Aku pikir kata-katamu ada benarnya juga,” jawabnya.

Mataku menyipit mendengar jawabannya, “Lupakan soal itu. sekarang carilah wanita yang lebih baik dari Seul Gi itu! kau harus memperlihatkan wanita barumu di depan Seul Gi agar ia merasa menyesal telah berselingkuh di depanmu,” kataku dengan geram.

Taemin melirikku khawatir, “noona, kau sedang sakit?” tanyanya.

Ku tatap Taemin dengan kesal, “Yaa! Aku tidak sakit. Seharusnya aku yang bertanya pada-mu. Apakah kau baik-baik saja setelah memutuskannya?” tanyaku seperti sedang mengintrogasi-nya.

noona…” rengeknya.

“Haish~ Taemin-ah. Cepat cari pengganti Seul Gi. Aku tidak ingin melihatmu menggalau,” ujarku. Kini, ku alihkan pandanganku dari Taemin dan melihat langit yang dipenuhi oleh bintang.

noona… mengapa sekarang kau menyuruhku untuk berpacaran?” tanya Taemin kemudian setelah sadar atas perlakuanku.

Aku menggerling ke arahnya dan kembali menatap langit, “inilah noona Taemin-ah.”

noona….” Panggilnya. Aku mengindahkan panggilannya, lebih memilih menatap langit yang cantik.

“Jangan bilang kau tengah berpacaran! Aku tidak ingin melihatmu bersama lelaki lain…” katanya membuatku mengalihkan perhatian dari langit.

Apa yang ia katakan?

“Memangnya kenapa? Apa itu menjadi masalahmu? Makanya, sebelum aku berpacaran. Carilah pengganti Seul Gi supaya kau tidak galau melihatku dengan seorang lelaki hahaha…” tawaku membuatnya berdehem.

Andweyo, sepertinya aku harus menjaga noona dari pria lain. Aku belum siap melihatmu dengan seorang pria. Awas saja kalau ada yang berani mendekatimu. Lihat Taemin yang akan beraksi,” ancamnya.

Shikero!! Cepat tidur sana! Sudah malam,” ucapku penuh penekanan. Walau kenyataannya, aku senang mendengarnya berkata seperti itu. Aku tahu ia menyayangiku, walaupun ada wanita lain nantinya.

Aku pikir, ia akan seperti diriku yang protective. But, nevermind… ada kalanya kita akan sadar atas perlakuan yang telah kita lakukan bersama. Protective each other.

P.s

Hello, I’m Goo. Ini sebuah kegilaan, stress, merasa terancam dengan semakin besarnya adik-adikku tercinta yang akhirnya menjadi sebuah fanfic bertema fams pertama kkk~ Lee Taemin, dia biasku yang tercintaahh dari SHINee mengingat dia udah nggak unyu-unyu lagi :p huppsss~~ *ngobrol ama diri sendiri ._.*

Advertisements