Ji Hye berlari menembus ribuan manusia yang berlalu-lalang di bandara Internasional Incheon, jantungnya berdegup cukup kencang setelah mendapati banjir email dari Kibum sepulangnya dari Singapura.

Email-email yang mampu membuatnya berlari seperti orang kesetanan tak tahu arah, membuatnya dengan mudah berbohong dengan para seniornya sebagai alasan untuk menolak acara kesuksesan tim jelajah departemennya.

Ji Hye sendiri telah menjadi seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi selama setahun lebih di universitasnya, menjadikannya sebagai mahasiswa ‘sibuk’ dengan segudang aktivitas yang digemarinya. Tim jelajah menjadi salah satu kesibukannya kini, menjadikannya seorang traveler bersponsor bersama para seniornya.

“Namsan Tower!” Seru Ji Hye pada supir taksi yang baru akan bertanya ke mana tujuannya. Tak perlu waktu lama, taksi berwarna biru itu pun melesat membelah jalan mega.

Jemari Ji Hye bergerak lincah di atas androidnya, membaca ulang email yang dikirimkan Kibum selama perjalanannya. Pikiran Ji Hye berkecamuk, ada rasa sesal yang mendesak di hatinya. Ia memang salah karena tidak memberitahukan Kibum mengenai tim jelajahnya dan meninggalkan pria itu tanpa kata pamit.

Kau ke mana? Mengapa kau menghilang? Apakah ada sesuatu yang terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan dari Kibum itu membuat perasaannya campur aduk. Entah itu senang, bahagia, dan takut. Semuanya bercampur seperti pat bing su yang dijual di sekitar Myeondong. Ia tak sadar terlalu sibuk bertraveling sampai melupakan sosok Kibum.

Setelah turun dari pesawat, ia langsung mengecek emailnya dan mendapati beberapa email kecemasan dari Kibum. Detik berikutnya ia pun sibuk membalas email Kibum dan meminta pria itu untuk ke Namsan Tower hanya demi meluruskan kekhawatirannya, atau mungkin… meminta maaf dengan kecuekannya itu.

Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya gadis dengan backpacker itu turun dari taksi dan melangkah mencari sosok Kibum di tengah kepadatan Namsan Tower. Matanya bagai mata elang, tidak membiarkan sudut manapun lepas dari pandangannya.

“Kau ke mana saja eo?”

Tubuhnya menegang ketika pria yang dicarinya telah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan raut yang tak dapat ia baca. Tatapan mata pria itu bahkan membuat kerja otaknya melambat, sungguh tatapan hangat yang jarang ia temukan dari sosok Kibum.

“Jawab aku, kau ke mana saja?”

Ji Hye menunduk, menatap ujung sepatu belel penuh lumpurnya dengan cemas, “mianhaeyo, aku bertraveling tanpa berpamitan denganmu. Mian,”

Gadis itu kemudian tersentak ketika Kibum memegang erat kedua bahunya, membuat kedua matanya dapat melihat wajah pria itu dengan jelas dalam jarak beberapa centi. “Aku mengkhawatirkanmu, kau tahu itu? Kenapa tidak membalas emailku?”

Ji Hye menggigit bibir bawahnya ragu, ia pun menjawab, “aku terlalu sibuk sehingga tidak mengeceknya. Mian,”

Geurae, lain kali jangan diulangi. Ara?” Kibum mengacak rambut Ji Hye gemas sembari tersenyum penuh. Ji Hye tercengang, akhirnya ia mendapati senyuman itu. Senyuman hangat dari si killer smile universitasnya.

“Emh…” gumam Ji Hye, detik berikutnya ia terkikik geli, kerja otaknya benar-benar melambat ia bahkan lupa bertingkah usil seperti biasanya.

Wae?” Tanya Kibum sembari melepas genggaman tangannya pada kedua bahu Ji Hye, ia sendiri tak bisa menahan gejolak rindu di dadanya. Ada rasa ingin memeluk gadis itu dan mengatakan bahwa dirinya sudah seperti orang gila karena kalang-kabut mencari info tentangnya, tapi semuanya hanya angan. Itu tak bisa terjadi.

“Kau merindukanku?”

Pertanyaan itu bagai panah yang menerjang hatinya. Tepat sasaran. Dengan cepat Kibum mendengus, “eo, kau lapar? Berapa jam perjalananmu dari Singapura?”

Kali ini Ji Hye yang mendengus, ia menatap Kibum dengan tajam. “Kau sudah kerna karma bukan?”

“Tidak mungkin…”

Oppa! Jangan berboh…”

Khajja, aku sudah lapar.” Potong Kibum sebelum mendapati wajahnya yang memerah seperti goguma akibat bualan kecil Ji Hye.

Senyum gadis itu melebar, secara sadar ia tahu bahwa ia menyukai pria itu. Entah menyukai dalam artian apa. Yang pasti jantungnya terus berdentam keras saat mata Kibum menatapnya lembut dan bahkan seluruh kelakuan pria itu membuat dunianya seperti dunia khayalan. Sangat memabukkan.

Baru saja mereka melangkah menjauhi Namsan Tower, tiba-tiba Kibum berhenti dan merogoh sakunya. Pria itu kemudian menempelkan handphone di telinganya, mendengarkan sebuah suara yang sangat mengganggu aktivitasnya kini.

“Sekarang?”

Mwo? Maksudmu sekarang?!”

Tubuh Kibum lunglai setelah menaruh handphone di saku jeansnya, ia kemudian meraih pergelangan tangan Ji Hye dan menatap gadis itu serius. Darah di tubuh Ji Hye berdesir menimbulkan warna hangat di permukaan wajahnya, ia tak kedinginan, malah ia merasa panas ketika melihat tatapan pria itu.

“Ikuti aku!”

@@@@@

Ppalli!! Ia tidak bisa bertahan lama! Ppalli!”

Ji Hye menatap Kibum dengan takjub. Pria itu berlari-lari cemas, mendorong sebuah kereta pasien bersamaan dengan beberapa orang berbaju putih. Di sekitar tubuh Kibum telah dipenuhi oleh bercak-bercak darah yang membuat jantung Ji Hye berdetak lemah.

Awalnya Ji Hye mengira bahwa pria itu hanya akan membawanya ke dorm departemennya. Ternyata tidak, Kibum membawanya ke rumah sakit karena jasanya tengah dibutuhkan oleh beberapa dokter ahli bedah di sana. Ji Hye tak pernah mengira bahwa kemampuan pria itu sudah diakui oleh para dokter, membuatnya harus mengaku dengan segala kepintaran yang dimiliki pria itu.

Potongan-potongan kejadian yang dilihatnya kini seperti rol film yang tertata rapi di otaknya. Ia tak bisa melupakan sosok Kibum yang sangat serius menangani pasiennya, ia bak dokter ahli yang sangat dibutuhkan seluruh pasiennya. Ji Hye terpukau, bahkan ia harus menjilat ludahnya sendiri karena pernah mengelak untuk memiliki pacar seorang dokter. Dan sekarang, ada rasa yang terpendam di hatinya… ia menyukai Kibum.

2 jam… 3 jam…

Akhirnya Kibum keluar dari ruang UGD. Matanya yang sayu menatap Ji Hye dengan cemas. “Kau tidak apa-apa?”

Ji Hye mengangguk, persetan dengan waktu dan seluruh kebosanannya mencium aroma rumah sakit yang khas. Ia bahkan terlalu banyak mengingat ekspresi Kibum dan melupakan waktu yang terus mengikis harinya. Gadis itu terdiam, matanya menatap Kibum tanpa berkedip.

“Apa kau merasa bosan? Mianhae, harusnya aku menyuruhmu pulang saja.” Ucap Kibum cemas.

An…” kalimat Ji Hye terpotong saat beberapa dokter mendatangi Kibum dan mengucapkan terima kasih kepada Kibum atas bantuannya.

“Aku berganti baju dulu,” sahut Kibum setelah kawanan dokter itu berjalan meninggalkannya. Ji Hye mengangguk, lalu menatap punggung Kibum yang lama-kelamaan hilang di balik sebuah pintu.

Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Benar-benar gila dan diluar isi kepalanya.

@@@@@

“Aku… aku sebenarnya sudah menjadi dokter, tapi aku melanjutkan lagi kuliahku jadi seperti yang kau lihat tadi. Aku seperti dokter panggilan.” Ungkap Kibum saat mengantar Ji Hye pulang.

Matahari telah terbenam, menyisakan semburat orange di langit Seoul. Sungguh, musim panas yang indah bagi seorang Ji Hye. Ia tak pernah tahu bahwa ia memiliki banyak waktu yang terbuang percuma ketika menunggu Kibum tadi, tapi hal itu tidaklah buruk. Ia merasa senang, merasa spesial.

Geurae? Aku pikir kau memang pintar makanya mereka percaya denganmu.” Sahut Ji Hye setelah mengingat kejadian itu.

Pabo! Tentu saja tidak, lagipula hal itu tidak diperbolehkan. Walau aku pintar, aku tetap tak boleh melakukan praktek kecuali bila aku telah menjadi dokter.”

Ji Hye mendesis, “kan itu gosip yang ku dengar dari kalangan mahasiswa, mana aku tahu kalau kau ternyata sudah menjadi dokter.”

“Aku dokter, tapi pengetahuanku masih sedikit jadi aku harus belajar lagi.” Ralat Kibum sembari menatap jalanan Seoul dengan serius.

Mata Ji Hye bergerak menatap siluet Kibum di sebelahnya, entah mengapa, sejak mengenal pria itu ia tak bisa menyembunyikan rasa kagum atas ketampanan dan kepintaran yang dimilikinya. Ketika melihat sosok Kibum, ada rasa puas yang tercipta di dadanya.

Wae? Apa yang kau lihat eo?”

Ani… Kau tahu? Aku sangat takut melihat darah tapi saat melihatmu dengan bercak darah aku merasa kau begitu hebat.” Ujar Ji Hye membuat Kibum mengerutkan dahinya bingung.

“Maksudmu?”

“Aku menyukaimu.”

Kibum terdiam, begitu pula dengan Ji Hye. Mata pria itu fokus melihat jalanan walau pikirannya tegah berdebat mendapati kenyataan yang diutarakan Ji Hye barusan. Ada rasa senang di hatinya, namun rasa itu diselimuti oleh kecemasan yang sangat mendalam.

“Em… tadi itu aku hanya bercanda, neilba!” Sorak Ji Hye dengan susah payah, tenggorokannya tercegat setelah keceplosan mengungkapkan perasaannya terhadap Kibum.

Mobil yang ia tumpangi bergerak lambat mendekati sebuah gedung aparte minimalis, jantung Ji Hye berdentam lambat, ia takut. Takut bahwa pria itu akan menjauhinya setelah pertemuannya hari ini.

“Ji-ya,”

Tangan Ji Hye yang baru saja akan menyentuh kenop pintu ditahan oleh Kibum, pria itu lalu menariknya hingga mata mereka bertemu. Ji Hye tak berani bersuara, berharap Kibum tak mendengar suara jantungnya yang akan meledak dalam hitungan detik.

“Beristirahatlah dengan baik, kau pasti sangat lelah. Neilba,” ujar Kibum lalu mengelus puncak kepala Ji Hye dengan lembut.

Ji Hye mengangguk, menyunggingkan senyuman kecil yang mengisyaratkan sebuah kekecewaan setelah mendengar perkataan Kibum. Ia pikir ada hal yang baik akan terjadi, ia pikir Kibum akan menjawab pernyataannya, ia pikir… terlalu banyak prasangka baik di otaknya. Namun, itu hanya prasangka, prasangka yang salah.

Kaki Ji Hye terus melangkah memasuki gedung apartenya, ia bahkan tak berbalik hanya untuk melihat sosok Kibum di balik kemudi. Ia terlanjur kecewa, terlanjur merasakan sesak yang cukup sakit di dadanya.

Cukuplah ia tahu perasaannya tak akan terbalas. Sudah cukup ia merasa senang dengan seluruh tingkah pria itu di hadapannya. Cukup pula ia tahu bahwa kini ia harus melupakan semuanya.

“Forget it and stay calm…”

END

*mewek* Nyesek bagian akhirnya. Kasian Ji Hye, dasar Kibum sialan! Lol.

Thanks for reading! Don’t forget to comment and follow ma blog! 😉

Advertisements