Nama        : Goo

Judul         : One Day

Tag           :

–                  Lee Donghae

–                  Lee Hyewon (OC)

–                  Cho Kyuhyun

–                  Shin Yoong (OC)

–                  Park Jung Soo

–                  Song Han Ji (OC)

Genre        : Romance

Rating        : G

Length       : Oneshot

 

Catatan:

Enjoy Your beautiful Lovely Day!  Repost dari Sujuff 🙂 Don’t forget to RCL! Jangan jadi silent reader loh ya!HARAM :p

Setiap manusia memiliki waktu 24 jam berharga setiap satu hari. Pergunakanlah dengan bijak, karena di dalamnya ada sebuah kunci. Kunci itu… kunci kebahagiaan.

Let’s Dating!

Hyewon terduduk di sebuah bangku yang tersedia di taman kampusnya. Taman yang terletak di belakang gedung kampusnya itu cukup sepi, membuat Hyewon merasa nyaman untuk berlama-lama di tempat itu. Bahkan, ia pernah menghabiskan setengah harinya berdiam diri di sana sembari mendengarkan musik lewat iphone berwarna putih favoritnya.

Namun kali ini Hyewon tidak sedang mendengarkan musik, tepat di sebelahnya berdiri tegap sebuah gitar bermerek yang terlihat cukup mengkilap. Entah apa yang ada di otak gadis itu, beberapa jam yang lalu ia berjalan di kawasan Itaewon, melihat sebuah gitar di salah satu etalase toko musik dan membelinya tanpa berpikir panjang.

Mata Hyewon terus menatap tubuh sexy sang gitar, kali ini ia berpikir panjang, mencari cara untuk belajar bermain gitar tanpa perlu merasa menyesal karena telah menghabiskan setengah uang di dompetnya hanya untuk membeli gitar itu. Beberapa kali Hyewon terus merutuk karena tidak mendapatkan hasil terbaik.

Pandangan gadis itu melebar, mengamati taman kecil yang dipijakinya kini dengan intens, mencari mahasiswa jurusan musik yang mungkin saja ingin diganggu untuk membantunya belajar memainkan gitar. Namun nihil, hanya ada dirinya di taman itu. Hyewon mendesah pelan, bagaimana mahasiswa musik berada di taman itu? Departemen mereka berada cukup jauh dari tempat yang dipijakinya kini, memungkinkan mereka untuk tidak pernah tahu keberadaannya.

Dengan ragu Hyewon meraih gitarnya, memetik jalinan senarnya dengan perasaan tidak menentu. Beberapa kali ia pernah melihat seorang gitaris bermain gitar saat menonton sebuah festival musim panas di kampusnya. Tanpa tahu kunci maupun nada, ia terus memetik senar, mencari bunyi yang enak didengar sembari menutup matanya untuk meluruskan perasaan gugupnya.

“Kau tahu bermain gitar atau tidak sih?”

Mata Hyewon terbuka lebar, kepalanya terdongak melihat seorang pria bermata seperti anak anjing menatapnya dengan satu alis terangkat, juga dengan jari telunjuknya yang mengarah pada tubuh sexy gitar miliknya. Hyewon menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana pria itu bisa terlihat tampan dengan tatapan sendu?

Animnida, aku tidak tahu,” sahut Hyewon membuat pria itu mengangguk mengerti, seperti seorang dosen yang merasa puas dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak didiknya.

Pria itu bergumam lalu terduduk di samping Hyewon, menelusuri wajah gadis di sebelahnya dengan intens sembari mengulum senyum. Lagi-lagi Hyewon harus meneguk air liurnya dengan susah payah, entah mengapa senyum pria itu membuat kerja jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya, bahkan ia dapat merasakan oksigen di sekitarnya menipis akibat tatapan intens pria di sampingnya itu.

Wae? Ada apa dengan wajahku?” Tanya Hyewon setelah sadar dengan tingkahnya yang terlihat seperti orang bodoh.

Ani, namaku Lee Donghae. Mahasiswa jurusan music director,” ujar pria itu sembari menjulurkan tangannya di hadapan Hyewon.

Mendengar itu Hyewon tersenyum kecil, membalas juluran tangan pria berkaos hitam bertuliskan keep calm yang mengaku bernama Donghae itu dengan hangat. “Lee Hyewon imnida, jurusan komunikasi.”

“Mau ku ajari main gitar Hyewon-ssi?” Tanya Donghae cepat setelah tautan tangan mereka terlepas, sempat membuat pria itu menghela napas kecewa.

Hyewon mengangguk, mata sipitnya makin tak terlihat akibat senyuman yang tercipta di wajahnya. Membuat gadis yang mengenakan rok panjang berwarna hijau itu terlihat makin memukau di mata Donghae. “Benarkah? Aku sangat senang bila kau mau mengajariku Donghae-ssi!”

Hati Hyewon sempat bersorak senang saat Donghae menawari ajakan menguntungkan tersebut. Mata gadis itu memang menyipit, namun ada binar kebahagiaan di sana, binar yang bisa saja membuat orang lain terpukau dan ikut tersenyum melihatnya. Memang benar fakta yang menyatakan bahwa bahagia itu sederhana. Buktinya, hanya dengan tawaran sesederhana itu dapat membuat Hyewon bahagia.

“Eo, tapi…”

“Tapi?”

Mata Hyewon tak berkedip menunggu lanjutan kata Donghae yang menyelipkan kata tapi yang membuatnya sedikit khawatir. Takut saja apabila Donghae menyertakan permintaan aneh sebagai ‘bayaran’ untuk menjadi guru bermain gitarnya. Apalagi bila permintaan itu soal isi dompet yang sisa setengah, bisa mati kelaparan seorang Hyewon.

“Besok kita kencan!”

Ada jeda yang cukup lama saat Donghae berseru mengungkapkan permintaannya. Gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu menatapnya kosong, melongo dengan permintaan Donghae yang memberikan interupsi berbahaya di otaknya. Ini bukan pertama kalinya seorang pria memintanya berkencan. Namun kali ini, Donghae! pria yang baru dikenalnya memintanya berkencan!?

Bukankah ini terlalu cepat?

Waeyo? Tidak mau Hyewon-ssi?” Tanya Donghae membuat Hyewon tersadar dari lamunannya.

Aniyeyo, tapi… bukankah permintaanmu terlalu berlebihan?”

Donghae terkekeh, menggelengkan kepalanya dengan tegas lalu meraih gitar dari pelukan Hyewon dan memetik senarnya dengan merdu. “Kita mulai dengan kunci G ya?”

Hyewon terkesiap, “permintaanmu serius? Besok kita kencan?” Tanyanya lagi-lagi membuat Donghae terkekeh. Pria itu bahkan memetik senar gitar, membentuk beberapa lantunan melodi yang terdengar sangat menarik di telinga Hyewon. “Apa anda mau menyia-nyiakan hari ini nona Hyewon-ssi?”

Aniyeyo! Ani… ayo cepat ajarkan aku kunci G!” Seru Hyewon semangat, menatap tangan kiri Donghae yang menekan tiga senar pada kolom berbeda.

Gadis itu kembali terhanyut, menikmati setiap detiknya untuk belajar bermain gitar secara kilat pada sosok Lee Donghae yang baru dikenalnya. Tidak peduli dengan ajakan kencan yang diminta pria itu, toh Lee Donghae terlihat tidak terlalu buruk sebagai seorang pria yang dapat dimasukkan ke dalam list tampan di benaknya. Kini kembali lagi, menikmati satu hari ajaib bersama seorang asing yang menarik.

@@@@@

One Man, One Important Day…

Shin Yoong mematut dirinya di depan kaca, melihat tatanan dress berwarna peach favoritnya yang terpasang indah di tubuhnya puas. Yoong tahu, wajahnya memang tak banyak dipolesi oleh make up, tapi dengan lipgloss apel dan sedikit bedak membuat wajahnya terlihat cukup menarik di bawah temaram lampu ruang makan rumah keluarganya untuk beberapa waktu ke depan.

Hari ini merupakan salah satu hari penting yang Yoong masukkan ke dalam list schedule diary cokelatnya. Sebuah list yang jarang ia isi karena menurutnya, harinya tak begitu istimewa dengan segala pekerjaan sibuk sebagai seorang manager perusahaan yang dibangun oleh ayahnya sendiri. Perusahaan yang dinamakan sebagai Shin corp itu memang cukup sibuk karena memiliki banyak saham dan juga proyek di seputaran Negeri Ginseng.

Hari ini penting, sangat penting hingga dapat menentukan masa depannya kelak, juga menentukan masa depan perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang pendidikan. Mengingat hal ini terkadang membuatnya gugup, sepertinya ancaman seorang pria botak bermarga Shin beberapa waktu lalu sangat mencekamnya.

“Terima atau tidak, pria itu juga akan menjadi pasanganmu! Kedua keluarga sudah memutuskan dengan bulat! Tidak ada tapi atau apalah itu, arasseo?!”

Terkadang Yoon berpikir bagaimana kondisi pria yang akan ditunangkannya itu, apakah pria itu berwajah jelek atau mungkin memiliki sifat yang sangat buruk hingga dapat membahayakan nyawanya. Namun, pemikiran itu selalu saja hilang tergantikan oleh wajah kedua orangtuanya yang pastinya tidak akan pernah ingin membahayakan anaknya sendiri.

“Sudah selesai Yoongiya? Khajja beberapa menit lagi mereka akan datang!” Sahut ibunya dari balik pintu lalu hilang tergantikan oleh bunyi derap kaki pada lantai kayu rumahnya yang sederhana itu.

Yoong menghela napas, kembali mematut dirinya di depan kaca. Setelah puas, ia pun keluar dari ruang pribadinya itu menuju sebuah rungan besar berlantaikan kayu dengan berbagai perabotan sederhana di sekelilingnya. Ruang makan itu terlihat ramai dengan berbagai kudapan berat di atas meja. Dua orang wanita berwajah cukup tua tengah sibuk menyiapkan segalanya, salah satunya dari wanita itu adalah ibunya sendiri.

Khajja, aku saja yang angkat ahjumma,” pinta Yoong yang baru saja ingin mengangkat beberapa gelas berisi air putih yang digenggam oleh seorang wanita lainnya.

Wanita itu adalah Nam ahjumma, seorang istri dari salah satu supir Ayahnya. Keluarga Nam memang telah menjadi salah satu keluarga terdekat yang dimiliki keluarga Shin. Mereka orang-orang sederhana yang berdedikasi tinggi hingga rela bekerja bergitu lama dengan keluarganya. Yoong menyayangi mereka, begitu pula dengan sebaliknya. Seperti ada benang merah di antara kedua keluarga.

Aniya! Aniya! Kau harus duduk di ruang tamu bersama appa! Jangan merusak tatanan bajumu sayang!” Seru ibunya membuat Yoong terkekeh kecil.

Algeseumnida eommonim, aku di sini saja,” kata Yoong sembari duduk di salah satu kursi menonton pergerakan ibunya yang sangat cekatan menyiapkan tatanan piring.

Yoong merasa gugup seketika, selama 24 tahunnya ia memang jarang ke dapur dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga. Sepertinya ia harus belajar kilat bersama sang Ibu dan Nam ahjumma.

Tak beberapa lama kemudian interupsi Ayahnya memaksa gadis berdress peach juga ibunya itu beranjak dari ruang makan, melangkah dengan perasaan gugup ke ruang tamu yang mulai terlihat ramai dengan tiga orang asing berpakaian rapi yang sibuk tersenyum ke arah orangtuanya. Yoon sempat memanjangkan leher, menatap satu per satu para tamu, berharap seorang di antaranya berwajah tampan dan meyakinkan.

“Ini putriku, Shin Yoong,” ujar Ayahnya sembari merangkul Yoong hangat.

Yoong membungkukkan badannya sopan, “Shin Yoong imnida,” ujarnya membuat ketiga orang di depannya sempat terpana. Gadis itu tersenyum penuh, merasa puas dengan sikapnya yang tak diragukan lagi. Ya, setidaknya kesopanan itu nomor satu daripada kecantikan bukan?

“Dia Cho Kyuhyun, anaknya memang tak terlalu sopan tapi dia baik sebagai seorang pria,” ujar seorang pria yang Yoong yakini sebagai tuan Cho, calon mertuanya.

Lalu tatapan Yoong berhenti pada seorang pria berkulit putih pucat yang tersenyum lebar ke arahnya. Pria itu cukup tampan, sempat membuat Yoong gelagapan karena mendapatkan tatapan datar pria itu beberapa detik yang lalu. Sebuah perubahan sikap yang mengejutkan. Hal ini membuat kadar penasaran di otak Yoong memuncak, ia ingin tahu seperti apa pria itu sebenarnya. “Cho Kyuhyun imnida,”

Khajja, kita makan terlebih dahulu. Istriku telah memasak, tidak baik dibiarkan dingin,” ujar Ayah Yoong setelah basa-basi yang cukup lama, pria botak itu berjalan menuju ruang tamu sembari merangkul erat tuan Cho. Sepertinya ada yang mereka bicarakan hingga terkadang mereka tertawa berdua.

Yoong sendiri berjalan di belakang, ditemani pria bernama Kyuhyun di sebelahnya. Seperti yang ia duga, kedua orangtuanya pasti akan mengambil cara untuk membiarkan ia dan calon tunangannya itu dapat berduaan hingga menimbulkan keheningan yang menyebalkan. Yoong sendiri memang tidak cukup banyak berbicara, tetapi keheningan yang ditimbulkan oleh dua orang yang baru saling kenal adalah salah satu hal yang dibencinya.

“Dressmu lumayan sebagai calon tunanganku,”

Kyuhyun berbisik sembari menarik kursi Yoong. Yoong sempat terkejut, namun dengan cepat gadis itu mengkontrol wajahnya. Hanya senyuman tipis dan deheman yang ia berikan sebagai balasan bisikan pria itu. Ketika Kyuhyun berbisik, bulu kuduknya meremang, jantungnya pun berdetak lebih cepat karena merasakan deru napas Kyuhyun pada tengkuknya, sungguh hal yang memalukan.

Aigo, uri Kyuhyunie sepertinya baik sekali!” Seru Ibu Cho senang membuat Kyuhyun tersenyum penuh dengan hasil yang diperbuatnya.

“Kau harus berhati-hati Yoong-ah, dia tak seperti yang kau bayangkan,” sahut tuan Cho membuat Yoong tersenyum tipis, sedikit bingung dengan sahutan pria berkacamata yang terkesan menjelekkan anaknya sendiri. Ia melirik Kyuhyun lewat ekor matanya, pria itu menatap Ayahnya tajam lalu kembali mengalihkannya ke arah lain.

Apa seperti ini hubungan antara Ayah dan anak?

Setelah itu suara dentingan sendok dan sumpit yang bergantian berbunyi di ruang makan, juga obrolan hangat di antara kedua keluarga. Sepertinya kedua keluarga itu mulai merasa dekat, hingga tak jarang timbul suara tawa atau decak kagum karena cerita yang mereka obrolkan.

“Yoongiya, bawa Kyuhyun ke taman belakang. Bukankah kalian harus lebih saling mengenal sebelum pertunangan kalian dilaksanakan? Khajja!” Sahut ibunya setelah mereka selesai makan, Yoong sempat melongo lalu kembali sadar akibat deheman Kyuhyun yang berada tepat di sebelahnya.

Ne,” ucap Yoong pelan sembari membungkuk kemudian berjalan menuju taman belakang yang tepat berada di samping ruang makan, berbatasan dengan sebuah pintu kaca besar. Di belakangnya, Kyuhyun bersidekap, mengekori Yoong dengan perasaan takjub.

“Jadi bagaimana? Mau memberontak atau membuatku jatuh cinta padamu?”

Yoong baru saja menjatuhkan pantatnya pada kursi taman panjang yang berada tepat di sebelah kolam ikan melongo, menatap kedua bola mata Kyuhyun dengan perasaan campur aduk. Sedangkan pria itu mengulum senyum, mendekatkan wajahnya pada Yoong yang masih saja mencerna kata-katanya barusan. Sungguh jarak yang sangat dekat, hingga pria itu dapat melihat bola mata Yoong yang bersinar indah. “M.. mwo? Apa aku salah dengar?”

Aniya, Yoongiya~” ujar pria itu menatapnya intens, mengikuti cara panggil kedua orangtua Yoong kepada sang anak.

Jantung Yoon mulai berdetak lebih cepat lagi, kali ini membuat darah di sekitar wajahnya mengalir lebih banyak. Gadis itu merona, lalu mengalihkan tatapannya ke arah kolam. “Pabonikka? Ayahmu memang benar, kau tidak sesopan yang aku pikirkan.”

“Jadi bagaimana Yoongiya? Jangan mengalihkan topik, kita harus menentukannya sekarang juga, iya kan?” Ujar Kyuhyun membuat Yoon memutar bola matanya menahan emosi yang mulai muncul.

Entahlah, tapi bila berbicara mengenai topik itu secara empat mata sungguh menyebalkan. Ia sedang tidak ingin mengobrol masalah petunangan, toh nantinya mereka akan tetap bersama. Lagipula, Yoong lebih memilih option untuk mengenal Kyuhyun lebih jauh daripada ikut bersilat lidah dengan penawaran pria itu barusan.

Ada jeda yang cukup lama hingga Kyuhyun terduduk di samping Yoong, ikut menatap ke arah kolam yang memantulkan sinar rembulan musim panas. “Kenapa diam saja? Kau keberatan?”

Yoong mengangguk, akhirnya ia menyerah karena tidak bisa mengalihkan topik. Pria itu seakan memaksanya untuk mengobrolkan hal menyebalkan itu. Ya, walau bagaimana pun ia akan mengikuti permainan Kyuhyun. Ikut memberikan option sebagai jalan yang akan mereka pilih untuk melancarkan pertunangan mereka tanpa ada rasa sesal maupun kecewa.

“Kyuhyunie, bagaimana kalau kau yang jatuh cinta padaku? Sepertinya kau tertarik padaku, iya kan?”

Kyuhyun tergelak, melirik Yoong dari ekor matanya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang mengagumkan. Pria itu hanya menghela napas, menyandarkan tubuhnya pada kursi panjang itu tanpa ingin menjawab pernyataan Yoong.

Sedangkan itu, Yoong sendiri masih asyik menatap sinar rembulan tidak begitu peduli dengan tingkah Kyuhyun yang mendiaminya. Cukuplah sekali untuk bersilat lidah dengan tingkat kepedan itu.

“Malam ini kau terlalu menggoda Yoongiya, jangan salahkan aku bila tertarik padamu,” kata Kyuhyun kemudian.

Mata Yoong membulat, ia lalu mendecakkan lidah merasa sedikit keki dengan perkataan Kyuhyun yang seakan menanggapinya seperti gadis murahan. “Mianhae, jangan salahkan aku karena harus menghadiri pertemuan penting ini dengan dress favoritku,”

Geuraeyo?”

Yoong mengangguk, mengalihkan tatapan ke arah Kyuhyun yang telah menatapnya intens. Perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Yoong hingga gadis itu harus memundurkan tubuhnya, dan pada akhirnya ia terhimpit di antara sudut kursi dan tubuh Kyuhyun yang berjarak cukup dekat. “M… mw…”

“Bila kita sudah bertunangan jangan sampai kau gunakan dress ini di depan orang banyak Yoongiya, yaksok?” Bisik Kyuhyun tepat di telinga Yoong sembari menyembunyikan senyum jahilnya.

Michin, memangnya kenapa?” Tanya Yoong mendorong bahu Kyuhyun pelan agar menjauh darinya. Dengan begitu, Yoong dapat menetralkan degupan jantung serta aliran darah di wajahnya. Ia cukup gugup kali ini.

Kyuhyun terkekeh, “karena aku tidak ingin orang lain tertarik padamu, dasar bodoh!”

Pria itu makin tergelak melihat Yoong yang menatapnya garang. Walau seperti itu, entah mengapa Yoong merasa senang dengan seluruh ucapan pria itu. Benar-benar satu hari yang ajaib, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada seorang pria yang baru dikenalnya? Michin!

@@@@@

Just With You

Jungsoo tersenyum penuh, mata pria itu menyipit membentuk sebuah eyes smile hingga membuat dua dimple muncul di setiap sisi bibirnya. Langit cukup cerah pagi itu, membuat cahaya matahari terlihat mengagumkan dari tempat yang dipijakinya kini. Sungguh hari yang indah untuk dilewati sepasang kekasih.

Begitu pula dengan dirinya. Tidak ingin menyia-nyiakan hari cerah itu, sejak kemarin ia telah bersiap membungkus peralatan makan serta bekal berisi kimbap dan kimchi, tak lupa sebotol wine dan dua gelas berkaki indah. Semuanya ia siapkan demi seorang gadis. Gadis yang telah menyandang gelar sebagai kekasih sejak beberapa tahun yang lalu. Tak lupa pula, sebuket bunga mawar merah yang ia beli di dekat stasiun tempat ia berangkat bekerja.

Jungsoo ingat benar apa yang menjadi bunga favorit gadis itu, juga wine yang disukainya. Ia tidak ingin membuat gadisnya kecewa karena tidak membawakan kedua hal itu pada kencan mereka kali ini. Tidak, tidak untuk kesekian kalinya.

Untuk kencan pertama memang patut dimaklumi, mereka baru saja berkenalan hingga tidak begitu tahu mengenai diri masing-masing, sehingga Jungsoo tak membawa mawar juga tidak mengajak gadis itu meminum wine di restoran favorit mereka. Dan untuk beberapa kencan lainnya, itu murni keadaan waktu dan juga tempat. Mengingat hal itu selalu saja membuat kedua pipi Jungsoo merona.

Kini, dirinya berpijak pada rumput hijau di sebuah bukit yang terletak jauh dari pusat Seoul untuk berkencan dengan sang gadis. Sejak beberapa bulan yang lalu gadisnya menetap di bukit itu, ketika Jungsoo bertanya alasannya. Gadis itu hanya menjawab, “…ingin merasa damai oppa,”

Alasan itu terlalu kuat, mengingat salah satu sifat gadis itu yang tak terlalu suka kebisingan. Jungsoo tidak bisa berkutik dan hanya mengangguk pasrah, ia pun selalu berjanji untuk melaksanakan kencan mereka di bukit itu. Meski pada awalnya sedikit aneh, lama-kelamaan Jungsoo pun merasa nyaman, bahkan terkadang ia pun menghabiskan waktunya di sana hanya untuk melihat pemandangan kota bersama sang gadis.

Pelan-pelan Jungsoo berjalan menghampiri tempat sang gadis yang terletak di salah satu sisi bukit. Pria itu terduduk manis di atas rerumputan, mulai membuka bekal serta menaruh buket bunga di depan susunan bekalnya. “Aku datang Ji-ya,” sapa Jungsoo dengan senyum lebarnya.

Tak ada sahutan, hanya ada suara burung yang berkicau tengah berdiri di atas ranting pohon menyanyikan sebuah melodi indah yang abstrak. Walau seperti itu Jungsoo tetap tersenyum, bersiap untuk melanjutkan kata-katanya yang berisi cerita mengenai kehidupan di Seoul yang makin modern. Walau tak bisa meyakinkan sang gadis untuk kembali ke Seoul, hal ini cukup membuat Jungsoo percaya bahwa gadis itu senang dengan cerita yang disuguhkannya.

“Ji-ya, kau tahu? Saat ini turis makin banyak saja berkunjung ke negara kita. Bila saja kau masih tetap tinggal di sana, pasti kau akan sibuk karena mengurusi mereka, dasar guide workaholic,” cerita Jungsoo tak lupa mengejek sang gadis di akhir kalimatnya.

Dulu, sebelum memutuskan pindah dari Seoul gadis itu adalah seorang guide dari sebuah perusahaan travel di Seoul. Bila sudah bekerja, gadis itu akan sangat sibuk dan terkadang membuat Jungsoo marah karena bila sudah sibuk, kesehatan gadis itu akan sangat menurun. Tetapi sekarang, rasanya Jungsoo merindukan hal itu. Merindukan seluruh sikap protektifnya kepada sang gadis.

“Ji-ya, boyband favoritmu makin terkenal saja. Bila kau masih di Seoul pasti kau akan memarahiku bila terus menjelek-jelekkan mereka hahaha!”

Jungsoo masih tergelak mengingat pertengkaran kecil mereka yang biasanya didasari oleh kebiasaan Jungsoo yang menjelek-jelekkan boyband favorit gadisnya hingga gadis itu murka dan mogok bicara padanya selama seharian. Dan pada akhirnya, gadisnya sendiri yang mulai berbicara padanya, tak lupa dengan untaian kata maaf dari bibir Jungsoo kepada sang gadis. Ia juga merindukan hal itu.

Setelah itu Jungsoo kembali bercerita, membiarkan bekal mereka mendingin akibat terpaan angin yang bermain di atas bukit. Tampaknya pria itu tidak peduli, dan terus becerita mencurahkan isi hatinya kepada sang gadis.

“Ji-ya… oppa kalkae,” pamit Jungsoo kemudian setelah melihat jarum pendek yang menunjuk pada angka 11. Sudah hampir dua jam ia berkencan dengan sang gadis, rasanya sudah sangat memuaskan menceritakan seluruh kisahnya kepada sang gadis, membuat sedikit masalahnya terbang bebas di angkasa.

Jungsoo kemudian sibuk membereskan bekal, wine dan juga beberapa peralatan lain. Setelah semuanya bersih, pria itu mengalihkan pandangan ke arah langit lalu kembali ke fokusnya sejak semula. Pria itu menyentuh sebuah papan bertuliskan nama kekasihnya, mengelus papan itu kemudian beralih menyentuh gundukan tanah di bawahnya. Jungsoo yakin, di atas sana gadisnya tengah melihatnya dengan senyum yang merekah indah.

Ya, gadisnya. Song Han Ji, gadis itu meninggal sejak beberapa bulan yang lalu karena mengidap kanker otak. Bila mengingat hari di mana gadisnya meninggal, Jungsoo tak dapat berkutik. Masih segar di ingatannya bagaimana para dokter dan suster menyuruhnya tenang di depan ruang ICU. Pria itu terus berteriak, meneriakkan nama Han Ji untuk terus bertahan. Takut, Jungsoo tak berani mengingat hal selanjutnya.

“Ji-ya, aku akan datang dua minggu lagi. Semoga kau bahagia eo? Aku berjanji akan menjaga kesehatanku, naega kalkae! Annyeong Ji-ya,” pamit Jungsoo kemudian melangkah menjauh dari makam Han Ji.

Pria itu tidak dapat membendung air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya. Satu per satu butiran cairan bening itu keluar, membasahi wajah tampannya. Dan ia tak ingin Han Ji melihatnya seperti itu. Menurut Han Ji, ia hanyalah seorang pengecut bila terus menangisi kesedihan dunia. Hidup hanya sekali, ia tak boleh menjadi seorang pengecut. Itulah salah satu nasihat Han Ji yang ia pegang sebagai pedoman hidup.

Dengan perasaan yang mulai tegar, pria itu masuk ke dalam mobil sport putihnya setelah memasukkan peralatan bekalnya ke dalam bagasi. Jungsoo mematut dirinya pada kaca spion, berusaha untuk tersenyum sembari menghapus sisa air mata yang mengalir di pipinya. Tidak terasa ini sudah 4 bulan setelah kematian gadisnya, senyumnya pun memang masih belum merekah selebar biasanya. Namun Jungsoo yakin, senyumnya akan kembali dalam waktu dekat.

“Gomawo Ji-ya,” gumam Jungsoo kemudian menancap gas menuju pusat Kota Seoul dan kembali melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Gomawo Ji-ya, Saranghanda…

END

Advertisements