Nama   : Goo

Judul    : Cloudy

Tag       : Lee Donghae and Lee Hyewon (OC)

Genre   : Romance

Rating   : G

Length  : OneShot

Catatan:

Telat posting sehari ^^, yang satu ini lanjutan theme story dari Weather of the Day (not sequel ya). Jwesonghaeyo, yang satu ini agak lebay dan alurnya kecepatan. Termasuk fluff juga kayaknya :p (mau dimasukin ke epilog, tapi nggak denggg).

Thanks for reading~~ Don’t forget to RCL!

 

“Cloudy is not just about sadness… that’s all about happiness that hidden behind the clouds!”

Musim semi yang dingin, kemarin matahari bersinar dengan cerah namun angin pun kembali datang menghembuskan ribuan uap air di udara membuat suasana Seoul kembali mencekam karena langit yang tertutup oleh awan. Tidak hujan, hanya hembusan angin yang membuat bulu kuduk merinding juga membuat setiap orang Seoul menyalakan penghangat ruangan tanpa berpikir panjang mengenai global warming yang merajalela.

Donghae menatap ribuan bunga sakura yang tergeletak tak berdaya di atas jalan setapak. Matanya yang teduh begitu nanar melihat bunga-bunga cantik yang telah ternodai oleh jejak-jejak manusia. Sama seperti bunga itu, hatinya pun sama ternodainya, oleh manusia pula. Ternodai, layaknya bunga Sakura yang diinjak setelah dikagumi dengan ribuan kata gombal.

Hati pria itu benar-benar sakit, menyesakkan dada bidangnya yang digilai oleh ribuan wanita di luar sana. Ia menghela napas. Tidak! Ia tidak boleh terlena dengan kesakitan yang telah diciptakan oleh seorang makhluk cantik.

“Ei! Kau menghalangi jalan!” Sahut sebuah suara membuat Donghae menyingkir dari pijakannya.

Dengan hentakan yang cukup kuat sosok yang telah menyahutnya itu berjalan meninggalkan Donghae yang menahan tawa karena melihat perawakan tomboy gadis itu. Benar-benar bukan seorang gadis di matanya, walau rambut sosok itu tergerai indah. Rambut yang sempat membuat jantung Donghae berdetak tidak karuan, pria itu benar-benar menyukai rambut panjang, membuatnya selalu mudah terlena dengan sosok wanita.

Donghae melongo, jantungnya berdetak tidak karuan? Ia tertawa? Well, sepertinya ada hal yang aneh dengan tingkahnya kini, selain menertawai jalan besar gadis itu tentunya. Pelan-pelan Donghae mengikuti langkah gadis itu, ia memang gila, terlalu gila hingga ingin mengikuti gadis yang mampu membuat perutnya terkocok geli. Ia menjadi penasaran, membuang jauh-jauh awan mendung yang menutupi hatinya sejak beberapa hari yang lalu.

BRUKK!

Dada bidangnya menabrak punggung sang gadis membuat Donghae mengaduh, mengusap dadanya tanpa memperdulikan tatapan jengah sang gadis yang memberhentikan langkahnya secara tiba-tiba itu. “Kau mengikutiku?”

Donghae tak bergeming, ia hanya menatap sepasang mata sipit itu dengan mata teduh kebanggaannya. Gadis itu menghela napas, mencoba bernapas dengan keadaan genting yang beralarm di kepalanya. Astaga! Pria ini tampan sekali!!

“Ah… lupakanlah.” Ujar gadis itu kemudian berlari dengan cepat meninggalkan Donghae yang terkejut mendapati tingkah polosnya.

Refleks Donghae ikut berlari mengejar gadis berhoodie kuning itu dengan senyum mengembang sempurna. Entahlah, ia menyukai hal ini, menyukai tingkah abnormal gadis itu dalam pertemuan singkat yang baru dialaminya. Yah, setidaknya hatinya tak segelap hari-hari sebelumnya. Ada hal yang menarik di dalam gadis itu, dan Donghae terlalu gila hingga ingin mencari tahu apa sisi menarik itu.

Agasshi! Agasshi!” Teriak Donghae sembari meraih pergelangan gadis itu hingga mereka berhenti mengatur napas yang terengah-engah.

Dada gadis itu bergerumuh, ada pikiran yang menakutkan hinggap di kepalanya. Pria itu memang tampan, tidak ada pula wajah mirip ahjussi mesum yang sering menganggu anak sekolah. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin bukan?

 “K…kau ahjussi mesum yang selalu diberitakan orang itu ya?”

Mata Donghae membulat, ia melepas genggamannya pada pergelangan gadis itu lalu menggeleng dengan cepat. “Aniyaaniya!! Aku orang baik!!”

Geuraeyo? Tak ada pria mesum yang ingin mengakui kelakuannya.” Ujar gadis itu sembari menunjuk Donghae dengan tatapan mata yang tajam. Donghae tergelak, menelan ludahnya dengan susah payah melihat tatapan tajam yang lebih terlihat seperti elang itu.

Donghae menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari menggeleng. “Apa kau tidak mengenalku?” Tanyanya polos.

Gadis itu terdiam, matanya menelusuri wajah Donghae dengan teliti, mencoba menerka-nerka pemilik wajah yang tampan itu di dalam benaknya. Sedetik kemudian ia menepuk dahi lalu membungkukkan badannya sopan di depan pria yang sedang mengacak pinggang dengan bangga.Siapa sih yang tidak mengenaliku?

Jwesonghaeyo… aku tak tahu kalau kau itu artis. Jwesonghaeyo.”

Ggwencanha. Diamlah, jangan sampai orang-orang mengerubungi kita.” Sahut Donghae gugup sembari menarik gadis itu untuk duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari jalan setapak.

Entah darimana ia dapatkan keberanian itu, Donghae sudah mulai merasa kecanduan, terlena dengan sosok gadis berambut panjang itu. Tidak salah lagi, gadis itu memang terlihat cantik, sederhana dan polos. Benar-benar tipe Donghae.

“Maaf, aku telah mengikutimu. Aku pikir kau salah seorang ELF yang tak mengenalku jadi aku hanya ingin mengerjaimu.” Ujar Donghae asal, tidak menyadari gadis di sebelahnya tengah merangut sebal.

“Maaf, tapi aku bukan seorang ELF,” Elak gadis itu singkat membuat Donghae mengatupkan bibirnya rapat. Alasan bodoh, berulang kali ia merutuk alasan yang keluar dari bibirnya itu. Benar apa yang dikatakan teman dekatnya, ia hanya pintar menggombal di hadapan para fans dan tidak kepada orang lain.

“Namaku, Lee Hyewon. Salah seorang produser baru di SM.” Kata gadis bernama Lee Hyewon itu sopan sembari menjabat tangan Donghae tanpa persetujuan pemiliknya.

Mata Donghae melebar, ia melirik gadis itu, menatapnya dari puncak kepala hingga sepatu kets yang digunakannya. Tidak cocok sebagai produser, Lee Hyewon pasti berbohong pikirnya. Atau mungkin gadis itu adalah seorang sasaeng yang sengaja berbohong demi mendapat perhatiannya.

Geuraeyo? Aku tak pernah melihatmu.” Sahut Donghae tajam, bermaksud membuat gadis bernama Hyewon itu mengaku dengan kegiatan sasaengnya. Mungkin…

“Ini kartu namaku, aku pikir kalian terlalu sibuk show di luar Korea hingga tak pernah melihatku di kantor. Omong-omong aku punya urusan, senang berkenalan denganmu Donghae-ssi.” Pamit Hyewon kemudian setelah mengansurkan kartu nama kepada Donghae.

“Secepat itukah?”

Hyewon terdiam, ia memalingkan wajahnya ke arah Donghae menatap pria itu yang masih asyik menatap kartu namanya. “Maksudmu?”

Aniya, lain kali kita bertemu lagi eo. Annyeong!” Pamit Donghae dengan wajah penuh keceriaan kemudian berlalu meninggalkan Hyewon yang mengernyit heran.

“Bye matahari!” Seru Donghae dalam hati menahan tawanya karena sikap gadis yang masih terdiam menatapnya heran itu.

Donghae berjalan santai, kali ini dengan hati yang tak lagi mendung. Ia memang pria yang gampang jatuh cinta, di samping itu ia bukanlah sosok playboy yang suka memainkan wanita. Ia serius, namun bila sudah dicampakkan ia akan mudah beralih. Dan demi apapun, hari ini, mataharinya, seorang Lee Hyewon telah membuatnya move on hanya dengan modal perawakan polos dan rambut panjangnya yang tergerai indah.

Ia pun percaya, dibalik awan yang berkumpul terdapat matahari yang akan muncul dan menghangatkan hatinya yang bergetar kedinginan di musim semi yang wangi. Mendung yang tak lagi menyedihkan seperti yang ia pikir sebelumnya, di kala mendung inilah ia mendapatkan kebagiaan setelah berpisah –secara paksa dari seseorang. Ya, mungkin saja seorang Lee Hyewon adalah takdirnya.

Mungkin saja…

END

Advertisements