Donghae melangkahkan kakinya perlahan, menatap setiap kelas yang dilewatinya dengan datar. Kedua telinganya terasa bising, dan itu bukan karena keadaan koridor yang sepi tapi karena kepalanya yang terus berargumen memerintahkannya ini itu untuk memikat hati Jung Gyuri.

Ya, ia tahu bahwa kini Jung Gyuri adalah milik Kibum, tapi ia tak pernah pungkiri bahwa perasaan kagumnya pada gadis itu cukup besar dan bermental kuat untuk menariknya ke dalam dekapan hangat seorang Lee Donghae.

“Donghae-ya!!”

Langkah Donghae terhenti, tangan kanan Kibum telah merangkulnya dan bergerak mengacak-acak rambutnya dengan gemas. Donghae mendesis, mendorong tubuh Kibum dengan kesal. “Yaa! Kau gay?”

Mata Kibum membulat lalu menjitak kepala Donghae dengan cukup keras. “Shikkeuro! Aku bukan gay!! Lagipula aku kan sudah punya seorang Jung Gyuri.”

Bibir Donghae terkatup rapat, ia kemudian tersenyum sinis dan berjalan cepat memasuki kelasnya. Kepalanya memberontak saat Kibum mengungkit-ungkit hubungan spesialnya dengan Jung Gyuri. Benar-benar merusak harinya.

“Donghae-ya! Jigeum wae?” Tanya Kibum sembari menepuk pipi Donghae dengan pelan, Donghae mengelak ia mendesah dengan mata yang sibuk memandang keluar jendela.

“Kau ke sana saja…” gumam Donghae hambar. Kibum terdiam, mengelus dagunya yang mulai ditumbuhi oleh rambut-rambut halus. Pria itu berusaha mengartikan gumaman Donghae yang terdengar cukup jelas di telinganya.

Geurae… kau benar juga! Naega ka!! Aahhh Gyuri pasti tengah menungguku. Terima kasih Donghaeku~~ otakmu cemerlang!”

Michin!!” Seru Donghae sembari melempar pulpennya ke arah Kibum yang telah hilang di balik pintu kelas. Ia terdiam bodoh, hatinya panas, sangat panas ketika mendengar nama Gyuri disebut oleh sahabatnya itu.

Na ottokhae?

@@@@@

O… geurae! Nae sarang! Nae yeoja! O my girl!

Dengan semangat Donghae menghentakkan kedua tangannya di meja, menggerak-gerakkan kepalanya ke berbagai arah dan melantunkan sebuah rap dengan sempurna. Di kedua telinganya terpasang dua buah earphone yang melantunkan sebuah lagu hip hop dengan volume cukup besar.

“YAA! LEE DONGHAE!”

Sebuah kapur sukses membuatnya terdiam. Matanya berkedip-kedip menatap seorang guru berkacamata kecil tanpa ada rasa takut di dadanya. “Waee??” Sungutnya tak terima.

Pria berkacamata itu lalu berjalan mendekati bangku Donghae lalu menepuk kepala siswanya itu tanpa ampun. “Dasar anak nakal! Keluar kelas sekarang juga!!”

Ultimatum itu membuat Donghae menghela nafasnya berat, ia lalu keluar kelas dengan lunglai setelah menyadari kebodohan yang dilakukannya barusan. “Tck… michin.” Gumamnya kesal.

Mwo!? AWAS KAU LEE DONG…”

Donghae langsung menutup pintu kelas sebelum teriakan cempreng Kim saem merusak gendang telinganya. Ia lalu bersandar di tembok, mengacak rambutnya dengan kesal sembari mengumpat tidak jelas.

“Guru itu memang menyebalkan bukan?”

“Ya, tentu saja! Pelajarannya saja sangat…” Mata Donghae membulat, di sampingnya seorang Kim Hyewon tengah terduduk termanggu sambil memegang sebuah buku tebal berwarna menarik di sampulnya.

“Emh… dia memang membosankan.” Ujar Hyewon tanpa beralih dari bacaannya. Donghae menelan ludahnya berat, matanya tidak berkedip melihat Hyewon yang terlihat seperti hantu koridor dengan rambut panjang yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“Kau? Bagaimana bisa eo?” Tanya Donghae sembari duduk di samping Hyewon, menatap lantai koridor tanpa minat.

Hyewon terdiam cukup lama, ia kemudian menoleh ke arah Donghae dan menatap pria itu tanpa minat. “Aku selalu keluar saat jamnya dimulai.”

Mwo? Segampang itu?” Donghae berdecak tak percaya.

Gadis itu mengangguk ringan dan kembali sibuk membaca bukunya dengan serius. Donghae mendengus, fakta menyebutkan bahwa seorang Kim Hyewon sangat membosankan benar adanya. Gadis itu sangat… sangat… membosankan.

Donghae kemudian berdiri, matanya bergerak memperhatikan keadaan koridor sekolahnya dengan intensif. “Naega ka! Selamat membaca bukumu dengan nyaman Hyewon-ssi,”

Tanpa menunggu balasan Hyewon, Donghae langsung berjalan meninggalkan gadis itu. Sudah dapat ditebak, Kim Hyewon tak akan menggubrisnya dan akan selalu khidmat membaca bukunya hingga bel pergantian jam berbunyi. Ia merutuk, tak percaya bahwa jenis gadis seperti itu benar-benar ada di dunia nyata.

@@@@@

Annyeong… Lee Donghae imnida, kau Jung Gyuri kan? Aku temannya… akh!!”

Donghae menjambak rambutnya frustasi. Bel pergantian jam telah berbunyi tapi ia masih saja asyik duduk di balik pohon memperhatikan Jung Gyuri yang tengah berolahraga bersama teman-temannya di lapangan.

Ia kemudian berdehem, mencoba untuk melatih suaranya untuk berkenalan dengan seorang Jung Gyuri. “Aaa… aaa… Lee Donghae imnida. Kau Jung Gyuri kan? Aku temannya Kim Kibum.”

Annyeong!! Lee Donghae imnida… akkh! Michin!!” Umpat Donghae kesal, lagi-lagi ia menjambak rambutnya yang mulai rontok karena ditarik semena-mena oleh sang empunya.

Babo!” Gumamnya lalu beranjak keluar dari persembunyiannya mendekati lapangan yang tengah ramai dengan beberapa siswa yang tengah berolahraga.

Mata Donghae fokus, sangat fokus memperhatikan sosok Jung Gyuri yang tengah mendrabble bola basket, sosok itu lalu berlari mendekatinya. Langkah Donghae tak pernah berhenti, ia menatap sosok Gyuri dengan takjub, mengkhayalkan gadis itu tengah berlari untuk menghampirinya.

DUAKKK!!

Tubuh Donghae terkulai lemas di atas lapangan, senyumnya merekah saat ia melihat sosok Gyuri di depan matanya. Ia tersenyum, hingga akhirnya ia mencium bau amis dari hidungnya dan pikirannya pun melayang. Donghae tak sadarkan diri.

@@@@@

Kelopak mata Donghae bergerak, dengan susah payah pria itu membuka matanya yang telah tertutup selama beberapa menit yang lalu. Tangannya bergerak menyentuh pelipisnya, pening. Bau amis pun tercium jelas pada indra penciumannya.

“Donghae-ssi? Kau sudah sadar?”

Telinga Donghae menegang, suara manis itu tidak asing lagi di telinganya. Jung Gyuri! Matanya membulat melihat sosok Gyuri yang menatapnya cemas dengan pakaian olahraga yang sangat cocok di tubuh gadis itu.

Gg… gwencanhayo.” Jawab Donghae gugup, ia lalu mendesis ketika mengingat kejadian bodoh yang membuatnya bisa terbaring di ruang kesehatan sekolah.

Babo! Babo! Babo! Umpat Donghae dalam hati, ia memang sangat bodoh hingga tak menyadari bola yang dilempar Gyuri ke arah ring akan bergerak mengenai wajahnya hingga hidungnya mengalami pendarahan.

“Darahmu sudah tidak keluar lagi, hidungmu hanya sedikit memar. Tidak apa-apa, semuanya aman dan aku minta maaf dengan kesalahanku tadi.” Jelas Gyuri membuat Donghae tercengang, tercengang takjub menatap kecantikan seorang Jung Gyuri.

“Donghae-ssi? Gwencanha? Apa kau mendengarku?”

Donghae terkesiap, ia lalu mengangguk pelan dan mengusap tengkuknya untuk menahan malu atas kebodohan yang ia alami selama seharian itu. “Aku tidak apa-apa, jangan cemas Gyuri-ssi.”

Wae? Wae?! Ada apa?!”

Tiba-tiba Kibum berlari masuk, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara Donghae dan Gyuri. Melihat Kibum, Donghae langsung menutup wajahnya dengan selimut, ia akan malu setengah mati bila Kibum tahu asal mula kejadian yang menimpanya itu.

“Yaa! Lee Donghae! Geunyang wae!?” Seru Kibum sembari menyibak selimut Donghae hingga wajah pria itu terlihat dengan jelas di matanya.

Donghae menutup matanya rapat, mengibaskan tangannya menyuruh Kibum untuk keluar dari ruangan itu segera. Kibum mendecak kesal lalu beralih menatap Gyuri dengan senyumnya yang menawan.

“Ada apa Jagiya?” Tanyanya pada gadis itu.

Gyuri mengerucutkan bibirnya, menatap Kibum dengan manja, “aku tidak sengaja melemparkannya dengan bola basket, hidungnya memar dan ia tak sadarkan…”

“Sudah sudah! Jangan diteruskan lagi.” Potong Donghae lalu melesat keluar ruangan itu dengan dua kuping yang memanas.

Ia sudah tak peduli dengan kepalanya yang masih pening serta kedua kakinya yang berjalan di koridor tanpa pengalas kaki. Hatinya benar-benar runyam, tak tahan mendengar percakapan dua sejoli itu yang terdengar menjijikkan di telinganya.

“LEE DONGHAE! KE MANA SEPATUMU!!!”

To be continue~~

Advertisements