“Menurutmu benda apa yang bagus untuknya?”

Donghae terdiam, matanya sibuk menatap perhiasan yang terpampang di etalase. Ia tak mengindahkan pertanyaan Kibum tapi kali ini ia tengah berpikir. Ada ide nakal yang sempat terlintas di otaknya ketika melihat perhiasan-perhiasan cantik itu. Ia bahkan membayangkan sosok Gyuri yang terpukau bila ia membelikan gadis itu satu set perhiasan sebagai kado ulang tahunnya.

“Donghae-ya! Apa yang kau pikirkan?” Tanya Kibum memecah lamunanya hingga hancur berkeping-keping di lantai keramik toko itu.

Ani… kau belikan saja dia yang itu,” elaknya sembari menunjuk satu set perhiasan sederhana tapi cukup cantik bila disandingkan dengan Gyuri.

Walau ia bersikap baik kepada Kibum, nyatanya hatinya masih belum menerima hubungan yang telah dijalin sahabatnya itu  bersama Gyuri selama sebulan terakhir. Ia masih berusaha menarik perhatian Gyuri dengan berbagai cara, meskipun cara yang ia gunakan tak pernah ampuh, Donghae tetap tak mengenal kata menyerah.

Ia sendiri tak pernah pusing dengan pertanyaan Kibum bila ia ketahuan berduaan dengan Gyuri di taman sekolah. Bagaimanapun juga, ia hanya bercakap dengan gadis pujaannya itu dan tetap tak tahu kapan perasaannya terbalas. Donghae masih punya akal sehat, ia tak mau asal serong mengambil hati Gyuri dari Kibum dan lebih memilih takdir yang akan membawanya. Pasrah.

“Aku keluar dulu, ingin membeli es.” Sahut Donghae ketika Kibum sibuk mengobrol dengan seorang karyawan mengenai perhiasan yang akan dibelinya itu.

Suara gemercing pintu toko perhiasan berbunyi ketika Donghae membukanya, langkahnya lalu bergerak menuju sebuah mini market yang tak jauh dari toko perhiasan itu. Tenggorokannya terasa cukup kering setelah berjalan-jalan bersama Kibum mencari toko perhiasan untuk membelikan Gyuri sebuah kado spesial di hari lahirnya.

Ne, gamsahamnida Imo,” ujar Donghae sembari mengeluarkan uang dari saku jeansnya. Setelah membayar ia pun melangkah keluar dari mini market itu lalu meminum esnya dengan khidmat.

“KIM HYEWON!”

Refleks Donghae berteriak setelah melihat seorang gadis berkupluk tengah terduduk di halte sembari membaca buku dengan serius. Baru kali ini ia melihat Hyewon tanpa juntaian rambut panjang yang selalu menutupi wajahnya. Gadis itu cukup cantik dengan wajah bulat dan kedua pasang mata sipitnya.

Awalnya Hyewon mengernyit, ia berhenti melakukan kegiatannya dan memutar kepalanya untuk mencari tahu asal suara yang memanggil namanya dengan cukup keras. Donghae terkekeh, ia kemudian berjalan mendekati halte dan menempelkan salah satu es melonnya tepat di pipi gadis itu.

MWO!” Pekik gadis itu lalu terdiam melihat Donghae yang telah duduk manis di sampingnya.

“Ambillah,”

Hyewon menggembungkan pipinya sesaat dan menerima es melon dari Donghae tanpa ragu. Gadis itu pun menutup bukunya dan menatap pria di sampingnya dengan satu alis yang terangkat. “Mengapa kau ada di sini?”

“Kibum tengah membeli perhiasan untuk Gyuri di salah satu toko di sekitar sini, dan aku hanya menemaninya,” jawab Donghae jelas. Lagi-lagi Hyewon mengernyit, “bukankah kau menyukai Gyuri?”

Donghae terdiam, lalu terkejut setelah memahami pertanyaan Hyewon dengan seksama. “B…bagaimana kau tahu? Apa terlihat jelas? Eo?”

Jari Hyewon terjentik, ia tersenyum tipis pada Donghae sembari menikmati es melon yang terus ia gigit. Gadis itu benar-benar berubah, berubah dalam hal -yeah~ Donghae tidak pernah melihat ekspresi lain wajah Hyewon selain ekspresi sinisnya.

“Ya, itu sangat gampang.” Jawab Hyewon singkat. Donghae mendengus, “hush… lagipula ia memang cantik.”

“Penyesalan selalu diakhir.” Sahut Hyewon lalu terdiam, ia sibuk mengemut es melonnya, menyesap rasa manis yang terasa segar ditenggorokannya.

Berbeda dengan Hyewon, Donghae menatap gadis itu intensif. Ia merasa sedikit aneh dengan nasihat Hyewon yang selalu sama disetiap pertemuan mereka, tidak setiap tapi hampir. Ia sendiri bingung, apa Hyewon bisa membaca pikirannya hingga selalu memberinya nasihat yang menggambarkan keadaannya?

Wae geunyang… kau selalu…”

“Bukankah itu Gyuri?” Gumam Hyewon membuat Donghae mengalihkan pandanganya, mengikuti jari telunjuk Hyewon yang menunjuk seorang gadis berdress peach manis di seberang jalan.

Mata Donghae membulat saat gadis itu menggandeng tangan seorang pria dengan manja, pria itu bukan Kibum! Oh tentu saja, karena Kibum masih berada di dalam toko perhiasan. Pikiran Donghae berkecamuk, dengan langkah pasti ia lalu berlari menyebrang jalan dan menghampiri Gyuri dan pria itu.

Nuguseyo?” Tanya Donghae sembari menarik lengan pria itu hingga genggaman Gyuri terlepas. Otomatis, gadis berdress peach itu erkejut dan menatap Donghae jengah.

“Kau siapa?” Pria itu menghempaskan tangan Donghae yang menggenggamnya lalu menatap Gyuri penuh tanya.

“Katakan! Kau siapanya Gyuri?”

Pria itu mengernyit lalu mendorong Donghae dengan sedikit kasar. “Dia pacarku, Gyuri-ya! Dia temanmu?”

Gyuri mengangguk, gadis itu mengelus tengkuknya lalu menepuk bahu Donghae dengan lembut, “Donghae-ya, kau jangan khawatir… ia pacarku. Neilba!”

Donghae kehabisan akal, ia tak bisa mencegat Gyuri dan pria yang mengaku sebagai pacar gadis impiannya itu saat mereka berlalu dari hadapannya. Ia mematung, menyadari hal bodoh yang menyesakkan dadanya. Kejadian yang baru dialaminya itu sangat cepat, membuatnya harus terdiam lama untuk berpikir jernih.

Neo gwencanha?” Tanya Hyewon sembari menepuk bahunya dengan pelan. Donghae tersentak, lalu mengacak rambutnya dengan kasar.

MICHIN!!”

“Aku salah menyukai orang, seharusnya aku tahu bagaimana tabiat gadis itu, mengapa aku bisa tertipu dengan wanita seperti itu? Apa semua pria sangat bodoh atau…”

“Kau dan Kibum cukup bodoh dan kuper,” ujar Hyewon membuat Donghae terdiam. Ia menatap gadis itu dengan dahi yang mengernyit heran.

“Seharusnya kau memikirkan bagaimana perasaan Kibum bila mengetahui kebenaran ini… sebisanya, kau perlu membuat pria itu sadar akan kelakuan Gyuri. Bukannya mengumpati diri sendiri dan bersikap egois seperti yang kau lakukan barusan.” Jelas Hyewon membuat lidah Donghae tercekat.

Hyewon benar, ia terlalu egois hingga berani memikirkan dirinya sendiri dan selalu bersikap semena-mena di depan Kibum. Ia sadar, dan benar-benar malu dengan sikapnya yang tak setia kawan. Bukankah persahabatan itu lebih penting di hidupnya?

Gomapgo Hyewon-ssi…”

@@@@@

“Kau kenapa Donghae-ya?”

Donghae tersenyum tipis pada Kibum lalu merangkul pria itu dengan hangat. “Gwencanha…”

“Yaa! Kau tidak homo kan? Yaa!”

Dengan cepat Donghae mendorong tubuh Kibum dan menjitak kepalanya dengan kesal. Ia bahkan menendang-nendang kaki Kibum sembari mengumpat. “Michin neo!! Aku masih waras!!”

Kibum tertawa, ia lalu mengangkat kantong kecil berisi hadiah untuk kekasihnya di hadapan Donghae. “Semoga Gyuri menyukainya,”

Lidah Donghae tercekat, senyumnya memudar, langkahnya pun dipercepat. Ia tak bisa berbohong dan menyimpan rahasia yang baru diketahuinya beberapa menit yang lalu. Donghae mengerti bahwa Kibum harus mengetahuinya. Tapi, tidak sekarang.

Pria itu harus menunggu waktu yang tepat. Jung Gyuri sendirilah yang harus mengakuinya di depan Kibum.

@@@@@

“Berhentilah, putuskanlah Kibum segera, jangan membuatnya berharap lebih banyak kepadamu.” Ujar Donghae tajam pada sosok wanita bereyeliner tebal tapi cukup membuatnya terpikat itu. Siapa lagi kalau bukan Jung Gyuri.

Pagi itu, ketika Donghae baru melangkahkan kakinya di pekarangan sekolah ia langsung mencari sosok Gyuri dan menarik gadis itu ke atap gedung sekolah. Ia sudah tidak tahan mendengar ocehan Kibum yang terus menyusun rencana untuk surprise ulang tahun kekasihnya. Donghae tidak sampai hati, bagaimanapun juga Gyuri harus menghentikan hubungannya dengan Kibum.

Ara,” ucap Gyuri sembari menghempaskan tangan Donghae yang menjerat lengannya.

Ia berdiri dengan jengah, tak membalas tatapan Donghae yang begitu menusuk di matanya. Tak ada perasaan bersalah yang menghantuinya, tapi Donghae benar-benar menakutkan. Pria yang biasanya bertingkah manis itu berubah bak pemain peran yang sudah mahir berakting.

“Kau… awas saja bila aku masih melihatmu bergelantungan manja dengannya. Sekali kau menyakiti sahabatku, kau pasti tahu apa yang kau dapatkan.” Kecam Donghae sembari menghela nafas.

Gyuri tersenyum sinis, lalu mendorong bahu Donghae menggunakan jari telunjuknya dengan kasar. “Jadi, kau mengancamku?”

“Dengar Lee Donghae! Apapun yang ku lakukan itu urusanku! Bukan urusanmu! Lagipula sahabatmu itu terlalu bodoh untuk dibohongi.”

Rahang Donghae mengeras, ia lalu mencengkram kedua bahu Gyuri dengan rasa kesal yang telah mencapai ubun-ubun kepalanya. “Kau…”

“LEE DONGHAE!!”

To be continue…

Advertisements