Nama        : Goo

Judul        : Us Part [3/3] END

Tag           :  – Kim Kibum, Gwek Ji Hye (OC)

Genre       : Romance

Rating      : G

Length      : Chaptered

Catatan     : Hello… masih adakah yang mau membaca Us? Ini Part terakhir lho xD Btw, bagaimana menurut kalian mereka ini? Harus happy ending atau malah sebaliknya. Kalau menurutku sih seperti yang dibawah ini. 😀 Jangan lupa RCL yah, minta respect dengan memberikan kritik dan saran. –Jangan buat mewek yo-

Takdir tak akan pernah ke mana, saat Kibum sedang berlari kecil di koridor rumah sakit, secara tidak sengaja ia melihat Ji Hye tengah duduk di ruang tunggu. Gadis itu mengenakan piyama yang disediakan rumah sakit kepada pasiennya. Wajahnya pucat, dengan pandangan kosong ke arah lantai, pada tangan kanannya, selang infuse terpasang, makin memperjelas status gadis itu saat ini.

Tanpa memperdulikan teguran seorang suster yang menyuruhnya cepat bergegas ke ruang rapat, Kibum berjalan mendekati Ji Hye lalu duduk di bangku kosong yang tepat berada di sebelah gadis itu. Kibum menarik napas panjang, sudah hampir seminggu ia tak melihat Ji Hye, bahkan kabar pun Kibum tak dapat.

Wae?”

Mata Kibum menelisik wajah Ji Hye yang tiba-tiba terkejut, matanya membulat melihat sosok Kibum –pria yang paling dibencinya kini berada di sebelahnya dengan raut wajah yang tak dapat ditafsirkannya. Gadis itu sempat terdiam, menatap kedua bola mata Kibum penuh rasa rindu yang membuncah lalu kemudian berdiri dari duduknya, beringsut menarik tiang infusnya menuju pintu lift yang terbuka.

Tidak membuang kesempatan, Kibum menahan lengan Ji Hye lalu menggenggamnya hangat, “aku ingin bicara,” titahnya tegas.

Ji Hye menggeleng, berusaha melepas genggaman Kibum namun selalu gagal karena kondisinya yang cukup lemah. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Kibum-ssi, bisakah kau bertingkah manis di depan pasienmu? Kau ingin melukai pasien eo?”

Aniya, kita perlu bicara sekarang!” sahut Kibum sembari menarik Ji Hye dengan paksa menuju taman di luar gedung rumah sakit.

Di taman Ji Hye duduk diam, tubuhnya bergetar mendapat terjangan angin yang menusuk kulit. Entah apa yang ada pada pikiran Kibum, dokter muda itu harusnya tak membawanya –yang kini berstatus sebagai seorang pasien ke luar gedung rumah sakit. Memang, kali ini musim panas, tapi tetap saja udara malam sangat mencekam. Dan yang paling penting, membahayakan seorang pasien.

Jigeum wae?” Tanya Kibum to the point membuat Ji Hye menghela napas panjang.

“Buk—”

“Mengapa mereka tak pernah memberitahukan padaku? Mengapa kau melarang Juyeong memberitahukan kabarmu padaku? WAE!?”

Ji Hye terdiam, membuang muka ke arah jalanan yang sunyi. Bahkan kini ia bisa melihat dua tanduk muncul dari kepala Kibum, pria itu benar-benar murka dan ini bukan pertama kalinya ia melihat Kibum seperti itu.

Terakhir kali ia melihat Kibum seperti itu ketika ia ketahuan pergi mendaki sendirian di sebuah gunung di Pulau Jeju. Pria itu memarahinya, menasehatinya berulang kali lalu terdiam lama hingga akhirnya pria itu memeluknya hangat dan mengucap maaf. Lupakan.

Wae? Semua itu tidak ada urusannya denganmu Kibum-ssi, sudah harus ku bilang berapa kali? Kau bukan siapa-siapa lagi di hidupku, dunia kita berbeda, dan aku tak pernah merasa mengenal seorang pengecut sepertimu,” jelas Ji Hye dengan penekanan pada kata terakhirnya.

Mendengar itu rahang Kibum mengeras, tentu saja ia merasa tersinggung dengan sebutan pengecut dari sang gadis. Malah, menurut Kibum, Ji Hyelah seorang pengecut. Seorang pengecut yang takut memimpikan hal yang lebih besar daripada mimpi kalbunya.

“Tidakkah kau tahu bahwa kau sendiri adalah seorang pengecut? Tidak berani memimpikan hal yang lebih besar hanya karena terpaku pada satu mimpi yang sudah kau pendam sejak lama, apa itu bukan pengecut namanya?”

PLAK!

“Kau gila Kibum-ssi! Kau…” ucapan Ji Hye tergantung, air matanya telah mengalir deras dari kedua bola matanya.

Ji Hye merasa begitu terhina dengan kata-kata Kibum barusan. Dadanya terasa sangat sesak, rasa sesak yang melebihi perasaannya pada malam itu. Tidak ia sangka seorang Kibum bisa berkata seperti itu padanya, mengatainya seorang pengecut karena mimpinya. Tidakkah kini Kibum terlihat seperti manusia jahanam? Pria itu brengsek.

“Ji Hye, sadarlah… Kau perlu tahu selama ini kau hany—”

HAJIMA!” Teriak Ji Hye sesenggukan, matanya yang sembab menatap Kibum tajam, pria yang dicintainya itu benar-benar terlihat seperti monster berkepala dua. Menyebalkan, menyeramkan.

“Kau brengsek!” ucap Ji Hye kemudian.

Sebelum gadis itu masuk ke dalam gedung rumah sakit, lagi-lagi Kibum menahannya, menariknya secara paksa ke dalam pelukannya. Berulang kali Kibum harus menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh pukulan Ji Hye pada dadanya, namun bukan hanya itu, rasa sakit itu lebih banyak muncul dari lubang hatinya yang menganga lebar.

Geumanhae,”

Ji Hye meringis, berusaha lepas dari pelukan intensif Kibum yang makin membuat hatinya tertohok sakit.

Mian, jebal mianhae,” gumam Kibum mengeratkan pelukannya saat Ji Hye tak lagi bergerak memukul dadanya. Pria itu masih bisa mendengar jelas tangisan Ji Hye yang perlahan-lahan hilang bersamaan dengan hilangnya kesadaran gadis itu dalam pelukannya.

@@@@@

“Aku benar-benar tak bisa mengerti arah pikiran anak muda akhir-akhir ini,” Dokter Park menyahut, membuat Kibum tersadar dari lamunannya yang sibuk memikirkan keadaan Ji Hye yang sedang tertidur pulas di dalam kamar.

Kibum tersenyum kecil, ingin tertawa tapi tertahan karena masih memikirkan pertengkarannya setengah jam yang lalu. “Ini tuntutan hati sajangnim,” sahutnya malu.

Dokter Park tergelak, pria itu menepuk-nepuk bahu Kibum dengan hangat, “maaf ya, aku tak bisa mengelak permintaan gadis itu untuk tidak memberitahukanmu mengenai kehadirannya di rumah sakit ini, kau jangan khawatir, ia hanya terlalu banyak berpikir sehingga kondisi tubuhnya melemah.”

“Tidak apa-apa,” ucap Kibum sembari menundukkan kepalanya sopan.

“Ya, kalau begitu aku tinggal yah. Aku sarankan, sebagai seorang pria kau bermalam saja di rumah sakit. Mungkin hatinya akan luluh karena kehadiranmu di pagi hari, jangan lupa untuk meminta maaf atas ucapanmu, seorang gadis adalah manusia yang sangat sensitif, kita tak pernah tahu arah pikiran mereka,” Jelas Dokter Park sebelum pria itu berpamitan pulang kepada Kibum.

Perlahan tapi pasti, Kibum masuk ke dalam kamar inap Ji Hye lalu merebahkan tubuh pada sofa yang tersedia. Pikirannya kembali mengingatkannya pada hari di mana Ji Hye kecelakaan, hampir tiap hari Kibum menginap, mengawasi keadaan Ji Hye seolah Ji Hye baru saja terkena penyakit yang sangat mematikan.

Jaljayo Ji-ya,” gumam Kibum kemudian menutup kedua bola matanya rapat. Menanti hari esok yang ia harapkan lebih baik.

@@@@@

(Recommended song, Eunhae feat Henry – Love that I Need)

Ternyata harapan Kibum semalam hanyalah sebuah angan, sejak gadis itu bangun ia tak pernah berbicara, bahkan hanya sekedar menatapnya pun tidak. Kibum pun tak pernah mencoba untuk mengajak gadis itu berbicara, menurutnya Ji Hye tengah berpikir, dan ia tak ingin mengacaukannya.

Ketika jam makan siang tiba akhirnya Kibum menyerah, pria itu mendekati ranjang Ji Hye, menatap gadis itu dengan intensif, “kau perlu makan, sejak—”

“Aku tak lapar,” Ji Hye memotong ucapannya acuh, matanya tetap terpaku pada layar Teve yang lagi-lagi menampilkan sebuah tayangan perjalanan seorang traveler.

Dahi Kibum mengernyit, perlahan pria itu mematikan teve menggunakan remote control yang berhasil ia sita dari Ji Hye. “Kau harus makan, aku tak bisa membiarkan seorang pasien mati kelaparan.”

Mendengar itu Ji Hye menghembuskan napas gusar, matanya melirik pria itu kesal sembari menggumamkan kalimat sumpah serapah karena ucapan Kibum yang menurutnya tidak konsisten. Bahkan semalam ia pingsan karena pria itu.

“Kali ini aku tak ingin membuatmu pingsan,” ujar Kibum sembari berdehem membuat Ji Hye mendecakkan lidah.

Gadis itu akhirnya tidak menolak, membuat Kibum bergerak cepat mengambil nampan berisi nasi, kimchi dan beberapa makanan yang diperlukan Ji Hye untuk memperbaiki kesehatannya. Kali ini Kibum merasa lebih bersemangat, setidaknya ia memiliki waktu yang banyak untuk meyakinkan Ji Hye akan mimpi mereka.

“Buka mulutmu,”

Ji Hye terdiam, menghela napas lalu membuka mulutnya dengan sukarela. Ia tak bisa berbohong bila cacing di perutnya sudah berdemo sejak beberapa jam yang lalu. Masalahnya dengan Kibum? Soal makanan ia tak bisa menolerir.

Mashitta?” Tanya Kibum membuat Ji Hye meringis, “makanan rumah sakit adalah yang terburuk kau tahu?”

Kibum tersenyum lebar, kali ini Ji Hye memakai banmal padanya. Membuatnya terasa tengah berada di jalur teraman yang pernah dilaluinya sejak beberapa hari terakhir. Gadis itu terus mengunyah pelan, menikmati makan siangnya dalam keheningan.

“Ayo cepat! Buka mulutmu!” Kibum memekik membuat Ji Hye terkekeh pelan.

Babo! Aku masih ingat kejadian semalam arasseo?”

Bukan tegang, Kibum malah ikut terkekeh, “So?”

“Kau menyebalkan,” ucap Ji Hye lalu kembali mengunyah. Gadis itu menyembunyikan senyumnya yang sempat tercipta mengalihkan perhatian pada makanan yang dikunyahnya. Entahlah, ia merasa tidak mood untuk bersilat lidah.

Mianhae,”

Gerakan gigi Ji Hye terhenti, gadis itu menatap ke arah layar teve kosong. Seakan memikirkan apa yang akan dikatakan Kibum selanjutnya. Sebaliknya, Kibum menatap Ji Hye intens, menunggu makanan yang dikunyah gadis itu tandas.

“Tadi malam aku hanya terlalu emosi, kau tahu kan…” ucapan Kibum menggantung, namun Ji Hye mengangguk mengerti, membuka mulutnya saat Kibum kembali menyuapinya sesendok nasi dan kimchi.

Sebenarnya Ji Hye agak gusar, tak begitu siap dengan perbincangan mereka kali ini. Ia tidak suka berdebat, tidak juga bersilat lidah. Kejadian beberapa minggu terakhir hanyalah sebuah ketidakpastian perasaan Ji Hye akan sikap Kibum yang membuatnya muak. Mimpi, Ji Hye masih yakin untuk meraihnya.

“Ji-ya,”

Ji Hye berdehem, “mwoga?”

“Kau mau mimpimu terwujud tidak?”

Pertanyaan bodoh. Ji Hye menukas, “tentu saja, aku tak akan pernah melepasnya,”

“Kalau begitu, menikahlah denganku,”

Mata Ji Hye berkedip beberapa kali, beralih menatap Kibum dengan mata melebar. Tidak pernah berpikir pria itu melamarnya secapat ini, bahkan di saat keduanya masih terperangkap di dalam sebuah pertengkaran rumit. Hal itu seperti danau di padang tandus. Unbelieve.

“Maksudmu?”

“Iya, menikahlah denganku… dengan begitu aku bisa membawamu berkeliling dunia, kau mau?”

Lagi-lagi Ji Hye melongo, gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dibandingkan mendapat lamaran dengan iming-iming yang menguntungkan, Ji Hye lebih suka pria itu menyerah, meminta maaf padanya dengan sangat sopan lalu melamarnya setelah mimpinya terwujud.

Bohong bila Ji Hye tak lagi mencintai pria itu, bohong bila Ji Hye tak ingin Kibum melamarnya seperti saat ini. Namun, apa yang dikatakan Kibum terlalu cepat, bahkan di saat yang tak tepat. Bisakah Kibum mengatakannya beberapa tahun lagi?

“Ji-ya, kau mau tidak?” Tanya Kibum sembari menyuapinya lagi.

Ji Hye masih terdiam, bengong sendiri sambil menyembunyikan kebingungan yang melanda otaknya. Ji Hye mau, tapi tidak sekarang.

Melihat respon Ji Hye yang tak berarti membuat Kibum gemas, pria itu kemudian menaruh nampan makan siang ke atas meja di dekatnya lalu meraih wajah Ji Hye dan mengecup bibirnya lembut.

Nawa gyeolhonhaejullae?” tanya Kibum sembari menatap Ji Hye setelah melepas kecupan lembutnya, membuat gadis itu makin gusar akibat dentuman jantungnya yang terlalu kencang.

Gadis itu membuang muka, melepas tangan Kibum dari wajahnya, “wae?” sahutnya tercekat.

Kibum bingung, dadanya bergerumuh. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, merasa takut akan Ji Hye yang mungkin menolaknya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia harus yakin dan juga harus meyakinkan sang gadis agar berkata Ya akan lamaran yang telah dipikirkannya sejak beberapa hari yang lalu.

“Aku mencintaimu Ji-ya,”

“Bukan, bukan itu tapi… tapi mengapa kau melamarku secepat ini?”

Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari perut Kibum saat Ji Hye bertanya seperti itu, ia menarik napas pelan, mengganggam kedua tangan Ji Hye dengan hangat tanpa penolakan berarti.

“Karena aku tidak ingin kau lepas dariku, aku ingin kau meraih seluruh mimpimu tapi dengan diriku yang selalu ada di sampingmu, apa itu hal yang cukup berat? Kali ini kau hanya perlu menggabungkan dua mimpimu sekaligus,”

Mwo? Dua mimpi?” Ji Hye terperangah, menatap Kibum bingung.

“Em, mimpimu sebagai penjelajah yang kan berkeliling dunia dan mimpi kita,”

Mimpi kita…

Ji Hye menatap Kibum dengan mata menyipit, mencari kebohongan dari mata itu namun seteliti apapun ia mencarinya, ia malah mendapatkan tatapan lembut yang selama ini dirindukannya. Rasa bahagianya membuncah di balik perasaannya yang masih bimbang.

“Yaa! Iya atau tidak?” Sahut Kibum keki sembari menarik Ji Hye ke dalam pelukannya.

“Aku pikir dulu,” ujar Ji Hye membalas pelukan Kibum dengan erat.

Sudah lama rasanya ia tidak menikmati wangi parfum Kibum sedekat ini, sudah lama pula ia tidak merasa kehangatan seperti yang kini ia rasakan. Apalagi dengan tangan Kibum yang mulai mengusap puncak kepalanya. Salah satu hal yang ia favoritkan selama hidupnya.

 “Cukup jawab iya atau tidak, eo?” pinta Kibum sambil melepas pelukannya dan menjepit hidung Ji Hye dengan gemas.

“Aish! Appo!! Iya!”

Kibum terkekeh saat Ji Hye meneriakkan kata Iya, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sungguh, rasanya ia tidak pernah ingin melepas pelukannya, tak ingin Ji Hye pergi lagi dari hidupnya. Tidak lagi karena kini hati Ji Hye sudah menjadi miliknya, selamanya.

END

Advertisements