Langit terlihat buram, tak ada cahaya matahari, hanya ada awan putih yang bergerak menutupi langit biru Seoul. Ji Hye mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, merentangkannya dengan bebas seakan ia adalah seekor burung merpati yang sibuk berterbangan di langit.

Opppaaa…” gadis itu bergumam sembari tertawa kecil. Ia tidak terbiasa mengucapkan kata itu, benar-benar terasa aneh pikirnya sesaat.

Setelah mengenal sosok Kibum sejak peristiwa di kereta, Ji Hye selalu mengganggu pria ber-IQ tinggi itu. Entah berpura-pura menjadi stalkernya atau hanya menyapanya dengan kalimat-kalimat manja penuh nada gombal. Semua yang ia lakukan diluar batas kewajaran sikapnya, dan Ji Hye sadar betul dampak yang akan diterimanya nanti.


Anehnya, seorang Kim Kibum tidak pernah merasa terganggu dengan semua tingkahnya, bahkan Ji Hye sadar bahwa pria itu tahu sikap ‘bermain-mainnya’ dan membiarkannya berkoar-koar gombal tanpa tahu malu.

“Apa yang kau lakukan? Dasar manusia setengah namja!”

Mata Ji Hye membulat, ia berkedip beberapa kali sembari mengusap-usap telinganya. “Apa aku tidak salah?” Tanyanya lalu tertawa melihat pria yang menegurnya itu.

“Aku sedang memikirkanmu oppa.” Ujarnya kemudian.

Kibum mendecakkan lidahnya kesal, pria itu lalu mengambil tempat di sebelah Ji Hye, matanya menatap langit dengan tenang. Di balik gurauannya, Ji Hye menatap Kibum dengan takjub, rasa usilnya kembali datang seakan ingin melumerkan hati dingin pria itu.

Senyumnya makin mengembang ketika Kibum menangkap basah dirinya sedang menatap pria itu dengan mata berbinar. “Aku tidak suka ditatap seperti itu.” Ungkap Kibum membuat Ji Hye mengerucutkan bibirnya kesal.

“Benar-benar mengerikan,” cibir Ji Hye lugas.Tubuhnya bersandar pada kursi taman, kedua tangannya terlipat di depan dada. Pikirannya terpusat pada mimik wajah Kibum yang datar.

“Kau sudah makan?”

Suara itu membuat hati Ji Hye berjingkrak seakan ingin berlari dan menari-nari di dalam tubuhnya. Mata Kibum yang menatap Ji Hye lembut membuat gadis itu sempat mematung beberapa saat. Mimik yang begitu hangat.

“Kau sudah kena karma? Perhatian sekali sih.” Sahut Ji Hye. Kibum tergelak, ia menggaruk tengkuknya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, “bodoh, tentu saja tidak. Aku kan hanya bertanya.”

“Hahahaha… aku sudah makan. Bagaimana denganmu oppa?”

“Belum…” jawab Kibum singkat, ia tersenyum ke arah langit membuat hati kecil Ji Hye menyahut, menginginkan senyuman itu untuknya. Yah, senyuman yang cukup menawan dan bisa membuatnya melayang dalam waktu yang lama.

Gadis itu kemudian mengangguk tenang, berusaha memutar otaknya untuk mencari bahan pembicaraan. Ia berpikir…berpikir…

“Mau aku buatkan makanan oppa?”

Kibum  berbalik menatap Ji Hye takjub. “Kau bisa memasak?” Ji Hye terdiam, ia bisa masak tapi rasa usilnya lebih besar daripada kejujuran yang membanggakan itu.

“Tidak… ayolah, oppa harus makan!!” Sungut Ji Hye membuat Kibum menatap gadis itu tidak percaya.

“Kau tidak bisa masak? Kau mau memberiku racun hah?”

Ji Hye terdiam, ia menaruh jari telunjuknya di dagu berpura-pura berpikir. “Sepertinya… racun cinta mungkin.”

Mwo? Michin…” cibir Kibum membuat Ji Hye tergelak. Ia tertawa sembari memegang perutnya yang terasa tergelitik. Kibum mendesis, “khajja… kita makan di kantin.”

Mata Ji Hye berkedip beberapa kali melihat tangan kanan Kibum yang terjulur di depannya. Pria itu… cukup aneh. Tidak-tidak, ia mengagumkan dengan seluruh tingkahnya.

Khajja!” Seru Ji Hye cepat-cepat sembari menyambar tangan Kibum dan menarik pria itu dengan paksa ke kantin kampus.

Benar-benar hal yang diluar penalarannya. Tangan Ji Hye bergerak tanpa dikomando sang empunya, di sepanjang jalan ia pun hanya bisa mengunci bibirnya rapat, merasakan sengatan manis yang menyerang tangannya. Sengatan yang sangat manis dan memabukkan.

END

Hello! This is Goo. Eung… sama seperti ff yang lainnya. Aku belum bisa mengeksplorasi banyak hal dalam menulis teenlite seperti ini *mewek*

Aku tahu, kemampuan menulis fanfic-ku masih dibawah rata-rata, but nevermind. Anggap saja aku sedang mengeluarkan imajinasi yang sangat sayang kalau dibiarkan begitu saja 🙂

Advertisements