Nama        : Goo

Judul         : Us Part [2/?]

Tag           :  – Kim Kibum

–   Gwek Ji Hye (OC)

Genre        : Romance

Rating        : G

Length       : Chaptered

Catatan:

Sorry for late post… I was very busy after back to school; studying (prepare UAN), hunting (ok, one of my passion –photography, I’m the new member of photography club in ma regency), join workshop about photography and writing… etc. Pardon me ok? Hehe… then, enjoy this chapter!!


“Kibum-ssi!”

Kibum membuka kelopak matanya cepat, memperbaiki cara duduknya setelah mengetahui suara dokter Park yang menusuk gendang telinganya, “ye sajangnim!”

“Selamat!” seru dokter Park sembari menjabat tangan Kibum dengan senyum penuh tersungging pada wajahnya.

“Ada apa?” Tanya Kibum bingung membuat dokter Park mengernyitkan dahi, menyudahi pergerakan tangannya yang menjabat Kibum penuh semangat.

“Gadismu! Ia sudah sadar! Memorinya kembali tadi siang,” jawab dokter Park membuat Kibum bergeming lalu tersenyum pahit.

“Ne, sebuah perkembangan yang baik ya,”

Memorinya kembali… tidak! Ini sangat buruk…

@@@@@

Kejadian semalam membuat Kibum tak begitu semangat menyambut pagi, harinya kembali sibuk diisi oleh beberapa tugas yang –dengan rajinnya ia kerjakan seperti biasa. Tidak seperti hari kemarin, ia tak memiliki rencana mengunjungi rumah sakit. Katakanlah, ia memang seorang pengecut, toh ia belum berani menemui Ji Hye karena takut merusak janjinya pada malam itu.

Kibum adalah tipe pria yang selalu melaksanakan janjinya, walau logika dan hatinya terus bersatu meneriakkan kata menyerah agar ia segera ke rumah sakit kemudian meminta Ji Hye kembali ke dalam pelukannya.

Drrrttt

Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas nakas, dengan cepat Kibum meraihnya dan membaca sebuah email yang masuk dalam inboxnya.

From: Prk_juyo8@hanmail.com

Subject: PENTING!!!!!!

Hari ini Ji Hye pulang, ia sudah mengingat semuanya. Maaf, aku tak bisa banyak membantu, hanya ini yang bisa kuperbuat… ia akan beristirahat di Apartenya.

Ji Hye takut berlama-lama di rumah sakit, mungkin karenamu. Kejarlah, aku yakin Ji Hye masih mencintaimu… Tolong, permohonanku sebagai seorang sahabat… kembalilah.

_Juyeong Park_

 

Napas Kibum terhela berat, inilah yang ditakutkannya sejak semalam. Ji Hye sadar dan meninggalkannya, membuat hatinya kembali meradang. Progress cintanya mencapai angka 70% sempurna, hatinya tertohok karena kali ini ia benar-benar jatuh ke dalam pesona Ji Hye. Otaknya terasa membeku dalam beberapa menit, lalu kembali mencair setelah mencari-cari solusi terbaik.

To: Prk_juyo8@hanmail.com

RE: PENTING!!!!!!

Aku akan datang besok…

_Kibum Kim_

@@@@@

Kibum memperlambat langkahnya saat pintu aparte Ji Hye terlihat jelas di matanya. Perlahan kaki Kibum berhenti, matanya memandang daun pintu itu dengan sekelibat memori manis yang pernah dilaluinya bersama Ji Hye. Memakan masakan Ji Hye yang ternyata sangat enak, menemani Ji Hye dengan celotehannya mengenai fotografi, pelukan hangatnya… semuanya.

Pelan-pelan Kibum memencet tombol intercom di samping pintu, tak berapa lama suara cempreng milik Juyeong terdengar, “chankamman gidaryoseyo…”

Napas Kibum terhela lega, ia bersyukur ada Juyeong di dalam yang artinya ia tidak mendapat bantingan pintu bila saja Ji Hye tak mengharapkan kedatangannya. Walau ia tahu, Ji Hye bukan tipe gadis pemarah, namun, wanti-wanti saja. Toh, ia masih takut kemungkinan Ji Hye meradang karena telah membohonginya ketika amnesia.

“Eo, masuklah,” ujar Juyeong dengan senyum simpul, mempersilahkan Kibum masuk ke dalam aparte Ji Hye yang tak banyak berubah seperti kunjungannya dulu.

Interior-interior berwarna putih gading masih terlihat rapi di dalam aparte itu, beberapa barang ada yang dipindahkan dari tempat asalnya, dan kini ruang aparte Ji Hye lebih terlihat bersih dari debu juga terlihat lebih luas. Makin nyaman saja, makin membuat Kibum betah ingin berlama-lama di tempat itu.

“Di mana dia?” Tanya Kibum setelah tak mendapat sosok Ji Hye di ruang tengah. Hanya teve yang menampilkan drama tempo lalu yang sempat ditonton oleh Juyeong sebelum Ji Hye sadar dari masa kritis.

“Di kamar,”

Juyeong berjalan pelan menuju pintu kamar Ji Hye, mengangkat satu tangannya menyuruh Kibum untuk tak mengikutinya ke dalam.

Saat pintu tertutup, Kibum hanya dapat berdiri diam di dekat balkon, sedikit menajamkan telinganya untuk mendengar percakapan Ji Hye dan Juyeong di dalam kamar. Namun nihil, tak ada yang dapat ia dengar selain percakapan tokoh-tokoh drama di teve. Sejenak Kibum merasa makin khawatir, apa Ji Hye benar-benar tak ingin melihatnya?

Tak berapa lama, Juyeong kembali diikuti oleh Ji Hye yang tengah tersenyum tipis ke arah Kibum. Melihat senyum itu tentu membuat kedua bibirnya tertarik ke atas. Sungguh, dunia akan lebih baik bagi Kibum apabila Ji Hye selalu tersenyum seperti itu. Ada rasa hangat yang sudah lama hilang dari hati Kibum, betapa ia makin mencintai gadis itu.

“Ji-ya, aku ke mini market ya, ada beberapa hal yang harus ku beli,” pamit Juyeong kemudian hilang di balik pintu.

Mata Kibum sempat lepas dari wajah Ji Hye ketika melihat pergerakan pintu aparte yang tertutup rapat. Matanya kembali menatap Ji Hye lembut, gadis itu tak pernah melepas senyum dari wajahnya, tak terlihat sedikit pun raut marah maupun sedih walau Kibum tahu, pergeseran tulang Ji Hye sangat menguras tenaga. Itu menyakitkan dan Ji Hye mampu menahan semuanya.

Gwencanhayo?”

“Yaa! Oppa lihat aku sekarang! Aku baik-baik saja, jangan mengkhawatirkanku songsaengnim. Eo, terima kasih juga sudah memeriksa waktu itu oppa,” ujar Ji Hye ketika mereka duduk bersebelahan di atas sofa.

Berbeda dengan Ji Hye, Kibum merasa tergagu karena tak tahu ingin bercerita apa-apa. Kibum ke aparte Ji Hye karena pria itu khawatir sekaligus ingin melihat senyum Ji Hye, juga bercerita tapi tak sanggup karena menurutnya Ji Hye pasti akan mengerutkan dahi bila ia menceritakan bagaimana ia melewati harinya kemarin.

“Kenapa memutuskan pulang? Kan lebih baik kau stay di rumah sakit,” kata Kibum membuat Ji Hye bergumam lama.

Aniya, aku hanya bosan di rumah sakit, kalau di rumah aku bisa melakukan bany—”

“Tapi kan berbahaya bila ada apa-apa,”

“Ada Juyeong eonni, saudaraku juga sering menjenguk walau kedua orangtuaku kembali melakukan bisnis di Eropa. Jangan khawatir, bila ada apa-apa pasti aku kembali ke rumah sakit,” jelas Ji Hye sembari tersenyum kecil, mungkin menahan emosi yang diciptakan Kibum barusan.

“Ji-ya, kau bi—”

“Jangan khawatir!” ucap Ji Hye lembut tapi tegas membuat Kibum terdiam sembari menghela napas panjang.

Lagi-lagi ia merasa ada tembok besar yang menghalangi dunianya dan dunia Ji Hye. Keduanya terdiam, memandang kosong ke arah lain tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kibum tak bergeming, dadanya sesak, naik turun, ingin mengucapkan suatu kalimat yang tertahan di tenggorokannya.

Can we back like the past dear?

“Bila aku tak mempunyai jadwal, aku akan sering berkunjung ke si—”

“Ta—”

“Jangan berkilah! Aku mohon Ji-ya! Aku dokter! Aku tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi sesuatu yang berbahaya padamu, ku mohon, kali ini jangan menolak!” Tegas Kibum membuat Ji Hye menatapnya dengan mata berkaca.

Perlahan gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak menjawab dan berulang kali menarik napas panjang. Tubuhnya sedikit bergetar, entah karena takut dengan ketegasan Kibum atau ada sesuatu yang lain yang membuatnya tak mampu menahan rasa sesak pada dadanya.

“Aku harap kau mengerti mengapa aku seperti ini,”

“Cukup, aku tahu tapi tidak perlu oppa katakan,” ucap Ji Hye pelan, gadis itu masih mengalihkan pandangan dari Kibum, tak berani menatap siluet wajah yang dirindukannya sejak kemarin.

Mianhae Ji-ya, bagaimana pun ju—”

Geumanhae, jangan katakan jebal,” pinta Ji Hye sembari menggeleng lemah membuat Kibum meneguk saliva dengan susah payah.

“Gwek Ji Hye, can we back like the past?” sahutnya tercekat, membuat Ji Hye menatapnya tak percaya.

Apa yang dipertahankan Kibum selama beberapa hari ini membuat hatinya lebih sakit. Ia tidak dapat berkilah bila ia tidak dapat pergi seperti ucapannya pada Ji Hye di malam itu. Tentu saja, menurutnya apa yang diimpikan Ji Hye kini sedang terpause, dan bukankah hal itu merupakan celah agar hubungan mereka dapat kembali seperti sediakala?

“Kita bisa kembali seperti semula, tidak lagi mementingkan ego untuk mimpi kita masing-masing, kau tahu tidak? Ada mimpi yang lebih besar yang ingin ku wujudkan selain mimpiku menjadi dokter bedah yang handal, mimpi itu… mimpi kita Ji-ya,”

Kibum menarik napas perlahan.

“Tidak dapatkah kau menghilangkan rasa egoismu itu? Aku… jujur, aku ingin mewujudkan mimpi besar itu. Bahkan, aku bisa menumbangkan gelar yang kini ku kejar hanya untuk kita, dan aku mohon… bisakah kau melakukannya untuk kita? Kebaha—”

“Cukup!”

Kesabaran Ji Hye sudah habis rupanya, bulu matanya basah, tapi tak ada genangan air yang mengalir pada kedua pipinya. Gadis itu murka, sangat murka karena Kibum mengungkit mimpi yang telah ia rencanakan selama ini. Mimpi kita? Itu pasti adalah sesuatu yang salah menurutnya.

“Aku tidak pernah akan berubah, kau keterlaluan Kim Kibum-ssi!” Tegas Ji Hye sembari berdiri tegap, seakan merupakan kode agar Kibum segera beranjak dari posisinya. Berharap pria itu pergi sejauh mungkin karena Ji Hye tak sanggup lagi mendengar kata-katanya.

Bagi Ji Hye, mimpi adalah segalanya. Menjadi seorang yang sukses, seorang penjelajah yang akan berkeliling dunia hingga menulis buku sendiri mengenai dunia. Persetan dengan Kibum yang seakan mengolok mimpinya. Pria itu –benar ia menyayanginya, tapi sungguh, tidak ada akan yang bisa menumbangkan kemauannya untuk meraih mimpinya selama ini.

Sudah banyak orang yang mengolok mimpinya, membuatnya dongkol dan makin terpompa untuk meraih mimpi. Dan kini, saat orang yang harusnya ada di belakangnya untuk memberinya pompaan semangat malah mengkhianatinya. Kibum terlihat sebagai potret pria pengecut. Ji Hye pun tak mengelak, baginya seluruh pria di dunia adalah contoh manusia penuh rasa egois, menginginkan mimpinya terwujud alih-alih mengatakan kita sebagai suatu hal yang sangat penting.

KA!!” Ji Hye memekik, dadanya naik turun karena emosi yang telah mencapai garis batas yang melebihi normal karena Kibum tak bergeming dari tempatnya.

Kibum terpaku, menatap Ji Hye dengan rasa campur aduk. Marah, khawatir, sedih… ia tidak dapat menafsirkan apa yang ia rasakan saat ini. Namun, jujur, ia cukup terpukul dengan keputusan Ji Hye dengan segala keegoisannya. Ia tahu, Ji Hye terlalu terobsesi dengan mimpinya, menyalahkan setiap orang yang selalu mengoloknya, bahkan seperti saat ini. Gadis itu seakan tak peduli dengan mimpi mereka.

“Ji—”

PALLI KA!” Teriak Ji Hye sembari menghapus cairan bening di sudut matanya.

Dengan gontai Kibum berjalan pelan, sebelum mencapai batas luar dunianya dengan Ji Hye, ia sempat berbalik, menatap manik mata Ji Hye dengan lembut sembari berucap, “aku selalu menunggumu Ji Hye, jebal, kau tidak boleh terlalu terobsesi akan sesuatu,”

BRAK!

Ji Hye melempar vas bunga ke arah pintu setelah Kibum hilang di baliknya. Ia benci dengan pria itu, pria yang dengan bodohnya membuatnya jatuh hati dengan segala kekurangan juga kelebihan yang dimilikinya. Bodoh, harusnya Ji Hye tak harus bertemu dengan pria brengsek itu. Pria yang sama saja dengan seluruh pengecut di dunia.

@@@@@

Tubuh Kibum bergetar, matanya basah karena air mata yang terkumpul pada pelupuk mata. Entah, Kibum pun tak tahu mengapa ia dapat berucap seperti itu pada Ji Hye. Mungkin, ya benar, ini kemauan hatinya. Mewujudkan mimpi yang lebih besar, mencapai kebahagiaan bersama Ji Hye di altar. 70%! Angka itu termasuk fantastik, dan kini sudah terbukti. Ia mencintai Ji Hye, sangat mencintai gadis itu.

Kibum masih terpaku, menatap daun pintu aparte Ji Hye dengan mata yang sembab. Hatinya perih, namun tetap berusaha yakin bahwa Ji Hye hanya terlalu sensitif bila mengungkit mimpinya sebagai penjelajah. Gadis itu memang bukan gadis biasa, di dalam otaknya terhimpun ribuan imajiansi, impian dan pemikiran cemerlang mengenai sesuatu.

Obsesi. Kata itu ternyata merusak. Kibum sadar Ji Hye terlalu terobsesi dengan mimpinya, sejak gadis itu berulang kali menceritakan rencana-rencana masa depannya ketika mereka masih berpacaran dulu. Berkeliling dunia, menulis buku, sukses lalu menikah dengan seorang pria yang juga suka melancong.

Her dreams are bluffin!

“Kibum-ssi, eo, waeyo?”

Napas Kibum tercekat, ia pun menceritakan semuanya kepada Juyeong yang pada kedua tangannya tergenggam kantong kresek bertuliskan nama mini market yang telah ia kunjungi beberapa menit lalu. Juyeong menyimak penuh perhatian, gadis itu tidak pernah menghela pembicaraan sampai Kibum menyelesaikan ceritanya.

“Aku akan memastikannya Kibum-ssi, aku akan membantumu sebisaku. Jujur saja, aku tahu kau adalah pria yang sangat baik bagi Ji Hye… mianhae, Ji H—”

Arraseoyo Juyeong-ssi, aku tahu ini berat baginya, tapi sekalian jujur pun tak akan menjadi masalah. Ini yang terbaik buatnya, juga buatku.” Ujar Kibum sembari tersenyum pahit.

Juyeong mengangguk, memperlihatkan wajah penuh rasa sesalnya ke arah Kibum. “Aku masuk kalau begitu, semoga Ji Hye baik-baik saja,”

“Eum, aku pamit Juyeong-ssi,” pamit Kibum kemudian berjalan cepat menuju tangga darurat.

Tidak dengan lift, ia hanya ingin mengulur waktu sembari berpikir. Ia tahu, keputusan inilah yang terbaik, namun Kibum pun harus menyusun rencana baru. Rencana yang lebih matang agar Ji Hye sadar akan obsesinya dan kembali ke dalam pelukannya. Menjalin kasih, lalu meraih mimpi besar mereka.

Marrying her, live together, forever…

To be continue…

Advertisements