Rambut gadis itu berwarna hitam elegan, panjang dan mengagumkan. Matanya yang sipit terlihat sangat mengagumkan dengan lapisan eyeliner tipis pada sisi kelopaknya. Cantik.

Kyeopta, jinjja yeppo.” Gumam Donghae dengan sadarnya, mengagumi setiap inci penampilan gadis yang tengah tertawa lepas di taman sekolahnya.

Pria itu terperanjat. Dari balik pohon itu, ia dapat melihat gadis yang dikaguminya itu dengan jelas. Hatinya sedikit tertohok mendapati kenyataan bahwa ia hanyalah seorang pengagum rahasia. Pengagum bodoh yang terlalu takut menampakkan batang hidungnya di depan gadis impiannya.


Babo Donghae!” Seru seorang pria sembari menjitak kepala Donghae dengan keras. Donghae berteriak, lalu menendang kaki pria itu dengan kesal.

“Yaa! Kibum-ah!! Kau menggangguku!” Desis Donghae, ia masih berlindung di bawah pohon, memandangi seorang putri yang tak pernah tahu tentang dirinya.

Pria bernama Kibum itu tergelak, matanya mengarah kepada titik yang sama. Titik fokus yang juga dilihat Donghae. “Kau menyukai yang mana?” Tanyanya membuat mata Donghae membulat.

“Menurutmu yang mana hah? Seorang yang paling mencolok, cantik dan… sexy.” Jawab Donghae berusaha bersikap biasa, ia mengelus dagunya, memandang gadis itu dengan takjub.

Kibum kembali melangsungkan tindakannya. Ia menjitak kepala Donghae sembari mendecakkan lidahnya. “Dasar mesum!”

Mwohae!? Yaa! Kau normalkan? Atau…”

Dengan kesal Kibum menjitak Donghae untuk ke sekian kalinya. “Pabo! Aku masih normal!! Kau lihat gadis itu? Si Jung Gyuri, aku akan mendapatkannya.” Kata Kibum sembari menunjuk gadis bereyeliner itu.

Donghae tergelak, “mwo? Jung Gyuri?!”

“Eo, Jung Gyuri. Aku sudah menyukainya sejak lama, bagaimana menurutmu?”

Pertanyaan Kibum membuat Donghae terdiam, ia menggaruk kepalanya, bingung harus menjawab apa kepada Kibum. “Ya, dia cantik.” Jawabnya kemudian.

“Ya tentu saja. Siapa yang kau suka eoh?” Tanya Kibum sembari memanjangkan lehernya, mencari-cari wanita yang menjadi titik fokus Donghae.

Eobseoyo… aku hanya mencuci mata.” Elak Donghae lalu menarik Kibum menjauh dari tempat persembunyiannya itu. Kibum mendecakkan lidah.

“Yaa! Kau jangan melihat Gyuri, ia akan menjadi milikku!” Seru Kibum membuat Donghae mendesis lalu tertawa. Menertawai kebodohannya.

Sudah cukup bagi Donghae. Jung Gyuri hanyalah gadis impiannya, dan ia terlalu takut untuk mengakui perasaannya pada gadis itu. Sudah cukup pula baginya, mengetahui perasaan seorang Kim Kibum. Kini harapannya hanya satu, berharap perasaan mereka tak pernah terbalas oleh sang gadis impian.

@@@@@

Donghae berjalan cepat, dahinya penuh dengan peluh walau udara Seoul kala itu cukup mencekam. Dingin. Ia baru saja akan melangkahkan kakinya keluar dari kelas sebelum seorang gadis misterius bernama Hyewon menegurnya dan mengatakan hal yang paling ia takuti setelah mengetahui perasaan Kibum tadi siang.

“Kibum menyatakan perasaannya kepada Gyuri…”

Jantungnya berpacu kencang, matanya bergerak menelusuri kerumunan siswa di sekeliling lapangan basket. “Permisi, permisi… jwesonghamnidaa.” Ujarnya sembari menembus kerumunan itu dengan hati-hati.

Langkahnya terhenti ketika kakinya berada tepat di belakang garis lapangan. Sembari menghela nafas, ia pun terduduk menatap pemandangan di depannya dengan runyam. Beberapa siswa ikut terduduk, menatap titik fokus yang sama, titik fokus dua manusia yang tengah terdiam. Sepi.

“Maukah kau menjadi pacarku?”

Tidak seperti hatinya yang meringis sedih, Donghae berteriak sembari bertepuk tangan untuk menyemangati sahabat karibnya itu dengan berapi-api. Kibum baru saja mengatakan kalimat laknat yang harusnya ia benci, tapi entah mengapa ia tersenyum juga, walau senyumnya kini terlalu pedih.

“Terimaaa!!”

“Tidaaakkk!!”

Sahutan-sahutan dari beberapa siswa terdengar sangat serasi, Kibum tersenyum kecil, menyembunyikan rasa malu yang menjelajar di tubuhnya. Sedangkan, Jung Gyuri tengah menunduk, entah apa yang dipikirkan gadis itu. Donghae tak bisa menerka.

Ne, aku menerimamu Kibum-ah.” Jawaban Jung Gyuri membuat tubuh Donghae lemas seketika. Senyumnya makin terlihat pedih ketika Kibum menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Dengan hati yang tersayat, Ia pun beranjak pergi dari tempat itu, bersamaan dengan siswa yang lain seakan tak ingin cemburu melihat pemandangan romantis yang akan mengundang gunjingan dari beberapa guru di sekolah, dan lagipula ia juga tak ingin melukai hatinya lebih dalam.

“Bukankah, penyesalan itu selalu datang terlambat?”

Donghae terkesiap, di sampingnya Kim Hyewon tengah berjalan dengan santai, rambut panjanganya tergerai indah menutupi wajahnya yang bulat. “Apa kau bilang?” Tanya Donghae.

Hyewon mengangkat kedua bahunya tak peduli lalu menoleh ke arah Donghae dan memberikan pria itu senyum sinis khasnya. “Penyesalan… selalu diakhir.” Jawab gadis itu lalu memasuki sebuah bus.

Langkah Donghae terhenti, ia bahkan sudah lupa bahwa kini dirinya telah berada di halte bus. Memandang Kim Hyewon yang telah hilang memasuki bus bersamaan dengan siswa yang lain. Bukan takjub dengan kecantikan gadis itu, ia hanya takjub dengan kalimat yang dikatakan gadis itu, “penyesalan… selalu diakhir.”

@@@@@

Rambut Donghae berantakan, di sekitarnya kertas-kertas terbuang percuma dengan bentuk bulatan bola kusut. Matanya sayu, kepalanya terasa pening karena harus berargumen dengan pemikirannya sendiri.

“Penyesalan… selalu diakhir.”

Untaian kalimat singkat Hyewon bermain di otaknya. Ia mencari-cari makna yang disampaikan gadis misterius itu mengenai kejadian yang menimpanya kini. Apa? Mengapa? Dan ada apa?

Ada sedikit pikiran nakal yang menohoknya, pikiran yang dapat menghancurkan persahabatannya dengan Kibum. Ia kemudian meringis, memijit dahinya dengan lembut. “Ani… ani…” gumamnya.

Dibuangnya lagi kertas berisi gambaran abstrak yang sengaja ia buat sebagai pencurah hatinya, mengacak-acak kertas itu lalu membuangnya ke segala arah. Ia menghela nafas berat. Sungguh, wanita itu membuatnya gila! Jung Gyuri!

Ia kemudian menarik nafasnya cukup panjang, berusaha meluruskan pemikirannya. Detik kemudian ia bergumam kecil, “aku… tidak mungkin merebutnya dari Kibum kan?”

To Be Continue…

Fanfic chapter pertama 🙂

Setiap chap memang hanya sedikit yah -_-) maklum, saya hanya membuat fanfic lewat handphone dan itu cukup sulit mengingat resolusi layar handphone dan keramnya tangan *curcol*

Semoga suka… Thanks for reading :3

Advertisements