“Apa kau masih mencintaiku?”

Seperti terserang ribuan panah, Shin Yoong tercegat, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan simpel seorang pria bertubuh jangkung yang sudah tak asing lagi di dalam hidupnya.

“Yoong,” panggil pria itu membuat Yoong tersadar, ia membuang muka, menepis semua pemikiran nakalnya. Tidak, ia tak bisa menjawabnya.

Tiba-tiba pria itu menariknya dan menghimpitnya di dinding gedung aparte membuat Yoong tak bisa berbuat apa-apa selain menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar karena jantungnya yang terus berdentam kencang, membuatnya sulit bernapas. “Kyu…”

Cho Kyuhyun. Ya, dia Cho Kyuhyun. Seorang anggota boyband asal Korea Selatan yang saat ini digandrungi banyak wanita,  seorang yang juga membuat hati Yoong terluka untuk beberapa saat yang lama, hingga saatnya Yoon menyadari sebuah dinding besar yang membatasinya dengan pria itu. Dinding yang membedakan dua dunia berbeda di dalam dunia nyata. Yoong tak bisa meneruskan ucapannya, ia bingung.

“Apa kau masih mencintaiku?”

Pertanyaan yang sama dilemparkan Cho Kyuhyun untuknya. Pria itu menatap Yoong, mencari jawaban pasti dari mata gadis itu. Mata Yoong tak pernah berbohong, yah, mata selalu menggambarkan kejujuran walau seseorang berbohong.

“Apa kau masih mencintaiku?”

Pertanyaan ketiga yang sama. Kyuhyun tak muluk-muluk, ia hanya ingin mendengar jawaban gadis itu. Mendengar jawaban ‘iya’ atau ‘tidak’ dari mulut gadis yang masih dicintainya itu.

Yoong terdiam, dadanya sangat sesak. Bila menginginkan kejujuran, Ya… gadis itu masih mencintai seorang Cho Kyuhyun. Sangat, bahkan ribuan katapun tak bisa menggambarkan sebagaimana ia mencintai pria itu. Namun, ia tak bisa melakukannya. Ia tak bisa mematahkan sebuah perjanjian yang telah ia buat sendiri.

“Yoongi-ya…” panggilan sayang itu membuat tubuh Yoong makin lemas. Ia merindukan pria itu, juga merindukan setiap panggilan Kyuhyun untuknya.

W…wae? Kenapa kau ada di sini?” Tanya Yoong kemudian, suaranya bergetar, ia tak sanggup mencium aroma tubuh Kyuhyun yang sudah lama ia rindukan. Rasanya ingin mati saja.

“Jawab pertanyaanku Yoong, aku hanya butuh jawabanmu.” Kata Kyuhyun tegas membuat keberanian Yoong menciut. Di satu sisi ia tak ingin Kyuhyun meninggalkannya tetapi di sisi yang lain ia harus merelakan pria itu. Ya, sebuah pilihan sulit.

“Lepaskan aku, aku tak bisa menjawabnya.” Ucap Yoong dalam satu tarikan napas, gadis itu kembali menghirup oksigen. Oksigen yang telah dipenuhi oleh aroma manly tubuh Kyuhyun yang memabukkan.

Kyuhyun tak mengikuti perintah Yoong untuk melepasnya, bahkan pria makin mendekatkan wajahnya pada gadis itu, hingga ia bisa melihat jelas wajah cantik milik Yoong yang telah lama ia rindukan. Mata Yoong berkaca-kaca, menggambarkan kecemasan sekaligus kerinduan yang juga ia rasakan.

Yoong terdiam ketika bibir Kyuhyun mencium keningnya, sebuah kecupan manis dan dalam. Suatu kebiasaan yang selalu dilakukan Kyuhyun ketika pria itu merindukannya, ketika pria itu merasa lelah dengan kesibukannya yang merayap padat. Betapa Yoong menyukainya, merindukan rasa hangat yang diberikan Kyuhyun lewat kecupan di keningnya.

“Aku mencintaimu Yoongi-ya,” sahut Kyuhyun sembari mengacak rambut Yoong dengan lembut, ia lalu memeluk tubuh Yoong dengan hangat, meluapkan segala keresahan yang dirasakannya sejak beberapa bulan yang lalu.

“Na tto.” Gumam Yoong pelan, nyaris tak bersuara. Ia tak bisa berbohong kali ini, sudah sesak dadanya melihat segala perlakuan istimewa pria itu untuknya.

Pelukan Kyuhyun makin erat, pria itu bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Yoong, menyesap aroma parfum gadis itu. Parfum yang sama ketika Yoong mengatakan kata-kata laknat penghancur hatinya. Namun kali ini, ia harus kembali menata hatinya. Menata hatinya pada gadis yang sama, berharap gadis itu bersedia untuk membantunya berdiri di atas batuan koral yang tajam.

“Pulanglah, ini sudah malam…”

Aniya, aku belum mendengar jawabanmu.” Potong Kyuhyun cepat sebelum mendengar ocehan Yoong. Ya, ocehan yang tak bisa ia elak.

Tubuh Yoong kembali menegang, ia makin bingung menjawab 3 pertanyaan telak yang dilontarkan Kyuhyun beberapa menit yang lalu. Ya atau tidak. Ya atau tidak. Ya atau tidak. Batinnya bimbang.

“Aku… aku tak bisa menjawabnya.” Sahut Yoong pelan sembari membuang muka ketika Kyuhyun melepas pelukannya dan mulai menatapnya intensif.

“Ya atau tidak?” Tanya Kyuhyun menggantung. Yoong diam, tak bisa menjawab.

Gadis itu menghela napas berat, dengan berani ia menatap mata Kyuhyun, menatap mata yang penuh harapan atas jawabannya. Seakan jawaban yang akan dilontarkannya adalah sebuah penentu hidup dan matinya. Yoong makin pusing dibuatnya.

“… kamu tidak boleh egois, pikirkan masa depannya nona Yoong. Saya hanya ingin anda berlaku adil.”

“… kami minta maaf Yoong, tapi ini demi kebaikan Kyuhyun. Bukankah kau mencintainya?”

Untaian kalimat itu tiba-tiba mengisi kepalanya, ia kembali terbawa ke dalam suasana tegang ketika ia berbicara dengan dua manusia yang dikenal Kyuhyun dengan baik. Orang-orang yang telah Kyuhyun anggap sebagai keluarganya sendiri.

“Tidak.” Jawab Yoong singkat membuat rahang Kyuhyun mengeras.

Kyuhyun meninju dinding tepat di samping Yoong, membuat gadis itu menahan napas saking takutnya. Pria itu kemudian tersenyum lemah ke arahnya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Apa benar? Kotjimallayo?”

Yoong menarik napas, menahan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya karena sakit melihat Kyuhyun yang seperti itu. “Pulanglah, ini sudah malam. Jangan minum soju atau wine, hatimu akan rusak karena kedua minuman itu.” Ujar Yoong berusaha tegar.

“Eng… geurae, aku sudah puas medengar jawabanmu. Hiduplah dengan baik Yoong-ah… aku mencintaimu.” Ujar Kyuhyun sembari menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit di dadanya.

Tubuh Kyuhyun bergetar, hatinya benar-benar rusak. Bukan rusak karena soju atau wine, tapi karena Yoong. Karena ketidakjujuran gadis itu untuk menjawab tiga pertanyaannya yang sama. Yoong tertunduk, ia juga merasakan hal yang sama.

Ketika derap kaki Kyuhyun tak didengarnya lagi, tubuh Yoong melemas. Ia terduduk bersandar di dinding salah satu lorong gedung aparte itu, meratapi nasib yang begitu jahat menyerangnya. Hatinya sakit, perasaannya hampa.

“Sesakit inikah?” Gumam Yoong sepi. Ia menunduk sembari terisak pelan.

“Yoongi-ya,”

Panggilan itu kembali terdengar di telinganya. Yoong tak tahu bahwa halusinasinya kini terlalu tinggi, ia bahkan merasakan sebuah tangan membawanya masuk ke dalam tubuh hangat seorang pria yang baru saja meninggalkannya. Sebuah pelukan yang terasa nyata untuk ukuran halusinasi.

“Kyuhyun…”

“Ini aku, aku belum meninggalkanmu.” Sahut Kyuhyun membuat Yoong terdiam, ia menghapus air mata yang telah membasahi pipinya. Ini bukan halusinasinya, ya… Kyuhyun belum meninggalkannya.

Wae? Wae?” Tanya Yoong memburu.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya, “bagaimana aku bisa meninggalkan gadis yang menangisi kebodohannya?”

Yoong terdiam, ia memukul dada Kyuhyun yang bidang, merasakan pelukan Kyuhyun yang entah sampai kapan akan terlepas kemudian meninggalkan kerinduan di hatinya. Sungguh malam yang paling ia takuti selama hidupnya.

Mianhaeyo, aku tak b…”

“Sssttt!” Kyuhyun mengacak rambut Yoong lembut, lalu beralih mengelus punggung Yoong yang bergetar. “Aku tahu, aku tahu kau tak menjawabnya dengan jujur… aku tahu alasanmu, aku mengerti.”

Yoong terdiam, dadanya kembali sakit karena pada akhirnya ia tetap harus melepaskan Kyuhyun. Melepaskan pria itu untuk segala kebaikan di antara mereka. “Mian...”

Wajah Yoong terangkat, Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya pada wajah gadis itu, lalu menghapus air mata yang masih membasahi kedua pipi gadis yang dicintainya. Pelan-pelan Kyuhyun mengecup bibir gadis itu, kecupan pertama dan mungkin yang terakhir pula.

“Aku mencintaimu,” sahut Kyuhyun setelah melepas kecupannya, ia menatap Yoong dalam sembari tersenyum tipis menahan kegundahan yang menerpa hatinya.

“Aku…”

Kyuhyun menggeleng, “jangan katakan, aku tahu… ini akan lebih mudah bila kau tak mengucapkannya.”

Hati Yoong teriris, ia mengangguk dengan senyum yang sama. Senyuman penuh rasa sakit dan penuh kegundahan. Benar-benar perpisahan yang menyakitkan.

“Jangan pernah menangis lagi, hanya aku yang boleh kau tangisi… tidak ada pria lain eo?”

Tubuh Yoong terangkat ketika Kyuhyun menariknya berdiri. Lagi-lagi pria itu memeluknya, namun kali ini lebih singkat, membuat Yoong tersadar akan kenyataan yang menyakitkan. Akhirnya mereka berpisah.

“Aku pergi… Jaga dirimu baik-baik Shin Yoong. Saranghae.” Ucap Kyuhyun kemudian berlalu meninggalkan Yoong yang bergumam mengucapkan kata cinta tanpa suara.

Ini bukan akhir dari segalanya, tapi sebuah permulaan. Yoong tersenyum miris, ia harus menata hatinya tanpa pria itu, yah… menatanya sendiri tanpa bantuan pria lain. Berat atau tidak, inilah konsikuensinya.

END

Advertisements