Nama   : Goo

Judul    : Weather of The Day: Sunny!

Tag       : Lee Sungmin, Choi Yeon Ji (OC) and Kim Ryeowook (cameo)

Genre   : Romance

Rating   : G

Length  : One Shot

P.s: Setelah mencari faktor perubahan tata cara penulisan fanfic Goo sejak memiliki blog ini, akhirnya Goo sadar. Ternyata, yang menyebabkan isi fanfic Goo yang tidak rapi dan memiliki cerita yang lumayan singkat dengan jumlah kalimat yang rendah setiap paragarafnya adalah handphone. Goo terlalu sering menulis di handphone tanpa tahu berapa kalimat yang Goo buat. Yah, Goo sudah sadar dan mulai menulis fanfic lewat laptop -orang tua :p

Ini cerita yang Goo buat di  handphone, tapi sudah Goo edit dan menambah beberapa cerita menggunakan laptop. Thanks for reading~ Semoga ini bisa membayar kedownan Goo sejak beberapa hari terakhir. Don’t Forget to RCL!!

 

“When sunny come… all the sadness will disappear.”

 

Sungmin terduduk manis di sebuah kursi panjang, pemandangan Namsan Tower menghiasi pandangannya sejak setengah jam yang lalu. Sebuah senyum simpul tak pernah lepas dari guratan wajahnya. Tampan dan menghanyutkan. Beberapa kali orang berhenti di hadapannya, menatap pria itu dengan takjub lalu kembali berjalan sembari menyembunyikan wajah yang merona malu karena ketahuan oleh sang empunya wajah.

Matahari sangat bersahabat. Membuat Sungmin terlalu excited hingga mampu bertahan di tempat itu selama setengah jam. Namun, bukan hanya alasan sederhana itu membuatnya mampu bertahan lama. Ada sesuatu, sesuatu hal yang personal dan menarik bagi diri Sungmin.

Di sebelahnya, sebuah kamera poket bermerek ternama duduk tegak layaknya benda mati. Kamera itu bukan miliknya, entah siapa, tapi Sungmin menemukannya di tempat itu sejak kedatangannya setengah jam yang lalu. Dan yah, sangat tepat, demi kamera inilah ia mampu bertahan duduk diam memandangi Namsan Tower.

Perlahan tangan kanan Sungmin meraih kamera itu lalu mengutak-atiknya demi membuang rasa penasaran yang mulai mencumbunya. Bibir merah mudanya pun tersenyum lebar saat ia melihat pemandangan cantik bunga sakura yang terpampang di layar kamera itu. Sebuah potret yang mengagumkan dari sisi yang tak terduga.

“Itu, punyaku kan?”

Sebuah suara manis mengejutkannya. Kini kedua mata Sungmin menatap siluet gadis bermantel krem di depannya. Pakaian yang terlalu berlebihan pada musim semi pikir Sungmin sesaat.

“Kamera itu punyaku kan?” Sahut gadis itu lagi sembari menunjuk kamera yang digenggam Sungmin.

Pelan-pelan ia melangkah mendekati Sungmin lalu memanjangkan lehernya untuk melihat layar kamera yang menyala. Benar saja, hati gadis itu bersorak melihat bunga sakura yang dipotretnya beberapa jam lalu menghiasi layar kameranya. Sungmin menggulum senyum melihat ekspresi sang gadis yang tak dapat menyembunyikan kesenangan itu. Sungguh ekspresi yang unik.

“Ah! Ini… maaf, sejak tadi aku menunggu pemilik kamera ini. Jwesonghaeyo, ini milikmu.” Kata Sungmin dengan senyum simpulnya menyodorkan kamera itu kepada sang gadis.

Jinjjayo? Terima kasih banyak!! Aku memang teledor akhir-akhir ini. Sekali lagi terima kasih!” Seru gadis itu membuat Sungmin terkekeh pelan.

Wajah gadis itu berseri-seri, tidak menghilangkan warna kulit yang tidak terlalu putih seperti orang Korea kebanyakan. Sungmin sempat terpana, matanya tak pernah beralih dari wajah sang gadis. Ia meneliti semuanya, mulai dari cara berpakaian, warna kulit hingga rambut gadis itu yang terlihat acak-acakan. Gadis itu terlihat berbeda, sangat berbeda.

“Tidak apa-apa… lagipula matahari sangat cerah hari ini, pemandangan Namsan Tower pun sangat indah.” Ujar Sungmin membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Namsan Tower.

Benar saja, Namsan Tower terlihat lebih apik di sore itu apalagi dengan guratan oranye di sekitarnya. Tiba-tiba tubuh gadis itu berjengit, ia lalu mengangkat kameranya dan mengambil pemandangan cantik itu dalam beberapa kali take. Sungmin sumringah, lalu berdiri tepat di sebelah gadis itu. Benar-benar menarik melihat seorang gadis mengenakan mantel panjang dan membawa tas selempang yang terlihat cukup berat dengan gaya yang cekatan ketika memotret.

“Kau bukan orang Korea yah?”

“Eh!” Gadis itu terkejut mendapati sosok Sungmin di sebelahnya, diam-diam ia tersenyum lalu menyodorkan tangannya ke arah pria yang telah berbaik hati menjaga kameranya itu.

“Choi Yeon Ji imnida, aku sudah lama tinggal di Singapura jadi tak terlalu terbiasa dengan udara di Seoul.”

Sungmin mengangguk, pantas saja ia merasa asing dengan warna kulit sang gadis yang cukup menghitam. Sungmin lalu meraih tangan itu dan menjabatnya dengan lembut. “Lee Sungmin imnida. Aku tinggal di Seoul sejak lahir jadi aku terbiasa dengan udara di sini.”

Yeon Ji terkekeh mendengar perkenalan Sungmin, dengan cepat gadis itu mengangkat kameranya di hadapan Sungmin dan memotret wajah pria itu secara tiba-tiba. “Oke, untuk seorang Lee Sungmin. Bangapta!”

Melihat kilatan blitz yang tepat mengenai manik matanya membuat Sungmin berkedip beberapa kali setelah gambarnya diambil. Ia cukup terkejut, memang, kilatan kamera itu sudah biasa menerpanya. Namun, dengan jarak yang sangat dekat seperti Yeon Ji lakukan memang sangat mengejutkan.

“Apa aku terlihat tampan? Bila tidak, maukah kau mengulanginya kembali?” Tanya Sungmin penasaran dengan wajah penuh harap. Pria itu merasa takut bila ekspresi wajahnya cukup buruk ketika merasa terkejut.

“Kau memang tampan, seluruh mimikmu baik-baik saja dengan wajah seperti itu.” Jawab Yeon Ji membuat Sungmin tertawa kecil. ” Kotjimallayo!”

“Hei, aku benar-benar serius!” Sahut Yeon Ji ikut tertawa.

Mereka lalu terdiam dengan mata yang memandang Namsan Tower. Lampu taman pun mulai menyala menandakan malam akan segera tiba. Yeon Ji dan Sungmin menghela napas saat matahari hilang dibalik awan. Sungguh suatu sore yang mengagumkan. Apalagi, bagi Yeon Ji hal ini suatu yang istimewa mengingat hari-harinya di Seoul yang cukup membosankan tanpa seorang teman yang bisa diajak berkeliling kota kelahirannya itu.

“Apa kau ingin makan malam denganku? Ya, sebagai sebuah ungkapan terima kasih karena telah menjagakan kameraku selama setengah jam.”

Yeon Ji berkata dalam satu tarikan napas karena terlalu gugup menyatakan ajakan kepada pria yang baru dikenalnya itu. Entah ada angin apa, Yeon Ji hanya merasa sedang membutuhkan teman, selain itu cukuplah mengajak pria itu makan sebagai suatu ‘bayaran’ menjaga kamera hilang.

Sungmin terdiam, senyuman memang belum hilang dari wajah itu, namun dahinya mengernyit karena ia berpikir mengingat jadwal yang dipatenkannya hari ini.

“Ah… jwesonghaeyo, aku ada jadwal radio malam ini.”

Gadis bermantel itu pun tersenyum, sedikit guratan kekecewaan tersirat pada senyum itu. “Geurae, mungkin lain kali Sungmin-ssi. Aku benar-benar minta maaf telah membuang waktumu.”

Aniyeyo, senang berkenalan denganmu. Omong-omong, boleh aku meminta nomormu? Kau harus mendengar siaran radioku sebentar malam!”

Senyum Yeon Ji kali ini merekah lebar tanpa guratan kekecewaan, ia lalu merogoh sakunya, mengambil sebuah smartphone dan menyodorkannya pada Sungmin. “Aku dengar artis Korea juga bekerja sebagai DJ, mungkinkah kau seorang artis?”

Sungmin terkekeh, setelah memiss call nomornya ia pun memberikan kembali smartphone itu kepada Yeon Ji. Sungmin memang sempat bertanya di dalam hati mengenai sosok Yeon Ji yang sepertinya tidak pernah melihatnya di televisi, dan sekarang ia pun mulai mengerti. Sepertinya, gadis itu terlalu sibuk hingga tak pernah mengetahui segala hal tentangnya –dan mungkin juga artis Korea lainnya.

 “Aku tahu, kau pasti adalah seorang fotografer ternama yang tengah diundang sebuah universitas di Seoul,” tebak Sungmin asal dengan penelitian singkatnya melihat cara berpakaian juga obrolan yang mereka lakoni sejak beberapa menit yang lalu.

“Cerdas! Senang bertemu denganmu tuan selebriti!” seru Yeon Ji tersenyum penuh kepada Sungmin, membuat pria itu terlena di dalam benaknya.

“Senang bertemu denganmu nona fotografer!”

@@@@@

[Epilog]

“Hari ini sangat cerah, aku sangat bahagia. Tadi sore aku bertemu seorang gadis bermantel tebal dari Asia Tenggara. Wah, keberuntungan memang berada di sisiku Ryeowook-ah.”

“Geurae? Apa kalian saling kenal?”

“Ya, karena matahari yang bersinar cerah aku pun berkenalan dengannya dan kami menikmati pemandangan indah di sore itu. Aku menyukai hari yang cerah!”

END

Advertisements