Gwek Ji Hye. Gadis itu berjalan tanpa arah seperti biasa, mengikuti penalarannya saja. Akhir-akhir ini hidupnya terasa unik dengan berbagai kejadian yang jarang ia dapatkan selama 19 tahun hidupnya. Senyumnya yang datar mulai berubah, ia mulai terbiasa tersenyum penuh ikhlas kepada siapapun, benar-benar perubahan yang signifikan dari dirinya.

Namun, sejak beberapa hari terakhir seorang yang telah membuatnya berubah tak pernah memunculkan batang hidungnya di depan Ji Hye. Pun dengan Ji Hye yang selalu menghindari orang itu. Sejak percakapan terakhir mereka di mobil keduanya saling menghindar, tak pernah berani menyapa bahkan bertemu pandang. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu dipenuhi oleh gombalan Ji Hye yang membuat mereka selalu digosipkan sebagai pasangan kekasih.
“Ji-ya!! Kau mau ke mana?”

Ji Hye tersentak, tersadar dari lamunannya. Ia kemudian berbalik, menatap seorang gadis bertubuh mungil yang baru saja memanggilnya itu. “Ke mana? Na molla eonni-ya,” jawab Ji Hye membuat mata gadis yang dipanggilnya eonni itu membulat, ia lalu menghampiri Ji Hye dan menimpuk kepala gadis itu menggunakan tas selempang kecil yang dibawanya.

“Juyeong eonni hajimara!” Pekik Ji Hye tak terima lalu mendorong tubuh mungil gadis bernama Juyeong itu dengan pelan. Juyeong mendesis, “kau delima cinta?”

Mata Ji Hye membulat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengelak mentah-mentah tuduhan yang dilemparkan Juyeong padanya. Lantas, Juyeong tertawa lalu mengacak rambut Ji Hye dengan gemas. Siapa yang tak tahu gelagat orang yang sedang dimabuk cinta?

Neo! Jinjja! Pabo!” Seru Juyeong sembari menyentil dahi Ji Hye dengan pelan.

Juyeong benar-benar bahagia kini, ini pertama kalinya ia dapat membully gadis tomboy itu karena biasanya ia selalu kalah dalam persoalan bully-membully. Ji Hye menghela napas, kedua tangannya mengacak pinggang dengan tatapan datar yang mengarah kepada Juyeong. “Eonni, kau tetap tak bisa membullyku. Kau tetap bertubuh mungil dan selalu lemah dihadapan pria, berbeda denganku yang…”

“Jangan mengalihkan topik!” Seru Juyeong cepat, gadis itu lalu menarik pergelangan Ji Hye untuk duduk di sebuah kursi taman yang berapa di dekat mereka.

Lagi-lagi napas Ji Hye terhembus berat, ia mengikuti langkah Juyeong dan mau tak mau ia tetap akan menceritakan kegalauan terpendamnya kepada gadis itu. Yah, mau tak mau walau Juyeong memiliki mulut ember yang berbahaya. Sejak awal mengenal Juyeong, entah mengapa mulut Ji Hye tak bisa terkunci rapat, ia tak bisa menyembunyikan apapun kepada gadis itu. Mungkin karena tatapan Juyeong yang meyakinkan dengan sifatnya yang easy going membuatnya percaya dengan gadis berumur setahun lebih tua darinya itu. Bahkan Ji Hye tak peduli bila curhatannya tersebar, lagipula ia tak pernah membuktikan keemberan mulut Juyeong tentangnya.

Malhaebwa chagiya,” pinta Juyeong dengan manja. Kebiasaan gadis itu yang memanggilnya chagiya pun masih terdengar aneh di telinga Ji Hye, tapi gadis itu tak pernah menolak.

Lantas, mengalirlah seluruh kisah Ji Hye. Kibum, dirinya dan sebuah lubang kecil yang mulai terkikis membesar di antaranya.

@@@@@

“Hei! Manusia setengah namja!!”

Lolongan itu membuat tubuh Ji Hye menegang. Gadis itu baru saja akan menggerakkan knop pintu apartenya, namun tangannya berhenti di udara, seakan membeku terkena sihir Harry Potter.

O…oppa mwohae?” Sahut Ji Hye gugup sembari mengadahkan kepalanya.

Kibum tersenyum simpul, “hanya ingin berkunjung.”

“EH?”

“Kenapa? Apa ada masalah? Atau… apartemu berantakan seperti aparte namja kebanyakan?” Bisik Kibum membuat Ji Hye tersenyum getir.

“Apa benar? Mari kita lihat!” Seru Kibum sembari menyerobot posisi Ji Hye dan membuka pintu aparte itu dengan mudah.

Ji Hye terkekeh, ia masuk ke dalam apartemennya diikuti oleh sosok Kibum dibelakangnya. “Apa? Tebakanmu salah besar!”

Pria bermantel tipis itu mengangguk-anggukan kepalanya lalu duduk di sebuah sofa kecil, mengamati Ji Hye yang berjalan ke arah dapur yang dapat dilihatnya dengan jelas dari ruang tamu. Apartemen tetaplah apartemen.

“Kau jarang ke sini?” Sahut Kibum, matanya mengamati setiap sisi apartemen gadis itu dengan seksama. Bahkan seluruh pigura yang terpampang di dinding dilihatnya tanpa ada satupun yang terlewatkan.

“Ya, aku lebih sering tidur di basecamp atau di rumah orangtuaku.” Ujar Ji Hye datang membawa segelas air putih.

“Berdebu.” Sindir Kibum sembari meneguk air putih pemberian Ji Hye hingga tandas.

Lidah Ji Hye kelu, ia kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia menyatakan cintanya pada pria itu di mobil. Mengapa aku tak bisa berkutik?

“Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?” Tanya Ji Hye setelah jeda yang sangat lama, ia tak tahan juga dengan keheningan mencekam di antara keduanya.

Kibum tergelak, ia berdehem kecil lalu menggaruk kepalanya dengan pelan. “Tadi… tadi aku ke apartemen temanku, jadi… yah, aku hanya mampir sebentar.”

Ji Hye ber’oh’ lalu gadis itu kembali berjalan ke dapur. Mengambil air untuk Kibum dan beberapa snack yang belum dijamahnya semenjak sibuk dengan tim travelingnya. Aigo… apa yang harus aku lakukan? Hatinya bertanya-tanya.

“Soal waktu…”

“Ini semua snack yang kau makan? Pantas saja pipimu menggemaskan!!” Pekik Kibum memotong ucapan Ji Hye saat mengangsurkan beberapa snack di atas meja.

“Menggemaskan? Bboing bboing!!”

Mata Kibum membulat, ia lalu terkekeh mendapati aegyo Ji Hye. “Dasar manusia aegyo.”

Tawa Ji Hye pecah, berulang kali ia mengulangi aegyo-nya walau ia tahu itu tak cukup baik bagi perawakannya yang selalu stay calm di depan umum. Entahlah, tapi Kibum membuatnya nyaman dan dengan mudahnya ia dapat bermanja kepada pria itu.

“Aku merindukanmu.”

Bang! Tawa Ji Hye terhenti seketika. Diliriknya Kibum yang tengah memandang lurus ke sisi lain apartemennya, lidahnya kembali kelu ditambah dentuman irama jantungnya yang berdetak abnormal. Dadanya sesak, sesak sekali.

Geurae? Kalau begitu aku juga.” Sahut Ji Hye pelan nyaris tak bersuara.

Kibum tersenyum kecil, ia lalu menarik pergelangan tangan Ji Hye dan menatap gadis itu dalam. “Saranghamnida, maaf ini sangat sulit untukku. Setiap hari aku tak lepas memikirkanmu dan selalu bertindak egois. Kau mau kan menjadi pacarku?”

Tubuh Ji Hye menegang, ia merasa jantungnya tengah hancur karena telah meledak beberapa detik yang lalu. Ditatapnya mata Kibum, mata yang bersinar membuatnya hanyut ke dalam ciptaan Tuhan itu. Sungguh, Kim Kibum memberinya harapan yang sangat besar. Harapan besar untuk membuka hatinya yang terlalu keras dan tak berperasaan.

Na tto saranghamnida.” Jawab gadis itu singkat membuat Kibum menghembuskan napas lega.

Pria itu melebarkan senyumnya kemudian mengacak rambut Ji Hye dengan lembut. “Jangan perlihatkan aegyo-mu pada pria lain! Karena kau sekarang milikku.”

Ji Hye tergelak lalu mencubit kedua pipi Kibum dengan gemas, “posesif sekali! Lihat saja nanti hahaha.”

“Yaa! Bagaimana aku tidak posesif bila yeoja setengah namja sepertimu hanya ada satu ditengah ribuan yeoja?”

“Yaa!! Hentikan gombalanmu oppa! Aku tak suka!!” Seru Ji Hye sembari menatap Kibum tajam.

Kibum memeletkan lidahnya lalu memakan sebuah pepero. “Kau sudah sering menggombaliku, kali ini aku membalasnya.”

OPPA!!”

END

Heuf~ akhirnya selesai juga walau laaammaaa sekali proses mencari imajinasi ditengah cerita. Aku tak tahu, ada yang baca atau tidak karena aku memang sangat jarang mengirim fanfic ke beberapa blog ramai ~~^^~~ dan berharap tak ada yang mengcopy imajinasiku ini -walau aku tahu ini terlalu jelek disebut fanfic. (Yang berani copy dosanya dilipat gandakan :))

Thanks for reading! Don’t forget to comment to make me always stay on here!!

~~Puas Nanda? Lol xD
Tapi ini nggak ada lanjutannya loh!! *tawa nista

Advertisements