Nama    : Goo
Judul     : Kajimara… Part [2/?]
Genre   : Romance
Rating   : G
Length  : Chaptered

Catatan: Lanjutan Kajimara… Semoga suka. Oh ya, fanfic ini terinspirasikan dari seorang teman yang ku kenal dari teman dekatku. Namanya Echank, wajah kami memiliki banyak persamaan, bahkan bisa saja kalian salah mengenali wajah kami (maka dari itu, aku percaya sekali bila setiap manusia mempunyai 7 kembaran yang tersebar di dunia ._.). Jadi, Yora dan Yoojon itu seperti Aku dan Echank ^^ Ya, cuman itu aja sih.. kalau soal pairing, aku hanya mempairkan saja. Choi Siwon, Eunhyuk, and the other members are not mine 🙂

 

“Apa? Ke Singapura! Yoojon-ah!”

Yoojon menjauhkan telepon genggamnya dari telinga setelah mendengar pekikan Yora yang menggelegar. Ia menghela napas perlahan lalu mendekatkan benda berbentuk persegi bermerek happycall kembali ke telinganya. Yoojon sudah menduga, gadis itu akan memekik hebat bila tahu apa yang terjadi padanya sejak beberapa hari terakhir.

Ne, aku harus bekerja di sana. Mungkin selama beberapa tahun ke depan.” Ujar Yoojon santai sembari menyesap hot moccanya. Di balik itu ia melamunkan bagaimana wajah garang Yora yang mencak-mencak dengan keputusan workaholicnya, ya, tentu saja.

“Jadi ini alasanmu memutuskan Siwon oppa? Eonni! Geumanhae! Kajimarayo!!” Pekik Yora dengan seluruh kata yang ditekan, apalagi pada interuspi terakhir. Gadis itu mungkin telah membuat orang-orang di sekitarnya menjadi tuli.

Senyum tipis Yoojon merekah bila melamunkan hal itu terus, tiba-tiba dadanya mendadak sesak saat nama yang paling dihindarinya itu tercipta dari mulut Yora –setelah meneliti kata-kata Yora di telepon tentunya. “Kajimara? Haha kau pikir aku bisa hidup tanpa bekerja? Ei, sering-sering saja kau memanggilku eonni.” Ujarnya berpura mengalihkan topik.

“Cish babo. Apa Siwon oppa tahu alasanmu ini? Aku ragu kau mengatakannya,” ujar Yora serius di seberang telepon, membuat Yoojon tergagu, dadanya kembali sesak.

“Tidak, bisakah kita mengganti topik? Ini sudah berakhir Yora-ya. Oh yah, aku masih sibuk besok aku telepon lagi eo? Bye.”

CKLIK

Setelah memutuskan telepon secara sepihak itu Yoojon menarik napas dalam, ia berusaha melepaskan bayang-bayang Siwon dari benaknya dan kembali membereskan baju yang akan dibawanya nanti. Ada sekitar 2 tas yang ia bawa, salah satunya adalah koper berukuran besar yang akan menampung setengah bajunya untuk dibawa ke Singapura –dan tentu saja, baju itu semua berbahan tipis mengingat udara Singapura yang tak sedingin Seoul.

“Ke Singapura?”

Tubuh Yoojon menegang, ia tak berani membalikkan badan hanya untuk melihat sosok yang entah sejak kapan telah berada di apartenya. Yoojon mencoba untuk memutar memorinya kembali, mengingat pernahkah ia memberi tahu kode apartenya ke pria itu atau tidak. Hei! Bahkan orang yang tahu nomor aparteku hanya Yora dan Siwon!

“Itu alasanmu untuk memutuskannya?” Tanya pria itu membuat Yoojon menelan salivanya dengan susah payah.

Yoojon kembali fokus ke dunia nyata, mendengarkan pria itu dalam diam, tangannya yang tengah memegang sehelai baju kaos berhenti di udara. Tubuhnya menegang seperti manekin di sebuah toko baju. Yoojon tak berkutik, ya, selalu saja tak berkutik di depan pria itu.

“Kim Yoojon! Jawab aku!”

“Donghae oppa! Jawab aku! Mengapa kau bisa ada di sini eo?!” Teriak Yoojon geram setelah Donghae mengitrupsinya.

Gadis itu meletakkan kaos yang digenggamnya ke lantai, kemudian beralih menatap Donghae dengan tajam. Persetan dengan pria yang telah ia anggap sebagai kakaknya itu, apa salah bila ia marah kepada Donghae yang telah masuk ke apartenya secara diam-diam? Lalu memaksanya menjawab pertanyaan yang menyesakkan itu?!

Donghae menghela napas sembari mengusap wajahnya kasar, beberapa guratan timbul di dahinya, pria itu berusaha sabar dengan emosi yang tengah labil. “Palli malhaebwa, aku ingin mendengar ceritamu.”

Mendengar itu Yoojon ikut menghela napas, ia menundukkan kepala sembari menggingit bibir bawahnya gusar. Ia tak berani menatap pria itu, tak berani pula untuk menceritakan seluruh keluh kesahnya selama beberapa hari terakhir. Bisakah ia pergi sekarang juga? Sungguh, ia tidak sanggup untuk menceritakan kisah menyedihkannya itu kepada siapa pun.

Dengan langkah berat Donghae meraih tubuh Yoojon ke dalam pelukannya, mengusap punggung gadis itu dengan lembut seakan ialah tumpuan yang dimiliki Yoojon setelah memutuskan Siwon. “Aku tahu kau tidak bisa menangisi hal ini, tapi mengapa kau tak pernah bercerita padaku?”

Yoojon terkesiap, mendengar hal itu membuat otak Yoojon kembali mengingat memori yang terjadi antara ia dan Donghae. Saat itu, mereka tengah berjalan ke Heundae, melepas penat setelah bekerja dengan gila. Mereka memang tak bekerja pada bidang atau kantor yang sama, namun keduanya begitu dekat hingga sering berpergian berdua. Tepat di depan Heundae, mereka mengikat janji sebagai adik-kakak, mengikrarkan perjanjian untuk selalu bercerita mengenai keluh kesah yang mereka alami. Namun kini, Yoojon merasa egois, ia telah mematahkan perjanjiannya.

“Aku terlalu egois, aku juga ingin menyimpan rahasiaku rapat-rapat. Tapi sepertinya aku tak bisa,” Ujar Yoojon terbata-bata, gadis itu tidak menangis, tapi dadanya terlalu sesak untuk mengeluarkan sepatah kata pun, lidahnya kelu.

“Kalau begitu ceritakan padaku lalu aku akan membebaskanmu ke Singapura. Terlalu berat bila tahu adik perempuanku ini akan pergi meninggalkanku tanpa pemberitahuan lebih dulu,” Kata Donghae sembari tersenyum simpul, ia mengelus kedua pipi gadis itu lalu kembali memeluknya dengan hangat.

Dalam pelukan hangat itu Yoojon mengangguk. Ia menarik napas panjang lalu tersenyum tegar seperti apa yang ia lakukan setelah hari kehancuran hatinya.

@@@@@

“Kau kenapa?” Tanya Eunhyuk gusar melihat Yora yang terus menggingit bibir bawahnya. Sejak membawa gadis itu makan siang, Eunhyuk tak pernah melihat guratan senyum dari wajah cantik itu, membuatnya merasa keki untuk beberapa saat.

“Aku khawatir.” Jawab Yora singkat, ia mengambil handphone dan menekan beberapa digit angka, tak berapa lama ia kembali memasukkan benda itu ke dalam tas selempangnya dibarengi dengan helaan napas.

“Ceritakan padaku mengapa kau bisa khawatir,” ungkap Eunhyuk sembari menahan tangan Yora yang akan mengambil handphonenya kembali dari dalam tas.

Yora menelan ludah, matanya menatap Eunhyuk intens dengan pikiran yang terus berdebat. Cerita tidak yah? Di satu sisi ia ingin memberitahukan alasan Yoojon memutuskan Siwon, di sisi yang lain ia juga ingin menyimpan rahasia gadis ‘kembarannya’ itu dengan rapat dari semua anggota Super Junior.

Melihat wajah Yora yang memucat, Eunhyuk mengelus permukaan kulit tangan gadis itu berharap ia dapat tenang segera. “Malhaebwa, aku akan mengunci bibirku rapat-rapat.”
Oppa Yaksokh?”

Eunhyuk mengangguk dengan cengiran tampan di wajahnya, ” yaksokhae!”

@@@@@

Donghae menatap Yoojon yang tengah terlelap di atas pangkuannya, perlahan ia menyisir rambut Yoojon dengan lembut. Gadis itu terlalu bersemangat menceritakan segala keluh kesahnya kepada Donghae, hingga ia pun tertidur di sofa dengan keadaan yang cukup kacau karena lipatan hitam pada kantung matanya.

“Apa yang kau lakukan?”

Kepala Donghae berbalik ke depan pintu aparte yang baru saja tertutup. Seorang pria berdiri dengan rahang yang mengeras. Pria itu, siapa lagi kalau bukan Choi Siwon. Diam-diam Donghae meneguk salivanya dengan susah payah, menyembunyikan rasa takut yang mulai menghambur di benaknya.

“Ia hanya terlelap,” jawab Donghae berpura acuh.

“Di pangkuanmu?” Tanya Siwon menggantung sembari mendecakkan lidah, matanya berkilat tajam melihat Donghae yang masih asyik menyisir rambut wanita yang dicintainya. Pria itu tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Donghae melakukan hal yang memaskan hati itu di depannya?

Donghae menghela napas, “mianhae, aku yang memindahkannya di pangkuanku. Kau jangan salah paham! Lagipula kau tahu kan bagaimana perasaanku terhadapnya?” seloroh Donghae keki, menyembunyikan rasa sesal di hatinya. Ya, ya aku salah…

Geurae, tapi kau tahu kan apa akibatnya bila aku salah paham? Kau benar-benar bodoh. Palli! Jauhkan tubuhmu darinya.” Gertak Siwon yang langsung diamini Donghae.

Sebelum Donghae membawa tubuh Yoojon ke dalam kamar, Siwon telah menyelipnya dan menggendong gadis itu tanpa banyak bicara agar kehadirannya yang tak diharapkan itu tidak ketahuan. Siwon membawa Yoojon ke kamarnya, menaruh tubuh langsing Yoojon ke atas kasur, matanya sedikit memicing melihat tumpukan pakaian dan koper di dalam kamar. Ada perasaan aneh yang mulai menohoknya.

“Kau masih mencintainya yah?” Sahut Donghae di sofa setelah Siwon menutup pintu kamar Yoojon dengan rapat.

Siwon mendecakkan lidah. “Aku akan menjadi orang munafik bila berkata tidak. Khajja, kita harus kembali ke aparte sebelum manager hyung marah.” ajak Siwon menarik lengan Donghae paksa agar cepat berkemas meninggalkan aparte Yoojon.

“Sepertinya Yoojon harus mengganti kode apartenya, aku takut kau berbuat macam-macam terhadapnya,” Ujar Siwon dingin sembari memakai mantelnya. Di belakangnya Donghae terus menghela napas, obrolannya dengan Yoojon terus bermain di benaknya. Apa aku harus memberitahukannya?

Sepanjang jalan menuju tempat parkir –di mana mobil Siwon berdiam, Donghae terus bergumam, menundukkan kepalanya dan berpikir banyak mengenai hal yang harus diluruskannya segera. Donghae tahu, bagaimana sosok Yoojon mencintai pria di hadapannya itu, pun dengan perasaan Siwon terhadap Yoojon. Keduanya memang sulit dipisahkan.

“Siwon-ah…”

Mwoga?” Tanya Siwon sembari membuka pintu mobilnya setelah mereka keluar dari gedung aparte Yoojon yang cukup sederhana itu.

“Apa kau tahu alasan Yoojon memutuskanmu?” Tanya Donghae to the point.

Siwon yang baru saja akan menstater mobilnya terdiam. Matanya menatap ke jalan raya dengan kosong. Pertanyaan itu pula yang tengah mengerubungi otaknya hingga ia mampu bertahan dengan kondisi labil selama beberapa hari terakhir. “Apa?”

“Yoojon memutuskan untuk pindah ke Singapura.” Jawab Donghae setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ekor matanya melirik Siwon yang terdiam gusar, dada pria itu bergerak naik turun berusaha untuk menetralkan emosinya yang sempat naik.

“Berapa lama? Kapan ia akan berangkat? Kenapa bisa?” Cecar Siwon dalam satu tarikan napas. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat koper besar di kamar Yoojon serta pakaian yang bertumpuk. Apa lagi? Gadis itu akan meninggalkannya.

Donghae menyandarkan tubuhnya ke bangku mobil, ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang tenang. “Beberapa tahun ke depan, kau tahu kan anak itu sangat workaholic? Yeah~ hampir sama denganmu. Alasannya tentu tak jauh dari hal itu.”
“Tapi kenapa malah memutuskanku? Hanya karena itu?!”

Bahu Donghae bergerak naik turun, entah mengapa ia menjadi acuh untuk menceritakan rahasia ini kepada Siwon. “Mollayo, sepertinya ia tak suka LDR apalagi dengan artis sepertimu.”

“Alasan bodoh!” Umpat Siwon sembari memukul setir mobil. Diikuti dengan kekehan Donghae yang seakan mengumpat hubungannya. Namun, di sisi lain ia mengerti mengapa Yoojon memilih alasan bodoh itu.

Bukankah ini terlalu kekanak-kanakan?

@@@@@

Alarm pagi membangunkan Yora yang masih asyik bergerumul dengan selimut tipisnya. Matahari musim panas telah tiba menghangatkan permukaan daratan Seoul yang dingin. Pelan-pelan kelopak mata gadis itu terbuka, ia lalu terduduk sembari mematikan alarm summernya dengan hati yang masih saja terasa gusar.

“Yoojon!”

Nama itu langsung terlintas di benaknya, dengan cepat ia meraih handphone yang terletak di nakas dan memencet dial number untuk gadis ‘kembarannya’ itu. Yah, kembaran. Seperti fakta yang pernah ia dengar, setiap manusia memiliki 7 kembaran di dunia. Dan itu terbukti dengan pertemuannya dengan Yoojon sejak beberapa tahun terakhir.

“Eonni! Kau di mana sekarang? Kau belum pergi ke Singapura kan?” Tanya Yora tanpa jeda membuat gadis itu ngos-ngosan di akhir pertanyaannya.

Di seberang telepon Yoojon tertawa, “yaa! Mendengarmu memanggilku eonni membuat pipiku merona. Aku sedikit ragu jika aku lebih tua darimu, bahkan hari keberangkatanku pun kau lupakan begitu saja. Dasar nona pikun!”

“Yayaya… jadi kapan eo? Aku benar-benar lupa.” Sahut Yora malas mendengarkan ocegan Yoojon yang mulai membullynya dengan logika.

“Besok, jam 9 pagi. Aku tunggu kau di bandara Incheon, bila kau terlambat sedetik pun aku tidak akan mengirimkanmu souvenir dari Singapura.”

Andwae!!! Aku tidak akan terlambat! Camkan itu. Oh yah, hari-hariku akan menjadi membosankan setelah kepergianmu apalagi Eunhyuk oppa yang akan sibuk untuk album Eunhaenya di Jepang.” Curhat Yora mengalir begitu saja.

“Gerom, bagaimana kalau kau mengunjungiku di pertengahan musim panas? Aku akan sangat senang bila kau mau!” ujar Yoojon tidak membuat Yora bergeming. Jujur saja, ia sangat ingin, tetapi ada hal yang menahannya.

“Pertengahan musim panas aku akan sibuk dengan pameran lukisan, eonni… kau belum memberitahukannya pada Siwon oppa?” Tanya Yora pelan, takut membuat Yoojon meradang dengan mematikan sambungan telepon secara sepihat seperti beberapa hari yang lalu.

Ada jeda yang cukup lama hingga akhirnya suara desahan napas Yoojon terdengar berat di telinga Yora. “Tidak dan tidak akan.”

Wae?” Cerca Yora tidak terima. Yora menerima bila Yoojon memang terlihat lebih dewasa dengan pemikirannya, namun gadis itu tetap saja terlalu banyak berpikir mengenai banyak hal, membuatnya mudah terluka pada akhirnya karena memutuskan sesuatu yang seharusnya ia lakukan, tapi ia tidak ingin karena pandangan-pandangannya.

Yoojon terus terdiam, membuat Yora harus bertanya berulang kali agar mendapat alasan telak dari gadis itu. “Wae eonni?”

“Hhh… ini sebenarnya terlalu kekanak-kanakan Yora-ya, aku tak bisa bertahan dengan hubungan jarak jauh lagipula akan sangat menyakitkan bila ia yang lebih dulu memutuskanku karena alasan yang sama. Sudahlah, anggap saja ini tidak pernah terjadi. Hubunganku dengannya hanya seumur jagung dan aku tidak berani untuk mempertahankannya lebih lanjut. Duniaku dan dunianya sangat berbeda. Tidak seperti dirimu dan…”

“Kim Yoojon!” Interupsi Yora membuat Yoojon menghentikan ucapannya.

“Katamu, cinta berdasarkan perbedaan akan bertahan lama. Mengapa sekarang kau berkilah dengan mengatakan duniamu dan dunianya berbeda? Kau munafik.” Hardik Yora menahan kesal di dada.

“Ya, aku memang munafik. Namun, kali ini berbeda artian Yora-ya. Ini bukan kisah dongeng yang bisa mempersatukan sherk dengan seorang putri cantik. Dunia berbeda itu beda artian dengan sifat yang berbeda. Maafkan aku Yora.” Kata Yoojon bijak, Yora menghela napas, ia mulai muak dengan obrolan pagi itu.

Gerom, jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Siwon oppa neilba!”

CKLIK

Kali ini Yora yang mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia menatap layar handphone yang menampilkan fotonya dengan Yoojon sembari menarik napas gusar. “Bila saja kita memang kembar, aku tentu bisa melarangmu lewat mind control eonni,”

To be Continue…

Advertisements