Dua gadis berwajah mirip sedang duduk berhadapan di dalam sebuah café. Mereka saling menatap satu sama lain dengan dua jenis minuman berbeda di tangan keduanya. Mata mereka mengartikan sesuatu hal yang sama, sesuatu yang juga tengah mereka perdebatkan saat ini.

“Eunhyuk oppa?”

Gadis yang tengah menyedot minuman dari sebuah cup bertuliskan cola terdiam, hampir tersedak ketika nama yang tengah dijauhinya itu keluar dari bibir manis gadis berkemeja biru di hadapannya.

“Iya kan? Jung Yora?” Sahut gadis itu lagi membuat Yora meletakkan cup cola di meja, sebuah tanda bahwa ia akan berpikir.

“Yoojon-ah, kau benar-benar menyebalkan!” Sungut Yora membuat gadis bernama Yoojon terkekeh.

“Apa lagi yang kau pikirkan? Kau memang mencintainya atau hanya menjadikannya seperti korbanmu yang lain?”

Yora terdiam, gadis itu berulang kali menghela napas karena pertanyaan telak dari seorang Kim Yoojon. Ya, Kim Yoojon selalu benar dengan seluruh intuisi-intuisi kepalanya yang dingin.

“Dan kau? Apa aku tidak salah dengar? Putus dengan seorang Choi Siwon?!”

Refleks Yoojon memasukkan potongan cheese cake ke dalam mulut Yora. Gadis itu hampir mengagetkan seluruh penghuni café dengan pernyataan yang dapat mengundang ribuan pertanyaan di benak mereka. Choi Siwon yang mana? Artiskah?

“Yaa! Aku meminta penjelasanmu!” Sahut Yora saat seluruh potongan cheese cake tandas masuk ke dalam kerongkongannya. Yoojon yang tengah memainkan tab-nya terdiam, mata gadis itu kini mengarah pada Yora yang menuntutnya untuk berbicara.

“Sifat kami tidak cocok.” Jawab Yoojon membuat Yora menganga.

“A…apa?”

Senyum Yoojon merekah kecil, “kami memiliki sifat yang hampir sama, jadi kau pikirkan saja.”

“Aku tak mengerti!”

Setelah menghela napas dengan cukup panjang Yoojon kembali tersenyum, senyum yang lebih condong ke arah smirk membuat Yora sedikit gugup melihat perubahan itu.

“Cinta yang dilandaskan oleh perbedaan akan semakin kuat selama waktu terus berjalan berbeda dengan cinta yang dilandaskan oleh persamaan. Karena cinta harusnya saling melengkapi bukannya saling menutupi hal yang sama.”

Jawaban itu membuat Yora mengangguk setuju. “Aku juga, bersama pria itu… tidak cocok.”

Yoojon memiringkan kepalanya ke kanan, tidak mengerti arah pembicaraan Yora yang terkesan ngawur dengan pernyataan asalnya. “Tidak cocok? Apa aku salah dengar?”

Ani, kami memiliki sifat yan…”

“Eunhyuk oppa, dia sebenarnya lebih dewasa dari Siwon. Kau harusnya tahu itu Yora-ya, pikirkan matang-matang keputusan sepihakmu ini. Aku tak bisa menerima alasanmu,” potong Yoojon sembari berdiri.

Tangan kanan gadis itu bergerak mengacak-acak rambut Yora dengan lembut, membayangkan sosok Yora yang kekanak-kanakan membuat Yoojon gemas dan selalu saja melakukan hal itu secara tiba-tiba. “Aku harus kembali ke aparte.”

Sebelum Yoojon melangkahkan kakinya Yora menyahut pelan, “kau juga!”

Setelah kepergian Kim Yoojon, Yora terus duduk diam di dalam café dengan mata menatap ke cup cola dengan kosong. Jemarinya bergerak mengetuk sisi meja tanpa ingin berniat melakukan apapun. Hatinya kosong, hampa seperti sampah yang tak berarti.

Kasak-kusuk para pelanggan café memecah lamunannya. Matanya beralih ke arah depan, ke arah seorang pria bermasker hitam dengan pakaian kasual yang tak asing lagi baginya. Ya, ia tahu siapa pria itu.

Lidah Yora tercekat, ia hampir saja memanggil nama pria itu sebelum melihat seorang gadis berambut sebahu di sampingnya. Dahinya mengerut, menatap pemandangan itu dengan dada yang sesak. Haaah… pilihanku memang tepat!

Yora berdehem saat mata pria itu menangkap basah dirinya sedang menatapnya intens. Cepat-cepat Yora mengambil cup cola yang masih berisi setengah lalu berlari keluar dari café laknat itu. Detak jantungnya berdetak kencang, ia terus bergumam, berharap pria itu tidak menyadari kehadirannya.

“Jung Yora!!”

Harapannya langsung sirna saat mendengar namanya tengah dipanggil oleh seseorang. Yora tak bergeming dan terus berjalan cepat, membaur pada kerumunan yang dapat menyembunyikan tubuhnya dari pandangan pria itu.

“Yora-ya!”

Langkah Yora refleks terhenti saat sosok itu menahan pergelangan tangannya, ia menarik napas perlahan lalu berbalik dengan wajah super polos ke arah pria itu. “Eunhyuk oppa!”

Pabo! Aku tahu sifatmu, dasar bodoh!” Olok Eunhyuk membuat Yora mendesis.

“Apa yang kau inginkan? Aku ingin pulang.” Sahut Yora judes sembari menghentakkan genggaman Eunhyuk, walau hal itu sia-sia saja.

“Kau marah padaku?” Tanya Eunhyuk to the point sembari menarik Yora ke sebuah halte, mereka pun terduduk dengan tangan Eunhyuk yang enggan melepas Yora walau hanya sedetik pun, membuat cup cola yang digenggam Yora sedikit remuk karena rengkuhan gadis itu.

Mengindahkan pertanyaan itu, Yora memberikan topi kupluk dari tas selempangnya kepada Eunhyuk. “Kalau sampai netizen melihat ini maka tamatlah riwayatmu.” Kecam gadis itu membuat Eunhyuk tersenyum lebar. Yora hampir berteriak histeris melihat penampilan Eunhyuk yang telah melepas masker hitamnya.

“Setidaknya ada yang marah besar bila hal itu terjadi.”

Ani, aku tak akan marah dan hanya membiarkan hal itu terjadi.” Elak Yora sembari mengerucutkan bibirnya.

Geuraeyo, lalu bagaimana dengan dirimu?”

Pertanyaan itu membuat Yora terdiam, berusaha mengumpulkan nyawa yang sempat hilang karena terkejut dapat melihat pria yang ‘harusnya’ ia hindari itu malah mengunci tangannya dengan sebuah genggaman hangat.

“Aku ingin pulang.” Gumam Yora kemudian, ia menundukkan kepala, menyembunyikan rona merah di sekitar pipinya karena menahan malu.

“Gadis di café…”

“Aku tak punya urusan dengan hal itu.” Potong Yora membuat Eunhyuk berdehem.

Pria ber-gummy smile itu lalu menghela napas, dengan cepat ia merengkuh Yora ke dalam pelukannya, tak ada lagi jarak yang memisahkan tubuh mereka saat ini. “Kembalikan Jung Yoraku.. jebal.”

Mendengar bisikan itu tubuh Yora menegang, ia lantas mendorong tubuh Eunhyuk menjauh darinya. “Geumanhae, ini di depan umum.”

“Di depan umum? Jadi, bila tidak di depan umum kau mau?” Goda Eunhyuk tiba-tiba.

Yora kikuk, ia melirik Eunhyuk tajam sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Bahkan disaat hubungan mereka sedang kacau pria itu dapat meluluhkan hatinya dengan ribuan rayuan. “Geuman…”

Aratta, yaa! Sekarang tarik kata-katamu, aku tak ingin diputuskan secara sepihak. Dan aku juga tak ingin kita putus! Ara?” Kecam Eunhyuk sembari menangkupkan wajah Yora yang bersemu merah.

“Yora-ya, jangan bilang bila kau sudah mempunyai pria lain sehingga kau memutuskanku?” Tanya pria itu lagi membuat Yora menggeleng keras, “ani ani!”

Lantas Eunhyuk terkekeh, ia mengusap kepala Yora dengan lembut lalu mengambil cup cola yang masih saja gadis itu genggam walau isinya sudah hampir habis. “Kau masih mencintaiku kan? Jangan membuatku menangis frontal ara?”

Oppa menangis?”

Eunhyuk mengangguk sembari menyedot air cola hingga tandas. “Kau tahu kan aku ini salah satu prince crying di antara para member?”

“Dasar cengeng!” Sambat Yora membuat Eunhyuk mendesah pelan.

“Siapa yang membuatku cengeng? Dasar gadis babo. Dengan mudahnya kau meminta putus padahal kau sendiri masih menyukaiku.”

Ne, aku bodoh. Kau puas oppa?”

Ani, sebenarnya aku bingung. Kembaranmu, maksudku Yoojon memutuskan Siwon di saat kau juga memutuskanku, apa kalian bersekongkol eo?”

Pertanyaan itu membuat Yora terdiam. Ia menatap manik mata Eunhyuk yang menuntutnya untuk menjawab. Ia tahu itu, tapi semua terjadi karena ketidaksengajaan. Mereka bukan anak kembar yang memiliki takdir yang sama. Tidak, bahkan tahun kelahiran mereka pun berbeda. Ada sesuatu yang janggal ketika Yoojon mengakui keputusannya kepada Yora.

Ani, aku baru tahu ia putus dengan Siwon oppa beberapa hari yang lalu dan sepertinya ada yang janggal…”

Mwoga?” Potong Eunhyuk.

“Yoojon eonni tak pernah memutuskan kebodohan ini dengan mudah, pasti ada sebuah alasan pasti mengapa ia memutuskan Siwon oppa.”

“Alasan?”

“Sepertinya aku harus menemuinya.” Sahut Yora sembari berdiri tegap menghadap jalan raya, di sampingnya Eunhyuk menggenggam hangat tangan gadis itu.

“Tidak perlu, biarkan mereka meluruskannya sendiri.” Kata Eunhyuk bijak membuat Yora menghela napas berat. “Arasseo.”

@@@@@

Langkah kaki Yoojon yang menggunakan kets putih menggema di sepanjang lorong gedung menuju apartenya. Ia berjalan malas, hatinya mulai gundah dan khawatir setelah mendapat pesan singkat di tabnya ketika bertemu dengan Yora tadi.

Pesan singkat yang mampu membuat jantungnya berdentam tak karuan, bukan malu, Yoojon hanya takut.

From: Siwon Oppa

Pulanglah…

Saat mencapai pintu apartenya gadis itu terdiam, ia bernapas dengan teratur sebelum udaranya terkontaminasi dengan harum manly pria yang telah mengisi hatinya sejak beberapa bulan yang lalu. Setelah merasa yakin ia pun membuka kenop pintu dan masuk ke dalam apartenya dalam diam.

“Eo? Kau sudah di sini?”

Yoojon berdehem, gadis itu terduduk di sofa memperhatikan sosok Siwon yang tengah sibuk di dapur. Pria bertubuh proposional itu menggunakan apron abu-abunya, mondar-mandir di sekitar dapur untuk menyiapkan waffle madu favorit mereka.

Beberapa kali Yoojon berusaha menahan senyum melihat pemandangan itu, ia ingin membantu tapi tertahan dengan sikap lucu pria itu yang membuatnya selalu ‘ingin’ untuk melihat lebih. Ia terlalu larut menikmati pemandangan itu hingga tak sadar bila waffle yang dibuat Siwon telah tersedia di hadapannya.

“Waffle spesial.” Ucap Siwon sembari tersenyum, hampir membuat jantung Yoojon berhenti berdetak.

Setelah meletakkan piring berisi waffle ke atas meja, Siwon membuka celemeknya lalu mengacak pinggang dengan mata menatap Yoojon intens. “Bagaimana? Apa aku sudah cocok menjadi seorang chef?”

“Untuk kali ini, persiapan oppa sangat kacau.” Jawab Yoojon jujur membuat Siwon mengangguk setuju.

“Ya, setidaknya aku bisa buktikan bahwa aku juga pintar masak.” Sahut Siwon bangga sembari mengambil tempat di sebelah Yoojon.

Cha! Mari kita makan!” Kata Siwon semangat sambil memotong waffle beroleskan madu dengan pelan.

Yoojon hanya dapat terdiam, gadis itu mengamati seluruh pergerakan Siwon dan sesekali membantu pria itu untuk membersihkan sisa madu yang menempel di tangan kekarnya. “Oppa bekerja dengan baik.”

“Ya, setidaknya ini dapat dijadikan sebuah alasan agar kita dapat berbicara banyak.” Ujar Siwon tanpa mengalihkan pangannya ke arah waffle.

Jantung Yoojon hampir berhenti berdetak, lidahnya menjadi kelu untuk sekedar membalas obrolan pria itu. Tiba-tiba ia tersadar ketika Siwon menyodorkannya sepotong waffle dengan lapisan madu tebal di sekitarnya. “Aku tahu kau suka madu, aku tahu bagaimana sifat aslimu.”

“Aku tak semanis madu.” Elak Yoojon kemudian memasukkan potongan waffle ke dalam mulutnya.

“Tapi sehebat lebah.” Balas Siwon yang juga sedang mengunyah waffle.

Keduanya kembali terdiam, menikmati sensasi manis dan hangat waffle yang membakar kerongkongan. Enak sekali!! Teriak Yoojon dalam hati, merasa bangga dengan hasil kerja Siwon yang biasanya terlalu malas untuk bekerja ala wanita.

“Enakkah?” Tanya Siwon menggantung.

Kepala Yoojon mengangguk, “neomu, sering-sering saja…”

“Ya, bila kau mau menarik ucapanmu aku akan bersedia menjadi chef wafflemu di setiap waktu bebasku.” Sahut Siwon makin memojokkan gadis di sebelahnya.

Tubuh Yoojon melemas ketika Siwon meliriknya intens dengan senyum joker yang mampu membuatnya meleleh. Gadis itu terus menyuap potongan waffle hingga tandas dalam kurun waktu yang sangat cepat membuat Siwon terkekeh dalam sepersekian detik.

“Kau tahu? Kita berbeda, sangat berbeda.” Ujar Siwon saat kedua mata mereka bertemu.

Yoojon makin tak berkutik ketika Siwon mengusap bibirnya untuk membersihkan sisa madu yang menempel. Pria itu terus melakukan skinship yang mampu membuat Yoojon mati lemas. Ada rasa rindu sekaligus takut yang menyergap gadis itu. Ia senang, tapi di sisi lain ia pun takut.

“Apa kau tidak ingat bagaimana kita bertemu? Apa kau ingat saat Leeteuk hyung menceritakan seluruh sifatku padamu?”

Kepala Yoojon kembali mengangguk, ia memutar waktu saat bertemu dengan Siwon di Namsan Tower dalam keadaan yang benar-benar kacau memanggil pria itu di dalam kesunyian malam hanya untuk meminta secup mocca panas karena permintaan senior yang mengerjainya. Atau di saat Leeteuk meceritakan seluruh sifat jelek Siwon yang berbanding terbalik dengan sifatnya sendiri. Ya, perbedaan yang sangat kompleks.

“Siapa bilang sifat kita sama? Bahkan dari cara berpakaian saja berbeda.” Ujar Siwon memecah lamunannya.

Secara tak sadar Yoojon terkekeh hingga matanya tak terlihat, terganti oleh garis tipis yang terlihat begitu manis di pandangan setiap orang. Tangan kanan Siwon mengelus puncak kepala Yoojong dengan lembut, sudah lama ia tak melihat gadis itu terkekeh.

“Kau sadar kan?”

Lantas Yoojon menggeleng, ia menatap Siwon dengan lembut, menahan gejolak jantungnya yang berdentam-dentam keras. “Oppa tahu kan? Setiap hal sudah ku pikirkan baik-baik, aku melakukannya karena itulah jawaban pasti dari hubungan kita. Lagipula, aku pantang untuk menarik ucapanku sendiri.”

Siwon terdiam sepi, bulu kuduknya meremang akibat pernyataan Yoojon yang langsung menusuk dadanya hingga menimbulkan lubang yang sangat besar. “A…apa?”

Oppa, aku tidak bisa menarik ucapanku.” Sahut Yoojon tercekat, menahan rasa sakit yang timbul di dadanya.

A..ani. Kau bisa! Ingat! Ketika kita berdebat di sebuah café, pada akhirnya kau menyerah dan menarik ucapanmu sen…”

“Kali ini aku tak bisa.” Potong Yoojon singkat membuat Siwon menggigit bibir bawahnya ragu.

“Lihat aku!” Titah Siwon sembari menangkupkan wajah Yoojon agar menatapnya dalam. Yoojon terdiam, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia takut bila hatinya langsung luluh ketika menatap binar mata Siwon yang memabukkan itu.

“Yoojonie…” panggil Siwon lemah tak membuat gadis itu bergeming.

Ada jeda yang cukup lama hingga akhirnya Siwon melepas kedua tangannya dari wajah Yoojon. Pria itu menghela napas berat, enggan menatap Yoojon yang terdiam sepi di sudut sofa. “Ya sudahlah kalau itu maumu.”

Perkataan Siwon yang berat itu membuat Yoojon menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang mengiris hatinya. “Hati-hatilah, jangan ngebut.” Sahut Yoojon saat Siwon hendak memegang kenop pintu apartenya.

“Aku harap.” Balas Siwon dingin lalu hilang dibalik pintu, menyisakan kisah perih di benak masing-masing.

Sepeninggal pria itu air mata Yoojon mulai mengalir, ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya sembari tertawa bodoh. Ya, benar-benar bodoh dengan sikapnya yang terlalu keras kepala. Toh, memang semuanya harus berakhir.

Diraihnya telepon rumah yang bertengger di dinding dekat kulkas. Dengan cepat jemari gadis itu bergerak memencet sebuah nomor yang dihapalnya dengan baik. Ia tak peduli dengan air matanya yang terus mengalir, dan menunggu sambungan telepon itu.

Ne, aku siap!”

Setelah mengatakan itu Yoojon menutup sambungan telepon, ia terduduk di lantai dengan perasaan yang kacau. Ya, ia harusnya sudah siap bukan?

To Be Continue…

After doing so much thing…

Observasi, belajar mengenai tipe tulisan orang, banyaknya kalimat paragraf dan sebagainya membuat Goo sangat down. Ya, karya Goo emang masih di bawah standar dan terlalu berani membuat blog fanfic sendiri tanpa berpikir panjang. But nevermind, dengan ini Goo bakal lebih usaha lagi.

Big Thanks yang udah mau ngehargain karya Goo ^^ waiting for the next chap yah~~

Advertisements