Nama        : Goo

Judul         : Meeting doesn’t Mean Love

Tag            : Lee Donghae, Kwon Suji (OC) and the other ^^

Genre        : Romance

Rating        : G

Length       : Oneshot

Catatan:

  • LomoKino: Kamera analog dengan film 35mm
  • Tripod: Kaki tiga yang menahan kamera agar dapat berdiri tegak

Cerita ini masih kurang bagus mengenai penjelasan mengenai fotografinya, tapi semoga masih bisa diterima yah kk~ Repost Sujuff ^^ One of my favorite story actually kk~ (ofc! ’cause the photography :p)

Pemandangan Kota Seoul terlihat jelas dari lensa mata Kwon Suji yang tengah berdiri pada sebuah balkon yang cukup tinggi di salah satu gedung apartemen di kawasan Gangnam. Beberapa kali gadis itu tertawa, lalu kembali berbicara pada sebuah benda berbentuk persegi warna putih gading di dekat telinganya.

“Hem, kau tahu kan Gangnam Style? Aku menyewa salah satu aparte di kawasan itu,” ujar Suji disertai senyum lebar yang memperlihatkan susunan giginya yang rapi.

“Mahal sih, tapi selagi pria tua itu berbaik hati padaku, why not?”

Suji sempat terkekeh kecil saat mengucapkan kata pria tua dari kedua bibirnya. Pria itu, tuan Kwon Su Jeong, Ayahnya sendiri yang tengah asyik menetap di Jepang untuk mengurusi beberapa perusahaannya di sana.

“Hem, aku tutup… Have a nice day with your husband Jey~ Bye.”

CKLIK

Sembari menghela napas Suji melempar handphonenya ke atas sofa yang berada tidak jauh dari balkon. Dadanya cukup sesak setelah menahan gejolak aneh saat berteleponan dengan sahabatnya yang berada di Singapura. Tan Jey.

Suji tahu apa yang ia rasakan, tapi lupakanlah. Suji tidak mau lagi mengingat lelucon itu, lelucon yang sering orang sebut sebagai takdir. Cukup sekali ia bermain dengan takdir. Hanya untuk sekali saja, demi seorang sahabat.

@@@@@

Pabo, kenapa harus hujan?”

Beberapa kali Suji mendengar keluhan beberapa orang di sekitarnya, gadis itu terus memandang keluar jendela café kecil yang disinggahinya kini di kawasan Myeondong. Entah ada apa, tapi ramalan cuaca yang ia dengar dari sebuah stasiun TV pagi tadi salah besar.

Tak terkecuali dirinya, beberapa kali Suji juga harus mendesah kecewa melihat kerumunan orang yang berkumpul di dalam café hanya sekedar untuk berteduh sembari menikmati coffee panas yang dimiliki café itu. Bukannya merasa pengap, ia hanya tidak suka jadwal liburan mendadaknya kali ini harus dipindahkan ke hari yang lain karena hujan.

“Kau traveler?”

Suji terkesiap, seorang pria berkemeja kotak-kotak merah mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Dari perawakannya, pria itu terlihat seperti model, Suji tidak tahu pasti tapi tebakan pria itu benar-benar sok tahu.

“Bukan,”

“Lalu? Aku tertarik dengan kamera LomoKino itu,” ujar pria itu sembari mengambil tempat duduk tepat di depan Suji.

Mata Suji terpaku pada kamera LomoKino yang berada di tas ransel kecilnya, pikirannya menerawang. Rasanya ia tidak pernah membawa sang LomoKino tua milik Ayahnya itu. Ataukah semalam Ayahnya datang ke Apartenya diam-diam dan menaruh kamera mainan itu ke dalam tasnya?

“Ah eh… ini milik Ayahku, entahlah aku juga tidak tahu mengapa ini ada di tasku.” Jelas Suji dengan intonasi dan pelafalan Hangeul yang benar. Sudah hampir 5 tahun ia tidak kembali ke Seoul, membuatnya sempat gugup karena takut melupakan bahasa ibunya sendiri.

Jinjja? Tapi benarkan? Kau seorang traveler?” Tanya pria itu lagi dengan kedua mata membulat.

Suji terdiam, kedua tangannya menumpu dagu dengan tatapan intens pada pria berkemeja kotak-kotak itu. Ia sendiri sempat terpukau dengan mata sendu milik pria itu, juga dengan tubuh proposional yang lumayan di matanya. Sesungguhnya, Suji merasa tertarik. Sedikit.

“Bisa dikatakan seperti itu sih, aku hanya berlibur di sini untuk sementara kok,” Jawab Suji sembari menyesap Hot Cappuccinonya. “Kau mau?” tawarnya pada pria itu.

Pria itu menggeleng, mengalihkan pandangannya keluar jendela yang berada tepat di sebelah kirinya. “Hujan akan segera berhenti, bagaimana bila aku membawamu ke beberapa tempat ternama? Aku seorang fotografer, Lee Donghae imnida,”

Fotografer. Suji tersenyum lebar, mencari kartu nama di dalam dompet ungu yang ia letakkan di dalam tas ranselnya. Sungguh, takdirnya kali ini cukup bagus mengingat dirinya juga bekerja sebagai seorang fotografer pada sebuah majalah ternama di Singapura. Tentu, sebuah pekerjaan yang tak pernah diketahui oleh Ayahnya.

“Ini kartu namaku, Kwon Suji imnida,” ucap Suji dengan bangga mengangsurkan kartu namanya pada pria bernama Lee Donghae itu.

Donghae, pria itu terdiam, kedua bibirnya bergerak membaca susunan alphabet yang tertata rapi di atas kartu nama milik Suji. Detik berikutnya pria itu tertegun, matanya menyipit, terfokus pada satu susunan huruf.

“Kwon Suji-ssi, kau orang Korea?! Fotografer!?”

Kepala Suji mengangguk, gadis itu tersenyum menatap jalan setapak yang digenangi oleh air hujan di luar café, beberapa detik yang lalu hujan telah berhenti. Suara derai angin pun memenuhi telingnya saat beberapa orang bergerak membuka pintu café, dan berlalu meninggalkan tempat itu.

“Apa aku sudah tak terlihat seperti orang Korea?” sahut Suji masih dengan pandangan keluar jendela.

“A… ani, tapi, kulitmu…”

Pipi Suji mengembung, Ayahnya benar. Karena terlalu lama tinggal di Singapura dengan pekerjaan sebagai fotografer bebas, beberapa kali kulitnya terbakar, membuatnya terlihat seperti orang Asia Tenggara kebanyakan. Apa aku harus mengikuti treatmen Ayah?

Gadis itu tak kunjung menjawab dan mulai melamunkan hal yang harus dilakukannya selama di Seoul untuk sedikit memperbaiki warna kulitnya. Lupakan tentang operasi, Suji tidak suka dengan bau obat atau bertemu dengan pria berjas putih yang dipanggil Dokter. Apalagi bila hal itu mengingatkannya akan almarhum Ibunya, tidak. Suji masih terlalu shock.

M…mian, aku tidak ber—“

Gwencanhayo Donghae-ssi, bisa kita mulai perjalanan kita?”

Donghae menggulum senyum, menyembunyikan perasaan gugup ketika menanyai gadis bernama lengkap Kwon Suji mengenai warna kulitnya yang tak seputih gadis kebanyakan. Harusnya ia tidak perlu bertanya hal itu. Ya, bukankah itu sudah jelas? Apalagi dengan pekerjaan Suji sebagai fotografer.

“Dengan senang hati Suji-ssi, kita mulai dengan komplek istana peninggalan Joseon!”

@@@@@

“Apa yang kau lakukan Suji-ssi?”

Suji terkesiap, gadis itu sedang memakai LomoKino milik ayahnya, merekam pergerakan dua orang kekasih yang sedang berjalan sembari bergenggaman tangan di Nami Nara. Entah apa yang bermain di otaknya kini, melihat LomoKino dengan persediaan film yang memadai membuatnya terdorong untuk merekam beberapa gambar menarik di tempat terkenal itu.

Ini hari kedua bagi Suji sejak menetap di Seoul. Donghae, pria yang mengaku sebagai fotografer itu memang membuktikan janjinya, bahkan mereka telah membuat daftar perjalanan yang baru untuk memuaskan hasrat Suji yang ingin mengambil beberapa gambar di tempat ternama. Selain itu, bagi Suji hal ini sungguh menguntungkan. Ia tidak lagi memikirkan masalah yang menjadi alasan pelariannya ke Seoul.

Tidak. Karena dunianya telah tertutupi dengan kesenangan liburan bersama seorang teman baru. Ya, teman itu, siapa lagi kalau bukan Donghae. Di dalam hati Suji berjanji untuk melakukan apa saja untuk membayar perlakuan Donghae kepadanya.

“Itu milikmu kan? Kau hanya malu mengakuinya bukan?” Tanya Donghae sembari menatap Suji dengan satu alis terangkat, tubuhnya condong, untuk melihat lebih, apa yang dilakukan Suji dengan kamera LomoKino itu.

Mendengar hal yang dilontakan Donghae membuat Suji tergelak, gadis itu tertawa memperlihatkan susunan giginya yang rapi, “pabonikka? LomoKino bukan untuk dijadikan bahan olokan Donghae-ssi, ini barang yang jarang digunakan oleh kameramen.”

Geurae, makanya aku mendekatimu di café tadi. Omong-omong apa yang kau tahu tentang merekam? Bukannya kau seorang fotografer?”

Untuk kesekian kalinya Suji terkesiap. Tapi kali ini bukan karena perlakuan Donghae yang sering membuat jantungnya seakan ingin lompat dari tempatnya semula. Ini mengenai pertanyaan Donghae. Pertanyaan yang selalu membuat dadanya sesak bila mengingat nasib yang dipegang oleh Ayahnya.

“Aku, sebenarnya… aku bekerja di sebuah rumah produksi di Singapura, dan fotografer, itu hanya pekerjaan sampingan,”

Donghae menganggukkan kepalanya, “jadi, yang mana mimpimu sebenarnya?”

“Aku tidak tahu, aku menyukai keduanya,” ujar Suji sembari menggulum senyum. Beberapa kali ia menghela napas, matanya selalu bergerak menatap dua pasangan kekasih yang direkamnya beberapa menit yang lalu.

Cha! Khajja, aku ingin sekali ke Namsan Tower!” seru Suji bersemangat, kedua tangannya terkepal di udara membuat Donghae tertawa kecil melihat pergerakan Suji yang terlalu kekanak-kanakan –tidak seperti umurnya yang sudah berkepala dua.

“Sekarang?”

Geuraeyo! Khajja!!”

@@@@@

“Namamu Tan Jey?”

Kelopak mata Suji terpejam rapat, gadis itu menghembuskan napasnya gusar mendapati pertanyaan Donghae yang tengah mendekatkan kepalanya ke arah gembok yang Suji genggam. “Yaa! Kenapa kau melihatnya? Bukankah sudah ku bilang untuk mengalihkan tatapanmu? Dasar!”

Donghae memegang dahinya yang sempat disentil Suji, gadis itu berjalan menjauhinya lalu kembali menulis pada gembok di tangannya. Pria itu tentu merasa penasaran, apalagi dengan nama yang ditulis Suji. Bukankah gadis itu bernama Kwon Suji?

“Ah… kau menulis untuk temanmu eo?” sahut Donghae sembari berjalan mendekati Suji. Pada akhirnya otaknya kembali berjalan, sering sekali ia mendapat turis asing yang menulis lebih dari dua gembok cinta. Ketika ia bertanya, mereka menjawab hanya sebuah titipan teman.

Suji menghela napas, “eo, jangan ganggu aku. Sana!”

Wae? Kenapa kau menulisnya? Kenapa kau tidak menulis namamu dan nama pacarmu di sana?”

Dada Suji mendadak sesak saat Donghae menanyakan hal itu. Senyumnya terganti dengan raut datar yang dibencinya. Pertanyaan itu cukup menganggu, sangat menganggu. Membuatnya ingat kembali akan masalah internal yang menimpa hatinya. Berbicara mengenai hati memang terlalu sensitive, dan itu menyebalkan bagi Suji.

“Bukan apa-apa,” gumam Suji sembari mengaitkan gembok yang telah selesai ditulisnya itukemudian berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.

“Hei! Donghae-ssi! Kau mau ku tinggalkan?” sahut Suji masih dengan wajah datarnya di bawah temaram lampu lift kepada Donghae yang terdiam mengamati gembok yang terpasang di salah satu sisi Namsan Tower itu.

Donghae menyahut, berjalan memasuki lift dengan tatapan penuh tanya kepada Suji. Pria itu sedikit bingung melihat perubahan wajah Suji, sempat membuatnya kalang kabut untuk mencari cara agar wanita itu kembali memperlihatkan susunan giginya yang rapi.

“Apa yang membawamu ke sini Suji-ssi?” Tanya Donghae setelah mereka turun dari lift, kembali memijaki tanah yang menghitam akibat langit malam.

Suji terkesiap, matanya berkilat tajam menatap Donghae yang juga menatapnya intens. Gadis itu terdiam, memikirkan jawaban pasti akan pertanyaan telak itu. Selama di Seoul, Suji tidak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang akan menyanyainya seperti itu. Sudah dipastikan, ia pun tidak bisa menjawabnya.

“Apa urusanmu Donghae-ssi?”

Langkah Donghae terhenti, pria itu menunduk, menatap ujung sepatunya dengan perasaan tidak menentu. Ini sebuah kesalahan, mengapa ia jadi ingin tahu mengenai Suji? Memang, itu bukan urusannya. Dan ia bukan pria yang gila urusan.

Mianhaeyo, Suji-ssi, aku tidak ber—“

A… Ani, khajja. Lupakan saja hal itu,” ujar Suji tersenyum getir.

Sama halnya dengan Donghae, gadis itu tak mampu berucap. Lagi-lagi pikirannya tersedot akan masalah yang ditinggalkannya di Singapura. Bukan masalah penting memang, tapi cukup membuat dadanya sesak dan hatinya terluka. Lagipula, tidak baik bila ia terus mempermasalahkannya.

Bukankah ia ingin memperbaiki hatinya?

@@@@@

Donghae melangkahkan kakinya dengan pelan, pada kedua tangannya tergenggam cup berisi cairan pekat hot cappuccino yang dibelinya lewat mesin kopi yang berada di sebuah mini market tidak jauh dari sungai Han. Derai angin masih bermain, menyisakan udara musim gugur yang cukup menyekat tulang.

“Senjanya masih lama, mengapa kita tidak ke Lotte World saja?” tanya Donghae sembari menyodorkan salah satu cup cappuccino ke arah Suji yang sibuk menyiapkan tripodnya.

Sembari meraih cup berisi hot cappuccino itu Suji tersenyum kecil ke arahnya, “Lotte World sudah biasa dibandingkan Universal Studio,”

Kenyataan itu mampu membuat Donghae tertawa kikuk. Benar juga, dibandingkan dengan Lotte World, Universal Studio lebih terlihat seperti taman imajinasi, dipenuhi dengan para pahlawan super favoritnya ketika kecil juga artis-artis ternama seperti Marlyn Monroe –versi palsu tentu saja. Tapi, hal itu cukup memberikan perbandingan yang lebih.

“Kau mau membawaku ke Universal Studio Suji-ssi?”

Suji terdiam, bagian bawah rok panjang berwarna hijau daun yang dikenakannya berkibar mengikuti arah angin. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum simpul, membuat Donghae terpana dalam kerutan wajah manis milik Suji. Senyum apa itu? Pikir Donghae sesaat.

“Hanya ke Universal studio oke? Aku tidak mau membayar tiket penerbanganmu ke Singapura,” jawab Suji setengah bercanda.

Gadis itu kembali sibuk menyiapkan tripodnya, mencari area terbaik untuk memotret warna-warni lampu Hangang River setelah senja tenggelam. Beberapa kali ia harus menunduk, menyamakan wajahnya dengan kepala tripod untuk melihat fokus yang akandidapatkan oleh kameranya.

“Ini tempat terbaik untuk mendapatkan fokus ke Hangang River, jadi, selamat bersibuk dengan tripodmu nona cantik,” ledek Donghae sembari menyesap cappuccinonya.

“Aish! Sikkeuroyo!” seru Suji tak begitu peduli.

Donghae tidak sedikit pun membantu Suji untuk mendapatkan letak tripod yang lebih baik. Pria yang kini memakai jaket parasut berwarna hitam pekat itu asyik duduk di sebuah bangku –tepat di belakang Suji yang sibuk dengan tungkai berkaki tiga itu, menatap siluet Suji yang tampak cantik dengan balutan hoodie putih.

Kemarin, setelah pikirannya direcoki oleh gambar wajah Suji yang sempat ia ambil dengan kamera miliknya, Donghae tidak dapat tidur dengan lelap. Entah mengapa, pikirannya selalu saja melayang memikirkan alasan Suji untuk berlibur ke Seoul. Ada sesuatu yang janggal saat pria itu bertanya mengenai alasannya.

Oke, Donghae seorang pria dan ia sama sekali tidak gila urusan.

“Donghae-ssi!”

Lamunan Donghae pecah, Suji sudah berada di sampingnya –meninggalkan tripod yang telah mendapatkan tempat terbaik yang tak jauh dari kursi yang mereka duduki. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sungai Han, membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya bila dilihat dari samping.

Wae? Kau terpukau dengan sungai kotor itu?”

Suji tergelak, gadis itu mengalihkan pandangan ke arahnya, “maka dari itu, aku ingin bertanya padamu. Apa sungai Han tidak pernah dibersihkan?”

Mwo?” Mata Donghae terbelalak.

“Di Singapura, kami memiliki alat untuk membersihkan sungai, setiap minggu sekali sungai itu akan dibersihkan sehingga turis tidak akan merasa jijik bila melewatinya dengan kapal khusus yang disediakan oleh dinas pariwisata,”

Donghae menelan ludah dengan susah payah, mendengar Suji menjelaskan mengenai Singapura membuat gadis itu lebih terlihat seperti turis kebanyakan. Seperti melupakan Negara kelahirannya, Suji terlena layaknyaia seorang Warga Negara Singapura.

“Yaa! Negaramu di mana sih? Mengapa menyebutkan kata subjek kami dalam kalimatmu Suji-ssi?”

Jinjjayo? Mianhae… hahaha aku terlalu sering mengobrol dengan turis di sana dan menjelaskan seluk-beluk Singapura dengan jelas pada mereka. Ommo, aku tidak tahu sampai keterlaluan seperti ini.”

Wajah Suji merona, menahan malu akibat penjelasannya. Donghae benar, tinggal di Singapura hampir membuatnya lupa akan Seoul. Sepertinya ia harus mengikuti kata Ayahnya yang selalu menghujatnya karena terlalu lama tinggal di Negara singa itu.

“Suji-ssi, mengapa kau tidak tinggal di sini saja?”

Mendengar pertanyaan itu membuat Suji terdiam, lembayun senja mulai terlihat di langit. Donghae salah, senja sudah tiba, dan ia tidak perlu menunggu lama lagi untuk melihat tarian air juga lampu sungai Han yang terkenal itu.

“Donghae-ssi, aturan jammu salah. Ini sudah pukul enam sore, benar-benar ceroboh,” ledek Suji yang telah berlari ke arah tripod mulai mengambil gambar warna orange di langit yang terlihat apik dengan pantulan cahaya di atas genangan air sungai Han.

@@@@@

“Aku sering makan ttaebokki, di Singapura juga ada yang jual walau rasanya tidak seperti yang dijual di Seoul,” celoteh Suji sembari memakan ttaebokki yang dibeli Donghae tidak jauh dari halte bus yang mereka duduki.

Suji sendiri mulai merasa nyaman dengan Donghae, perjalanan tiga hari full bersama pria itu tentu membawa kesan sendiri baginya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Kota kelahirannya sejak 5 tahun lamanya. Gadis itu pun mulai mengeluarkan sosok cerewet yang hanya muncul pada orang-orang terdekatnya.

“Tapi tetap saja berbeda,” ucap Donghae membuat Suji terkekeh pelan.

Benar, semua makanan Korea yang terjual di Singapura memiliki rasa yang berbeda dengan yang terjual di Negara asalnya. Tentu saja, hal ini membuatnya makin sadar akan lamanya ia menetap di Negara Singa tanpa pernah merasa rindu dengan Negaranya sendiri.

“Donghae-ssi,”

Donghae berdehem, menatap Suji yang tersenyum kikuk menatap jalanan di hadapannya. “Wae? Kau mau ke mana lagi? Selagi masih ada waktu sebelum kita beristirahat penuh esok hari,”

Ya, menghabiskan tiga hari penuh tentu menguras tenaga. Keduanya sepakat mengambil hari esok untuk istirahat, juga sebagai waktu untuk kembali bekerja sebagai fotografer sebuah majalah ternama di Seoul bagi Donghae. Sudah tiga hari Donghae mengambil cuti, pria itu tidak terlalu peduli dengan pemotongan gaji, toh ia memiliki penghasilan lain selain menjadi seorang fotografer.

Aniyo, kau mau tahu kan alasanku ke Seoul?” tanya Suji membuat Donghae terdiam, matanya menatap gadis itu intens.

Entah ada angin apa, Suji terlalu larut memikirkan masalahnya tadi malam dan memutuskan untuk membahasnya dengan Donghae kali ini dengan harapan masalahnya itu akan hilang bagaikan danphugi yang berguguran dari pohon.

Wae? Tapi, bila kau tak mau juga tidak mengapa. Aku tidak pernah memaksa Suji-ssi,” ujar Donghae merasa tidak enak.

Perasaan janggal itu kembali muncul. Tatapan Suji berubah kosong saat memulai percakapan sensitive itu walau senyum menghiasi wajahnya. Pria itu memang selalu siap untuk menampung keluh kesah Suji, tapi kali ini ia belum siap untuk melihat Suji menyembunyikan perasaan janggal itu.

Aniyeyo! Yaa! Mau dengar tidak sih?” Suji berseru menatapnya dengan kilatan tajam dari matanya.

Aneh, mood Suji cepat sekali berubah.

Palli marhae, membuatku penasaran saja,” sahut Donghae menyembunyikan perasaan aneh itu.

“Kau dengarkan baik-baik eo, tujuanku ke Seoul hanya satu Donghae-ssi. Tujuan itu untuk menghilangkan sebuah masalah yang tengan menimpaku selama di Singapura selama beberapa bulan terakhir. Itu saja,”

“Masalah apa?”

Suji tersenyum kecil, “kau tahu nama yang ku tulis pada gembok cinta waktu itu?”

“Tan Jey, itu bukan namamu?” Donghae bertanya dengan guratan pada dahinya. Ia merasa makin penasaran dengan masalah yang menimpa Suji. Entahlah, bukan gila urusan ia hanya merasa peduli.

Ya, peduli. Apakah itu salah?

Ani, dia sahabatku di Singapura. Kami berdua bersahabat sejak aku tinggal di Singapura, dan masalahnya kami menyukai pria yang sama. Tan Hangeng, pria itu yang menjadi pangkal masalahku. Aku dan dia berpacaran cukup lama hingga akhirnya aku tahu ia juga memiliki rasa pada Jey, bukan padaku.

“Dan pada akhir tahun kemarin, aku memutuskannya dan memintanya untuk jujur kepada Jey akan perasaan yang dipendamnya,”

“Bagaimana denganmu?” sahut Donghae, setelah itu ia mendesis pelan, menyadari kebodohannya karena baru mengerti dengan arah cerita Suji.

“Aku… alasanku ke Seoul agar perasaanku pada Hangeng hilang. Itu saja, aku bahagia saat mereka menikah, tapi perasaan ini masih ada hingga aku memilih untuk menenangkan hati ke Seoul.” Jelas Suji dengan senyum penuh.

Aneh, Suji merasa lebih lega setelah menceritakan semuanya kepada Donghae. Ada rasa plong yang tiba saat ia menghembuskan napas, menyelesaikan ceritanya. Benar, tidak ada salahnya untuk bersikap terbuka pada siapa pun.

Tiba-tiba Suji terkejut saat tangan Donghae mengelus puncak kepalanya, pria itu tersenyum ke arahnya, sebuah senyum yang amat manis hingga membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dadanya kembali sesak, rasa plong itu hilang tergantikan oleh perasaan aneh yang berkecamuk di hatinya.

“Gantinya pasti lebih baik, iya kan?”

Suji mengangguk diam. Beberapa menit kemudian bus yang akan mereka tumpangi tiba. Keduanya pulang dalam keadaan diam, masalah Suji telah berakhir tapi muncul sesuatu yang aneh.

Masalah lagi kah?

@@@@@

“Kenapa kau merekam hal itu terus?”

Sudah berulang kali Donghae memergoki Suji yang tengah merekam pasangan kekasih di sebuah taman di kawasan Itaewon. Mereka baru saja berkeliling pada kawasan itu hanya untuk melihat pengaruh budaya setempat yang lebih banyak diisi oleh warga pendatang.

Suji menghentikan pergerakan LomoKino milih Ayahnya itu, beralih menatap Donghae cemberut, “wae? Bukan masalah bukan?”

Donghae menggeleng, “sebuah masalah bila kau sedang patah hati. Cha! Lebih baik aku merekammu, khajja!”

Mata Suji sukses membulat ketika Donghae mulai menggerakkan LomoKinonya, wajah gadis itu kemudian berubah datar saar selang beberapa detik. Dugaannya tepat, setiap film memiliki waktu semenit. Dan detik sebelumnya lebih banyak diambil untuk sepasang kekasih yang direkamnya.

“Habis sudah, aku lupa membawa persediaannya di aparte,” ujar Suji meraih LomoKino dari tangan Donghae.

“Yaa! Kau pikir kameraku tidak bisa merekam? Khajja, bertingkahlah seperti biasa dan aku akan merekammu,” sahut Donghae sembari mengambil kamera dari tas bertuliskan Nikon yang dikenakannya.

Suji mengelak, “geumanhae, aku tidak suka direkam. Khajja! Hariku akan segera berakhir di Seoul, kita harus menyelesaikan jadwal kali ini.”

Tangan Donghae yang tengah memegang kamera berhenti di udara, matanya menatap Suji intens. Pria itu mulai sadar, waktu Suji akan segera berakhir dan gadis itu akan kembali ke Singapura. Ada rasa yang tidak rela muncul di relung hatinya.

WAE?”

Langkah Suji terhenti, gadis itu berbalik melihat Donghae yang berada jauh darinya. Suji tidak sadar bahwa pria itu masih tetap pada posisinya. Ada getaran aneh pada suara Donghae saat meneriakinya. Dada Suji mulai sesak, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“SUJI-SSI!! KAJIMARAYO!” teriak Donghae membuat Suji terdiam sepi.

Suji tidak menjawab, gadis itu kembali berjalan, meninggalkan Donghae yang masih berdiri di sisi taman. Suji mulai sadar, ada sesuatu yang salah muncul di antara keduanya. Sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi. Ia harus mencegahnya, ya, sebelum semuanya terlambat.

@@@@@

From: Lee Donghae

Suji-ssi, bisa menemuiku sekarang?

Aku berada di lantai dasar

Pesan singkat itu membuat jantung Suji berdegup kencang. Sebuah koper besar sudah berdiri tegap di depan pintu, beberapa jam lagi ia akan berangkat kembali ke Singapura. Ada sedikit rasa tidak rela saat mengepak barang-barangnya, namun hal itu tidak boleh diladeninya.

Suji tahu, Donghae akan sangat sanggup untuk menunggunya di lantai bawah hanya untuk berbicara kepadanya. Mengenal pria itu selama beberapa hari membuatnya cukup tahu akan kebiasaannya. Ya, kata cukup tak begitu memuaskan bagi Suji. Banyak hal yang ia belum ketahui dari pria itu, membuatnya ragu akan sesuatu yang muncul di antara keduanya.

Setelah menimbang semuanya Suji memutuskan untuk menemui Donghae. Semuanya harus diluruskan sebelum hal ini kembali membuat masalah pada relung hatinya. Bukankah ia ke Seoul untuk membuang masalahnya? Maka dari itu, ia tidak boleh membawa masalah kembali ke Singapura.

Wae?”

Donghae terkesiap, mata sendu pria itu melebar melihat Suji dengan kaos putih juga jeans pada tubuh rampingnya. Sungguh cantik walau wajah Suji tidak memperlihatkan senyum yang berarti. Ada sedikit rasa sakit yang menyiksanya.

“Dengarkan aku Suji-ssi, jebal kajimarayo—“

Wae?” Suji membuang muka, lebih memilih menatap keluar pintu kaca gedung aparte yang besar.

“Aku tahu ini salah, bersamamu selama beberapa hari ini membuatku jatuh cinta padamu, mianhae, aku tidak bisa menjelaskan lebih mengapa aku mencintaimu. Tapi, sungguh, aku benar-benar menyukaimu Suji-ssi,”

Suji diam tak berkutik, gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan gejolak aneh pada dirinya. Sembari menghela napas Suji berkata, “Ini tentu salah Donghae-ssi, khajja, kau harus kembali jangan membuang waktumu yang berharga.”

“Kwon Suji!” Interupsi Donghae sembari memegang kedua bahu Suji agar dapat menatap matanya dengan intens.

“Lee Donghae! Bisakah kau menghentikan masalah bodoh ini? Aku ragu, kau pun seperti itu! Jangan membuat masalah lagi dengan bualan ini! Lupakan semuanya! Lupakan perjalanan kita! Lupakan aku!”

Tubuh Suji bergetar, gadis itu membuang muka, tidak ingin melihat pria itu bahkan sedetik pun. Tidak ada lagi yang patut dipermasalahkan lagi. Ya, perasaan ini terlalu cepat, semuanya salah. Ia tidak mencintai Donghae, pun dengan Donghae.

“Donghae-ssi, Mianhaeyo, kau tahu ini salah… sebaiknya jangan kita pikirkan lagi, aku pamit, annyeong higaseyo.” Pamit Suji melepas genggaman tangan Donghae pada kedua pundaknya.

Sembari menggulum senyum pahit Suji berjalan memasuki lift, bermaksud mengambil koper lalu meninggalkan Seoul segera. Meninggalkan seluruh kenangan yang terjadi dalam beberapa hari. Tidak, ia dan Donghae tak sepatutnya seperti itu. Jelas, semuanya salah dan tidak dapat dipertahankan.

Bukankah masih ada masa depan yang lebih baik?

@@@@@

A Few Years Later…

 

Mata Suji berkedip beberapa kali, ia baru saja keluar dari kantornya, sebuah kantor bergaya rumah minimalis bertuliskan Rumah Produksi Gmarks yang terletak di salah satu kawasan padat Singapura. Lagi-lagi mata gadis itu berkedip, memfokuskan pandangannya pada sesuatu yang mengusik jiwa.

“LEE DONGHAE!!”

Benar saja, setelah Suji berteriak seorang pria berbalik ke arahnya. Di sebelah pria itu berdiri seorang wanita berpakaian casual dengan rambut panjang yang tergerai indah. Ada perasaan lega saat Suji melihatnya.

“Ini Kwon Suji, temanku. Suji-ssi, ini—“

“Kau pasti pacarnya Donghae kan? Ommo yeppeuda!!? Bagaimana bisa kau bersama manusia playboy ini?” seru Suji sembari menjabat tangan sang gadis.

Donghae merangut, menatap Suji sebal saat mengatainya sebagai playboy. Sedangkan gadis yang berada di sebelahnya terkekeh kecil, dengan sedikit rona merah pada kedua pipinya, benar-benar ekspresi yang manis.

“Lee Hyewon imnida. Donghae oppa sering menceritakanmu padaku, sepertinya hubungan kalian setelah itu sangat baik,” ujar Hyewon dengan sedikit tarikan pada kedua sisi bibirnya.

Wajah Suji memerah ketika Hyewon mengingatkannya akan kejadian memalukan itu. Ditatapnya Donghae dengan gusar, “kau pabo Dongha-ssi, bahkan kau menceritakan bagaimana otak playboymu bekerja pada yeojachingumu sendiri.”

“Yaa!” Donghae berseru tidak terima membuat kedua gadis di dekatnya tertawa cekikikan.

Geudae, mana suamimu?” tanya Donghae setelah menyabarkan dirinya menerima hujatan dari Suji yang cukup keterlaluan. Padahal ia tidak seplayboy yang dikatakan gadis itu.

Setelah mengalami banyak hal Donghae sadar, ia dan Suji memang hanya ditakdirkan sebagai teman saja, tidak lebih. Seminggu setelah Suji beranjak ke Singapura, Donghae sadar akan perasaannya. Ia hanya terpukau dengan kecantikan yang dimiliki Suji, juga merasa peduli dengan masalah yang dialami gadis itu. Hanya itu, selebihnya ia tidak pernah pikir. Bagaimana pun juga saat itu mereka tidak terlalu tahu mengenai diri masing-masing.

Chankamman,” sahut Suji sembari masuk ke dalam kantornya.

Tidak beberapa lama kemudian Suji keluar dengan seorang pria yang berpakaian cukup necis. Donghae serta Hyewon tersenyum penuh, sedikit membungkukkan badan memperkenalkan nama mereka.

“Casey Kim imnida, hanguk saram iyeyo, bangapseumnida.” Ujar pria itu membuat Donghae mengangguk puas.

“Casey-ssi, sebaiknya kalian berdua kembali ke Korea. Berlama-lama di Singapura membuat kalian lupa akan Negara sendiri, lagipula apa kalian tidak ingin membuat anak di Korea?”

Mendapat pertanyaan Donghae yang terlalu terbuka itu membuat Suji serta Casey menatapnya datar setelah sebelumnya sempat merona menahan malu. Donghae terlalu blak-blakan, yah walau pada dasarnya hanya mereka berempat yang mengerti dengan apa yang dikatakan Donghae.

“Daripada kau menyuruhku ke Korea kenapa kalian tidak cepat menikah saja? Kau sudah cukup tua Donghae-ssi,” goda Suji membuat Donghae dan Hyewon merona karenanya.

Geumanhae!”

“Ya, Suji benar. Bila kalian menikah dan mengundang kami, tentu kami akan berpikir lebih untuk menetap di sana bukan?” sahut Casey makin membuat Donghae memanas.

Tanpa menjawab pertanyaan telak itu Donghae menarik Hyewon berjalan menjauhi pasangan kekasih yang sedang memanasinya itu. Cukuplah bagi Donghae untuk dikatai tua oleh Suji. Lagipula ia tidak begitu peduli bila mereka tinggal di Korea atau tidak. Yang jelas ia sudah mempunyai Hyewon, gadis itu bahkan lebih baik dari Suji –bahkan urusan pernikahan jelas gadis itu lebih sabar.

“Yaa! Oppa! Mereka benar, kau sudah mulai terlihat tua. Mengapa kita tidak mulai memikirkannya juga?”

MWO?!”

END

Advertisements