Yeon Gi mendesah pelan, kepalanya tertunduk melihat tali sepatunya yang terbuka membuat mulut sepatunya menganga. Ia menggaruk kepalanya kesal lalu terduduk di trotoar untuk memasang tali sepatunya. “Aish! Pria bodoh! Bodoh! Bodoh!”

BRAK!

Seorang pelajar terjatuh setelah menabrak Yeon Gi yang terduduk di trotoar. Yeon Gi mengusap kepalanya dengan kesal, ia berdiri tegap, mengacak pinggangnya sembari menatap pelajar itu dengan wajah garang.

“Kalau jalan hati-hati!” Pekiknya dengan suara lantang. Jari telunjuknya mengarah kepada pelajar itu.

“Aish! Michigetta!” Kesal pelajar berambut cokelat itu sembari menggosok perut bidangnya, ia terduduk dengan mata yang mengarah Yeon Gi tajam.

“Kau memang sudah gila!” Kesal Yeon Gi. Mata sipit pelajar itu membulat, “noona, kau yang salah! Tadi kau yang menghalangi jalanku di sana. Kau tahu kan? Trotoar ini tempat jalan bukannya tempat duduk!”

Noona? Noona mwohae!?” Sahut Yeon Gi, ia melangkah mendekati pelajar itu dan balas menatapnya tajam.

“Aku masih anak sekolah, jadi aku memanggilmu noona. Ish! Sudahlah… aku memaafkanmu.” Ujar pelajar itu lalu berdiri dan meninggalkan Yeon Gi yang mulutnya terbuka lebar.

MWO?!”

“Yaa! Anak nakal!” Pekik Yeon Gi lalu menimpuk pelajar itu dengan tas selempang yang ia kenakan. Prlajar itu lalu menghindar, melindungi kepalanya dengan kedua tangan yang dimilikinya.

Noonageumanhae! Noonaa…”

“Berhentilah memanggilku noona eoh? Dasar anak nakal! Tidak sopan!”

Noona… namaku Henry! Bukan anak nakal!” Sahut anak berseragam yang bernama Henry itu sembari menghindar.

“Henry atau siapapun itu kau tetap anak nakal!” Ujar Yeon Gi kesal tidak berhenti melakukan aktifitasnya. Menimpuk pelajar bernama Henry menggunakan tas selempangnya.

“Yeon Gi!!!”

Tangan Yeon Gi terhenti di udara ketika suara itu menggelegar menembus gendang telinganya. “Ne oppa?”

Seorang pria berlari menghampirinya dengan mata yang menyorot Yeon Gi tajam. “Dasar gadis nakal! Berhentilah melukai orang!” Kesal pria itu sembari menarik pergelangan Yeon Gi.

Jwesonghamnida haksaengjwesonghamnida.” Ujar pria bernama Jung Soo itu sembari membungkukkan badannya beberapa kali. Ia lalu mendorong kepala Yeon Gi, memaksanya untuk ikut meminta maaf pada pelajar bernama Henry itu.

Andwaee!” Elak Yeon Gi menatap Jung Soo garang, matanya kemudain beralih pada Henry yang kini tersenyum manis.

Gwencanhayo… saya permisi hyung.” Pamit Henry.

“Sudah sana! Dasar anak nakal!!” Pekikan Yeon Gi membuat Henry menjulurkan lidahnya kepada Yeon Gi.

“Aish! Jinjja!” Gumam Yeon Gi lalu berbalik, meninggalkan Jung Soo yang tak habis pikir dengan sikap mantan pacarnya itu.

“Yaa! Yeon Gi-ya!” Pekik Jung Soo yang melihat Yeon Gi berlari di tengah kerumunan manusia di kawasan myeondong.

Rambutnya teracak, ia bingung dengan sikap Yeon Gi yang baru saja memutuskannya beberapa menit yang lalu. Sikap gadis itu benar-benar di luar penelarannya. Yeon Gi, ia memang gadis 4 dimensi yang telah dikenal Jung Soo sejak 7 tahun yang lalu. Sejak pertemuan manis yang membuatnya jatuh hati kepada wanita itu.

@@@@@

Mwo? Putus lagi? Wae?”

Ribuan pertanyaan diutarakan oleh Song In Joo kepada Yeon Gi yang tengah duduk bersila di atas sofa. Gadis itu mengerti dengan sikap aneh Yeon Gi yang selalu melakukan hal-hal diluar pemikirannya.

“Dia terlalu tua dan menyebalkan,” jawaban Yeon Gi lantas membuat In Joo membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan alasan Yeon Gi barusan.

MWO?!”

Yeon Gi menyisir rambut panjangnya dengan lembut, matanya mengarah ke arah televisi, mengindahkan keterjutan sahabatnya itu. “Dia tidak cocok dengan tipe wanita sepertiku.”

“Apa kau bilang?” Tanya In Joo dengan dahi yang berkerut.

“Dia tidak cocok denganku, aku tak bisa bersamanya.” Jawab Yeon Gi santai membuat In Joo makin geram dibuatnya.

Dengan sigap In Joo memegang kedua bahu Yeon Gi, menatap gadis itu dengan tatapan menuntut, “ceritakan padaku! Itu bukan alasan utamanya kan?”

Hembusan nafas Yeon Gi terdengar berat, ia melepaskan kedua tangan In Joo dari bahunya lalu menggeleng lemah, “sayangnya… inilah alasanku satu-satunya.”

MWO?”

“Yaa! In Joo-ya! Suaramu membuatku bosan. Berhentilah berteriak!!” Pekik Yeon Gi kesal sembari menggosok kedua telinganya.

In Joo mendecakkan lidah, menatap Yeon Gi gemas seakan ingin memakan gadis itu hidup-hidup. Ia tak pernah habis pikir dapat bersahabat dengan gadis aneh itu walau mungkin saja, dikemudian hari ia bisa didepak dengan alasan ketidakcocokan.

“Yaa! Jung Soo oppa adalah orang yang paling mengerti dirimu, orang yang berhasil bertahan menjalin hubungan denganmu selama setahun lamanya. Dan kini? Kau mendepaknya dengan alasan bodoh itu? Kau pasti sudah gila!”

Yeon Gi mengginggit bibir bawahnya, menahan seluruh penyakit hati yang dideritanya selama bersanding dengan seorang Park Jung Soo. Alasan yang diutarakannya tadi tentu hanya bualan kecil, bualan yang memang sulit dipercaya oleh orang-orang terdekatnya.

“Ralat! Mantan pacar.” Sahut Yeon Gi sembari menatap layar televisi dengan enggan.

“Tunggu! Jangan bilang… ini karena wajib militernya bukan?”

Pertanyaan itu membuat Yeon Gi menelan ludahnya pahit, In Joo masih menatapnya dengan tajam seolah ingin mengulitinya sekarang juga. Ia bahkan tidak percaya, seorang In Joo yang lembut dan sopan dapat bertingkah seperti itu di depannya.
“Jadi, karena itu?” Tanya In Joo menggantung. Yeon Gi sadar, ia pun menggeleng lalu tertawa dengan paksa. “Aku bilang alasanku hanya itu… bodoh sekali memikirkan wajib militernya.”

In Joo tersenyum mengejek, ia kemudian mengacak-acak rambut Yeon Gi dengan gemas, “Aku akan memberitahukannya, kau tak dapat berdalih kali ini.”

“Yaa! Jangan sentuh rambutku dan apa? Tak dapat berdalih? Yaa! Mataku tak berbohong,” serunya tak mau kalah. Ia lalu menyisir rambutnya dengan lembut mengindahkan tatapan introgasi In Joo.

Malhae… itu karena wajib militernya kan?” Tanya In Joo dengan suara lembut membuat hati Yeon Gi luluh dibuatnya.

“Akkhh!! Aku tak tahu bahwa kau mempunyai suara yang dapat melelehkan hati! Neo jinjja!”

Malhae, tebakanku benar kan?” Tanya In Joo sekali lagi, mengindahkan teriakan frustasi Yeon Gi di hadapannya.

Yeon Gi terdiam, matanya menatap keluar jendela, hembusan nafasnya yang tak teratur mulai terdengar di tengah kesunyian itu. “Aku tak dapat melakukan apa-apa selain memutuskannya.”

“Mengapa?”

Molla! Jinjja molla!!” Pekik Yeon Gi sembari membenamkan kepala di kedua lututnya. Ia tak terisak, hanya suara desahan penyesalan yang terdengar dari mulutnya.

“Akh! Kau benar-benar!! Yeon Gi-ya! Aku selalu mengerti dengan sikap abnormalmu, aku selalu mengerti dengan tingkah kenarsisanmu, tapi aku tidak mengerti dengan alasanmu saat ini! Kau… ini seperti bukan dirimu Yeon Gi-ya.”

Keluhan In Joo membuat Yeon Gi menatapnya dengan mata berkaca. “Bila kau menjadi diriku, pasti kau akan melakukan hal yang sama.” Ujarnya pelan.

Mwoya?! Apa kau mau bilang bahwa arah pikiranmu sudah sama dengan wanita kebanyakan? Aigo~ mengapa sekarang aku jadi menyukai tingkah abnormalmu sih, ini benar-benar aneh…” desah In Joo kemudian, gadis itu mencak-mencak melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan Yeon Gi di ruang tengah.

Kedua tangan Yeon Gi terkepal, matanya yang berkaca-kaca menatap keluar jendela. Perkataan In Joo benar mengenai dirinya, arah pikirannya berubah akhir-akhir ini. Ia yang egois, makin terlihat egois dengan semua sikapnya terhadap Jung Soo. Dia memang salah, dan ia mengakui hal itu.

“Yaa… Yeon Gi-ya,”

Kaki kanan In Joo mendorong-dorong pinggang Yeon Gi dengan pelan, ia tak sampai hati meninggalkan Yeon Gi di ruang tengah dengan perasaan yang seperti itu.

Mengindahkan kaki kanan In Joo, gadis itu masih sibuk berargumentasi dengan pikirannya sendiri. Hembusan nafasnya terhembus berat, membuat In Joo merasa sedikit aneh dengan tingkah Yeon Gi yang jarang didapatkannya itu.

Neo gwencanha?” Tanya In Joo khawatir, kedua tangannya memegang pundak Yeon Gi dengan erat. Yeon Gi menatapnya kosong, detik berikutnya ia menghambur ke dalam pelukan sahabatnya itu sembari terisak kecil.

“Aku bodoh!! Pabo pabo pabo cheorom!!”

“Aku kehilangan kontrol! Aku takut menjalani hubungan tanpa melihat wajahnya selama itu, aku tidak bisa Joo-ya… aku sudah menyukainya… hiks,”

Uljimayo, aku tahu… dia pria yang hebat Yeon Gi-ya. Uljima,” bisik In Joo sembari menepuk-nepuk punggung Yeon Gi yang bergetar pelan.

Ia kemudian mendorong tubuh Yeon Gi dan memandang gadis itu dengan tatapan lembutnya. “Berhentilah menangis, bukankah kau wanita yang paling kuat di Korea ini?”

Yeon Gi mengangguk, ia menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya, lalu mengepalkan kedua tangannya ke udara. “Em, Shin Yeon Gi! Kau memang gadis abnormal!!”

@@@@@

Mata Jung Soo melebar, di depannya Yeon Gi berdiri menghalangi jalannya di depan pintu gedung apartemennya. Kedua tangan gadis itu mengacak pinggang, matanya mengarah tajam ke arahnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.

Khajja!” Seru Yeon Gi sembari menarik tangan Jung Soo ke sebuah taman yang tidak jauh dari gedung minimalis itu.

“Ap…”

“Aku mencintaimu oppa.” Ucap Yeon Gi to the point, ia menghambur ke dalam pelukan Jung Soo, memeluknya dengan erat seakan tak pernah ingin melepas pria itu ke manapun.

Awalnya Jung Soo terkejut, detik berikutnya ia tersenyum kecil mendapati tingkah manja mantan pacarnya itu. “Wae? Kau merindukanku?”

Tangan Yeon Gi bergerak menepuk punggung Jung Soo dengan pelan, “aniya… bodoh sekali merindukanmu.”

Jung Soo tertawa, ia melepas pelukan Yeon Gi dan menatap gadis itu intens, “kau merindukanku?”

Mata Yeon Gi menyipit, kepalanya tertunduk menatap rumput yang bersinar di bawah temaram lampu taman itu. “Ani… kau menerimaku kembali kan?” Tanya Yeon Gi dengan nada pelan, menyembunyikan rasa malu yang menekan dadanya.

Lagi-lagi Jung Soo tertawa, memperlihatkan dimple pada kedua sisi bibirnya sehingga gadis itu mendesis dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.

“Sudah puas?” Geramnya.

Jung Soo mengangguk, lalu mengelus pipi Yeon Gi dengan lembut. “Mian…”

Ani! Kau tidak salah apa-apa. Aku yang salah,” ujar Yeon Gi menyembunyikan semburat merah di pipinya.

Wae? Ceritakan padaku.” Pinta Jung Soo membuat Yeon Gi menghela nafas. “Aku berpikir seperti wanita biasa, tidak seabnormal biasanya.” Jawab Yeon Gi santai.

Entah untuk keberapa kalinya Jung Soo tergelak, ia menahan tawanya sembari melihat gadis yang sudah dirindukannya sejak kejadian siang itu. Ditelusurinya wajah Yeon Gi dengan teliti, memuaskan hasrat matanya yang enggan mengalihkan dari wajah cantik itu.

“Aku sudah dengar dari In Joo, mianhae, aku…”

Hajima, kau tidak keren bila mengelak dan menyesali pemerintah karena harus masuk wajib militer.” Ujar Yeon Gi memotong pembicaraan Jung Soo yang baru akan memulai curhatannya tentang kewajiban itu.

Ne, itu memang kewajibanku Yeon Gi-ya… aku tahu, walau berat kau masih mau menungguku bukan?”

Yeon Gi terdiam, ia menghela nafasnya berat sembari mengalihkan pandangannya ke ujung jalan yang sepi. “Mollayo… aku tidak tahu,”

“Eng… kalau begitu aku menolakmu.”

Ucapan Jung Soo membuat Yeon Gi terdiam. Jantungnya hampir saja berhenti berdetak setelah mendengar kata-kata itu, begitu sakit hingga menohok hatinya. Hatinya berdesir, ia tak bisa berkata apa-apa selain memandang kosong jalanan sepi di depannya.

“Kau mau menerimanya bukan?” Tanya Jung Soo kemudian. Sama halnya seperti In Joo, hatinya tertohok setelah mengatakan kata-kata laknat itu.

Tak ada jawaban dari Yeon Gi. Gadis itu terdiam, mensinkronisasikan kerja otaknya yang melambat pada malam itu. Matanya mulai berkaca-kaca, sungguh sakit dadanya menerima kenyataan pahit itu. Ia salah, yah memang itu yang harusnya terjadi.

Uljimayo, bukankah kau gadis yang kuat?” Tanya Jung Soo menyadari keadaan Yeon Gi. Tubuh gadis itu bergetar, menahan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.

“Eo, aku menerimanya.” Jawab Yeon Gi singkat, kemudian ia berdiri, membungkukkan badannya cepat dan meninggalkan Jung Soo di taman itu sebelum mengucapkan kata pamit. Kata pamit yang entah sampai kapan berlakunya.

Jung Soo terdiam. Menatap kepedihan yang telah dibuatnya sendiri, perpisahan yang menyakitkan. Ya, sangat menyakitkan.

END

Goo Here! Separated again? Em, mollayo. I just follow my heart to write it. Thanks for reading!!

Remember about Yesung’s military service 6 May later. The main cast is Leeteuk… idk, always remember him huhuhu~~

Well, let’s see what happens after Heechul come. He is my another bias with his abnormal habits. We Will Wait You Jongwoon Kim! And Welcome back uri Heechul Kim!!

Advertisements