“Kau orang Busan?”

Yora mengangguk, detik berikutnya beberapa gadis menatapnya dengan pandangan jijik. “Kau harus belajar aksen Seoul dengan baik!”

Telunjuk seorang gadis berambut panjang mendorong-dorong bahu Yora dengan cukup kuat, membuat Yora memundurkan langkahnya beberapa kali. Mereka tertawa keras, lalu kerumunan gadis itu pun meninggalkan Yora yang terdiam.

Setelah menghembuskan napas panjang, Yora kemudian berjalan menyusuri koridor tanpa minat. Ia mengerti. Kehadirannya di sekolah itu memang sedang diperdebatkan oleh beberapa siswa. Bukan karena ia cantik atau pintar. Tapi, karena asalnya, aksennya dan beberapa hal lainnya yang membuatnya terlihat berbeda dari orang Seoul kebanyakan.

Ketika Yora terduduk di bangkunya beberapa siswa mulai berbisik, membicarakan apa yang mereka lihat dalam diri Yora. Gadis itu tak peduli, ya, ia hanya perlu bertahan selama setengah tahun ke depan.

“Yora-ssi, aku menyukaimu.”

Dahi Yora mengerut samar. Ia menolehkan wajahnya ke samping, melihat seorang pria bertubuh cungkring yang menatapnya dalam. Pria itu, manis. “MWO? HYUK JAE!!”

Beberapa gadis berteriak shock mendengar penuturan seorang Lee Hyuk Jae kepada Yora. Anak Busan yang tengah dibicarakan banyak orang di sekolah. Tak kunjung mendapatkan jawaban, Hyuk Jae meraih bangku yang berada tak jauh darinya. Ia lalu terduduk dengan mata yang tak lepas dari wajah cantik Yora. Tidak peduli dengan beberapa siswa yang menatapnya jengah maupun kesal. Ya, tak peduli dengan siswa-siswa berpikiran pendek seperti mereka.

Saem masuk,” suara Yora terdengar amat sangat pelan. Gadis itu mendorong kursi Hyuk Jae dengan kakinya, benar-benar terkejut dengan penuturan pria itu yang terlalu jujur.

“Aku jujur Yora-ssi, aku tak mai…”

“SELAMAT PAGI!!”

Suara lantang Kim songsaengnim memotong ucapan Hyuk Jae. Yora sama sekali tak menampakkan suatu ekspresi berarti sejak mendengar pernyataan seorang Hyuk Jae. Tatapan gadis itu datar, datar penuh pemikiran. Sedangkan Hyuk Jae hanya dapat menghela napas berat. Sulit memang menyukai gadis sejak tatapan pertama.

@@@@@

“Yora-ssi!” Seru Hyuk Jae sembari menghampiri Yora yang tengah berdiri di balkon sekolah. Gadis itu tak bergeming, bahkan membalas sapaan Hyuk Jae pun tidak. Ia sibuk dengan argumen-argumen yang muncul di kepalanya. Ada apa dengan seorang Lee Hyuk Jae? Apa ia gila?

“Jung Yora, kau tidak ingin makan siang?”

Mendengar itu, Yora mengalihkan tatapannya. Ia menatap Hyuk Jae tajam, begitu muak melihat senyum Hyuk Jae yang terkembang sempurna. “Bila kau ingin makan siang pergi saja sendiri.”

Ani ani!! Aku hanya bertanya, lagipula kau harus menjaga kesehatanmu.” Ujar Hyuk Jae tanpa beban. Ia memang menyukai Yora, dan itu berarti ia juga harus memperhatikan gadis itu walau hubungan mereka belum dekat.

Geumanhae, aku tak menerimamu Hyuk Jae-ssi. Aku tak menyukaimu.” Kata Yora kemudian berlalu meninggalkan Hyuk Jae yang terdiam. Ia ditolak.

“Yora! Yora-ssi!!” Teriak Hyuk Jae mengejar Yora yang telah menghilang dibalik kelokan koridor.

Tidak. Yora tak menolaknya, gadis itu hanya belum menyukainya. Itu presepsi Hyuk Jae, dan memang benar. Ia dan Yora baru saja berkenalan sejak beberapa hari yang lalu, tentu ini akan sulit bagi Yora untuk menerimanya.

“Yora! Ayo kita makan siang!”

@@@@@

“Sampai kapan appa? Aku lelah…” Yora bersungut, ia makin mendekatkan telinganya pada benda berbentuk segi empat di tangan kanannya.

“Sebentar lagi, ara? Setelah itu kau bisa bebas semaumu… appa minta maaf. Kau harus bertahan eo?”

Mata Yora berkaca-kaca, ia kemudian mengangguk, menahan rasa sesak didadanya. “Yaksokhae?”

“Ne, appa yaksok.”

KLIK

Desahan napas Yora terdengar berat, ia mengusap daerah di sekitar matanya, menahan air mata yang telah terkumpul di pelupuk matanya. Rasa sesak itu kembali datang setelah mendengar suara ayahnya, hidupnya kini terasa cukup berat.

“Yora… ada apa dengannya?” Gumam Hyuk Jae penasaran setelah melihat Yora beranjak dari balkon.

Matanya menatap Yora yang belum menghilang dari pandangannya. Setelah jatuh hati kepada gadis itu, ia memutuskan untuk menjadi stalker, tentu saja demi mengetahui seluruh sisi dalam diri Yora. Namun, sepertinya ia mendapatkan hal baru. Hal baru yang benar-benar misterius.

@@@@@

Hyuk Jae berjalan amat pelan, matanya mengarah tajam ke arah depan terfokus pada satu titik yang juga tengah berjalan. Ia tak main-main, gadis itu, fokus itu… Jung Yora.

Sejak bunyi bel pulang berbunyi Hyuk Jae langsung bergegas, bersiap menjadi sorang stalker amatir. Ia sendiri tak mengerti, tapi melihat Jung Yora membuat jantungnya berdetak amat kencang dan yeah~ rasa penasaran itu tengah membuncah di dadanya. Ia ingin tahu, sangat ingin.

Dilihatnya Yora berbelok ke sebuah gang kecil, mata Hyuk Jae menyipit. Gang kecil? Tanyanya dalam hati tak percaya. Pikirannya mulai bermain liar. Apa Yora seorang pelacur? Apa gadis itu salah satu anggota preman?

Menghalau pertanyaan-pertanyaan itu, dengan berani Hyuk Jae ikut berbelok. Pria itu berjalan hingga ke ujung gang yang buntu, but there’s none. Pikirannya mulai runyam. Ke mana Jung Yora?

“Kau mencariku?”

Jantung Hyuk Jae berdesir, dilihatnya Yora tengah bersandar di salah satu dinding gang menatapnya tajam. “Kau…”

“Sebaiknya kau pulang saja dan jangan pernah mengikutiku lagi Lee Hyuk Jae.” Sahut Yora pelan penuh penekanan.

Bibir Hyuk Jae bergerak tanpa suara, lidahnya kelu untuk menyemprot gadis Busan itu dengan berbagai pertanyaan yang telah menerornya sejak memergoki Yora menelpon di balkon.

“Aku bukan orang jahat, tapi sebaiknya kau jangan pernah mengikutiku lagi Hyuk Jae-ssi. Aku tidak semisterius yang kau kira, anggap saja aku hanya angin di sekolah.” Ujar Yora sambil beberapa kali menarik napas. Dada gadis itu sangat sesak, ada rasa sakit di dadanya. Entah, Yora pun tak tahu jelas.

Wae?” Tanya Hyuk Jae cepat. Ia makin bingung dengan sikap anak baru itu.

Yora menggeleng lalu tersenyum tipis di bawah sinar lampu gang yang redup. “Bukan apa-apa, tapi ini memang lebih baik.”

Wae?” Hyuk Jae tak puas, ia melangkah mendekati Yora, namun gadis itu melangkah mundur.

Mian…” ucap Yora kemudian berlari menjauhi Hyuk Jae yang terdiam bingung.

Jung Yora, kau itu terbuat dari apa sih?

@@@@@

Yora berlari amat kencang, ia sudah tak peduli dengan orang-orang yang menegurnya agar berjalan pelan. Tujuan Yora hanya satu, Busan. Gadis itu merasa tak sanggup untuk bertahan di jantung Negara Korea Selatan.

Napasnya tercegat, ia meneguk salivanya sendiri sembari terduduk di depan rumah kontrakannya. Ia meringkuk, menahan kegalauan yang menerpa hatinya sejak beberapa hari yang lalu. Ia takut, sangat takut.

Gwencanha nona?” Seorang pria berpakaian lusuh mengusap punggung Yora dengan lembut, ia menatap gadis itu dengan nanar.

Ahjussi…”

Lidah Yora tercekat, ia meringkuk di dalam pelukan hangat pria beruban itu. Yora tak peduli lagi, ahjussi Kim adalah orang yang tepat, orang yang dapat menerima kehadirannya di Seoul dengan baik.

“Nona, sebaiknya anda masuk udara sangat dingin.” Ujar pria itu lalu menarik tubuh Yora untuk masuk ke dalam rumah kontrakan yang ahjussi Kim sewa.

Tak ada jawaban pasti dari Yora, gadis itu menuruti apa yang pria itu katakan lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya. “Ahjussi Kim, anda boleh makan duluan.” Sahutnya pelan membuat pria bermarga Kim itu menghela napas.

“Iya nona, setelah itu saya tidak bisa mengelak untuk memaksa anda makan.” Tutur pria itu lembut kemudian meninggalkan pintu kamar Yora yang tertutup rapat.

Di dalam kamar, Yora meringkuk di atas kasur tipisnya. Matanya belum juga berhenti mengeluarkan air mata, gadis itu meratapi nasib yang benar-benar menyakitkan. Entahlah, tapi keadaan keluarganya di Busan sangat kacau. Nyatanya, ia pun bernasib sama.

“Nona, anda harus makan sekarang!” Suara tegas ahjussi Kim melonglong dari ruang keluarga.

Yora mendesah, tak tahu sudah berapa lama ia berdiam diri menatap keluar jendela di kamar. Bahkan, Kim ahjussi pun sudah selesai menyantap makanannya.

“NONA!”

Dengan malas gadis itu menyeret kakinya di lantai lalu membuka pintu kamarnya dengan pelan. “Jwesonghaeyo ahjussi, aku akan makan.”

“Baiklah, kita mulai dengan protein-protein ini. Setelah itu maka kekuatanmu akan stabil.” Jelas ahjussi Kim seperti biasa membuat Yora melongos.

Ne, aku mengerti ahjussi Kim. Aku akan menstabilkan kekuatanku untuk yang terbaik.” Ujar Yora membuat ahjussi Kim terdiam.

Pria itu kemudian tersenyum tipis, mengelus puncak kepala Yora lalu menggunakan topi satpamnya dan berjalan keluar. “Saya bekerja dulu nona, bila kekuatanmu mempunyai masalah hubungi saya. Permisi.” Pamitnya.

Lagi-lagi Yora melongos. Ya, kekuatan yang menyebalkan.

@@@@@

“Yo…”

Hyuk Jae tercekat, dilihatnya Yora tengah berbaring di atas lantai koridor sekolah. Seragam gadis itu penuh dengan pasir, berantakan dengan wajah yang memar. Ia baru saja keluar dari kelas, berencana membolos dan mencari keberadaan Jung Yora yang tak hadir di pagi itu. Namun, ia tak dapat berkata-kata lagi. Jung Yora tengah tak berdaya.

Dalam satu tarikan napas Hyuk Jae membopong tubuh Yora dan berlari sekencangnya ke ruang kesehatan. “Yora! Bertahanlah!!”

“Hyuk Jae! Hajima!”

“Hyuk Jae!!”

Beberapa gadis menghalangi langkah Hyuk Jae, mereka menatapnya kesal sembari berkacak pinggang.

Wae?” Sembur Hyuk Jae menatap para gadis itu garang.

“Cish! Kau mau apakan dia eo? Mengapa kau sangat peduli dengan wanita kampung itu huh? Kau tidak menyukainya secara serius bukan?”

Hyuk Jae menggigit bibir bawahnya, “kenapa kalian terlalu mempermasalahkan ini? MINGGIR!” Seru Hyuk Jae sembari menerobos kerumanan itu dan berlari secepatnya.

“SONG SAEM!” Pekik Hyuk Jae setelah membaringkan tubuh Yora di atas kasur.

“Dibully lagi?”

Dahi Hyuk Jae mengernyit. Ia menatap guru Song penuh tanya, “lagi?”

“Eo… ini sudah ketiga kalinya ia dibully hingga pingsan,”

Saem! Mengapa kau tidak menegur para gadis itu? Wae?” Tanya Hyuk Jae memburu.

Guru Song menghela napas, ia menggelengkan kepala lalu menepuk pundak Hyuk Jae dengan pelan. “Kau tahu kan? Guru pun tak dapat berbuat banyak untuk menghentikan geng sekolah kita.”

Hyuk Jae terdiam. Fakta yang menyakitkan. Dilihatnya Yora tengah terbaring lemah di atas kasur, sungguh, gadis itu benar-benar hebat menahan perlakuan menyakitkan dari siswi-siswi di sekolahnya. Bila ia menjadi Yora tentu ia akan pindah, bila.

“Bel sudah berbunyi, apa kau ingin menunggunya siuman?” Tanya guru Song sembari melipat kedua tangannya di dada, ia berdiri tepat di samping kasur Yora dan menatap gadis itu penuh penyesalan.

Kepala Hyuk Jae bergerak mengiyakan pertanyaan guru muda itu. “Ye Saem, aku akan menjaganya.”

Guru Song mengangguk, langkahnya bergerak mendekati Hyuk Jae. “Aku berharap banyak padamu Lee Hyuk Jae, jaga Jung Yora dengan baik.”

@@@@@

“Aku menolakmu! Jauhi aku Lee Hyuk Jae!! Pergilah!”

“YORA!”

Napas Hyuk Jae terengah-engah, matanya membulat mendapati tubuh Yora yang mengginggil di depannya. Kepalanya kembali berdenyut, membuatnya mendesah menahan rasa sakit yang luar biasa itu.

“LEE HYUK JAE!!”

Pikirannya runyam, seakan ia berada di dua dunia berbeda. Kepalanya makin pening, ketika mendapati sosok Yora yang menatapnya tajam di sebuah ladang tandus. “Aku di mana?” Gumamnya lalu kembali mendesah menahan rasa sakit di kepalanya.

“Pergilah!!”

“YOR…”

“Lee Hyuk Jae!!”

Tubuh Hyuk Jae menegang, napasnya terengah-engah, kepalanya tak pening lagi. Dilihatnya Yora tengah terduduk di kasur, menatapnya khawatir dengan peluh yang memenuhi wajahnya.

Neo gwencanha?” Tanya Hyuk Jae memburu melupakan halusinasi aneh yang menimpanya beberapa detik yang lalu.

Yora mengangguk lalu menatap Hyuk Jae datar, “jauhi aku Hyuk Jae-ssi…”

Wae? Mengapa kau selalu berkata seperti itu?” Hyuk Jae tak terima, ia menatap kedua mata Yora dengan tajam penuh rasa ingin tahu.

Gadis itu terdiam lalu menghembuskan napasnya pelan. “Aku monster.” Jawabnya kemudian berangsur turun dari kasur.

“Jauhi aku, kau akan tersakiti bila menyukaiku.” Ujarnya singkat lalu meninggalkan Hyuk Jae yang megerutkan dahi di ruang kesehatan.

Pria itu makin penasaran dengan alasan pasti Jung Yora. Ya, tentu saja karena seluruh jawaban yang Jung Yora berikan padanya tak jelas maknanya. Monster? Bila Yora monster harusnya ia adalah raksasa cungkring dan jelek. Sangat tidak masuk akal.

@@@@@

“NONA!!”

Suara ahjussi Kim memekik pada keheningan kelas. Yora bernapas gusar, mengalihkan tatapannya keluar jendela. Pria itu pasti sudah tahu.

Jwesonghaeyo saem, Jung Yora harus pulang! Ada urusan keluarga.” Ujar pria itu kepada seorang guru yang tengah mengajar di kelas Yora.

Setelah berdiskusi beberapa menit dengan terpaksa Yora harus mengikuti kemauan ahjussi Kim diantar oleh puluhan mata mencekam dari teman kelasnya, kecuali Hyuk Jae tentunya. Pria itu malah menatap ahjussi Kim penasaran.

Ah, itu bukan appanya. Tapi, siapa?

“Ahjussi.”

Bulu kuduk Hyuk Jae meremang, ia dapat mendengar dengan jelas suara berat pria tua itu dibenaknya. Ia tertunduk, kepalanya kembali terasa pening walau kali ini lebih ringan daripada sebelumnya.

“Lee Hyuk Jae! Ada apa denganmu?”

Hyuk Jae tergelak, ia menggeleng lemah lalu kembali memperhatikan penuturan guru Matematikanya dengan khidmat. Hari ini benar-benar aneh. Ya, sangat aneh.

@@@@@

Hyuk Jae melangkahkan kakinya pelan mendekati sebuah rumah kecil yang baru saja dimasuki oleh Yora dan pria yang mengaku sebagai ahjussi gadis itu beberapa menit yang lalu. Nalarnya tak dapat dielak lagi, ia terpaksa membolos demi mencari tahu identitas Jung Yora.

Ahjussi!” Pekik Yora membuat tubuh Hyuk Jae menegang bersiap mendorong pintu rumah itu namun detik berikutnya ia urungkan.

Ahjussi! Aku mohon, biarkan aku hidup seperti anak-anak yang lain, biar…”

“Saya tidak bisa membiarkan anda seperti itu nona! Saya sudah berjanji kepada tuan Jung, jwesonghaeyo… bagaimana pun juga kita tak boleh bergaul banyak dengan manusia.”

Deg. Tubuh Hyuk Jae menegang, ia dapat mendengarkan percakapan itu dengan jelas setelah menggunakan alat bantu dengar yang ibunya belikan agar dirinya lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di sekolah. Manusia? Ia makin mendekatkan tubuhnya ke dinding rumah itu.

Tangis Yora sesegukkan, ia menelan ludahnya sendiri tak dapat berbuat banyak karena kehadirannya memang tak diharapkan di tempat itu. “Uljimayo nona… jwesonghaeyo. Ini demi klan kita.”

Dahi Hyuk Jae mengerut, ia makin tak mengerti arah pembicaraan pria yang memiliki uban itu.

Ahjussi! Bisakah kekuatanku hilang? Aku tak sanggup menahannya, aku tak bisa.” Sahut Yora sesenggukan.

“Tidak, kekuatan anda…”

“Kekuatan ini bisa hilang bila aku mati kan?! Kenapa appa tak membiarkanku mati di tangan para enemy itu huh?”

Lagi-lagi Hyuk Jae menelan ludahnya. Sepertinya rahasia yang sebentar lagi ia ketahui sangat aneh, ya aneh dan tak bisa diterima nalar. Ia menghela napas dan kembali mendengarkan obrolan misterius itu.

“Nona… tuan Jung sangat menyayangi anda. Saya mohon jangan berpikir seperti itu.”

“Tidak… aku lebih baik mati daripada meringkuk di benteng itu untuk berlindung dari orang banyak. Aku ingin menjdi manusia! Tidak pernah ingin menjadi anggota klan ini, tidak!”

“Nona!”

BRAK!

Yora menutup pintu rumah itu kasar lalu menghembuskan napas dengan gusar, ia sedikit terkejut mendapati sosok Hyuk Jae yang tengah berdiri mematung di sampingnya, tatapannya pun kembali tajam. Pelan-pelan air mata Yora berangsur turun kembali.

“Kau…”

“YORA!!” Teriak Hyuk Jae setelah gadis itu berlari menjauhinya.

“NONA!”

Hyuk Jae meneguk ludah untuk kesekian kali. Ahjussi Kim menatapnya tajam menahan rasa terkejut di hatinya. “An… anda, ah benar-benar!” Geramnya lalu berlari mengejar Yora.

Tubuh Hyuk Jae terpaku, ia kemudian sadar akan tingkahnya lalu ikut berlari mengejar Yora yang hilang entah ke mana. Ia belum mengerti, sangat tak mengerti.

@@@@@

“Halo Pria tua! Dan… Oh… Manusia!”

Ahjussi Kim serta Hyuk Jae menghentikan langkahnya, di depan mereka berdiri 3 orang berjubah hitam yang salah satunya tengah menggendong tubuh Yora yang terlelap pingsan. Kini mereka berada di sebuah atap gedung, mengikuti penalaran ahjussi Kim mengenai keberadaan Yora.

Enemy…” geram ahjussi Kim membuat Hyuk Jae menghirup napas lebih karena sedikit ketakutan melihat makhluk berjubah itu.

Salah seorang enemy tersenyum lalu berjalan mendekati ahjussi Kim, “tanggung jawab anda lelet kali ini pria tua. Sekarang putri majikanmu berada di tangan kami dan BOOM! Sebentar ia akan berubah menjadi abu seperti kedua orangtuanya.”

Lidah ahjussi Kim tercekat. “M…maksudmu?”

Para enemy tertawa membuat ahjussi Kim serta Hyuk Jae muak dengan tawa penuh sindiran itu. Mata Hyuk Jae bergerak, ia menatap sosok Yora yang terbaring lemah di gendongan seorang yang disebut enemy. Dadanya sesak, tak pernah ia terpikirkan hal ini akan terjadi.

“Mereka telah mati ditangan pemimpin enemy dan selanjutnya kau dan nonamu ini. Setelah itu satu per satu klan kalian akan habis! Tak ada lagi kekuatan super yang membantu kami para manusia.”

Hyuk Jae sontak kaget, “m…manusia?”

Para enemy menatap Hyuk Jae tajam, “kau harusnya berdiri bersama kami anak muda. Kita harus memberantas makhluk seperti mereka, memberantas seluruh perbuatan mereka yang terlalu banyak membantu manusia hingga bumi ini tidak lagi seimbang. Mereka telah membuat banyak kekacauan dengan harapan, bantuan dan segala hal yang membuat para manusia malas.”

“Kalian benar-benar…” geram ahjussi Kim.

“Sudah berapa kali klan kami jelaskan pada kalian? Kami, para survivor hanya membantu kalian demi menyeimbangkan dunia tetapi kalian terlalu banyak berharap dengan kekuatan kami. Bukankah itu salah manusia sendiri? Kami, kami hanya ingin perdamaian!” Jelas ahjussi Kim lalu hening.

Kemudian para enemy tertawa, “Huh, semuanya sudah terlambat… lebih baik klan kalian kami habiskan daripada kami, para manusia terlalu banyak berharap.”

Lidah Hyuk Jae kelu, ia hanya dapat memandang kondisi itu dengan dahi mengerut, benar-benar bingung dengan arah pembicaraan yang makin tak tentu arah. Matanya pun kembali menyorot sosok Yora yang ia lihat mulai terbangun.

“Yora…” sahutnya tercekat.

Ahjussi Kim menatap Yora lirih, pria itu kemudian memegang kepalanya. DZINGGG!! DZINGG!!

“Aaaakkkhhh!!” Hyuk Jae merintih, menahan sakit luar biasa di kepalanya. Ia tak dapat bergerak, saraf otaknya mulai terganggu.

“Kekuatan anda tak berfungsi pada kami.” Ujar para enemy tajam membuat ahjussi Kim menghentikan aksinya.

Pria beruban itu makin geram melihat para enemy menodongkan pisau tepat di leher Yora. Yora yang membelalakkan matanya menahan napas karena mulai merasa takut dengan serangan tiba-tiba itu.

Ahjussi…” lirih Yora.

Ahjussi, tinggalkan aku.” Sahut Yora membuat ahjussi Kim tercekat, tubuhnya menegang terlalu sakit mendapati serangan tiba-tiba ini.

Aniyeyo, ini sudah menjadi tanggung jawab saya.” Kata Ahjussi Kim dengan gigi yang menggertak.

“Hyuk Jae! Tolong… bawa ahjussi…”

SIKKEURO!!” Pekik para enemy membuat Yora meringis.

ULJIMAYO!

Yora makin mengencangkan tangisnya membuat dada Hyuk Jae sesak. Ia mengamati sekelilingnya, dalam diam ia kemudian berlari memutar hingga mencapai bagian belakang enemy.

BRUUK!

Dihajarnya salah seorang enemy yang kini menahan Yora hingga pria itu terjatuh. Tangannya lalu menarik Yora hingga gadis itu keluar dari lingkaran enemy.

“Dasar manusia pembangkang!”

“AKKKHHH!!” Hyuk Jae merintih saat sebuah pisau menembus ulu hatinya. Ia salah! Benar-benar tak teliti menghadapi para enemy yang cekatan.

“HYUK JAE! AHJUSSI!!” Teriak Yora saat melihat para enemy juga menusukkan pisau tepat di jantung ahjussi Kim yang lengah.

Air mata gadis itu terus keluar dari matanya, bulir-bulir air mata yang berkilau. Tiba-tiba langit menjadi buram, para enemy terkejut sembari menatap sosok Yora yang melayang di udara sembari menatap mereka bengis.

“Dia… dia… dewi survivor?”

Detik berikutnya para enemy terduduk di lantai atap gedung itu sembari meraung-raung menahan sakit yang menjalar di kepalanya.

“Peace…” ucap Yora sembari menutup matanya pelan.

Hyuk Jae bergumam, kondisinya sangat lemah. Hingga akhirnya ia terlelap, akibat darah yang terus keluar dari tubuhnya. “Sakit tapi benar-benar cantik.”

@@@@@

“LEE HYUK JAE!!”

Hyuk Jae terbangun, matanya membulat saat mendapati dirinya berpiyama kuning di kamarnya sendiri. Tangannya refleks membuka piyamanya melihat sekitar perutnya yang masih mulus tak berbekas sabetan pisau atau apapun itu.

“Aku bermimpi?” Gumamnya bingung.

“Kenapa terasa nyata?”

“LEE HYUK JAE! KAU MAU TERLAMBAT EO?”

Dengan sigap Hyuk Jae turun dari tempat tidurnya, melihat jam wekernya lalu berteriak. “AISH! JINJJA!! AKU TERLAMBAT!”

@@@@@

[Epilog]

“Nona, ia telah terbangun.” Sahut ahjussi Kim dari pintu masuk, pria tua itu tersenyum tipis lalu membungkukkan badannya dengan sopan kepada tuannya.

“Berikan dia kebahagiaan dengan kerja kerasnya sendiri.” Ujar Yora tegas membuat ahjussi Kim mengangguk setuju.

“Nona, saya merasa bersyukur anda tak terlalu bersedih dengan semuanya. Saya pun sangat berterima kasih telah menghidupkan…”

“Inilah ganjaran yang anda dapatkan sebagai pelayan appa. Anda saya hidupkan demi masa depan keluarga anda.”

Ahjussi Kim terkejut, membuat Yora tersenyum simpul. “Anda saya pecat secara terhormat untuk menghidupi keluarga anda di dunia manusia.”

Air mata ahjussi Kim tumpah ruah. Ia membungkukkan badannya dalam kepada Yora, sangat tak menyangka gadis itu telah mengetahui rahasia yang ia miliki selama ini. “Terima kasih banyak dewi survivor… Terima kasih banyak.”

END

asdfghjkl@$~~ This is my first action and mystery genre. Aw~~ don’t understand? So sorry TT__TT

Thanks for reading by the way 🙂

Advertisements