“Pagi!”

Sapaan itu mampu membuat Donghae terdiam. Matanya terus mengikuti ke arah siluet gadis yang menyapanya, seakan siluet itu adalah emas yang mampu membuatnya tak bergeming, ia takjub. Terhitung ini sudah kesekian kali gadis bernama Lee Hyewon itu menyapanya di setiap pagi, walau ia terlalu dingin untuk membalasnya, ia tetap menunggu sosok itu hingga menjadi sebuah rutinitas bodoh di pagi hari.

Kemudian Donghae terduduk pada tangga kecil di depan rumahnya, menghalau rasa dingin yang menusuk tulang. Pria rapuh itu duduk diam, menatap kosong ke arah jalanan kompleks yang sepi. Tak ada pergerakan berarti dalam dirinya, ia layaknya sebuah boneka manekin yang hanya dapat digerakkan oleh tali.

“Hei,” gadis itu kembali melewatinya namun kali ini bukan dirinya yang disapa.

Ekor mata Donghae melirik ke kanan, menatap setiap inchi tubuh gadis yang telah dipeluk oleh seorang pria. Pria yang tampan dan bertubuh bidang, tak sepertinya dirinya yang mulai kurus tidak terawat. Tatapannya nanar, menyudahi kesakitan pagi itu dengan pemandangan menyayat hati.

“Apa kau siap calon pengantinku?”

Oppa-ya! Khajja!!”

Sahutan yang saling berbalas itu memanaskan telinga Donghae. Ia kemudian berangsur masuk ke dalam rumah sembari menghela napas berat. Berakhir sudah penantiannya selama ini, penantian yang tak berarti apa-apa. Hanya seberkas rasa sesal yang meliputinya kini. Benar, ini hanyalah sebuah penantian yang sia-sia.

END

P.s:

Hei! I’m back after my examination week :p This is one of my coward drabble story. Idk, but for this week i have a lot of coward story in my mind. (Maybe because I’ve listened a lot of CN Blue coward song).

Prepare for my other fanfic, they are ready to bingo! :p

Hope you like it guys, don’t forget to comment. Thanks for your respect. *bowing with Super Junior oppadeul (/_ _) flying kisseu!!

Advertisements