Nama   : Goo

Judul    : Friendship Part [4/4]

Tag       : Lee Donghae, Kim Kibum, Lee Hyewon (OC), Park Gyuri (OC)

Genre   : Romance

Rating   : G

Length  : Chaptered

Note: Ini Jujur, belum Goo edit ceritanya karena Goo pikir ini udah chap terakhir jadi disamain aja sama part sebelumnya. Terima kasih yang udah mau baca, jangan lupa komen yah!! Kritik dan saran itu membangun loh ^^ *Deep Bow and waiting for the other fanfic* Thankies for Elva untuk kritiknya di pagi hari. Obrolannya gaje yah tapi seru :p *maksa seru*

@@@@@

“LEE DONGHAE!!”

Teriakan itu membuat Donghae terkejut, ia lantas menjauhkan dirinya dari Gyuri yang tengah meringis, menahan rasa kesal karena perlakuan Donghae yang terlalu kasar. Beberapa kali Donghae memang sempat mengumpat, mengumpati dirinya sendiri yang telah bertindak di luar batas.

Jantung Donghae berdetak karuan, pikirannya kacau saat kedua mata Kibum menatapnya penuh amarah. Ia seperti melihat kilatan api yang bersemayam di mata sayu Kibum. Hatinya kalut, ia juga sadar terlalu kasar pada Gyuri, seharusnya ia tak seperti itu dan membiarkan gadis -brengsek- itu berkoar tidak jelas mengenai kebodohannya. Ya, setidaknya bila gadis itu terus berkoar Kibum bisa tahu kemunafikannya.

BUKK!

Bogem mentah itu tepat mengenai pipi kiri Donghae, membuat pria itu terhuyung ke lantai atap sekolah yang kasar. Ia menarik nafasnya pelan, mencoba bersabar dengan tindakan Kibum barusan. Sungguh, dipukul oleh sahabat sendiri adalah satu hal yang paling menyakitkan dalam hidup seseorang.

Mata Donghae sempat melirik Gyuri yang terdiam menatapnya cemas. Tubuh gadis itu bergetar melihat Kibum yang lagi-lagi memberinya bogem kedua di pipi kanannya.

“LEE DONGHAE! KAU PENGECUT!”

@@@@@

Hyewon mengompres kedua pipi Donghae dengan pelan, beberapa kali ia menghela nafas ketika mendengar gertakan gigi Donghae yang masih tak terima perlakuan Kibum beberapa jam yang lalu. Ya, tidak ada yang patut dipersalahkan kini, semuanya tengah diselimuti oleh kesalahpahaman. Hyewon mengerti, tapi ia tidak begitu paham untuk membantu pria itu menyelesaikan semuanya.

Neo jeongmal babo,” gumam Hyewon membuat Donghae menatapnya tajam. “Wae? Salahku apa?”

“Kau kasar pada Gyuri, tentu saja Kibum memberimu dua bogem mentahnya,” Jawab Hyewon pelan. Ia lalu meraih tangan Donghae yang terlipat di depan dada dan menyuruh pria itu memegang es yang ia pegang.

“Kau mau ke mana?” Tanya Donghae saat melihat Hyewon melangkah keluar ruang kesehatan.

Hyewon menatap Donghae datar. “Kau tidak mau masuk ke kelas? Bel pergantian mata pelajaran akan berbunyi.”

“Ck, tidak! Izinkan saja aku.” Sahut Donghae malas lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Matanya melirik Hyewon yang telah menghilang dibalik pintu menyisakan suara derap kaki yang melangkah menjauh.

Lagi-lagi ia merasa menyendiri, diselimuti oleh awan amarah juga kesalahpahaman. Kibum brengsek! Ia pun sama. Masing-masing tak berpikiran dan hanya mengandalkan ego. Donghae pusing tujuh keliling, sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Benar-benar menyakitkan.

@@@@@

Kali ini Donghae duduk di samping Hyewon yang terdiam memandang keluar jendela bus yang mereka tumpangi. Wajah Donghae sangat masam, telinganya memanas mendengar beberapa bisikan siswa lain yang menceritakan peristiwa yang ditimpanya tadi pagi. Semua orang menyalahkannya -kecuali Hyewon tentu saja. Mereka berbisik, menghujatnya sebagai pria kasar yang telah melukai sahabat sendiri.

Ia sempat melihat Kibum ketika mengambil tasnya di dalam kelas siang itu. Pria itu masih enggan menatapnya dan menurut Hyewon, Kibum salah paham dengan keadaannya. Kibum berpikir bahwa dirinya akan bertindak semena-mena kepada Gyuri hingga pria itu memberikan dua bogem mentah kepadanya. Dan yah, demi apapun itu Kibum tidak percaya dengan penjelasan Hyewon mengenai kebenaran yang terjadi.

Donghae sendiri juga kesal, ia merasa Kibum tak pernah mengerti dengan sifatnya. Mana mungkin seorang Donghae bersikap seperti itu pada wanita? Kalaupun iya, pasti ada alasannya dan Kibum tak tahu soal itu. Ke mana sikap seorang sahabat? Donghae kecewa. Benar-benar kecewa.

“Rumahmu di mana? Bukankah rumahmu hanya berjarak beberapa blok dari sekolah?”

Kepala Donghae bergerak, berbalik ke arah Hyewon yang seperti setan karena rambut yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Donghae hampir saja jantungan melihatnya, cukup mengerikan memang. Seperti itulah seorang Hyewon yang ia kenal seperti biasa. Bertingkah misterius dengan dua tirai menutupi wajahnya yang lumayan cantik. Donghae tidak mengerti arah pikiran gadis itu, tapi sudah menjadi kebiasaan pula untuk melihatnya secara misterius.

“Aku ikut saja denganmu.” Jawab Donghae kemudian sembari memijit-mijit kedua pipinya yang memar.

Hyewon tekekeh pelan, tak ada penolakan karena gadis itu mengerti bagaimana sikap orang tua Donghae bila melihat memar di kedua pipi anaknya. Pernah sekali, ketika Donghae ditemukan terkapar di laboratorium Biologi ketika melihat darah kelinci yang banyak, ibunya yang khawatir lalu datang ke sekolah dan membopongnya ke rumah.

Namun, itu sudah sangat lama, saat mereka masih menjadi junior. Sejak saat itulah pihak sekolah tidak pernah menelpon orang tua Donghae bila ada sesuatu yang terjadi dengannya. Pria itu bukan anak mama, tapi memang kedua orang tuanya sangat protektive karena ia anak bungsu.

“Apa yang kau tertawakan?”

Kedua bibir Hyewon terkatup rapat saat mendengar suara Donghae, detik berikutnya ia kembali terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Pengalaman Donghae memang mengocok perut, apalagi saat melihat wajah cemberutnya.

“Kenapa kau tidak tertawa saja seharian? Orang-orang tengah takjub mendengar tawamu yang jarang keluar itu.” Bisik Donghae membuat Hyewon membisu pada detik selanjutnya. Pandangan Gadis itu melebar ke sekelilingnya, melihat tatapan aneh dari beberapa siswa ke arahnya.

“Kita sudah sampai!! Khajja!”

@@@@@

Donghae terduduk lemas di sebuah ayunan. Matanya berkaca-kaca melihat pantulan sinar lampu taman yang begitu banyak hingga mampu membuatnya berkedip berulang kali. Tubuhnya lunglai, ia benar-benar malas menghadapi ribuan manusia yang berada di aula hotel itu. Bukan tidak suka dengan keramaian, hanya saja ada pemandangan yang menusuk hatinya di dalam. Jung Gyuri, gadis yang ia sebut sebagai gadis tak tahu malu itu masih menggaet sosok Kibum di dalam sana.

Yah, hari inilah sosok tak tahu malu itu berulang tahun.

Oh, tentu saja pria itu berharap sosok yang mengaku sebagai pacar Gyuri beberapa waktu lalu datang dan memergoki gadisnya itu tengah menggaet sahabatnya di depan sana. Ya, itulah yang ia harapkan sejak pagi menyambut harinya. Ia pun sudah lelah tak berbicara dengan Kibum selama seminggu, bahkan pria itu tak pernah melihatnya walau hanya sekali lirikan. Benar-benar mengerikan.

“Kau bodoh atau bagaimana?”

Pria itu terkesiap, menatap sosok Gyuri yang telah berdiri di sampingnya meninggalkan pesta yang makin menggila di dalam aula. “Ada apa?” Tanya Donghae dengan nada datar.

Gyuri bersidekap lalu duduk tepat di samping pria itu sembari menghela nafas panjang, “aku benar-benar minta maaf atas yang terjadi di antara kalian.”

Donghae tertawa sinis, ia melirik Gyuri dan menunggu gadis itu melanjutkan kata-katanya. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, tapi sosok Gyuri sudah menjadi momok yang menjengkelkan baginya. Sudah membohongi sahabatnya, membuat namanya tercemar pula. Oke, untuk pilihan kedua memang dia yang salah.

Mianhae, aku belum menjelaskannya pada Kibum, aku tidak sampai…”

“Bila kau selalu menundanya maka persahabatanku dengannya akan semakin terpuruk. Jangan egois Gyuri-ssi, pikirkan orang lain yang menjadi korbannya jangan hanya kesenanganmu.”  Potong Donghae cepat membuat Gyuri menunduk dalam. Donghae benar, dan ia makin merasa tertohok dengan posisinya kini.

“Jangan menangis, jangan merusak make up di wajahmu… aku hanya menasehatimu, khajja! Orang yang berulang tahun harusnya dicari oleh para tamu!” Sahut Donghae sembari menjulurkan tangannya di hadapan Gyuri.

Gyuri mendongak, ia menatap mata Donghae yang berseliweran mengarah ke dalam aula hotel yang telah dipesan kedua orangtuanya untuk pesta ulang tahunnya tersebut. Sembari menyembunyikan senyumnya, Gyuri meraih tangan Donghae dan membawa pria itu ke dalam lautan manusia di aula. Ada kehangat pada sikap Donghae kali ini, pria itu memang pria baik.

Jantung Donghae berdetak abnormal, walau sudah tak menyukai gadis itu ia tetaplah pria biasa yang akan selalu merasa awkward bila bersanding bersama gadis cantik seperti Gyuri. Masa bodoh dengan tatapan orang-orang yang melihatnya kini, Donghae lalu melepas gadis itu untuk berjalan sendiri ke podium, meninggalkannya yang tengah menyunggingkan senyum tipis kepada Kibum.

Persetan dengan tatapan Kibum yang ingin mengulitinya hidup-hidup, toh ia tak punya perasaan pada Gyuri dan masih ingin membuat pria itu membuka matanya lebar-lebar tentang rahasia umum seorang gadis impiannya dulu. Hyewon benar, ia dan Kibum terlalu kuper hingga tak pernah tahu rahasia bodoh itu. Dan bagaimana ia dan Kibum seorang kuper? Itu mudah terjadi mengingat keduanya terlalu sibuk dengan dunia masing-masing.

Gamsahamnida Donghae-ssi!”

Seruan Gyuri melalu microphone di podium membuat mata-mata para tamu makin mempertajam penglihatannya ke arah Donghae. Donghae hanya tersenyum tipis, mengangkat salah satu tangannya ke udara lalu melangkah bergabung ke dalam lautan manusia, mencari seorang gadis misterius yang telah meracuni pikirannya sejak beberapa hari terakhir. Ya, sebuah racun yang mampu membuat otaknya terus memikirkan gadis itu.

“Apa kau selalu makan dengan porsi jumbo seperti ini?” Sahut Donghae pada seorang gadis yang sibuk mengambil beberapa kudapan ke dalam piring yang cukup besar.

Gadis itu terkekeh, menyembunyikan semburat merah di pipinya karena menahan malu akibat kebiasaan buruknya itu. “Aku sudah ketahuan olehmu, yah… inilah seorang Kim Hyewon.”

Donghae mendengus, “kalau kencan, apa kau juga akan makan dengan porsi seperti ini?”

Hyewon yang sedang mencomot sepotong êclair tersedak, ia menatap Donghae dengan intensif. “Ehm… itu tergantung.” Jawabnya kikuk. Ia tidak pernah berpikir bahwa Donghae akan menyebut kata kencan dalam obrolannya. Sepertinya, pikiran Donghae masih koslet setelah menerima dua bogem mentah Kibum beberapa hari yang lalu.

“Yaa! Apa yang terjadi antara kau dan Gyuri? Sepertinya hubungan kalian membaik.”

“Menurutmu?” Seloroh Donghae membuat Hyewon terdiam, gadis itu terlihat sagat cantik dengan balutan dress hitamnya, membuatnya terlihat sangat mencolok di acara itu.

“Ya, sepertinya.” Jawab Hyewon singkat lalu berjalan ke luar aula. Sepertinya gadis itu memang tidak cocok dengan kerumunan orang dan pesta. Hyewon seperti potret gadis yang membosankan dan tergila-gila dengan kesunyian, Donghae akui fakta itu.

“Kenapa kau mengikutiku?” Tanya Hyewon saat melihat Donghae yang mengekorinya di belakang membuat pria itu menggaruk tengkuknya malu.

Aniya… aku hanya ingin memintamu datang ke atap sekolah pada jam makan siang esok. Ada yang ingin ku bicarakan padamu.” Jawab Donghae gugup. Entah apa yang ada di otaknya kini, jawabannya itu sangat refleks dan belum pernah ia pikirkan sebelumnya.

Kepala gadis yang terduduk di bangku taman itu bergerak naik turun, mengiyakan ajakan Donghae tanpa ada beban yang dipikirkannya. “Titah tuan akan hamba laksanakan.”

@@@@@

“Kau mau meminta maaf?” Tanya Donghae dalam satu tarikan napas membuat pria yang berdiri di hadapannya mendesis kesal. “Harus ku ulang berap…”

DUAK!

Sembari menghela napas, Donghae melayangkan bogem mentahnya tepat ke arah pipi kiri pria itu hingga ia terpental jatuh ke belakang. “Aku memaafkanmu Kibum-ah!” Seru Donghae sembari tersenyum penuh.

Kibum mengelus pipinya pelan, ia meringis meski senyum menawannya tetap terpampang di wajah. Perasaannya cukup lega saat Donghae berseru memaafkannya, bogem ini bukan apa-apa dibandingkan dengan perlakuannya pada Donghae beberapa hari yang lalu. “Ternyata, rasa bogem mentah itu seperti ini,”

Tawa Donghae pecah, ia menghampiri Kibum dan membantu pria itu untuk berdiri. Kibum menerima bantuan Donghae lalu merangkulnya hangat. Ia benar-benar merindukan sahabatnya itu, merindukan segala tingkah laku mereka yang abnormal. Demi apapun di dunia ini, yang namanya persahabatan, tentu tidak ada akan ada habisnya. Begitu pula dengan Donghae dan Kibum.

“Aku sudah mendengarnya dari Gyuri, dan kau tahu…”

“Selamat menjadi single!” Seru Donghae semangat membut Kibum menjitak kepalanya dengan kesal.

“Aku tidak tahu bila aku terlalu kuper dan bodoh sehingga tidak mengetahui rahasia umum seorang Jung Gyuri.” Ujar Kibum sembari melangkahkan kakinya pelan.

Donghae mengangguk, “na tto…”

“Kau menyukainya?” Tanya Kibum tiba-tiba. Dengan santai Donghae mengangguk, “tentu saja, aku memang berencana merebutnya darimu tapi setelah mengetahui semuanya… aku tidak mau.”

MWO!? Neo michin!!”

Umpatan Kibum keluar, ia menendang kaki Donghae beberapa kali sembari menjambak rambut sahabatnya itu tanpa ampun. Kesal pula mendengar pengakuan pria berpenampilan necis itu, apa Donghae bilang? Merebutnya? Donghae brengsek! Begitu pula dengannya. Kibum akui itu.

“Yaa! Hajima!! Lagipula aku tidak jadi melakukannya!! Yaaa!!”

“Aish! Jinjja! Kau…”

Hajima!! KIM KIBUM! Aku sudah mempunyai gadis lain!!”

Lantas Kibum menghentikan aktivitasnya, matanya membulat dan detik berikutnya ia kembali menendang kaki Donghae hingga pria itu terduduk di atas trotoar. “Dasar kau playboy ikan!!” Umpat Kibum tanpa ampun.

Donghae tertawa, “kau tahu siapa dia?”

Nugu?” Seloroh Kibum dengan mata yang mengarah pada Donghae yang asyik duduk di atas trotoar.

Kepala Donghae mendongak ke atas langit malam yang cerah, hawa dingin memang menusuk tulangnya tapi jiwanya kini terasa lebih hangat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Cukup ia tahu bagaimana rasanya jatuh cinta yang benar, bukannya hanya tertarik pada sebuah kecantikan juga body tanpa memikirkan sifat. Ya, Donghae tidak salah lagi.

“Kim Hyewon…”

@@@@@

[EPILOG]

Donghae berlari dengan kencang menembus kerumunan siswa-siswi di koridor sekolahnya. Ia tak peduli dengan teriakan beberapa guru yang merasa terganggu dengan suara derap kakinya yang menggelegar hingga ke manapun. Babo!! Umpat Donghae untuk dirinya sendiri karena terlalu lama mengulur waktu untuk menemui Hyewon di atap sekolah. Sumpah! Demi apapun itu! Ia merasa gugup setengah mati.

“KIM HYEWON!!” Teriakan Donghae menggelegar namun tak ada yang menjawabnya.

“HYE…”

Sikkeuro!”

Bibir Donghae terkatup rapat saat mendengar sahutan Hyewon yang tengah bersandar di sebuah kursi. Kursi yang memang disediakan oleh pihak sekolah untuk para siswa yang merasa lelah untuk mengikuti jam pelajaran. Dengan pasti ia melangkahkan kaki menghampiri gadis itu dengan senyum merekah lebar. Ia penasaran benar dengan kegiatan yang dilakukan gadis misterius itu hingga menyuruhnya untuk diam.

“Apa yang kau la… IGE BWOYA!”

Sikkeuro!! Aku melihatnya di belakang pot itu, kasihan sekali, jadi aku memberinya makan. Bila ketahuan pihak sekolah, ia akan dibuang.” Jelas Hyewon sembari memberi makan seekor anjing kecil dengan remah-remah roti di tangannya.

Donghae tersenyum, ia terduduk di samping Hyewon dan ikut mengelus bulu anjing itu dengan penuh kasih sayang. Pria itu makin senang saja mendapati sifat Hyewon yang penuh empati. “Kyeopta!!”

“Em, aku akan menamakannya Donghae… supaya aku ingat bahwa pria itu punya kebiasaan jam karet yang menyebalkan.” Ujar Hyewon membuat mata Donghae membulat.

Pria itu menatap Hyewon tidak terima lalu merebut anjing itu ke pelukannya, tidak peduli dengan bulu anjing yang telah kotor, toh ia bukan pria penjijik. “Hyewon-ah… kau betinakan? Aigo~~ neo jinjja kyeopta!”

Wajah Hyewon memanas saat mendengar pujian Donghae untuk anjing yang ditemukannya barusan, ia melongo tak percaya. “YAA! JANGAN MEREBUT DONGHAEKU!”

END

Advertisements