Im Bora terbelenggu, ia menatap intens kedua bola mata milik seorang pria, pria yang tengah tersenyum tidak jelas ke arahnya.

“Ryeowook-ah, Gwencanha?” Tanyanya kemudian. Pria itu melebarkan senyumannya, “gwencanha…”

Bora mendecakan lidah, ia menghirup oksigen maksimal lalu mengerucutkan bibirnya kesal. Ia tak mengerti arah pikiran pria itu, ya tidak pernah. Bahkan seluruh pria di duniapun, ia tak bisa mengerti. Pria memiliki pemikiran yang aneh dan tak terduga, selalu membuatnya bingung dan terkejut. Itu menurutnya.

Neo wae?” Tanya Ryewook sembari tertawa kecil. Wajah Bora sangat imut, yeah~ walau tak seimut dirinya.

Ani…” jawab Bora singkat. Detik kemudian, ia mengambil tas selempangnya dan menatap Ryeowook dengan tajam.

Na ka, aku tak bisa menunggu gadismu itu. Lagipula, aku tak mau ia salah sangka dengan kedekatan kita. Jal…”

Ucapan Bora terpotong ketika Ryeowook menariknya duduk kembali. Pria itu masih tersenyum, senyum yang membuat Bora muak karena tak mengerti kelakuan pria manis itu padanya. Apa yang ia inginkan eo?

“Tunggu sebentar lagi,”

Mendengar itu kuping Bora terasa panas, kemudian ia menghempaskan tangan Ryeowook lalu melihat jam tangan yang terpasang di lengan kirinya. “Aku tidak punya waktu lagi bis…”

“Bisa kau tunggu sebentar lagi? Aku yakin, kau akan terkejut.” Potong Ryeowook membuat Bora menghela napas panjang

Ryeowook bersidekap, ia menatap Bora dengan santai tanpa ada raut khawatir sama sekali berbeda dengan Bora yang dahinya penuh dengan guratan kekecewaan. “Apa gunanya aku melihat gadismu?”

Mata Ryeowook sukses terbelalak, ia tak pernah menyangka seorang Im Bora melontarkan pertanyaan tajam itu. Ia menatap Bora penuh tanya, “mwo?”

“Apa gunanya aku melihat gadismu? Ia milikmu dan bukan hakku, aku tak bisa membuang waktuku hanya untuk menunggu gadis leletmu itu! Gadismu sudah keterlalun membuang-buang waktuku dengan sia-sia.” Tutur Bora sembari menunjuk-nunjuk Ryeowook.

Aura panas memang telah muncul semenjak beberapa hari terakhir pada diri Bora. Sejak Ryeowook berceloteh mengenai kekasihnya, membuat kedua kupingnya terasa panas dan hatinya tersayat. Ya, Im Bora menyukai Kim Ryeowook, pernyataan yang tak megejutkan lagi.

Helaan napas Ryeowook terdengar berat, pria itu menarik jari telunjuk Bora lalu menggenggamnya dengan hangat. “Kau menyukaiku?”

Jantung Bora berdetak tak karuan, bukan ini yang ia inginkan, ya teringat akan status Ryeowook yang telah memiliki kekasih. Pertanyaan Ryeowook tepat menghunus jantungnya, sakit.

“Kau menyukaiku kan?” Tanya Ryeowook menatap kedua bola mata Bora tajam.

Tak ada jawaban. Bora menundukkan kepalanya, dadanya sesak. Sangat sesak, bahkan ia merasa pasokan air matanya telah terpenuhi, ia ingin menangis tapi itu tidak boleh terjadi. Im Bora bukan gadis cengeng yang menangis karena cinta. Tidak.

“Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?” Tanya Ryeowook, ia tercekat, menelan salivanya dengan susah payah. Ia bodoh.

“Tidak, aku tidak menyukaimu.” Tukas Bora sembari mengangkat kepalanya, matanya yang berkaca-kaca menatap keluar jendela melihat seorang gadis berjaket parasut ungu yang balik menatapnya tak percaya.

Dengan cepat Bora melepas genggaman Ryeowook, ia kemudian berdiri dan membungkukkan badannya dengan formal di hadapan pria itu. “Mianhaeyo Ryeowook-ah, aku tak akan mengulanginya lagi dan jelaskanlah pada gadismu bahwa kita tak punya hubungan apapun. Maaf telah merusak harimu.”

Ryeowook terdiam, lagi-lagi ia menghela napasnya dengan gusar saat melihat gadisnya berdiri di ambang pintu café setelah kepergian Im Bora.

“Gweebon-ah,”

@@@@@

Kim Gweebon. Bora mendecakan lidah tak percaya dan seperti kata Ryeowook, ia benar-benar terkejut melihat hobae yang sekarang berstatus sebagai pacar seorang Kim Ryeowook. Tak pernah percaya karena dunia Bora terlalu sempit untuk memperhatikan kejadian di sekitarnya. Ia bahkan tak tahu bila Ryeowook mengenal gadis itu.

“Kau ke mana saja?”

Mata Bora menatap seorang gadis berambut bob yang tengah berdiri di ambang pintu apartenya, gadis itu tersenyum sinis seperti biasa. Senyuman sinis nan cantik, bahkan Bora ragu dapat melontarkan senyuman sinis seperti gadis bob itu.

“Apa yang kau lakukan Im Jaein-ah? Kau mau minta makan? Atau ada pesan dari eomma?” Tanya Bora sembari membuka pintu apartenya. Sesekali ia menghela napas, mencoba melapangkan dadanya atas kejadian di café barusan.

Gadis bernama Im Jaein itu mengekori Bora untuk masuk ke dalam aparte saudarinya, ia lalu menghambur berbaring di atas sofa tanpa menjawab pertanyaan Bora tadi.

“Jaein-ah! Palli malhaebwa!” Seru Bora dengan aksen Busannya yang kental. Gadis itu lalu melemparkan Jaein dengan sekotak susu cokelat dari kulkas.

Eonni… aku hanya ingin mengajakmu bertraveling. Sebulan ini kau free kan? Aku ingin ke Singapura.”

Mata Bora sukses terbelalak. ia memang punya rencana untuk mengasingkan diri dari Ryeowook, mencoba bertahan tanpa melihat wajah pria itu dalam kurun waktu yang lama. Dan bukankah ajakan adiknya itu sangat menguntungkan?

Onje? Olmana?”

“Hari minggu ini, bagaimana kalau sebulan? Aku rasa sangat mengasyikkan.” Ujar Jaein sembari menyeruput susu kotaknya.

Otthae?”

“DEAL!” Seru Bora sembari tersenyum penuh. Setelah ini ia pasti akan melupakan Kim Ryeowook, menghilangkan perasaannya kepada pria itu. Bukankah sahabat itu tak boleh menjadi cinta? Ya, harusnya ia menjaga komitmennya sejak awal.

Eonni… susu kotakmu masih ada?”

@@@@@

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar…”

KLIK

“Nomor yang anda tuju sedang…”

KLIK

Ryeowook mendesah, sudah ribuan kali ia menelpon gadis itu namun tak satupun diangkatnya. Hanya suara operator cantik nan menyebalkan yang selalu ia dengar sebagai jawaban abstrak.
Langit malam telah tiba, anginpun berhembus dengan amat kencang membuat Ryeowook harus merapatkan jaket parasutnya berulang kali. Ia berdiri mematung, menatap gedung aparte Bora dengan dada yang sesak. Ottokhaeyo?

“Im Bora, aku menunggumu di luar… ada yang ingin ku bicarakan padamu.” Ucapnya lalu menekan tombol send untuk pesan suaranya.

Ia tahu gadis itu tak ingin menjawab teleponnya, dan pasti akan menerima pesan suaranya walau kemungkinan gadis itu menemuninya hanya sekian persen. Ryeowook tahu, karena gadis itu keras kepala dan mempunyai tingkat ego yang tinggi.

“Ryeowook oppa!”

Suara itu membuat leher Ryeowook memanjang, ia melihat seorang gadis berambut bob tengah berlari menghampirinya dari gedung aparte Bora. Im Jaein.

“Mengapa oppa ada di sini? oppa mau pergi bersama Bora eonni?” Rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Jaein dalam sekali tarikan napas membuat Ryeowook mempertajam telinganya.

“Apa Bora tak bercerita padamu?” Tanya Ryeowook setelah Jaein diam menatapnya penuh rasa tahu.

Ani, mwohae? Malhaebwa oppa!” Seru Jaein sembari menarik Ryeowook untuk duduk di sebuah bangku taman di sebelah gedung aparte Bora.

Ryeowook menghela napas, ia mulai ragu untuk menceritakan masalahnya dengan Bora pada gadis itu. Ia tahu bagaimana seorang Bora menyimpan seluruh masalahnya rapat-rapat dari keluarganya, apalagi soal perasaan. Satu sisi ia tak ingin Bora murka karena telah bercerita pada Jaein, disisi yang lain ia ingin Jaein membantunya.

“Tapi, kau jangan memberitahukan pada Bora. Ara?”

Melihat Jaein mengangguk, Ryeowook pun menceritakan semuanya. Ya, hanya itu yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki semuanya. Mengulang semuanya dari awal untuk mendapatkan gadis itu. Im Bora.

@@@@@

“Aku tak tahu, bukannya aku tak mau… tapi aku benar-benar tak tahu cara untuk memperbaiki hubungan kalian oppa. Geudae, aku akan mencobanya walau kemungkinannya sangat kecil.”

Entah sudah berapa kali Ryewook menghela napas. Ia juga tak tahu sudah berapa banyak waktunya terbuang karena harus memikirkan kata-kata Jaein yang akan berusaha membantunya. Membantu masalahnya dengan Im Bora.

Ia pun tak bisa fokus membuat sebuah surat permintaan usaha ketika bayang-bayang Gweebon yang terisak karena keegoisannya bermain di otaknya. Ya, Kim Gweebon, gadis yang telah menjadi kekasihnya sejak beberapa minggu yang lalu.

Bukan mempermainkan gadis itu, bahkan tak sekalipun ia berpikir untuk mempermainkannya. Ini semua diluar rencananya, sangat sakit memang mengetahui bahwa Bora menyukainya. Sakit, karena seorang Kim Ryeowook baru menyadari kebodohannya.

Ya, ia tak munafik untuk menyangkal bahwa ia menyukai sahabatnya itu. Tidak! ia mencintai seorang Im Bora. Dan ia memang bodoh karena tak peka terhadap perasaan gadis itu, malah ia mengira Bora menyukai pria tampan yang tinggal di sebelah apartenya. Karena itulah ia berpacaran dengan Kim Gweebon, berharap gadis itu dapat membuang perasaannya terhadap Im Bora jauh-jauh. Namun…

Naega micheo…

@@@@@

Gadis berjaket parasut itu berjalan dengan pelan di kawasan Myeondong, matanya bergerak lincah melihat-lihat koper murah yang akan dibawanya nanti saat bertraveling dengan Jaein di Singapura.

Hatinya memang belum terobati, tapi ia tentu bukanlah gadis yang mellow, yang terlalu memikirkan perkembagan cinta tak berujung. Tidak, ia gadis yang berlogika. Terlepas dari itu, ia memang excited dengan ajakan Jaein. Bukankah ia sangat menyukai negara itu? Ya, negara tropis yang modern.

Imo, aku beli yang ini eo.” Ujar Bora sembari menarik sebuah koper berukuran sedang. Setelah berpikir panjang tadi malam, ia sepakat untuk tinggal selama 2 bulan lebih di Singapura, membuatnya harus membeli koper untuk perjalanan panjangnya ke negara itu.

Senyum Bora berkembang saat gadis itu menghirup bau kopi di salah satu café di kawasan Myeondong. Sembari menarik koper kosongnya iapun masuk ke dalam café itu dan memesan secup mocca hangat.

Sunbei…”

“Gweebon-ssi!”

Tenggorokan Bora tercekat saat ia menyebut nama Gweebon yang kini tengah berdiri di hadapannya. Ia pun hanya bisa terdiam saat tangan kanan gadis itu menyentuh pipi kirinya.

PLAK!

“Kau… kau munafik!” Seru Gweebon dengan dada yang bergerak naik turun.

Bora menyentuh pipi kirinya, ia tidak peduli dengan orang-orang yang menatap mereka ingin tahu karena kini fokusnya hanya satu. Gweebon. Ia tak mengerti dengan maksud perlakuan gadis itu.

Mwohaneun geoya? Gweebon-ssi! Mengapa kau seperti ini? Apa yang terjadi padamu eo?” Tanya Bora tajam.

Gweebon menghela napas, lalu tersenyum sinis pada Bora. “Ada apa? Seharusnya aku yang bertanya padamu sunbei! Ada apa?”

Dahi Bora mengkerut, ia makin tak mengerti dengan arah pikiran gadis itu. Apakah ada hal buruk yang terjadi dengannya? Apa karena kejadian kemarin? Berbagai pertanyaan muncul di otak Bora saat ini.

“A… Apa Ryeowook tidak menjelaskannya padamu?” Tanya Bora hati-hati setelah mendapatkan pertanyaan yang lebih jelas.

Ne! Dia menjelaskan semuanya padaku! Tentang betapa hati kalian tak bisa terpisahkan, tentang bagaimana perasaan kalian yang tak terbalas! Dan tentang kebodohan kalian berdua!” Gweebon terdiam, dadanya kembang kempis karena terlalu banyak berteriak.

“Kami putus! Kau puas sekarang?” Lanjutnya membuat Bora terdiam.

Bukan ini yang ia inginkan. Tentu. Ia tak pernah ingin menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan, bahkan untuk merusak hubungan mereka pun tak pernah terlintas di otaknya. Bila ingin jujur, bukankah Kim Gweebon yang telah menjadi orang ketiga antara ia dan Ryeowook?

“Kau bohong kan?”

Gadis yang telah menamparnya itu menghela napas panjang lalu mendecakkan lidahnya. “BOHONG?”

“Kau pikir tamparan itu bohong? sunbei! KIM RYEOWOOK MENCINTAIMU!” Tutur Gweebon kemudian berlalu meninggalkan Bora yang terdiam bodoh.

Persetan dengan seluruh manusia yang menatapnya nanar, tentu saja ia tak peduli dengan orang-orang itu. Ia hanya terdiam, memikirkan tuturan Gweebon yang tepat menusuk jantungnya.

“…KIM RYEOWOOK MENCINTAIMU!”

@@@@@

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Ya, Im Bora mengakui kebodohannya. Ia memang gadis yang terlalu suka memendam perasaan, gadis yang dengan tololnya membiarkan seorang yang ia sukai berlalu begitu saja tanpa tahu perasaannya.

Namun, semuanya sudah terlambat. Bora telah mengambil keputusan, terlalu gengsi pula untuk menyatakan cintanya yang kemungkinan terbalas itu kepada Ryeowook. Salah? Bagaimanapun Bora bukanlah gadis yang suka mengubah keputusan. Sekali itu tetap itu.

Eonni… kau serius ingin tinggal di Singapura?”

Bora mengangguk, menyembunyikan keterjutan karena lagi-lagi ia memikirkan pernyataan Gweebon di café. Tangan Bora bergerak, memasukkan beberapa pakaian ke dalam kopernya. Ia tak menghiraukan Jaein yang sibuk berjalan ling-lung di sekitarnya.

Jinjjayo?

Ne! Jinjja, wae? Kau tidak bisa? Kalau begitu…”

Aniya, hanya saja… hanya…”

Jaein terdiam. Ia lalu melirik Bora yang menatapnya tajam. Gadis itu memang pintar berbohong, tapi kali ini sangat sulit. Apalagi dengan sikap Bora yang mulai menampakkan aura tegas.

“Eo, aku sudah lama tidak melihat Ryeowook oppa. Ke mana dia?”

Lidah Bora tercekat. Ia lalu berdiri dan beranjak ke dapur, menghiraukan Jaein yang cengo melihat sikap saudarinya itu. Bora eonni memang keren.

Eonni, kau punya masalah dengan Ryeowook oppa?” Tanya Jaein sembari duduk di sofa, Bora hampir tersedak mendengar pertanyaan Jaein. Tepat sasaran.

“Masalah apa? Aniya,”

Jaein terkekeh, ia menyalakan televisi lalu melemparkan Bora sebuah bantal. “Dari jawabanmu pasti ada sesuatu. Malhaebwa eonni.”

Mwora? Eobso! Kau ini sok tahu sekali.” Sahut Bora sembari melempar bantal itu tepat ke atas kepala Jaein.

Pabopalli malhae! Kau mau aku melapor pada eomma?”

Dahi Bora mengkerut mendengar ancaman Jaein. Gadis itu tak mengerti dengan ancaman saudarinya, ya tak mengerti sama sekali. Melapor pada eomma? Untuk apa?

“Lapor saja!” Seru Bora tak peduli lalu kembali sibuk merapikan pakaiannya.

Geurae, lapor saja…” Jaein bergumam sembari tersenyum penuh. Akhirnya ia mengerti.

@@@@@

Eonni! Kau akan baik-baik saja kan?”

Bora mengangguk sembari menghela napas. Ia memutar bola matanya, melihat ribuan manusia di bandara Incheon tanpa minat. Jaein sok mengkhawatirkannya.

Eonni! Kau masih marah padaku?” Tanya Jaein sembari tersenyum menggoda. Bora tak terkecoh.

Oppa, kau harus membuat eonni tidak marah padaku lagi eo? Ia sangat men…”

“Yaa! Jam berapa pesawatmu berangkat? Sudah sana, masuk saja!” Seru Bora memotong pembicaraan Jaein pada seorang pria yang tengah tersenyum penuh.

Jaein mendesis kepada Bora. Senyumnya pun mengembang ketika melihat pria berwajah manis di samping saudarinya. “Ryeowook oppa, eonni! Naega ka!!!”

“Bye,” sahut Bora sembari menatap Jaein yang telah menghilang dibalik pintu transparan.

Kini ia hanya bisa terbelenggu, ucapannya beberapa waktu lalu memang telah menjadi senjata makan tuan. Ia tak jadi berangkat ke Singapura, ya… karena Jaein telah melapor kekisruhan hubungannya dengan Ryeowook. Ia masih belum mengerti, mengapa ibunya terlalu memikirkan masalahnya dengan Ryeowook?

Apa ibunya punya hutang kepada pria itu? Ataukah Kim Ryeowook adalah seorang yakuza yang pernah mengancam ibunya? Ok, sepertinya kedua hal itu tidak mungkin.

Cha! Mari kita berlibur ke Busan!” Seru Ryeowook sembari menarik Bora.

Bora mendengus, “kau puas sekarang?”

“Sangat puas! Setidaknya aku tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk membeli tiket ke Singapura, bahkan ibumu memperbolehkanku menginap di rumah nenekmu.”

Halmoni?”

Ryeowook mengangguk, ia kemudian membuka pintu mobil untuk Bora dan berlari mengelilingi setengah badan mobil untuk duduk di belakang kemudi. “Ya, kita akan ke rumah halmoni!”

“Aku pikir, akan lebih baiknya kita berlibur di desa halmoni. Di sana lebih tenang daripada negara tropis yang panas itu.” Ujar Ryeowook sembari melirik Bora beberapa kali.

Kini gadis itu terdiam, diam memikirkan detak jantungnya yang terus berdetak abnormal. Apa Ryeowook mendengar detak jantungnya? Oh! Ia harap tidak walau memang keduanya telah mengetahui perasaan masing-masing.

“Aku mencintaimu.” Gumam Ryeowook masih sibuk menyetir. Mata Bora membulat, jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Ada rasa yang membuncah aneh di dadanya. Antara senang atau cemas.

Neo tto?” Tanya Ryeowook kini menatap Bora dalam. Bora merutuk, kenapa harus ada lampu merah di saat-saat yang seperti ini?

Tangan Ryeowook bergerak menangkupkan wajah Bora agar menghadapnya. Gadis itu tetap kukuh, tak balas menatapnya. Lagi-lagi Ryeowook terkekeh, “biar tak kau jawabpun aku tahu isi hatimu.”

“Jangan lari lagi arasseo?”

Bora mengangguk dalam diam. Sesaat ia tak berkutik ketika Ryeowook mengecup keningnya lembut. Pria itu masih saja menampilkan senyum terbaiknya kepada Bora. Sungguh, ia akhirnya bisa bernapas lega setelah mengetahui rencana Jaein untuknya. Dan well, rencananya berjalan lancar.

Pelan-pelan Ryeowook mendekatkan wajahnya, mengelus kedua sisi pipi Bora dengan lembut dan…

TIIN TIIN!!

“Lampu hijau pabo! Palli!! Kau membuat kekacauan saja!”

“Ah! Iya iya!! Jangan berteriak! Kau membuatku gugup!!”

@@@@@

[Epilog]

Eomma, Bora eonni bertengkar dengan Ryeowook oppa! Padahal jelas-jelas mereka saling mencintai. Eonni memutuskan untuk tinggal di Singapura selama dua bulan ini, sepertinya ia ingin berlari dari Ryeowook oppa. Ottokhae eomma?” Tanya Jaein sembari bersungut cemas.

Ibunya mendengar penjelasan Jaein dengan tenang. Sedetik kemudian beliau mengangguk, “daripada menghabiskan uang ke Singapura suruh saja ia ke sini! Kalau perlu kau ajak pula Ryeowook. Ibu sangat senang dengan pria manis itu, ia pintar memasak.”

Jaein tersenyum penuh, “eomma, bicaralah pada eonni, ia lebih menurutimu daripada adiknya sendiri.”

Geurae, ah… halmoni sedang membutuhkan bantuan di desa! Jaein-ah, kau bisa membantu halmoni kan?”

Dahi Jaein mengkerut, “eomma… kenapa tidak ajak eonni dan Ryeowook oppa saja?”

END

P.s

SEMOGA ADA YANG BACA SEKALIGUS KOMENTAR 🙂

Advertisements