Nama    : Goo

Judul     : Kajimara… Part [3/3]

Genre   : Romance

Rating   : G

Length  : Chaptered

Catatan: Thanks for reading, don’t forget to comment! Don’t get me sad if you just be a silent reader. Respect mine, although my fanfic wasn’t great like the other kk~ ^^ *deep bow with Donghae~~

Yoojon mendorong kopernya dengan pelan membelah lautan manusia di dalam aula Bandara Incheon. Sesekali gadis itu bersenandung menyanyikan sebuah lagu yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini. Sebuah lagu pengecut, namun memiliki arti yang benar-benar bagus.

Ekor matanya melirik jam tangan karet kuning yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Jam depalan lewat, terlambat sedetik saja aku akan meninggalkannya tanpa maaf.” Gumam gadis itu sembari memasuki sebuah café.

Pikiran gadis itu bertumpu pada Yora. Entah apa yang dilakukan gadis kembaran –bohongannya itu, biasanya Yora akan cepat datang walau tak jarang sebutan jam karet memang cocok pada gadis berambut panjang itu. Sebuah hal yang akan dirindukannya nanti, semoga Yora tidak berubah banyak setelah kontraknya di Singapura berakhir.

Setelah memesan secup mocca float ia berjalan ke sebuah kursi kosong di sudut café yang langsung berbatasan dengan dinding kaca yang memperlihatkan kondisi bandara yang ramai. Gadis itu fokus, menonton kerumunan orang, memanjangkan leher hanya untuk berharap bahwa ada sosok Yora yang berada di sana.

“Boleh aku duduk di sini?”

Suara itu membuat bulu kuduk Yoojon meremang. Tanpa mendengar persetujuannya, pria itu langsung mengambil tempat di hadapannya dengan pergerakan yang tak asing lagi di mata Yoojon.

Menghindari obrolan yang tidak penting, Yoojon memilih diam dan terus menatap keluar kaca, menunggu kehadiran Yora yang didahului oleh pria di depannya. Tunggu, mengapa ia ada di sini? Batin Yoojon memandang siluet bayangan pria itu di kaca. Yoojon tak memiliki banyak keberanian untuk menatap real sang empunya wajah. Ia takut air matanya akan mengalir tanpa diminta.

Drrt… Drrt

Handphone yang terletak di saku jeansnya bergerak, ia pun merogohnya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Yora.

From: Yora

Katakan semuanya sebelum terlambat, aku tidak akan mengantarmu!

Anggap saja ia mewakiliku :p

Have a safe flight EONNI!

Dahi Yoojon mengkerut, detik berikutnya ia menghela napas gusar sembari mengambil koper dan cup mocca floatnya bersiap untuk meninggalkan café laknat itu. Dengan ini ia benar-benar kesal dengan Yora. Bagaimana bisa gadis itu diwakili oleh pria yang harusnya ia hindari itu? Astaga! Rasanya Yoojon ingin mencincang Yora, gadis itu pasti sudah menceritakan semuanya.

Chankamman,” sahut Siwon sembari menahan pergelangan Yoojon.

Mwo?” Gumam Yoojon hampir tak terdengar. Gadis itu tak sampai hati untuk melihat Siwon bahkan hanya lewat ekor matanya sekalipun ia tak mampu.

“Apa kau mau pergi tanpa menjelaskan semuanya kepadaku?” Tanya Siwon menuntut sembari menarik Yoojon kembali duduk di hadapannya.

Pria itu tak melepas genggaman tangannya dan terus menatap mata Yoojon lewat kacamata minusnya, melihat Yora yang terdiam sembari menggigit bibir bawah. Perlahan ia melihat kedua alis Yoojon yang bertaut. Siwon tahu, gadis itu sedang bingung untuk merangkai kata walau pada dasarnya ia selalu bermain dengan kata setiap hari.

“Jelaskan padaku apa yang telah oppa dengar dari mereka?”

Kali ini Siwon bergeming, ia tersenyum simpul kepada Yoojon yang masih saja mengerutkan dahi. Gadis itu rela tak mengeluarkan senyumnya untuk menahan gejolak aneh di dalam dadanya. Tentu saja, ia merindukan sosok di balik kacamata itu.

“Kau tahu… aku memang tahu banyak tapi akankah lebih baiknya bila kau sendiri yang menjelaskannya padaku Yoojonie?” Sahut Siwon mengelus permukaan kulit tangan Yoojon dengan lembut, memanggil Yoojon dengan panggilan sayangnya.

Untuk kesekian kali Yoojon menggigit bibir bawahnya ragu, ia tak membalas tatapan intensif Siwon dan lebih memilih menatap nanar tangannya yang bergetar di bawah pengaruh elusan Siwon. “Apa yang ingin oppa tahu? Cukup dalam 10 menit,”

“10 menit?” Siwon bergumam, ia mengangkat tangan kirinya yang bebas melihat jam yang bertengger di pergelangannya yang kekar. “Masih ada 30 menit sebelum keberangkatanmu.”

“30 detik,” ujar Yoojon menghitung detik yang bermain di jam tangannya.

Tanpa membuang waktu yang lebih banyak Siwon mulai mengeluarkan pertanyaan yang ia harap dapat mengelak keputusan sepihak gadis itu beberapa waktu lalu. “Pertama, kenapa kau memutuskanku dengan alasan bodoh ini?”

“Kedua, mengapa kau tidak mendiskusikannya denganku terlebih dahulu?”

“Ketiga, jelaskan padaku lebih detail dengan kejujuranmu bahwa kau masih mencintaiku.”

“Keempat, pikir kembali tentang hubungan kita. Kau punya waktu 10 menit untuk menjelaskan semuanya.” Kata Siwon mengakhiri pertanyaan-pertanyaan telaknya.

Mendengar pertanyaan bertubi-tubi itu Yoojon menghela napas, mengumpulkan oksigen untuk menetralkan kondisi jantung yang terpompa kencang. “Terkadang, alasan bodoh adalah suatu hal yang kompleks. Aku sudah memikirkan semuanya oppa. Memikirkan dari segala sisi, cobalah untuk menerima alasan bodoh ini. Pelajari apa yang oppa maksud dengan alasan bodohku hingga oppa mengerti keputusan ini.”

Yoojon terdiam, ia menghela napas lalu kembali menjelaskan sedetail-detailnya kepada mantan kekasihnya itu. “Aku tahu, aku yang salah karena tak pernah mendiskusikannya padamu terlebih dahulu. Tapi, ini sangat berat ketika kau terlalu sibuk dengan jadwal. We don’t have much time to discuss it! Aku tak pernah berani untuk mengganggu harimu, sangat tak sampai hati melihatmu yang kelelahan.

“Aku mencintaimu oppa, sangat mencintaimu hingga berani memilih keputusan ini. Seperti yang kubilang tadi, semuanya sudah ku pikirkan hingga menghasilkan keputusan bulat yang mungkin terdengar egois dan menyakitkan. Mianhaeyo, oppa pernah dengar sebuah pepatah?”

“Bila kau memang takdirku tentu kita akan bertemu kembali bukan? Tetapi bukankah lebih baik kita tetap mempertahankannya?” Sahut Siwon membuat Yoojon tersenyum tipis.

“Aku tak bisa bertahan.”

Siwon menghembuskan napas, ia tersenyum memandang air wajah Yoojon yang terlihat lebih tenang. Tidak ada lagi guratan di dahi gadis itu, tergantikan oleh tatapan intensif yang memabukkannya. Dengan pelan ia mengelus puncak kepala Yoojon, penjelasan singkat itu mampu membuatnya luluh. Entah mengapa, tapi sangat berbekas hingga ia dapat menerimanya dengan mudah.

“Kali ini aku yakin hatiku lebih tegar untuk menerima semuanya.” Ujar Siwon sembari menahan tawa. Tawa untuk kebodohannya yang terlalu cepat muncul karena gadis bernama Yoojon itu. Entahlah, ia memang lebih tegar tapi masih belum ingin melepas sang gadis berlalu dari hadapannya.

Geurae, hatiku juga lebih nyaman setelah menjelaskan semuanya.” Tambah Yoojon memperlihatkan smirk kebanggaannya. Sungguh, smirk yang penuh kepalsuan.

“Masih ada 5 menit, mendekatlah.” Titah Siwon menarik tubuh Yoojon ke dalam pelukannya.

Dalam waktu yang cukup lama ia habiskan untuk merengkuh tubuh ramping Yoojon, menyesap harum parfum bunga matahari yang akan dirindukannya dalam kurun waktu yang tak pernah ia tahu masa berakhirnya. ” Saranghanda.” Bisik Siwon mengelus puncak kepala Yoojon.

Na tto.” Gumam Yoojon membuat Siwon melepas pelukannya, direngkuhnya wajah gadis itu hingga tatapan mereka bertemu.

“Kabari aku.” Ucapnya sebelum mencium kening Yoojon dengan lembut.

Yoojon mengangguk, “cha! Aku harus berangkat sekarang!” Serunya sembari menarik koper keluar café diikuti oleh Siwon di sampingnya.

Keduanya bergenggaman erat, seakan tak pernah ingin melepas genggaman itu walau hanya sedetik saja. Keduanya pun tersenyum, mengenyampingkan hati yang telah berlubang akibat keputusan sepihak yang diultimatumkan oleh salah seorang di antara mereka.

“Sampaikan salamku untuk semuanya, kabari Leeteuk oppa aratta? Aku akan kembali ke sini bila ada waktu. Jalga!” Pamit Yoojon lalu hilang dibalik pintu keberangkatan.

Sosok Siwon masih terpaku di depan pintu itu, melihat punggung Yoojon yang mulai menghilang dibalik pintu transparan yang disesaki oleh manusia. Hatinya kembali terasa sakit, ya obatnya telah menghilang hingga menyisakan lubang di dasar sana. Dengan degupan jantung yang terpompa kencang ia bergumam, menggumamkan kata yang tak lagi berguna.

Kajimara…”

END

Advertisements