Nama    : Goo
Judul     : The Soul
Cast       : Lee Donghae and the soul
Genre    : Romance, Mystery, Fantasy
Length  : Oneshot
Rating   : PG-13
Catatan: karena jaringan yang kurang bagus akhir-akhir ini, terpaksa aku harus publish lewat hape dengan cerita pendek yang dibuat super cepat. Cerita lepas dari I Beg You To Be Mine so sorry, lagi-lagi latepost. As always, Minta RCL, jangan jadi silent reader ya 🙂 (Kalau ada mood, cerita ini bisa saja dilanjutin, tapi modenya tetep cerita lepas :p)

Dunia itu indah, pikirnya. Tidak demikian denganku. Dunia itu sebuah tempat yang fana, tidak jauh berbeda dengan internet. Kebohongan merajalela, ketidakadilan terus bermain, dan topeng pun terus terpasang di wajah setiap manusia layaknya pemain opera China.

“Hei! Kau tahu mengapa aku masih berada di sini?” tanyanya mengusik lamunanku.

Aku berbalik ke arahnya, melihat siluet putih yang lebih mirip seperti kabut itu dengan takjub. Dia cantik, secantik bidadari atau mungkin malaikat yang bersemayam di atas langit. Dia tersenyum, senyum tipis yang selalu terlihat menawan akhir-akhir ini. Oh! Atau mungkin aku baru sadar akan kecantikannya.

“Kau mendengarku?” tanyanya yang ku balas dengan gelengan kepala. Ya, aku memang tak mendengar alasannya untuk tetap berada di dunia fana ini.

Dia mendesah, layaknya seorang gadis yang tengah kesal karena ulah pria jahil. Ya, ia wanita. Wanita berdress putih pucat yang tak pernah mengganti pakaiannya selama seminggu terakhir sejak aku bertemu dengannya. Aku pun tak tahu, apakah ia pernah mengganti pakaiannya atau tidak.

“Aku ingin mencari orang yang telah membunuhku.”

Crap. Untaian kalimat itu membuatku  sadar akan lamunan yang hampir membuatku lupa akan dunia nyata. Dia, wanita yang ku sadari berwajah seperti bidadari itu harusnya tidak berada di dunia ini. Wanita berdress putih pucat itu bukanlah seorang manusia yang mungkin akan ku idam-idamkan setiap malamnya. Dia hanyalah roh gentayangan yang belum menyelesaikan masalahnya di dunia.

Tanpa menanggapi ucapannya, aku bergegas keluar apartemen dengan baju kaos tipis dan celana selutut, tak begitu peduli dengan udara dingin yang mencekam. Aku tidak boleh menanggapinya, aku tidak boleh terbuai dengan pintanya yang selalu membuat hatiku mencelos. Aku harus menghilang dari jarak pandangnya, atau mungkin menghilangkannya dari jarak pandangku.

“Lee Donghae!! Bantu aku, jebal!!” Ku tutupi kedua telingaku dengan headseat yang tersambung dengan iphone. Ku nyalakan musik cadas dengan volume super yang dapat membuat telingaku menegang setelahnya. Tapi aku tak peduli, bagiku suaranya lebih membahayakan telinga hatiku. Aku tidak boleh membantunya.

“Lee Donghae! Saranghae.”

Entah aku harus bagaimana. Bisikan itu mampu membuat kedua telapak kakiku berhenti melangkah menuju pintu lift yang tebuka lebar. Bunyi musik rock yang bermain di telingaku terdengar melambat, ku rasakan dua buah tangan melingkar di pinggangku. Tangan berwarna kabut nan bercahaya.

Aku terdiam sepi. Musik rock itu terganti sepenuhnya oleh suara tangis yang menggetarkan jiwa. Hatiku terenyuh, tak dapat mendengar suara tangis wanita. Ya, kami, para lelaki, mengakui kalah dengan yang namanya tangisan wanita. Apa itu salah?

“Setelah masalahku selesai aku berjanji tidak akan pernah memunculkan batang hidungku di depanmu, aku berjanji.” katanya berat lalu melepas lingkaran tangannya di pinggangku.

Dengan sekali hentakan aku berbalik menghadapnya. Ku telisik lebih dalam mata beningnya yang juga bercahaya. Cahaya roh yang lembut. Ingin rasanya ku hapus air mata itu, namun aku tahu, aku hanyalah manusia biasa yang tak dapat menyentuh roh seenaknya.

Mianhae, aku akan membantu sebisaku. Jangan menangis lagi eo?”

Dia mengangguk lalu tersenyum tipis. Ku rasakan kedua sisi bibirku berkedut, pada akhirnya aku ikut tersenyum. Entah senyum macam apa, yang pasti aku telah menetujui permintaannya.

Tangisan wanita harusnya ku jadikan black-list hal yang tak boleh ku lihat maupun dengar. Tapi semua sudah terlambat, aku terlanjur mendengar isakannya. Aku sudah berjanji, aku harus membantu roh cantik ini menyelesaikan masalahnya.

Gomawo,” ucapnya sembari tersenyum lebar kemudian menari-nari di udara. Bulu kudukku meremang, detik berikutnya aku memasuki lift, segera menuju tempat yang ramai demi membuang rasa takut akan makhluk abstrak.

Ah… Roh cantik tetaplah roh. Dia tetap saja menakutkan.

END Or To be continue…

~~~

Advertisements