Nama        : Goo

Judul         : In That Rain Part [1/5]

Tag           : – Baek Arum (OC)

–   Cho Kyuhyun

–   Lee Sungmin

–   And the other cast…

Genre        : Romance

Rating        : PG-13

Length       : Chaptered

Catatan     :  Alo~~ Goo telat banget ya T_T sibuk dah semenjak naik ke kelas 12 ini… banyak tugas, ulangan dsb. Masih persiapan buat UAN dan bikin deg-deg-ikan kalau ingat pembelajaran yang belum dikuasai huhuhu… ngeri ah.

Oh ya, sebenarnya Goo belum mau publish yang ini. Cuman karena keburu dapet email konfirmasi dari sujuff jadi, mau tak mau harus dipublish supaya ceritanya nggak basi 😉 jangan lupa RCL ya, fanficnya full of romance~~ masih standar sih kk~ enjoy!

 

Rintik hujan membasahi lantai kamar Arum saat butiran-butiran air itu menembus kusen jendelanya yang berlubang. Beberapa kali, gadis yang tengah membaca buku roman itu mengeluh, ia tak tahu cara memperbaiki kusen tersebut dan hanya dapat menaruh sebuah kain di lantai sebagai peredam air.

“Arum-ah, cepat keluar! Ada yang mencarimu!”

Titah dari luar kamar itu beringsut membangunkan Arum dari buntalan sofa yang sengaja diletakkan di kamarnya. Dengan malas ia menaruh novel fiksi itu secara brutal di atas kasur lalu melakukan beberapa peregangan kecil pada anggota tubuhnya yang kaku.

“Arum—”

Ne, eommonim…,” ringisnya setelah membuka pintu kamar dan mendapati ibunya yang hampir saja meneriakinya lagi sedang berdiri di hadapannya.

Ibunya tersenyum kecil, tangan kanannya menepuk bahu Arum dengan lembut. “Cepat keluar, tak baik membuat orang menunggu,” nasihatnya membuat Arum mengangguk patuh, “ne eommonimm!!”

Detik selanjutnya Arum melangkahkan kaki, menuruni tangga dan berjalan santai ke ruang tamu. Arum sendiri tak pusing memikirkan siapa sang tamu, toh ia sering mendapatkan kejutan yang sama dari teman-teman sesama jurusannya di universitas.

“Arum-ah!”

Arum terkejut, baru saja ia tiba di ruang tamu, sang tamu langsung melemparkan pandangan ke arahnya dengan senyum lebar yang mencuat. Tubuh Arum beringsut kaku, beberapa kali ia harus mengatur napasnya dengan teratur karena tiba-tiba saja dadanya berdesir aneh.

“S, Sungmin oppa,” sahutnya tergagu.

Sang tamu yang dipanggil Arum sebagai Sungmin itu mengangguk, “orenmaniyeyo, kabarmu bagaimana?”

Pertanyaan klise. Tak langsung menjawab, Arum malah bergerak duduk di salah satu sofa tepat di hadapan Sungmin sembari melempar pandangan takjub ke arah pria itu. Senyum yang sama, mata yang sama… Arum tak mampu menahan gejolak aneh yang bermain di dadanya.

“A, aku baik-baik saja. Oppa, kau bagaimana? Aku pikir masih ada setahun untuk menyelesaikan kuliahmu di Sapporo.” Buru Arum dibarengi sebuah kekehan Sungmin yang merasa senang mendapat respon Arum yang sepertinya tak sabar ingin tahu info mengenainya selama ini.

“Baik, ye… aku dapat liburan musim panas tahun ini, kau percaya itu?”

Kepala Arum bergerak ke samping. Ia percaya, namun tak pernah terpikirkan olehnya sosok Sungmin yang selama ini dikenal sebagai sosok yang disiplin waktu ingin membuang waktu berharganya untuk menikmati musim panas di Seoul.

Wae?” tanya Sungmin tak kunjung mendapat jawaban Arum.

Aniya, hanya saja… terdengar aneh, bukankah musim panas di Sapporo lebih menyenangkan? Mengapa ingin berlibur ke sini?” tanya Arum mencurahkan kecurigaan yang tengah bermain di kepalanya.

Hal itu tentu membuat Sungmin tertawa. Ia tak begitu peduli menerima delikan Arum yang merasa tak senang dengan tawanya, menurutnya itu hal yang menyenangkan. Menyenangkan membuat gadis di hadapannya itu memburunya dengan ribuan pertanyaannya.

“Temanku dari Sapporo ingin berkunjung, jadi, tidak ada salahnya untuk membawanya berlibur ke sini bukan?”

Telak. Arum hanya dapat menganggukkan kepalanya, menyembunyikan rasa penasaran yang kini menguasai otaknya. Alih-alih bertanya, Arum malah terdiam memikirkan siapa teman Sungmin yang membuat pria di depannya itu rela meluangkan waktu untuk berlibur.

“Arum-ah,” panggil Sungmin kemudian hingga Arum mendongakkan kepalanya menatapnya intens dari jarak yang cukup jauh.

“Kalau tidak keberatan… kau mau kan ikut bersama kami?” tanya Sungmin dengan penuh harap. Kedua matanya berbinar, tepat menyoroti kedua bola mata Arum hingga mampu membuatnya terhipnotis dalam sepersekian detik.

Hipnotis itu pula yang membuat Arum mengangguk tanpa berpikir kembali mengenai schedule yang baru disusunnya untuk menikmati hangatnya mentari Jeju bersama kawan seangkatannya di universitas.

 

@@@@@

“Aku tidak jadi ikut.”

Ucapan itu membuat Arum dihadiahi tatapan tak percaya dari beberapa temannya yang kini tengah berkumpul di kantin universitas untuk menyantap beberapa kudapan kecil setelah pertemuan terakhir mereka dengan dosen sebelum liburan musim panas.

Kotjimal? Kau sedang sakit atau kepalamu baru saja terbentur?” sahut salah satu gadis yang memiliki rambut ikal sebahu. Kedua jari telunjuknya bergerak menunjuk kepalanya sebagai gestur atas pertanyaannya.

Arum menggeleng, menghela napas gusar. “Aku baru membuat janji dengan seseorang, tidak apa kan?”

Maldo andwae.”

Suara bass itu membuat tubuh Arum berjengit, seorang pria berhoodie putih tengah meletakkan tangannya di atas meja sembari menatapnya intens, menusuk. Melihat itu Arum hanya bisa nyengir alih-alih memperlihatkan perasaan takut yang menelusuk hatinya.

“Bukankah kemarin kau yang paling tidak sabar mengunjungi Jeju? Dasar tak berpendirian,” hujat pria itu tajam.

Arum mendesah, pria itu benar. Sebelumnya ia yang paling bersemangat menyiapkan seluruh keperluannya untuk tinggal selama seminggu di Pulau Jeju. Namun kini, ia harus mengubur angan-angannya ke Heaven island itu akibat sebuah hipnotis aneh dari seorang pria bernama lengkap Lee Sungmin.

“Tapi aku juga tak bisa melepas hal ini, karena…,”

“Karena?”

Seluruh temannya menghentikan aksi kunyah-mengunyah kudapan kecil mereka, beringsut mendekatkan wajah ke arah Arum yang kini asyik memainkan jarinya untuk mencari kata-kata yang tepat sebagai alasan yang dapat diterima oleh logika.

“Dia penting!” sergah Arum sembari menyembunyikan wajahnya yang merona.

Hal itu tentu membuat beberapa temannya mendesah sembari mendelik kesal ke arah Arum. Sedangkan pria yang telah membuat Arum mati kutu beberapa menit yang lalu hanya dapat menelan ludah tidak percaya.

Tiba-tiba tangan pria itu bergerak mengacak rambut Arum dengan kasar, membuat Arum terperanjat namun dengan cepat ia menepis tangan itu lalu mengerucutkan bibirnya sebal. “Mianhae,”

“Bagaimana sekarang Kyuhyun-ah?” lempar seorang teman yang lain, matanya menatap pria yang duduk di sebelah Arum, pria yang juga mengacak rambut Arum barusan. Cho Kyuhyun.

Lama Kyuhyun terdiam, banyak hal yang dipikirkannya, mengenai alasan aneh Arum, mengenai tiket pesawat yang baru saja ingin dipesannya lewat internet dan beberapa hal penting lainnya. Akhirnya pria itu membuka mulutnya, “kita tunda tahun depan.”

Jawaban itu mampu membuat 5 orang selain Arum dan Kyuhyun mendesah panjang. Setelah itu bergantian menatap Arum nanar sembari mendecakkan lidah. “Aku penasaran dengan ‘dia’ yang penting, namjaga? Yeojaga?” tanya seseorang.

Pertanyaan mudah namun entah mengapa Arum sulit untu menjawabnya. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu, tenggorokannya tercekat membuatnya terdiam lama sembari mengatupkan bibir. Saat ini ada enam orang yang menunggunya berbicara, tak peduli dengan waktu yang terus berjalan.

Tak melihat pergerakan berarti dari teman-temannya –yang malah makin menatapnya tajam. Membuat Arum harus menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya dengan cepat. Dengan pelan ia pun menjawab. “Namja…,”

Lantas jawaban itu makin membuat teman-temannya beringsut kesal. Arum menatap mereka penuh rasa maaf lalu menangkap dua bola mata Kyuhyun yang menatapnya kosong. Pria itu mungkin tahu siapa ‘dia’ yang penting bagi Arum.

 

@@@@@

“Baek Arum!”

Interupsi itu mampu membuat langkah Arum yang beberapa menit lalu bergerak cepat terpaksa terhenti. Arum tak mampu berbalik melihat siapa dalang yang memanggilnya tersebut, ia tahu siapa dalangnya. Cho Kyuyun. Namun ia pun tak mampu mengindahkan panggilan itu.

“Kita harus bicara,” kata Kyuhyun dingin lalu menarik pergelangan tangan Arum dan menyeret gadis bertubuh ringkih itu keluar dari gedung universitas.

Tak memakan banyak waktu, sampailah mereka di sebuah parkiran mobil. Kyuhyun mempercepat langkahnya lalu membawa Arum masuk ke sebuah mobil mewah yang diketahui sebagai mobil Kyuhyun. Dalam hati, Arum terus merutuk. Ia khawatir akan kejadian yang akan menimpanya beberapa detik mendatang.

“Sadarlah! Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menyukainya lagi?”

Arum menutup kedua bola matanya rapat saat Kyuhyun mulai membentaknya. Ia tak tahu harus berkata apa, seluruh tubuhnya tiba-tiba bergetar, hatinya terasa perih untuk kali ini. Kyuhyun benar dan ia tak dapat berkilah.

“Tap…,”

Jebal!” Pinta Kyuhyun dengan nada suara yang turun satu oktaf. Kedua matanya nyalang menatap ke depan, sedangkan kedua tangannya menggenggam setir mobil dengan kencang hingga membuat buku-buku tangannya memutih.

“Kyu—”

Jebal! Hanbonman! Untuk sekali ini saja Arum-ah.” Pinta Kyuhyun sekali lagi.

Pria itu tak kunjung menginjak pedal gas mobil, mereka tetap berada di tempat parkir yang tiba-tiba diguyur oleh hujan. Musim panas akan tiba, ditandai dengan naiknya kapasitas hujan di Seoul.

Hujan…

Hati Arum mencelos. Matanya menatap rinai hujan di luar jendela mobil Kyuhyun sembari menahan gejolak hatinya yang jelas semakin terasa perih. Tiba-tiba tubuhnya melemas, ia beringsut bersandar di tempat duduk lalu menutup kedua bola matanya rapat.

Tuhan, jangan ingatkan aku lagi… andwae… jebal andwae!

 

@@@@@

Sungmin merapatkan mantelnya sembari bersandar pada kepala kursi yang didudukinya. Arum melakukan hal yang sama, di luar café kecil yang mereka tempati kini air hujan berjatuhan deras bersamaan dengan ributnya angin. Beberapa kali Sungmin mengerucutkan bibir, pria itu terus menggigil, tak tahan dengan dinginnya udara.

“Di Sapporo lebih dingin kan?” Sahut Arum mengemukakan rasa penasarannya dengan sikap Sungmin yang terus menggigil.

Pria di hadapan Arum itu mengangguk, kedua sisi bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman manis. Arum menghela napas pelan, kedua bibir yang begitu memukau.

“Aku tak pernah berani keluar saat musim dingin tiba, hanya pada winter festival saja aku berani keluar apartemen.” Ujar Sungmin sembari menghayalkan winter festival di Kota Sapporo yang terletak di pulau Hokkaido itu.

Mata Arum menatap Sungmin intens. Ia tak tersenyum, ada ribuan pertanyaan yang menyangkut di otaknya saat melihat ekspresi Sungmin menceritakan hari-harinya di Sapporo. Sebuah kota yang Arum yakini sebagai kota favorit Sungmin untuk saat ini.

Pertanyaannya, mengapa Sungmin bisa sangat menyukai kota itu?

“Mengapa oppa memilih Sapporo?” tanya Arum begitu saja.

“Ah?”

Ekspresi Sungmin berubah. Wajahnya sedikit memerah setelah mendengar pertanyaan Arum barusan. Ada pertanyaan, ada jawaban. Pertanyaan mudah yang sangat sulit dijawabnya. Entah mengapa, tapi Sungmin bukan tipe manusia yang suka berbicara banyak.

Wae?” buru Arum tak kunjung mendapat jawaban dari Sungmin.

Menurut Arum, pertanyaannya hanyalah pertanyaan mudah dan Sungmin pasti akan menjawabnya tanpa ada rasa kesulitan. Namun malah sebaliknya, pria bermantel hitam pekat itu tak kunjung menjawab dan terus menyembunyikan rona merah yang muncul pada kedua pipinya.

Tiba-tiba hati Arum mencelos. Rona merah pada kedua pipi Sungmin sudah cukup menjawab pertanyaanya secara tidak langsung. Ada sesuatu yang sangat berarti bagi Sungmin mengenai Sapporo dan itu mungkin saja bersangkutan dengan hatinya.

Yeojaga?”

Tebak Arum hati-hati. Sungmin mengangguk malu, “dia yang akan tiba besok, kau mau kan menemaniku ke Incheon untuk menjemputnya?”

DANG!

Seperti ada ribuan panah yang menembus ulu hati Arum, lidahnya tercekat, jantungnya terpompa cukup kencang setelah mendapati permintaan Sungmin yang menyetujui tebakannya. Jujur saja, Arum tak memiliki persiapan untuk menghalau perasaannya yang tiba-tiba melumpuh. Ia masih menyukai Sungmin! Sangat menyukai pria itu sebagaimana ia menyukai novel roman yang bertumpuk di kamarnya.

“Kau mau kan, Arum-ah?”

Tring

Lagi-lagi ada magic yang membuat Arum mengangguk, menyanggupi permintaan Sungmin yang harusnya ia tolak secara halus demi menjaga kedamaian hatinya. Ia tak dapat berkutik, hanya dapat tersenyum tipis menanggapi senyum lebar Sungmin yang mulai bercerita mengenai sosok wanita Sapporo tanpa dimintanya.

 

To be continue…

Advertisements