Nama        : Goo

Judul         : The Truth Number One

Tag            : Lee Donghae, Ahn Sua (OC) and Jinhyang (OC)

Genre        : Romance

Rating        : PG-15

Length       : Oneshot

Catatan     : Di luar waktu post nih :p Goo bawain next chap dari The Soul kemarin banyak yang komen dan minta lanjutin… ^^ Don’t forget RCL ya, kalau ada mood lanjutin lagi hehe

“Donghae! Kau mau ke mana?” Pertanyaan itu tentu membuat langkahku sukses terhenti. Baru saja aku ingin menekan kenop pintu, gadis roh itu telah menahanku dengan pertanyaan polosnya. Ku urungkan niatku untuk bersikap cuek seperti biasa dan segera menjawab pertanyaannya dengan jujur.

“Rumah gadisku,” jawabku pelan sembari berbalik ke arahnya.

Mata si gadis roh, ah… Maksudku Ahn Sua -ya, ia menyuruhku memanggilnya dengan nama itu- melebar. Aku tersenyum tipis, menahan kedua tanganku yang ingin bergerak menyingkap rambutnya yang terurai panjang.

“Jadi, itu alasanmu tidak pernah menerima cintaku?” tanyanya lirih, gadis itu tak bernapas tapi ia terlihat sedang menghela napas setelah mengutarakan pertanyaan itu.

“Ya,” aku bergumam kecil, tak tersenyum dan hanya dapat menarik napas panjang. Jujur, ini memang salah satu alasanku menolaknya berulang kali, selain itu… Aku selalu ragu untuk memikirkan bagaimana hubungan kami kelak bila dunia kami saja berbeda.

Ia tak lagi mengajukan pertanyaan, Sua terdiam dan aku yakin, ini salah satu tanda bahwa ia memperbolehkanku segera beranjak dari apartemen. Sebelum membuka pintu, aku menggerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya, “Naega kalkae! Jaga apartemen kita eo?”

Mendengar kata kita yang sengaja ku utarakan membuat kedua matanya berbinar. Sua tersenyum penuh lalu menggerakkan kedua tangannya di depan wajahku. “Goodbye Hae-ya!”

“Eo..,” gumamku dan segera beranjak dari apartemen.  

@@@@@  

Aku baru saja ingin mengetuk rumahnya, rumah seorang gadis yang selama ini mengisi hatiku, tetapi segera ku urungkan ketika ku lihat dirinya turun dari sebuah mobil sport berwarna hitam. Gadisku mengenakan dress biru muda dengan tali sphageti, pada kedua kakinya terhias sepatu balet berwarna putih dan itu membuatku terpana dalam kurun waktu beberapa menit.

“Jinhyang!” seruku membuatnya terperangah dan segera mempercepat langkahnya menghampiriku.

Jinhyang melebarkan matanya yang tersapu maskara, gadis itu makin terlihat cantik di mataku. Alih-alih tersenyum manis kepadaku, Jinhyang malah menampar pipi kiriku dengan cukup keras.

Ije geumanhae Donghae-ya!!” serunya tepat menohok hati. Mataku menyipit, menatap Jinhyang dengan tajam. “Wae? Menga–”

“Geuman, kau gila atau bagaimana sih? Setelah hilang berminggu-minggu, kini kau datang dan menghampiriku seakan tidak terjadi apa-apa. Apa kau tahu bagaimana aku terus mencarimu hingga dikatai sebagai orang yang tidak waras? Bahkan kau tidak tahu bagaiaman sakitnya hatiku saat ibumu bertingkah tak ingin tahu padamu hah!?”

Lidahku terasa kelu, rasanya ada ribuan ton pasir sedang menindih tubuhku hingga aku tak mampu bernapas secara normal. Tak pernah ku sadari bahwa tindakanku mengurung diri di apartemen membuatnya seperti itu.

Mian,” ucapku sembari menangkupkan wajahnya, lalu segera membawanya ke dalam pelukku.

Terasa aroma apel menyerbak hidungku, aroma shampo Jinhyang yang selalu ku suka. Entah sudah berapa lama aku tak pernah menciumnya, merindukan bagaimana aromanya yang selalu membuat jantungku berdebar aneh.

Geuman…,” ucap Jinhyang sembari melepas pelukanku. Ia memalingkan wajah, memundurkan langkahnya sembari menggeleng lemah.

Uri geumanhae Donghae-ya, semuanya abstrak bagiku. Semuanya berakhir, seperti yang ibumu inginkan.”

Mataku melebar, segera ku tarik kedua tangannya dengan erat seakan tak pernah ingin melepasnya selama sedetik pun. “Aniya, ini tida–”

“Aku sudah memiliki pria lain Donghae! Kita tak bisa meneruskan hubungan ini! Semuanya berakhir, dan kau telah menyadarkanku selama kau menghilang entah ke mana tanpa ku ketahui alasan pastinya.”

“Jin–”

“Aku lelah padamu Donghae! Kau terlalu egois! Tak pernah sedikit pun mengerti dengan perasaanku, bahkan ketika kau menghilang. Kau tak pernah berpikir bagaimana keadaanku kan? Iya kan? Semuanya jelas Donghae! Sangat jelas.”

“Aku bisa memperbaikinya!” seruku tak membuatnya luluh dan makin menggelengkan kepalanya tegas.

“Semuanya jelas, tidak ada lagi alasan untuk membuatku kembali padamu Donghae, semuanya berakhir dan aku tak ingin lagi melihat wajahmu. Sedikit pun!” gertak Jinhyang lalu segera memasuki rumahnya dan mengunci pintunya dengan rapat.

Aku berdiri mematung di depan pintunya, kepalaku terasa pening seketika. Selama berminggu-minggu aku memang mengurung diri, sengaja tak pernah beranjak ke luar apartemen akibat sebuah pemberitahuan dari rumah sakit yang menyebutkan bahwa aku terkena kanker otak.

Tentu. Informasi itu membuat hidupku terasa hanya seperti butiran debu tak berarti. Aku pun selalu merenung di rumah, tak pernah berpikir bagaimana kondisi orang-orang yang telah menyayangiku. Bahkan Jinhyang.

Tetapi sebuah roh datang menyadarkanku, hingga pada akhirnya aku berani keluar dari apartemen secara perlahan. Ya, Ahn Sua telah membuatku bangkit dari keterpurukan, roh itu membuatku sadar betapa berartinya sebuah hidup. Tapi kali ini aku tak yakin apakah Sua dapat membantuku memperbaiki hati yang lagi-lagi patah karena ditinggalkan oleh seseorang.

“Jinhyang,” aku bergumam, kemudian memundurkan langkahku secara perlahan dari teras rumahnya. Tak ada sahutan dari dalam, dan kini aku pun sadar dimana posisiku sebenarnya berada.

Mianhae…,”  

Advertisements