Nama        : Goo

Judul         : I Miss You

Tag           :

–               Han Chaeri (OC)

–               Kim Jongwoon a.ka Yesung

Genre        : Romance

Rating        : PG-15

Length       : Ficlet

Catatan     : Ma bunny!! Happy birthday –walau telat banget xD. Langsung chaw depan laptop setelah baca fanficmu. Aku hampir mewek, itu spesial banget Yuu >< nggak pernah dapat hadiah macam itu soalnya T-T izin simpan di folder lappy yaaaa (buat kenang-kenangan) 😉 Mungkin ini cuman fanfic tersimple dengan full ficlet yang buat kamu ngakak karena dapat peran galau kk~ banyak penjelasan dan semoga nggak bikin kamu bosan. (Again! Yesung jadi so sweet banget di sini xD maapin ya dear~~ aku emang sulit buat peran babo-unyu-gila-gemezinn). Sip, ini catatan panjang! Hope you like it Bunny!

p.s: Don’t forget to RCL for the other readers 🙂 your comment is needed sweety!

 

Matanya bercahaya bagaikan sebuah kilauan berlian yang indah. Rambutnya hitam legam, sudah cepak akibat dipangkas secara terpaksa demi menjalani kewajibannya sebagai pria Korea. Raut tampannya tak pernah berubah, senyumnya masih indah seperti yang terakhir kali dilihatnya beberapa bulan yang lalu. Entah sampai kapan Chaeri dapat bertahan menatap pria itu. menatapnya dari layar ponsel yang menampilkan gambar pria yang dicintainya.

Mungkin, banyak yang menganggap Chaeri tidak waras karena mampu bertahan dengan pria itu tanpa pernah berpaling sedikit pun –kecuali bila melihat personil U-kiss yang disukainya, oke itu pengecualian– dan terus menunggu pria itu sampai masa wamilnya berakhir.

Hari ini tidak seperti hari biasanya. Sejak bangun pagi dan berjalan-jalan mengamati danphugi yang berserakan di jalanan Seoul, jantung Chaeri terus berdebar. Ia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ketika pertama kali berkenalan dengan pria itu, ketika ia kencan atau saat pria itu mencium bibirnya. Semua tentang pria itu, rata-rata. Dan Chaeri merasakan hal yang sama pula hari ini.

Apakah pria itu akan kembali?

Chaeri menggeleng lemah. Itu tidak mungkin, mengingat masa penugasan prianya yang masih berjalan, pun dengan tempat baru yang memaksa pria itu harus mengangkat senjata tiap hari demi menjalani kewajiban sebagai militer aktif. Chaeri merasa cemas bila mengingat itu. ia tak pernah ingin membayangkan pria itu bertempur. Ia takut.

Matahari masih buram saat Chaeri menengok ke luar jendela. Ia tidak berani keluar setelah melihat tayangan teve siang ini, sebuah ramalan cuaca mengatakan hari ini akan ada badai. Dan Chaeri tak ingin mencari penyakit di saat-saat musim gugur. Jalanan di luar rumahnya tak begitu ramai, sepi, karena mungkin semua orang telah melihat tayangan itu.  Chaeri hanya bisa termanggu, merasa bosan karena tak ada yang bisa dilakukannya di waktu senggang selain menatap foto tunangannya.

Semakin lama Chaeri menatap foto itu, semakin terasa pula derap jantungnya. Membuat hatinya mencelos, dadanya pun terasa aneh. Sesak tetapi sedikit menggelitik jiwa. Ia merindukan pria itu, sampai kapan pun. Cepat-cepat Chaeri beranjak ke kasurnya, memeluk bonekanya dengan erat, menggantikan sosok prianya untuk sementara.

Baru kali ini pula Chaeri merasa galau. Ia beringsut sedih saking rindunya dengan pria itu. Inikah yang namanya rindu setengah mati? Ia mungkin lebih memilih untuk mati daripada terbelenggu atau termehek-mehek karena pria itu. Tetapi, tak etis pula untuk bunuh diri hanya karena hal itu.

Saat Chaeri mencoba untuk memejamkan mata, suara deru angin menggelegar, menggetarkan jendela kamarnya hingga membuatnya terkejut. Ia tak dapat lagi memejamkan mata, dan memilih untuk beranjak duduk di atas kasurnya. Lagi-lagi menatap foto tunangannya dengan penuh kerinduan. Chaeri mungkin merasa sedang tak waras, namun ia tak dapat berdalih.

Suara guntur berbunyi. Chaeri memejamkan mata ketakutan, lalu kembali membuka mata perlahan saat tiba-tiba dua buah mata yang lain menatapnya intens dari jarak yang tak kurang dari 5 senti. Refleks Chaeri memundurkan tubuhnya hingga kepalanya terbentur dengan kepala kasur dan membuat pemilik dua mata itu tertawa terbahak-bahak.

“Yaa! Kim Jongwoon! Ahjussi! Kau kenapa bisa ada di sini eo?!” Chaeri mendorong tubuh pria –atau lebih tepatnya dipanggil dengan Yesung–di depannya dengan keras, tak membuat tubuh pria itu berpindah sedikit pun. Sepertinya kekuatan pria itu meningkat setelah menerima pelatihan khusus di kemiliteran.

Wae? Tidak boleh?” Yesung balas bertanya, beranjak berbaring di sebelah Chaeri, memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut sembari memeluk boneka yang dipeluk Chaeri sebelumnya.

Chaeri merasa keki, juga senang dalam waktu bersamaan hingga ia hanya dapat mengerucutkan bibirnya setelah melihat tingkah tunangannya itu yang masih belum terlihat dewasa meskipun telah mengikuti wamil. Alih-alih ikut berbaring, Chaeri malah menimpuk kepala Yesung menggunakan handphonenya dengan tampang innocent.

Yesung mendongak, menyipitkan matanya, lalu memindahkan tubuh boneka ke bawah kasur dan menarik Chaeri berbaring di sampingnya. Chaeri tak berkutik, ia hanya dapat menatap keseluruhan wajah Yesung secara jelas dalam jarak yang cukup dekat hingga membuat jantungnya berdebar aneh.

Ditelitinya wajah pria itu. Ada sedikit kerutan di dahinya, refleks membuat salah satu tangan Chaeri menyentuhnya dengan lembut. Yesung terbangun, matanya sedikit menyipit, lalu kedua bibirnya melengkung indah. Chaeri ikut tersenyum, bergegas menelusupkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Yesung dengan erat.

Bogoshippo, oppa,” ucap Chaeri dengan manja, hampir membuat Yesung terbahak namun segera tertahan saat ucapan itu menggetarkan hatinya.

Kedua tangan Yesung bergegas memeluk Chaeri, salah satu tangannya mengelus puncak kepala gadisnya dengan lembut. Ia pun merasakan hal yang sama dengan Chaeri, merindukan gadisnya dengan setengah mati, membuatnya mampu berjuang demi mendapat free one day untuk bertemu dengan Chaeri dari ketua grup kemiliterannya.

Nado bogoshippo,” ujar Yesung sembari tersenyum penuh.

Saat ingin bercerita banyak pada Chaeri, Yesung malah menemukan gadis itu terlelap dalam pelukannya. Napasnya berderu pelan, wajahnya sangat pucat namun terlihat begitu manis saat terlelap. Entah mendapat keberanian dari mana, Yesung bergerak mengecup bibir Chaeri lembut lalu memeluk gadis itu dengan erat dan bersiap untuk ikut tertidur.

“Aku selalu merindukanmu Chaeri, selalu…”

 

END

Advertisements