Nama        : Goo

Judul         : Weather of The Day: Spring

Tag           : – Kim Jongwoon a.ka Yesung

–   Han Chaeri (OC)

Genre        : Romance

Rating        : G

Length       : Oneshot

 

Catatan:

I’m sorry for late post… and big sorry too for My Bunny Yuu. Too long ah? Imajinasiku soal spring benar-benar cemen –hehe- tapi pada akhirnya Spring ini udah selesai! Yay! Semoga suka ya ^^ dan benar-benar maaf karena lama banget jadinya (_ _). Oh ya, soal waktu post mungkin minggu-minggu ini nggak beraturan ngepostnya –‘cause you knowlah… Lebaran! Kk~

Don’t forget to RCL ya guys! Needed loh 🙂

 

Seorang gadis tengah berjalan diam memandangi ujung sepatu ketsnya tanpa minat. Beberapa helai daun sakura berguguran di atas kepalanya, hingga beberapa di antaranya menyangkut di antara helai rambutnya yang agak kusut. Beberapa kali ia terseok, sengaja memperlambat jalan untuk menikmati terpaan angin yang menerpa wajahnya.

Di tengah jalan setapak yang sepi itu ia terus berjalan, menikmati waktu dalam keadaan hati yang tengah geram akan sesuatu hal. Auranya cukup gelap, ia tahu, hatinya sedang tidak baik-baik saja, begitu pula dengan kepalanya yang masih belum sinkron hingga mampu membuatnya pusing kepayang.

Harusnya musim semi kali ini indah…

Harusnya musim semi kali ini penuh kenangan…

Harusnya dan harusnya… ia tak dapat berpikir jernih dan terus menggerutu mengenai takdir yang ia jalani hari ini, atau mungkin hingga musim ini berakhir takdir jelek akan menghantuinya. Mungkin.

 “Han Chaeri!”

Hentakan itu sempat membuat langkahnya terhenti namun dengan cepat ia kembali menguasai dirinya. Ia berjalan berpura tak mendengar sahutan namanya yang terdengar begitu nyaring. Angin kembali menerpanya, kali ini lebih kencang hingga mampu membuat bulu kuduknya meremang.

“Hatchiiii!!!”

Sungguh, Chaeri sangat jengkel dengan musim semi, selain karena hatinya yang kali ini benar-benar sakit, ia juga membenci bagaimana serbuk bunga beterbangan bebas di udara, memaksanya menggunakan syal yang cukup tebal atau mungkin masker untuk menghalau serbuk-serbuk itu menyerang hidungnya –yang cukup sensitif.

Maka dari itu, Chaeri harus berulang kali menyalahkan dirinya yang lupa menggunakan syal kali ini, hingga dengan pasrah, serbuk-serbuk menjengkelkan itu menyerang hidungnya, membuatnya harus bersin beberapa kali karena rasa gatal pada pangkal tenggorokan maupun hidungnya.

“Han Chaeri!”

Tubuh Chaeri yang mulai melemah tertarik ke belakang, membuat seluruh tubuhnya terkunci rapat di antara dua tangan hangat yang dirindukannya sejak lama, juga dua tangan yang menjengkelkan karena membuat hatinya merosot sedih.

“Lepaskan!!” gertak Chaeri, namun usahanya untuk segera keluar dari lingkaran hangat itu sia-sia. Ia makin lemas, bukan karena hidungnya, tapi karena hatinya yang mulai bergetar hingga membuat kedua lututnya gemetaran.

Mianhae…”

Chaeri mendecakkan lidah, mengapa kata maaf begitu mudah diucapkannya? Pikirnya geram. Kemudian kembali meronta di dalam pelukan posesif itu. Mungkin, biasanya Chaeri akan cepat lunak dengan mengeluarkan seluruh keluh kesahnya di depan pria itu. Namun kini ia tidak bisa, entahlah, tapi hatinya sudah sangat geram.

“Lepaskan!!”

Tentu saja, orang itu tetap bodoh dan keras kepala hingga tak mau sedikit pun melepaskan Chaeri. Ia tipe egois dan Chaeri –sebenarnya menyukai itu, karena sikap egoisnya hanya berlaku pada hal-hal tertentu. Dan pria itu egois, ingin memilikinya, dirinya.

Ahjussi!” Suara Chaeri tetap bervolume sama, tetap pada oktaf yang sama.

“Maaf! Aku benar-benar salah Chaeri! Mianhae,” pinta pria itu membuat Chaeri melongos.

Di kepalanya sudah terkumpul ribuan kata maki yang mungkin biasanya akan ia keluarkan secara tidak sungkan di hadapan pria itu. Namun kali ini ia tidak ingin melakukannya, dirinya sudah sangat lemas sejak ditinggal wamil pria itu, dan sekarang… di saat pria itu sedang memiliki waktu yang cukup lama dari wamilnya. Kesalahan besar terjadi.

“Han Chaeri!”

Chaeri membuang muka saat pria itu menatapnya intens, ia menggigit bibir bawahnya, menahan pasokan air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya, bersiap untuk keluar membuat jalur-jalur mini di sekitar wajahnya.

“Lepaskan!”

 

@@@@@

 

Sore itu wajah Chaeri sangat cerah, bila dibandingkan dengan cuaca musim semi yang indah disertai dengan bunga-bunga yang bermekaran, mungkin tidak ada bedanya. Gadis itu sejak bangun pagi telah memperlihatkan sosok gadis 4D yang nyata, moodnya kembali seperti awal hingga membuat kedua orangtua tunangannya selalu memasang senyum jahil ingin menggodanya.

Terkadang Chaeri ingin tertawa bila mengingat tingkah jahil keluarga Kim di setiap langkahnya menuju suatu tempat yang telah dijanjikan Kim Jongwoon atau mungkin lebih terkenal lagi bila menyebutnya sebagai Yesung. Anggota Super Junior, si lead vocal yang mempunyai anak anjing bernama Kkoming.

Hee’s Story

Café yang baru buka selama setahun terakhir itu adalah café milik Heechul, salah satu anggota Super Junior yang sama anehnya dengan tunangannya –si Kim Jongwoon ahjussi babo. Chaeri tidak tahu apa yang direncanakan pria itu, namun kepalanya mulai menerawang hingga terkadang ia berpikir yang tidak-tidak.

Mulai dari sosok Yesung yang akan menunggunya di salah satu meja café itu, berpenampilan bak pangeran dalam film princess yang ditontonnya ketika kecil, pria itu lalu tersenyum ke arahnya yang baru tiba di café itu, lalu menyodorkannya setangkai mawar yang lalu membawanya ke dalam gendongan hangat…

Atau mungkin yang lebih parahnya, melihat Yesung mengenakan jas formal, menunggunya di depan pintu café lalu membawanya berkeliling Seoul menggunakan Limosin hingga akhirnya berhenti di Namsan Tower lalu menciumnya dengan romantis setelah mengadakan candle light dinner di atas puncak tower N itu.

Ah memikirkannya saja sudah membuat perut Chaeri mual, apalagi benar-benar terjadi. Mungkin gadis itu akan tertawa terpingkal-pingkal hingga menimbulkan kericuhan dalam setiap aksi Yesung.

“Im Yoona Chankam!!”

Langkah Chaeri terhenti. Ia baru saja melihat salah satu sisi bangunan Hee’s story lalu terdiam melihat dua manusia yang telah ia kenal baik tengah berjalan masuk ke dalam café itu. Hati Chaeri berdesir, ada perasaan aneh saat melihat dua manusia itu tengah masuk tergesa-gesa dengan senyum yang merekah lebar.

Yesung dan Yoona.

Beberapa kali Chaeri memang sering mendengar sebutan couple untuk dua manusia itu. Ya, Im Yoona, salah satu anggota girlband yang cukup terkenal akhir-akhir ini. Namun berulang kali ia mengelak keras, toh Yoona pasti tidak tahan dengan tingkah absurd tunangannya itu.

Namun Chaeri juga tak bisa menyangkal. Yoona memiliki rasa kagum yang besar akan pria itu. Cukup besar, hingga mampu membuatnya menahan emosi bila melihat foto selca kedua manusia itu yang terkadang diupload Yesung lewat akun twitternya.

Didasari oleh rasa penasaran yang kuat membuat Chaeri menjinjitkan kakinya, mendekati satu sisi café yang memperlihatkan keadaan café lewat kaca besar yang dapat dilihat dari luar. Matanya menulusuri setiap detail café hingga menemukan sosok Yesung dan Yoona yang tengah duduk berhadapan di sebuah meja.

Kedua manusia itu tertawa renyah, saling melemparkan senyuman, terkadang Chaeri bisa menangkap tangan Yesung yang memegang tangan Yoona dengan hangat. Tentu, hal itu membuat penglihatannya kabur. Air matanya telah berkumpul, memaksanya harus menyeka wajahnya cepat agar cairan bening itu tidak keluar secara spontan.

Dan puncaknya ketika tiba-tiba Yesung memasangkan sebuah kalung berliontin hati pada leher Yoona. Mereka tertawa, Chaeri bisa melihat senyum lebar seorang Yesung yang sudah lama tak dilihatnya. Hatinya terluka, sangat terluka.

Chaeri tak dapat berkata-kata, air matanya sukses mengalir hingga sungai kecil itu meluap dari pelupuk matanya. Lantas Chaeri berlari, berlari menjauhi café laknat itu, mengubur semua impian juga mimpinya yang telah ia idamkan sejak bangun pagi. Cukup! Ia tahu mengapa Yesung memintanya ke sana.

Yesung pasti menginginkan semuanya berakhir.

 

@@@@@

 

“Lepaskan!”

Napas Chaeri tersenggal, ia mungkin hampir lupa cara untuk bernapas hingga dadanya terasa sesak akibat kekurangan oksigen, ditambah lagi dengan rasa gatal pada pangkal tenggorokannya. Ia makin tersiksa, tubuhnya makin merosot.

“Dengarkan aku dulu Chaeri!” sorot mata Yesung menajam hingga mampu menghujam ulu hatinya. Chaeri tak sanggup berkata ya, ia terlalu takut bila Yesung benar-benar ingin melepaskannya, ingin menyudahi semuanya.

“Aku ingin pulang!” sergah Chaeri cepat.

Yesung terdiam, ia terkejut melihat wajah Chaeri yang sembab. Kedua matanya memerah, hidungnya pun.

“Dengarkan aku bodoh!” interupsi Yesung membuat Chaeri terdiam, ia tidak terkejut mendengar sebutan bodoh yang biasanya membuatnya kesal bukan kepayang, ia senang, namun tak bisa mengekspresikan rasanya untuk kali ini.

“Aku tidak mau dengar! Andwae!!” elak Chaeri sembari menutup kedua telinganya rapat.

Gadis itu lalu terduduk berjongkok, mengindahkan tatapan Yesung yang makin kesulitan mengembalikan mood Chaeri yang kata orangtuanya baik sejak pagi menyambut. Pria itu tahu mengapa tunangannya bersikap seperti itu, namun kali ini ia tidak bisa mengindahkan rasa lelah akibat mengikuti Chaeri yang telah berjalan hampir seharian setelah melihat kejadian di café sore tadi.

“Aku lelah Han Chaeri! Tidakkah kau ingin mendengarkanku hah?”

Chaeri menggeleng keras, air matanya kembali mengalir deras. “Andwae! Na Shiro!!”

Uljima! Yaa! Gadis bodoh!”

Tubuh Chaeri terguncang karena isakannya, mengindahkan teriakan Yesung yang seakan tak peduli dengan tangisannya. Hatinya makin sakit, ia tidak ingin mendengarkan penjelasan Yesung atau apapun itu yang berujung pada kata akhir.

“Han Chaeri,” kali ini nada suara Yesung melemah, ia ikut berjongkok, lalu membawa Chaeri ke dalam pelukannya.

Chaeri tidak menolak, ia tetap asyik terisak sembari membuang khayalan buruk yang singgah di kepalanya. Cukuplah, ia tidak bisa berpikir jernih di saat-saat seperti ini. Melihat kalung berliontin yang dikenakan Yoona membuat hatinya teriris cemburu.

“Kau salah paham bodoh!”

Yesung mengeratkan pelukannya, tak terlalu peduli dengan tatapan bingung beberapa orang yang mungkin menontonnya lewat kaca mobil sekilas. Jalan setapak itu sepi, hanya desiran angin dan bunga sakura yang berguguran menontonnya secara real.

Kepala Chaeri terdongak. Kalimat itu sudah mengembalikan setengah jiwanya, ia menatap Yesung dengan kedua mata yang sembab, menunggu penjelasan pria itu lebih detail lagi walau sejak awal kepalanya sudah dibayangi ribuan pertanyaan.

“Kau salah paham, aku dan Yoona tidak seperti yang kau bayangkan, sungguh!”

“Tapi,”

“Apa? Kalung itu? Sungguh, itu hanya sebuah… emm…”

Lidah Yesung tiba-tiba tercekat. Chaeri menatapnya bingung, dan dengan cepat mood gadis itu kembali buruk karena pikirannya yang belum juga jernih. “Apa? Itu untuk Yoona kan? Iya kan?”

Aniya! Jinjja! Itu bukan untuknya!” elak Yesung keras.

Chaeri melayangkan tatapan tajam ke arahnya, menunggunya kembali berbicara.

“Ini untukmu,” ucap Yesung sembari memperlihatkan liontin yang dilihat Chaeri beberapa waktu lalu di leher Yoona.

Tatapan Chaeri tidak berubah, dalam jarak sedekat itu Yesung bisa melihat kilatan api di dalam mata Chaeri. Gadis itu masih menyimpan unek-unek yang mungkin terlalu lama disimpannya di dalam hati semenjak melihat kejadian sore tadi.

Shiro!”

Yesung menelan ludah susah payah, emosinya ikut naik. “Yaa! Kau pikir ini tidak mahal apa?! Aku sudah susah payah memanggil Yoona untuk memintanya sebagai model untuk memperagakan cara memakaikan kalung! Kenapa kau seperti ini sih!?”

Chaeri yang jelas-jelas moodnya masih buruk makin mempertajam tatapan matanya, ia lantas berdiri dari duduknya lalu melangkah meninggalkan Yesung yang terdiam cemberut di tempatnya. “Kau benar-benar bodoh!” hardiknya lancang.

Dalam langkahnya Chaeri benar-benar kesal karena tingkah Yesung yang tak pernah ingin mengerti dirinya. Rasanya sudah berulang kali hal yang sama seperti itu pernah terjadi namun pria itu tetap saja tak memperlihatkan sebuah perubahan yang signifikan –apabila Yesung benar-benar pintar belajar dari kesalahannya yang lalu.

Ia kesal. Sangat kesal. Kaung berliontin itu harusnya lebih dulu ia kenakan, bukannya dikenakan pada model seperti Yoona. Yesung bodoh, ia pria terbodoh yang pernah Chaeri temui selama hidupnya.

“Yaa! Kim Chaeri!”

Kali ini langkah Chaeri benar-benar terhenti. Di sekelilingnya pohon sakura berdiri tegak menjatuhkan ribuan helai bunganya ke udara. Chaeri tak sempat melihat itu, pandangannya terpaku pada sosok Yesung yang kini berada di belakangnya, berdiri tegak dengan mimik datar yang selalu sulit dibacanya.

“Kim Chaeri,” Yesung mengulang ucapannya ketika ia telah berdiri tepat di depan Chaeri yang menatapnya jengah.

Bibirnya tergulum tipis, mendekatkan wajahnya pada Chaeri yang sudah memundurkan langkahnya dan bersiap mengambil langkah seribu. Tapi, sebelum gadis itu benar-benar pergi, Yesung telah menariknya ke dalam pelukannya. Sungguh, emosinya bisa kembali netral apabila kulitnya sudah bersentuhan dengan gadis itu.

Mianhae, jangan membuatku emosi bisa?” bisik Yesung sembari menaruh dagunya di atas pundak Chaeri.

Hati Chaeri kembali berdesir, namun kali ini dengan perasaan yang aneh. Entah itu senang, takut, kecewa atau hal lainnya yang membuatnya tak bisa membaca perasaannya sendiri. Ia bingung, Yesung mampu membuatnya mati berdiri.

“Aku tahu aku bodoh, tapi tolong jangan membuatku bingung. Bisa kau jelaskan kenapa kau marah padahal aku sudah jelaskan bahwa kalung itu milikmu, hakmu, bukannya milik seorang Im Yoona. Gadis itu hobaeku, kau mengerti?”

Chaeri tak mengangguk juga menggeleng. Ia tak tahu harus menjawab apa karena jelas-jelas Yesung salah dan ia tidak bisa mengelak rasa jengkel yang menerpa hatinya. Inginnya Yesung tak perlu bersusah payah menjadikan Yoona menjadi modelnya sebelum beraksi, tapi nasi sudah menjadi bubur. Chaeri juga tak bisa mengembalikan waktu.

Marhae, aku mendengarkan,” ujar Yesung pelan melepas pelukannya lalu menatap Chaeri intens.

Mata Chaeri bergerak ke sana ke mari, ia begitu gugup melihat sikap Yesung yang berubah serius seperti ini. Rasanya jarang sekali pria itu bertingkah seperti ini di hadapannya. Hanya beberapa kali saja, dan itu pun hanya dapat dihitung menggunakan jari tangan.

Marhae,” pinta Yesung sekali lagi membuat Chaeri menghela napas dalam.

“Kenapa harus menggunakan model sih? Kenapa tidak langsung memberikannya padaku? Bukannya itu berarti kalung itu telah digunakan oleh orang lain sebelum diberikan olehku? Itu menjadi tidak spesial lagi ahjussi,”

Yesung tergelak, “mwo? Tidak spesial katamu?! Hahahaha!!”

Hal itu membuat Chaeri mendesis kesal, ia mendorong tubuh Yesung menjauh darinya lalu kembali melangkahkan kaki menjauh manusia absurd itu. Sungguh, momen yang telah ia pikir akan berujung ke hal yang romantis itu malah rusak akibat tawa menyebalkan milik tunangannya sendiri.

“Yaa! Jangan marah! Aku kan hanya tertawa!” seru Yesung sembari menarik pergelangan Chaeri hingga gadis itu kembali berhenti melangkah.

Chaeri mendecakkan lidah, “kau mengucilkanku! Aku serius malah ditertawakan.”

Mian Mian.” Ujar Yesung sembari mengusap puncak kepala Chaeri lembut.

Jantung Chaeri mulai lagi berdetak tidak karuan. Ada perasaan senang saat Yesung mengusap kepalanya, seperti ada magic yang mampu membuatnya lupa akan kejadian yang mengiris hatinya tadi sore.

“Walau kalung ini telah dipakai oleh orang lain, rasa istemewanya hanya akan bersinar saat kau yang mengenakannya nona Chaeri yang aneh… kau mengerti sekarang?”

Chaeri mendelik, “tapi tetap saja!”

“Aish! Jangan menolak! Kau tahu sudah berapa uangku habis karena liontin ini? Kau tahu sudah berapa banyak energiku habis karena terus mengejarmu sejak tadi sore? Aku capek Chaeri!!”

Lagi-lagi Chaeri mendelik, “aku kan tidak pernah menyuruhmu membelikannya untukku?”

Sedetik kemudian Yesung menatapnya datar, terbersit rasa kecewa saat Chaeri mengatakan hal itu. Namun dengan cepat Yesung membuang rasa itu, kali ini ia tidak boleh egois, ia tahu, ini kesalahannya dan ia pun tak dapat berdalih bahwa kalung itu adalah ide brilian dari otak sok romantisnya.

“Jangan banyak bicara lagi, cha! Ini milikmu dan jangan sampai hilang arasseo?”

Saat Yesung memasangkan kalung itu, deru napas Yesung bermain pada lehernya, membuat Chaeri sempat tergelitik namun cepat-cepat membuang pikiran aneh yang mulai bermain di otaknya.

Yesung berdehem, meneliti wajah Chaeri yang makin cantik dengan kalung perak yang dibelinya beberapa waktu lalu di sebuah tempat asing yang tak perlu diketahui oleh siapapun. Matanya turun pada liontin yang terpasang sebagai mainan kalung itu.

“Ini spesial…” ucapan Yesung terhenti, kedua tangannya menggenggam kedua bahu Chaeri lalu turun membuka liontin yang di dalamnya terpasang fotonya dan Chaeri yang terpisah di setiap sisi liontin itu.

Saranghae!”

Yesung berucap cepat lalu membungkam kedua bibir Chaeri dengan kecupan singkatnya. Pria itu lalu tersenyum manis saat Chaeri menatapnya ling-lung, gadis itu masih saja terlihat cantik dalam keadaan apapun, bahkan di saat melongo seperti orang bodoh.

Khajja!” sahut Yesung cepat menyambar tangan Chaeri lalu menariknya berlari di tengah gugurnya bunga sakura.

Diam-diam Chaeri tersenyum, ia menatap liontinnya lalu beralih mendongak ke atas langit. Sungguh, dunianya menjadi begitu baik di saat bunga sakura berguguran. Ia senang walau dalam hal ini masih sedikit kesal dengan tingkah Yesung sebelumnya.

Musim semi tahun ini tidak terlalu buruk…

Musin semi ini sudah menjadi kenangan indahnya…

Bersama seorang spesial, orang itu Kim Jongwoon.

 

END

Advertisements