Nama        : Goo

Judul         : Us Part [1/?]

Tag            : Kim Kibum, Gwek Ji Hye (OC)

Genre        : Romance

Rating        : G

Length       : Chaptered

Catatan:

This is… after story of Separated… Hope you like it guys! Don’t forget to RCL! 😀

Kibum menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Pikirannya kembali terbang mengingat keputusan Ji Hye semalam. Kibum akui, untuk urusan cinta ia memang agak bodoh, ia tidak tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita dengan manis atau hanya mengerti arah jalan pikiran mereka. Logikanya terlalu tabu untuk mengurusi hal itu.

Gwek Ji Hye, Kibum mencintai gadis itu. Walau hubungan mereka baru seumur jagung, Kibum sering mendapatkan kehangatan sendiri bila bersama gadis itu. Dan Keputusan yang mereka putuskan semalam terlalu berat hingga menghasilkan sebuah kata pisah. Sangat berat hingga mampu membuat Kibum terjaga sepagi ini.

Drrrrttt

Lamunan Kibum pecah ketika dering ponselnya berbunyi, ia pun meraih ponselnya yang terletak di nakas dengan cekatan. Harapannya kembali muncul apabila Ji Hye yang menelpon dan memintanya untuk kembali. Ya, harapan yang ia harap akan segera terwujud.

“Kibum-ssi? Aku butuh bantuanmu sekarang juga!! Seorang wanita mengalami kecelakaan di kawasan Myeondong…”

“Aku mengerti sajangnim!” Sahut Kibum cepat kemudian bergegas mengambil kunci mobil dan berjalan keluar dari aparte.

Harapannya pupus, Kibum sadar, kini ia terlalu dipermainkan oleh peraaaan hingga mampu berpikiran seperti itu. Pikiran Kibum kembali fokus, seperti kata Ji Hye, ia harus fokus untuk menjadi seorang dokter bedah yang handal. Kibum yakin, seorang Ji Hye juga merasakan hal yang sama, dan mungkin saja gadis itu lebih fokus dibandingkan dirinya. Ya, ia tidak boleh kalah bukan?

@@@@@

“Pasien berada di ruang UGD, kondisi luarnya tak cukup parah namun para dokter berspekulasi bahwa gadis itu mengalami geger otak.” Penjelasan singkat seorang suster lewat papan yang digandengnya membuat Kibum mengernyit.

Ia sering sekali menonton drama yang peran utamanya mengalami kecelakaan yang membuatnya mengalami geger otak, terkadang Kibum bingung sendiri, pada benturan mana sebenarnya geger otak itu bisa terjadi? Sepertinya ia harus belajar banyak pada dokter neuron.

Tanpa membuang waktu, Kibum, dengan jas kebanggaannya berjalan masuk ke dalam ruang penuh bau obat antiseptik itu. Di belakangnya suster berjalan gusar, memakai pakaian bedah untuk menjadi asisten Kibum untuk pemeriksaan kali ini.

Demi apapun itu, Kibum baru saja melangkah masuk saat pandangannya terpaku pada sosok gadis berambut pendek yang tak asing lagi di matanya, gadis itu terbaring lemah di atas kasur, berwajah penuh bekas darah yang terusap, juga memar kecil di sekujur tubuhnya. Gwek Ji Hye.

Langkah Kibum bergerak mendekat, matanya makin terasa panas melihat pemandangan menyakitkan itu. Kibum tak bisa berkutik dan hanya dapat memandangi tubuh rangkuh Ji Hye yang diselingi oleh selang pernapasan dan inpus. Pikirannya terus melayang, mencari penyebab kecelakaan naas itu.

“Kibum-ssi, tolong fokus!”

Teguran seorang dokter yang juga sedang berada di ruangan itu membuat Kibum sadar, bila ia tidak cepat bertindak maka semua akan menjadi beban kesalahannya. Ia harus kembali fokus, bagaimana pun juga pasien itu adalah gadis yang dicintainya.

Ye sajangnim!”

@@@@@

Kibum mendongakkan kepalanya melihat langit rumah sakit dengan perasaan kacau balau. Pria berjas putih itu tak juga beralih dari tempat duduknya selama beberapa jam demi menunggu hasil yang dikeluarkan oleh dokter bagian otak yang memeriksa Ji Hye setelahnya.

Ji Hye belum sadarkan diri, gadis itu masih terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang terpasang di wajahnya. Sungguh, Kibum merasa seperti orang gila ketika memeriksa kondisi gadis itu. Tidak ada luka berat memang, hanya beberapa tulang yang bergeser juga memar pada beberapa organnya.

Gwencanha?” Seorang pria berkacamata tebal duduk di sebelahnya setelah sebelumnya mengusap bahunya pelan.

Kepala Kibum menggeleng, kali ini ia tidak bisa berkata tidak. Pikirannya terlalu runyam untuk berbohong. Sudah sangat jelas pula wajahnya yang lesu seperti mayat hidup semenjak mengetahui korban kecelakaan yang ditanganinya.

“Aku mengerti Kibum-ssi, gadis itu sangat berarti eo? Sekitar pukul 8 pagi ia ditabrak oleh pengemudi mobil sport hitam, pria itu mengantuk hingga tak melihat lampu merah dan menabrak beberapa pejalan kaki yang tengah menyebrang. Gadismu bukan satu-satunya, bahkan ada yang meninggal di tempat.”

Penjelasan dokter bermarga Park itu membuat Kibum meneguk salivanya dengan susah payah. Sudah cukup ia merasa depresi megetahui kondisi gadisnya yang kritis. Tidak pula dengan penyebab kecelakaan itu.

“Daripada kau terus menunggu hasil scan otaknya bukankah akan lebih baik bila kau menemaninya di kamar?” Sahut dokter itu membuat Kibum mengangguk.

Kibum tak berkata banyak dan langsung menyeret langkahnya ke dalam kamar inap Ji Hye yang sepi. Tidak ada tanda kedatangan keluarga gadis itu karena keluarganya tengah berada di kawasan Eropa dan mungkin saja kali ini mereka berada di dalam pesawat penerbangan menuju Seoul setelah menerima teleponnya.

Tidak ada senior atau teman kampus yang datang menjenguk, Kibum belum menghubungi mereka, entahlah, kali ini ia ingin seharian mematut wajah Ji Hye dan memikirkan berbagai cara untuk menyembuhkan luka kecil –bahkan luka berat yang dialami gadis yang dicintainya itu.

Gwencanha?”

Kibum menelan ludah, hanya bunyi monitor detak jantung yang berbunyi seakan menjawab pertanyaannya, sedangkan gadis itu masih saja tetap tertidur pulas tanpa tahu seorang Kibum, pria yang harusnya ia jauhi, telah berada di sampingnya.

Kritis, Kibum tidak tahu sampai kapan gadis itu tertidur dalam pesakitannya. Ia sempat mendengar perbincangan dokter senior, kemungkinan Ji Hye akan sadar beberapa hari lagi. Beberapa hari lagi, tapi tak jelas kapan lebih tepatnya.

“Ji-ya, gwencanha?” Kali ini suara Kibum melemah, namun tetap saja, Ji Hye tidak bergeming dan masih bernapas teratur lewat tabung oksigen yang tersambung pada alat bantu yang menutupi wajah bagian bawahnya.

Pelan-pelan tangan kanan Kibum menelusuri wajah Ji Hye, sangat perlahan seakan wajah itu terbuat dari es yang gampang mencair secara tiba-tiba. Ada getar yang menembus ulu hatinya ketika melihat wajah damai Ji Hye yang terkulai lemas. Ia merindukan gadis itu. Sangat, padahal mereka baru saja bertemu semalam.

Mendengar permintaan putus Ji Hye semalam telah membuat luka yang cukup dalam pada hati Kibum. Pria itu memang pernah berpacaran dengan beberapa wanita sebelum ia bertemu dengan Ji Hye, namun, entah mengapa, gadis itu sangat berarti baginya, membuatnya –secara tidak sadar terlalu larut dalam cinta.

Kata orang, cinta itu hanya perlu 30% sebagai angka maksimal untuk sebuah perasaan agar bila putus, seseorang tak akan jatuh terlalu dalam. Namun, kali ini Kibum tak dapat melakukannya. Cintanya masih dalam progress menuju 50% hingga ia masih bisa melihat luka menganga di dalam hatinya. Walau terlihat tegar, jujur saja, Kibum tak setegar covernya.

“Ji-ya, kenapa kau ada di sana? Kenapa kau tidak bertraveling seperti katamu semalam? Kenapa…”

Kibum terdiam, ia tak bisa melanjutkan kata-katanya karena rasa sesak yang bergerumul dalam dadanya. Ia tak bisa menangis, namun rasa perih itu cukup menyiksa batinnya hingga ia hanya bisa menggenggam hangat telapak tangan Ji Hye, menyalurkan kecemasannya, berharap gadis itu terbangun lebih cepat.

“Kibum-ssi, hasilnya sudah ada,”

Tubuh Kibum menegang, perlahan pria itu melepas genggaman tangannya lalu melangkah keluar dari kamar Ji Hye. Dokter Park menggenggam sebuah map, lalu memberikannya pada Kibum sembari tersenyum tipis, “apa kau tahu Kibum-ssi? Setiap pilihan Tuhan adalah yang terbaik bukan?”

Mendengar hal itu, kibum memejamkan kedua matanya lama, ia mengerti maksud ucapan sang dokter. “Ne, gamsahamnida sajangnim,” ucapnya kemudian.

Dokter Park mengangguk, lalu menepuk punggung Kibum dengan hangat, “aku bisa memberimu waktu bebas untuk mengunjunginya setiap saat, setelah melihatmu bersamanya beberapa waktu lalu aku tahu, pasti dia sangat berarti bagimu,”

Ne, Jeongmal kamsahamnida sajangnim,” ucap Kibum lagi, kali ini sembari menundukkan kepalanya dalam.

Geurae, kau baca baik-baik hasilnya, aku tinggal dulu,”

Ne, terima kasih banyak sajangnim,”

Kibum tak mampu berkata banyak, ucapan terimakasih itu tidak lebih dari cukup untuk memperlihatkan rasa hormatnya kepada dokter Park. Bisa diibaratkan, dokter Park itu adalah seorang guru, sekaligus ayahnya sendiri selama ia bekerja di rumah sakit ini. Banyak wejangan juga pelajaran yang didapatkannya dari beliau.

Setelah kepergian dokter Park, Kibum masuk kembali ke dalam kamar Ji Hye. Duduk di salah satu sofa yang terletak di sudut ruangan, membuka map dengan perlahan.

GEGER OTAK

Napas Kibum terhela pelan, ia membanting map ke atas meja lalu merebahkan tubuh di sofa frustasi. Di saat seperti ini kenapa dua kesialan terjadi secara berturut-turut?! Semalam diputuskan, dan pagi ini yang paling parah. Ji Hye kecelakaan.

@@@@@

“Kim Kibum-ssi!”

Kibum yang tengah merapatkan selimut pada tubuh Ji Hye tersentak. Suara cempreng itu hampir memecahkan gendang telingnya bila saja gadis itu berteriak menggunakan toa. Pria itu pun berbalik, menatap seorang gadis berkaos merah muda ditutupi oleh jaket parasut berwarna ungu tengah berdiri di depan pintu kamar.

“Anda—”

“Park Juyeong imnida,” ujar gadis itu sembari menjabat tangan Kibum yang belum terulur hingga membuat Kibum sedikit kikuk mendapat terjangan keramahan yang terlalu berlebihan.

“Ah ya, aku sering mendengar Ji Hye menceritakanmu,” ujar Kibum membuat dahi Juyeong berkerut. “Apa saja yang diceritakannya eo? Baikkah? Jelekkah? Atau keduanya?”

Diam-diam Kibum terkekeh, Ji Hye benar, Juyeong adalah tipe gadis cerewet yang selalu memberikan pertanyaan ekstra pada seseorang apabila dirinya sedang penasaran. Seperti saat ini, gadis itu menerjangnya dengan pertanyaan yang harusnya tak terlalu penting kepadanya.

“Tidak banyak, tapi jangan khawatir, ia tak pernah menceritakan suatu rahasia kepadaku,” ujar Kibum membuat Juyeong menghela napas lega.

Setelah itu Juyeong berjalan menuju Ji Hye yang tengah terbaring lemah, sudah hampi 4 hari gadis itu tak sadarkan diri, membuat Juyeong makin merasa gelisah karena masa kritis yang cukup lama. Empat hari bukan waktu yang cepat, itu sudah termasuk lama untuk kecelakaan yang membuat gadis itu geger otak kecil.

“Heuf~ aku selalu berpikir ia akan sadar bila aku berada di dekatnya, hampir setiap hari aku ke sini, tapi Ji Hye tak sadar-sadar juga. Menyebalkan,” racau Juyeong membuat Kibum menghela napas pelan.

Kibum tahu Juyeong selalu menjenguk Ji Hye, namun ketika gadis itu menjenguk ia sedang tak berada di tempat karena jadwal kuliah yang sebenarnya tak cukup padat juga. Tapi, seperti janjinya beberapa waktu lalu pada Ji Hye. Ia ingin menjadi dokter yang handal, maka dari itu, ia selalu belajar dengan giat.

“Yang pasti Ji Hye tak akan kritis hingga seminggu lamanya,” sahut Kibum.

Juyeong mengangguk mengerti, tangan kanannya menggenggam hangat telapak tangan Ji Hye yang tak terkena impus, sedangkan tangan kirinya bergerak mengusap puncak kepala Ji Hye lembut. “Kau tahu Kibum-ssi,”

Juyeong menarik napas perlahan.

“Aku sudah menyayangi Ji Hye sebagai adikku sendiri, aku selalu merasa ia adalah adik laki-lakiku walau sebenarnya Ji Hye tak setomboy penampilannya. Di depanku, Ji Hye bertingkah layaknya seorang adik yang suka membully, tapi juga menjadi seorang bodyguard yang dapat menjagaku dari apapun,

Lucu memang, tapi ini benar kenyataannya, mungkin karena aku yang terlalu kekanak-kanakan juga feminim, Ji Hye cepat sekali menyayangi seseorang, ia bertindak sebagai seorang yang sangat setia walau sering disakiti oleh teman yang hanya memanfaatkannya saja, dia gadis baik. Sangat baik, bahkan aku memanggilnya chagiya. Well, kau tidak ilfeel kan?”

Mata Kibum menatap ubin dengan kosong sembari mendengarkan cerita Juyeong dengan penuh empati, kepalanya menggeleng lalu tersenyum tipis ke arah Juyeong. “Ia manusia setengah namja, tapi di depanku ia adalah gadis real yang jujur.”

“Kau benar, aku senang sekali melihatnya bahagia bersamamu. Walau pada awalnya aku sedikit ragu akan perasaanmu padanya,” Juyeong mendelik membuat Kibum tersenyum sinis. “Aku tidak playboy!”

“Yayaya… terserahlah,”

Keheningan terjadi, hanya terdengar suara teve yang menampilkan sebuah drama terbaru di stasiun ternama. Juyeong tampaknya asyik menonton drama tersebut, sedangkan Kibum, pria itu hanya merebahkan diri di atas sofa. Hari ini ia tidak mempunyai panggilan apapun, tidak mau juga meninggalkan Ji Hye.

Mata Kibum terpaku pada wajah Ji Hye yang masih dapat dilihatnya dari samping, wajah itu masih damai, beberapa memar di wajahnya perlahan menghilang terganti dengan wajah putih bersih yang selalu dikaguminya. Cantik, manis, dan aegyonya pun takkan pernah dilupakan oleh Kibum.

“Ji-ya!!”

Kibum bersorak saat melihat kelopak Ji Hye bergerak, Juyeong tersentak, menatap Ji Hye dengan mata membulat. “Ji-ya, ireonayo! Kau mendengarku?”

Langkah Kibum bergerak cepat mendekati kasur Ji Hye, pria itu memutar, agar dapat melihat wajah Ji Hye tanpa terhalang oleh Juyeong. Mimik wajah pria itu memperlihatkan sebuah kekhawatiran walau di balik itu rasa senang tengah membuncah hatinya.

“Ji-ya!! Neo wasseo?” pekik Juyeong saat kedua mata Ji Hye menyipit karena melaraskan cahaya yang masuk menembus kornea matanya.

“Eo… eonEonniya, wawae?”

Juyeong tersenyum lebar, begitu pun dengan Kibum. Pandangan Kibum bahkan tak pernah lepas dari Ji Hye, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat Ji Hye yang akhirnya sadar dari masa kritis yang lama.

Gwencanhayo?”

Ji Hye menghela napas panjang, meraba tubuh bagian atasnya dengan lemah. Gadis itu tak menjawab, hanya dapat memejamkan matanya kembali, sembari menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, namun Ji Hye belum juga menyapa Kibum semenjak sadarnya.

Nuguya?”

Kemudian Ji Hye mengarah ke arah Kibum. Amnesia, Kibum sudah duga, dan menurut ilmu  kedokteran, Ji Hye hanya mengalami amnesia paling lambat selama dua hari, setelah itu memorinya akan kembali dan kenyataan itulah yang paling ditakuti Kibum. Takut, bila gadis itu mengingat malam perpisahan mereka.

“Kim Kibum imnida,” ujar Kibum membuat Ji Hye mengerutkan kening sembari menarik napas pelan.

“Kau sudah berpacaran dengan pria ini eonni? Kenapa aku bisa berada di sini? Aku sakit? Kecelakaan? Kenapa bisa terjadi? Ke mana—”

“Ji-ya, gwencanha, kita panggil dokter dulu eo, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya,” ujar Juyeong membuat Ji Hye mengangguk lemas, kembali memejamkan matanya sembari menggenggam hangat tangan Juyeong.

Di balik itu Kibum merasa hampa, Ji Hye kembali bersikap dingin padanya, sikap yang diperlihatkan gadis itu ketika awal pertemuan mereka di dalam kereta. Jantung Kibum hampir berhenti berdetak, sakit ternyata bila gadis yang dicintainya tak mengingatnya sama sekali.

Tak berapa lama dokter dan seorang suster datang setelah Kibum menekan tombol pemanggil yang terletak di dinding dekat kasur Ji Hye. Kibum dan Juyeong tersingkir untuk sementara, menatap pergerakan dokter senior yang memeriksa kondisi Ji Hye yang baru sadar dari masa kritisnya.

“Kau juga harus menjelaskan hubungan kalian sebentar, eo?” Juyeong bergumam setelah menyikut Kibum.

Kibum mengangguk dalam diam, walau tak diberitahu pun ia akan melakukannya. Ya, semoga saja gadis itu dapat menerima kehadirannya tanpa penolakan. Walau memori gadis itu menghilang, setidaknya perasaan itu masih tertinggal di hatinya bukan? Kibum yakin itu.

@@@@@

“Kau, em… bagaimana bisa aku berpacaran denganmu Kibum-ssi?”

Kibum terlonjak dari sofa saat Ji Hye –yang ia kira tengah asyik menonton channel National Geographic yang menampilkan sebuah Negara di Asia Tenggara menyahut dengan ragu ke arahnya. Pria itu sedikit kikuk mendapat pertanyaan tersebut, tak terasa kedua sisi bibirnya terangkat.

“Ceritanya panjang Ji-ya, em… bisa kau jauhkan embel-embel ssi dari namaku? Aku lebih suka mendengarmu menggunakan banmal,” ujar Kibum membuat Ji Hye tersenyum pahit.

Melihat hal itu tentu membuat hati Kibum tak tenang, perlahan tapi pasti Kibum melangkah mendekati ranjang Ji Hye, lalu duduk di sebuah kursi yang langsung menghadapkannya pada sosok gadis itu. Mata Kibum beralih menatap ke arah horden crem yang menutupi jendela, mengingat kembali kenangan manis yang sempat tercipta ketika masih menyandang gelar sebagai namjachingu seorang Gwek Ji Hye.

“Apakah sangat panjang? Ini masih jam 6 petang, aku rasa tak begitu memakan banyak waktu, palli marhae, aku curiga kau hanya memanfaat—”

Geurae, jangan marah bila aku menginap di sini nantinya, ceritanya panjang sekali.” Ujar Kibum membuat Ji Hye tersenyum kecil, tak mengelak, dan itulah yang disukainya dari seorang Ji Hye. Gadis itu jujur akan perasaannya, bila memang tak suka maka ia akan mengelak dan begitu pun sebaliknya.

Walau dirinya bukan tipe pria cerewet dan banyak bicara, pada akhirnya mengalirlah seluruh kenangan Kibum bersama Ji Hye sebelum kecelakaan. Semuanya ia ceritakan, terkecuali kenangan pahit di malam itu.

“Tak terlalu banyak,” gurau Ji Hye dibuahi delikan Kibum.

Gadis itu terkekeh lalu kembali memperhatikan layar teve. “Ketika aku kecelakaan, kau berada di mana?” sahutnya tak berapa lama.

Kibum terdiam, ikut memperhatikan layar teve sembari memikirkan jawaban yang lebih pasti agar gadis di sebelahnya itu tidak merasa curiga dengan kenyataan yang telah terjadi. “Aku di rumah, kau berjalan di kawasan Myeondong tanpa memberitahuku,”

Ji Hye mengangguk, “aku tidak tahu apa yang telah membuatmu jatuh cinta padaku, yang pasti aku salah satu tipe gadis yang membosankan, bahkan aku berpikir suatu saat nanti aku hanya akan dijodohkan oleh kedua orangtuaku karena tidak pernah akan mendapatkan seorang pacar,”

“Tapi nyatanya kau bisa bukan?” Tukas Kibum setelah jeda kecil pada penjelasan Ji Hye.

“Ya, nyatanya, tunggu sampai aku mengingat semuanya, keadaanku akan membaik dan aku pasti akan mengingat semua kenangan kita. Mianhae, aku masih kikuk denganmu, di balik itu aku senang, setidaknya kau tidak buruk juga,”

Mata Kibum menyipit, menatap Ji Hye tajam lalu tangan kanannya bergerak bebas mencubit pipi gadis itu, “dasar!”

“Aish! Appo!” seru Ji Hye lalu tertawa membuat Kibum tersenyum penuh setelah beberapa hari terakhir tercekam di dalam ketidakpastian karena menunggu Ji Hye sadar dari masa kritisnya.

Kibum sempat menghela napas berat ketika Ji Hye mengungkit mengenai memorinya yang tak lama lagi akan kembali. Rasanya ia tidak ingin Ji Hye mengingat kenangan pahit di malam itu, ia tidak ingin membuat hubungannya renggang, ia tidak ingin Ji Hye menghilang dari jarak pandanganya selamanya. Amnesia adalah anugerah Tuhan baginya, anugerah untuk mendapatkan kesempatan kedua.

@@@@@

Keesokan harinya Kibum tak datang ke rumah sakit. Ia kembali disibukkan oleh jadwal kuliah, beberapa observasi di lab dan pertemuan dengan beberapa dokter ternama di sebuah pameran alat bedah organ dalam. Jadwalnya cukup padat, tapi Kibum begitu bersemangat menanti waktu malam, karena saat itulah ia berjanji pada Ji Hye untuk menjenguknya.

Pukul 7 malam, Kibum menancap pedal gas mobilnya membelah jalanan Seoul yang ramai. Hatinya membuncah senang, tidak sabar untuk menggoda Ji Hye, tidak sabar membuat gadis itu terpukau dengan ceritnya, tidak sabar… terlalu banyak hal yang ingin ia lakukan dengan Ji Hye.

Tak butuh waktu lama, mobil sportnya terparkir rapi di parkiran, Kibum berlari kecil masuk ke dalam gedung rumah sakit lalu masuk ke dalam lift dan secepatnya berlari ketika pintu lift terbuka sampai di lantai tujuannya. Sudah lama ia tak merasa euforia yang membuat hatinya berbunga-bunga. Gwek Ji Hye benar-benar memprogress perasaannya sampai ke angka 70%.

“J…”

Ucapan Kibum terhenti saat melihat Ji Hye tengah tertidur membelakanginya. Gadis itu bernapas begitu teratur, membuat Kibum enggan membangunkannya. Senyum Kibum sedikit mengendur, membiarkan Ji Hye beristirahat mengingat kondisi tubuhnya yang belum stabil.

Dengan langkah gontai Kibum keluar dari kamar Ji Hye setelah sebelumnya mengecup lembut puncak kepala gadis itu sembari mengucapkan selamat malam. Pria itu duduk berselonjor di atas kursi yang tersusun rapi di sisi koridor. Ia menghela napas panjang lalu memejamkan mata, melepas rasa lelah yang akhirnya ia rasakan setelah euforianya luntur.

“Kibum-ssi!”

Kibum membuka kelopak matanya cepat, memperbaiki cara duduknya setelah mengetahui suara dokter Park yang menusuk gendang telinganya, “ye sajangnim!”

“Selamat!” seru dokter Park sembari menjabat tangan Kibum dengan senyum penuh tersungging pada wajahnya.

“Ada apa?” Tanya Kibum bingung membuat dokter Park mengernyitkan dahi, menyudahi pergerakan tangannya yang menjabat Kibum penuh semangat.

“Gadismu! Ia sudah sadar! Memorinya kembali tadi siang,” jawab dokter Park membuat Kibum bergeming lalu tersenyum pahit.

Ne, sebuah perkembangan yang baik ya,”

Memorinya kembalitidak! Ini sangat buruk…

To be continue…

Advertisements