Nama        : Goo

Judul         : Winter!

Tag           : Yesung, Han Chaeri

Genre        : Romance, Fluff

Rating        : G

Length       : One Shot

 

Catatan: Mian lama nunggu dear bunny Yuu. Aku baru dapat ilham dari writer’s block selama beberapa hari –yang pada akhirnya membaik setelah dipaksa hahaha. Mian kalau hasilnya masih tidak memuaskan se-babo-gila-unyu-nya Yesung masih stadium normal yak? Fluff pula :-p Wkwkwk . Semoga suka yah cenayang~~ xoxo.

 

 

Yesung terdiam di depan balkon, matanya menatap tumpukan salju di tepi jalanan yang berwarna putih polos yang membisu dan tak kunjung mencair. Pikirannya melayang, mengingat bagaimana hatinya terperangkan pada seorang gadis yang tergila-gila dengan salju.

“Kau tidak pulang hyung?”

Sahutan Ryeowook menyadarkannya, ia menggeleng sembari melayangkan senyuman tipis. Ini hari liburnya sebagai pasukan militer pasif, memungkinkannya untuk kembali ke dorm walau biasanya ia akan pulang ke rumah, menemui kedua orangtuanya, Jongjin dan gadis itu.

“Kau tidak menemui Chaeri, hyung?”

Lagi-lagi Yesung menggeleng, “aku ingin bermalas-malasan dulu di dorm, aku lelah menjadi pelayan publik,”

“Yaa! Itukan kewajibanmu hyung,” sungut Ryewook sembari menyesap cokelat panas yang dibuatnya beberapa menit yang lalu. Pria bertubuh mungil itu berdiri di samping Yesung, mengamati pergerakan lalu lintas yang tak kunjung sepi.

“Kau tidak khawatir pada gadis itu eo?”

“Kau ini, selalu saja menanyakannya, tidakkah kau khawatir padaku?” Kali ini Yesung yang bersungut, matanya mendelik tajam ke arah Ryeowook yang hanya dapat tekekeh pelan, sedikit takut dengan kilatan api pada bola mata hyung tersayangnya itu.

Aani, aku kan hanya bertanya, lagipula aku sempat dengar kemarin dia sakit bukan?”

Yesung menghela napas, Ryeowook benar, saat Chaeri sakit ia sendiri sempat kalang kabut. Rasa khawatirnya berada pada stadium tiga dan gadis itu tetap saja sok kuat padahal sudah jelas sekali badannya lemah. Memang gadis bodoh.

Bila mengingat hal itu, bohong rasanya bila ia tidak khawatir. Bukan apa-apa, hanya saja ia sedang malas mengangkat kaki dari dorm. Rasa lelahnya sedang menguasai seluruh pergerakan tubuhnya apalagi ditambah dengan suhu musim dingin yang mencekam. Enaknya ya tidur.

Hyung… kau merindukannya bukan?” Tanya Ryeowook lagi-lagi membuat Yesung menghela napas. Tentu saja ia merindukan gadis babo itu, apa gunanya pula ia mencintai Chaeri bila tidak merasa rindu sejak lama tak bertemu.

“Wooki-ya, buatkan aku cokelat panas, aku kedinginan,” perintah Yesung mau tak mau memaksa Ryeowook melangkahkan kaki masuk ke dalam dorm dan membuat cokelat panas untuk sang hyung.

Sepeninggal Ryeowook, Yesung terdiam sepi, lagi-lagi matanya menatap hamparan salju mengingat beberapa kenangan yang tersimpan dalam Kristal bening nan memikat hati itu. Salju, musim dingin, awal tahun dan Han Chaeri. Kata kunci yang sudah cukup membuka kenangan yang telah tersimpan rapat di dalam hatinya.

“Sepertinya kau sangat merindukannya hyung, apa aku harus mengajaknya main ke dorm?” Tanya Ryeowook sembari menyodorkan cokelat panas yang uapnya mengepul indah di atas mug milik Yesung.

Yesung mendelik, “bila kau melakukannya, aku akan membunuhmu sekarang juga!”

Bukan apa-apa, Yesung hanya takut bila Chaeri main ke dorm akan terjadi banyak hal yang mengancamnya. Netizen, dan yang paling penting peraturan dorm yang melarang wanita masuk tanpa izin kecuali keluarga. Dan Chaeri… hei, bukankah Chaeri tunangannya? Bukankah gadis babo itu sudah termasuk keluarganya?

Ah, memikirkannya saja membuat Yesung gusar, ingin sih, tapi berbahaya.

Hyung… aku sarankan kau ke rumah sekarang juga, Chaeri pasti akan ngambek bila kau tidak menjenguknya lagipula—”

“Yaa! Kenapa kau perhatian sekali sih padanya?”

Ryeowook tertawa kikuk, Yesung benar bila ia sangat perhatian dengan sosok Chaeri. Bukan bermaksud buruk atau memiliki rasa pada tunangan hyungnya itu, namun Ryeowook hanya merasa khawatir bila tiba-tiba Yesung merangut karena kena marah dari sang gadis. Bila Yesung ngambek, rasanya seluruh dorm tertutupi oleh aura gelap yang mencekam dan itu sangat menakutkan.

“A… Aku kan hanya—”

“Yayaya… aku akan pergi,” ujar Yesung malas sembari menyodorkan mug cokelat panasnya kepada Ryeowook.

Sungguh, selain merasa sebal dengan racauan Ryeowook yang tak ada habisnya, rasa rindunya pun sudah mencapai klimaks bila terus disodori oleh pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Ya, Yesung merindukan gadis babonya, si Han Chaeri babo.

Secepat kilat Yesung pun meraih mantel tebalnya lalu hilang di balik pintu dorm. Langkah Yesung cukup besar, pria itu berjalan cepat menuju lift yang kebetulan sedang kosong lalu menekan tombol lantai dasar menuju parking basement, tempat mobilnya berdiam.

TING!

“AAAAA!!!”

Yesung tergagu, kepalanya membentur dinding lift karena mundur beberapa langkah akibat jeritan seorang wanita yang hampir saja ditabraknya karena baru akan menerobos pintu lift yang berhenti pada lantai 1 gedung. Bukan hanya itu saja, Yesung pun terkejut melihat pemilik jeritan yang tak asing lagi di matanya.

Tangan Yesung mengusap kepalanya sembari menggeleng kuat. Ini pasti sebuah kesalahan pikirnya menuntut. Mungkin karena terlalu rindu dengan Chaeri, ia bahkan mengira sang pemilik jeritan adalah sosok gadis yang dicintainya itu. Wajah itu, rambut itu, semuanya terlihat begitu nyata di matanya sehingga ia dapat terdiam dalam sepersekian detik.

Ahjussi babo!! Yaa!!”

Tangan kanan gadis itu berayun-ayun di depan matanya, membuyarkan lamunan Yesung hingga pria itu memekik heran. “MWORAGO!!!”

Tanpa menunggu banyak waktu terbuang, Yesung meraih pergelangan Chaeri masuk ke dalam lift, ya, ia tak berkhayal, gadis yang menjerit itu adalah seorang Han Chaeri yang dengan bodohnya berdiri di depan pintu lift yang masih terbuka hingga menimbulkan sedikit kegerumuhan di meja resepsionis. Yesung sempat mendelik, lalu cepat menekan tombol lift menuju parkir basement.

“Apa yang kau lakukan di sini eo?” Tanya Yesung dengan nada yang mencekam.

Chaeri menunduk, menyembunyikan wajahnya dari balik syal yang melilit pada lehernya, “aku… em… ujar eomma kau ada di dorm, jadi… eum.. Aish! Kenapa kau marah-marah sih? Babo,”

Mata Yesung menyipit, memperhatikan wajah Chaeri dengan seksama yang pada akhirnya menatapnya garang. Ah, betapa ia merindukan tatapan itu sebenarnya. Sebenarnya, karena kali ini ia masih shock dengan kedatangan Chaeri yang tak pernah diduganya. Masih ada rasa kesal pula, namun di balik itu ia cukup merasa senang.

“Kalau netizen melihatmu bagaimana eo? Babo!” Hardik Yesung membuat Chaeri mempoutkan bibirnya, ngambek.

TING!

Pintu lift terbuka, Yesung menarik Chaeri secara paksa masuk ke dalam mobilnya lalu pria itu menancap pedal gas menuju jalanan yang kini dihiasi oleh salju putih juga pohon-pohon tak berdaun di setiap sisinya. Pemandangan yang cukup membosankan di musim dingin.

“Kenapa kau datang?” Tanya Yesung kemudian setelah mengecilkan volume radio tape mobilnya.

Chaeri menghela napas, mengalihkan pandangan ke luar jendela yang memperlihatkan kondisi jalanan kota Seoul. Gadis itu seakan tak memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan Yesung barusan, membuat otak jahil Yesung kembali berkutik. Hei, Han Chaeri merindukannya.

“Kau merindukanku kan?”

Babo, tentu saja tidak!” kilah Chaeri sibuk memainkan jarinya pada kaca jendela, seakan ingin menghapus uap yang tercipta di balik itu.

“Lalu? Aku curiga kau pasti ingin menemuiku di dorm iya kan? Jangan berkilah kau i—”

Babo! Aniya! Aku hanya ingin bermain dengan Ryeowook oppa!”

“Jujur saja—”

“Ayo kita ke taman!” seru Chaeri membuat Yesung mengerutkan dahi, pintar sekali gadis di sampingnya itu mengalihkan topik.

Taman. Tawa Yesung pecah, Han Chaeri memang sosok gadis yang kekanak-kanakan di balik sikap sok tegarnya ketika sakit. Bahkan diumur yang tak lagi muda, Chaeri masih senang bermain di taman. Yesung pun mulai menghayalkan beberapa kejadian yang akan dilakukan Chaeri sesampainya di taman. Bermain bola salju, membuat boneka salju, ah… tidak lupa memakan bola salju!

Masih segar diingatan Yesung bagaimana seorang Chaeri –yang dengan bodohnya memakan kumpulan kristal bening itu, hingga pada akhirnya terbatuk-batuk karena dingin yang menyerang tenggorokannya dalam beberapa saat. Bodoh, ingatan itu tidak pernah akan dilupanya, kalau perlu ia akan mempatenkannya dalam buku Guiness Record of Chaeri.

“Makan salju lagi eo?” sergah Yesung sebelum gadis itu keluar dari mobil menuju taman yang penuh dengan lautan salju.

Chaeri mendelik, menimpuk kepala Yesung dengan tangan kanannya dengan pelan, “cerewet!”

Di taman itu Chaeri berjalan pelan diikuti oleh Yesung dibelakangnya, mata gadis itu berbinar, begitu terpukau dengan pemandangan hamparan selimut putih ciptaan Tuhan. Sungguh, bagi Chaeri musim dingin adalah musim terbaik setiap tahunnya. Dapat melihat salju adalah suatu kesenangan sendiri dalam hidupnya. Oh, bahagia itu sederhana.

“Kau mau apa sih?” gumam Yesung sembari menarik tangan kanan Chaeri yang tak bersarung tangan –begitu pun dengan kedua tangannya- ke dalam saku mantelnya. Pria itu menggenggam hangat tangan Chaeri hingga menimbulkan sensasi aneh pada diri Chaeri. Senang, tentu saja.

Aniya, khajja!” seru Chaeri semangat berjalan ke tempat duduk yang tak jauh dari posisi mereka kini.

Keduanya lalu terduduk diam, berbeda dari biasanya yang akan dihiasi oleh ucapan-ucapan tajam dari kedua belah pihak yang tak mau kalah, mereka duduk sembari berpikir memandang hamparan salju di hadapan mereka.

“Cantik ya,” gumam Chaeri.

Yesung menghela napas, “bosan,”

Chaeri mendelik, menatap tajam ke arah Yesung lalu mendecakkan lidah, “dasar manusia primitif,”

MWO!? Maksudmu!?”

“Iya! Kau itu manusia primitif! Tidak tahu cara bersyukur di hadapan Tuhan dengan mengatakan bahwa salju-salju ini membosankan. Setidaknya kau masih bersyukur masih bisa melihat salju di tahun ini ahjussi babo, aish jinjja!”

Mendengar hal itu Yesung terdiam, kedua sisi bibirnya terangkat karenanya. Gadis di sampingnya ini, selain dapat bertingkah kekanak-kanakan, ia pun dapat menjadi cukup dewasa. Bersyukur, bahkan ia hampir lupa mengucapkan syukur karena masih diberikan waktu untuk melihat salju bersamanya, bersama gadis itu.

“Em, aku sudah bersyukur,” sahut Yesung tak mau kalah.

Chaeri tersenyum sinis, menatap wajah Yesung yang tak setirus awal keputusannya ketika masuk wajib militer. Sudah cukup berisi walau tak sechubby dulu. Sudah lama rasanya ia tak melihat wajah Yesung sejak kesibukan pria itu melayani publik. Tetap tampan pastinya.

“Merindukanku kan?” Tanya Yesung sembari mencondongkan tubuhnya mendekat.

Babo! Ani!” kilah Chaeri sambil mendorong tubuh Yesung dengan tangan kirinya.

Lagi-lagi tawa Yesung pecah, pria itu benar-benar menyebalkan di mata Chaeri, membuat aliran darahnya mengalir cepat hingga menimbulkan warna merah muda pada kedua pipinya. Bukan hanya sebal, di lain kata Chaeri pun merasa senang.

“Han Chaeri,” sahut Yesung pelan.

Chaeri yang sempat mengalihkan pandangan ke arah perosotan tak berpenghuni yang berada tak cukup dari posisinya, kembali mengalihkan pandangan ke arah Yesung. “Mwoga?”

Bogoshipoyo jeongmalyo,” ucapnya membuat Chaeri tersenyum penuh.

Na tto,” balas Chaeri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Tuh kan, aku benar! Dasar yeoja babo!” hardik Yesung sembari mencipratkan sedikit salju ke wajah Chaeri yang bersemu.

Gadis itu meradang, mengambil tumpukan salju lalu melemparkannya ke arah Yesung tanpa ampun, “dasar babo!”

“Kau lebih bodoh karena telah mencintai orang bodoh!” seru Yesung membalas lemparan salju Chaeri.

Babo babo babo!!! Rasakan pembalasanku!”

“Yaa! Aish!”

 

END

Advertisements