Nama        : Goo

Judul        : The Coupon

Tag           : – Nam Junhee (OC)

–    Lee Sungmin

Genre       : Romance

Rating      : G

Length      : Oneshot

Catatan     : Just finished this one last nite, need comment ya, jangan jadi silent reader please ^^ maybe, bukan yang terbaik karena judulnya hanya tersinggung sedikit dalam cerita… –menurutku- but at least, semoga menghibur kk~ 🙂

Blank Valentine Coupon Book 

Coupon:

What do you want?

Jam terus berdentang, bagaikan sebuah bisikan yang mengusik kehadiran seseorang yang tak lepas memandang jam tangannya dari jarak yang tak begitu jauh. Matanya lamat memandang pintu café yang tak kunjung berderit, menunggu seseorang yang telah ditunggunya sejak sejam yang lalu, kemudian kembali menatap jarum jam yang berdentang pada jam tangannya. Tak jarang ia menghela napas, menghirup aroma kopi atau melempar pandangan ke luar café yang hanya dilindungi oleh kaca tembus pandang.

Nam Junhee. Syal abu-abu yang terpasang pada lehernya ia eratkan, bersiap meninggalkan café saat jarum panjang pada jam tangannya berhenti pada angka enam. Ya, sudah 1 setengah jam ia menunggu, namun orang yang ditunggunya tak kunjung menampakkan batang hidung. Membuatnya kesal setengah mati dan segera menandaskan kopinya lalu bersiap beranjak dari café itu.

Cangkir kopi yang telah ia tandaskan isinya, ia letakkan di atas piring kecil saat sebuah tangan besar berbulu menggetarkan tubuhnya. Junhee segera mendongak, mendapati sebuah boneka beruang besar berwarna hijau berdiri di hadapannya sembari tersenyum riang. Kedua sisi bibirnya berkedut. Rasa kesal yang awalnya menghentakkan hatinya segera luntur saat boneka itu berbicara. “Annyeong Junhee-ya, mianhae. Eung?”

Tawa Junhee tertahan. Itu tentu bukan suara boneka, karena yang ia tahu dunia Alice hanyalah dunia fiksi. Suara itu terdengar imut, mengingatkannya pada sesosok pria yang ia yakini menjadi dalang dari kemunculan boneka yang sebenarnya digendong dari arah depan itu. Junhee melongos, meninju perut boneka dengan pelan. “Sungmin-ah! Geuman, kau membuatku kesal.”

Mendengar hal itu, pria yang dipanggil Sungmin segera menjauhkan tubuh boneka yang telah menutupi tubuhnya ke bangku. Terlihat ia sedang menggigit bibir bawahnya saat mendapati sorotan tajam Junhee, namun detik berikutnya pria itu segera mengacak rambut Junhee dengan gemas seakan melupakan kesalahannya yang cukup fatal karena telah membuat seseorang menunggu dengan begitu lama.

Mianhae Nam Junhee, boneka itu terlalu berat jadi jalanku agak lamban.” Alasannya yang hanya diterima Junhee dengan decakan lidah. Sungmin berbohong, Junhee tahu karena pria itu sebenarnya membawa mobil, bukannya berjalan kaki demi mencapai café yang terletak di kawasan Myeondong itu.

Geudae, mana kuponnya?” tanya Junhee sembari menyodorkan tangan kanannya di hadapan Sungmin.

Alih-alih mengecek saku mantelnya, Sungmin malah menarik pergelangan Junhee untuk segera duduk di atas bangku. Pria itu menatap Junhee dengan senyum yang tak pernah kendur setelah duduk tepat di hadapan Junhee. Tatapannya sangat intens. Saat melihat Junhee ia teringat akan suatu kejadian di masa lampau yang telah mempertemukannya kembali di masa kini.

Ya, sebuah kejadian yang bersangkutan dengan apa yang diminta Junhee barusan. Kupon.

“Syarat kupon itu adalah makanan di kantin sekolah, bukannya makanan atau kopi di café luar sekolah. Kau ingat?” ujar Sungmin sembari menunjuk wajah Junhee yang tersenyum kikuk setelah mengingat syarat yang telah ditulisnya 6 tahun silam.

Hening beberapa saat. Junhee mengelus tengkuknya, berpikir mengenai jalan keluar akan masalah kecil yang dihadapinya kini. Sedangkan Sungmin hanya menahan tawa, menatap ke luar café sembari menghirup aroma kopi yang tengah dibuat oleh seorang bartender di balik pantri café yang berjarak tak cukup jauh dari posisinya. Ia sudah menduga akan tingkah Junhee yang terdiam bingung setelah mendapati fakta itu.

“Tapi kan, kita tidak lagi bersekolah. Lagipula untuk saat ini makanan di seluruh kantin sekolah yang ada di Korea gratis, tidak ada yang dijual. Kalau perlu, aku akan mengganti syarat dan ketentuannya sekarang. Bagaimana?” Ujar Junhee berusaha meyakinkan Sungmin yang terus menggelengkan kepalanya dengan tegas.

Aniya, kupon ini milikku dan kau tidak berhak untuk mengutak-atiknya, ara?”

“Tapi kan,”

“Tch… Kau sendiri yang membuat syaratnya. Aku tetap tidak mau, ketentuan tetap saja ketentuan. Mereka tidak bisa dihiraukan begitu saja.” ujar Sungmin tegas membuat Junhee mendecakkan lidahnya kesal.

Gadis itu benar-benar bingung kali ini. Bukannya meluruskan semua hutang yang dimilikinya pada Sungmin, ia malah terkepung dalam kesalahannya sendiri. Terlebih saat mengingat kebodohannya yang menulis kata selamanya dalam masa berlaku kupon yang dimiliki Sungmin. Bila saja ia tak menulis kata itu, mungkin ia akan terbebas dari hutang bodoh dan hidup sebagaimana mestinya tanpa perlu bertemu secara intim –dalam arti berduaan–seperti  saat ini.

“Jadi, bagaimana?” Junhee bergumam frustasi.

Melihat tingkah Junhee yang benar-benar kehabisan akal membuat Sungmin tertawa renyah. Pria itu mengacak rambut Junhee yang terikat satu hingga berantakan, lalu mengeluarkan sebuah kupon dari saku mantelnya. Kupon yang berbeda dari apa yang diminta Junhee sebelumnya.

“Kupon melakukan apapun.” Kata Sungmin sembari menyodorkan kupon itu kepada Junhee.

Kedua mata Junhee melebar, ia segera menarik kupon itu dari genggaman Sungmin lalu meneliti apa yang digenggamnya secara intens tanpa ingin terlewat detail sekecil apapun akan tulisan yang tercetak di atasnya. Tiba-tiba hati Junhee bergerumuh. Syarat yang ia tulis 6 tahun lalu pada kupon itu membuat hatinya mencelos, ia segera melempar pandang kepada Sungmin. Meneguk ludah sembari menggigit bibir bawahnya dengan cukup keras. “Apa yang kau inginkan?”

Be mine.”

Telak. Junhee bagaikan tertelan ke dalam pusaran air. Ia tenggelam, kehabisan napas dan hanya bisa pasrah ketika napasnya tak lagi berderu. Mati.

“Nam Junhee… kau masih di sana?” Kedua tangan Sungmin bergerak tepat di depan wajahnya, melunturkan khayalan Junhee mengenai kondisi tubuhnya yang tenggelam di dalam pusaran air. Ia kembali sadar. Ternyata benar, bukan mimpi.

“Aku tidak bisa.” Junhee berkata setelah menarik napas panjang. Ia tidak berani menatap Sungmin, lebih memilih memandang boneka beruang yang duduk di sebelah Sungmin dengan senyum besarnya.

Junhee tahu apa yang akan dikatakan Sungmin selanjutnya hingga gadis itu lebih memilih terdiam dan benar-benar tidak mendengar elakan Sungmin yang tidak menyetujui penolakan akan permintaannya. Bukannya tidak mau mengikuti apa yang diminta Sungmin mengenai kupon ‘melakukan apapun’ yang dibuatnya sebagai hadiah ketika Sungmin ulang tahun 6 tahun yang lalu. Namun, ada sebuah dinding yang membuatnya harus menolak permintaan itu. Junhee tidak buta ataupun tuli selama ini. Ia tahu, Sungmin –teman, yang juga pemilik perusahaan tempatnya bekerja saat ini–memiliki perasaan padanya. Dan sejujurnya ia pun memiliki perasaan yang sama.

Tetapi, perasaannya itu harus ia kubur dalam-dalam ketika tahu Sungmin telah memiliki tunangan yang merupakan anak dari pemilik saham terbesar di perusahaan yang dipimpin pria itu saat ini. Ia tentu tidak mau menghancurkan hubungan orang, atau dikatakan sebagai pihak ketika dari gagalnya suatu pertunangan mega di dunia para pengusaha.

“Nam Junhee! Kau tidak bisa menolak, kupon itu kupon melakukan apapun dan aku telah menyatakan apa yang aku inginkan. Ara?”

Mendikte lagi, Junhee mengeluh. Kali ini berhasil menatap Sungmin dengan lirih, lalu berkata, “kau pikir aku wanita murahan? Aku masih punya hati Sungmin-ah. Aku masih berpikir mengenai pertunanganmu dengan nona Lim. Aku tentu tidak bisa menjadi milikmu, kau tahu kenyataan itu, bukan? Jadi jangan meminta hal-hal yang tidak mungkin terjadi.”

Sungmin terdiam lama. Pria itu menahan napas saat mendengar penuturan Junhee yang menghunus jantungnya. Itu memang kenyataan yang menyakitkan, namun di lain hal ia tak sanggup lagi menahan gejolak akan perasaan yang telah disimpannya sejak awal pertama ia berjumpa dengan Junhee di sekolah menengah atas.

Mianhae, tapi itu permintaanku Junhee-ya, aku tidak bisa mengubahnya. You are mine. Now and forever!” Ujar Sungmin tegas. Hal itu makin membuat hati Junhee tertohok, namun gadis itu hanya melemparkan senyum sinis lalu bergegas berdiri dari bangku. “Kau sudah gila? Memangnya pertunangan itu hanya abu untukmu? Atau kau hanya ingin mempermainkan perasaanku, Lee Sungmin?”

Saat Junhee melangkah, Sungmin segera menahan pergelangan tangannya lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang intensif. Junhee tak berkutik, jantungnya berdetak kencang dan ia hanya dapat menahan napas saat Sungmin makin mengeratkan pelukannya. Dunia ini bagaikan sebuah khayalan belaka bagi Junhee, ia menutup mata dengan rapat, berharap apa yang terjadi hari ini bukanlah sebuah kenyataan. Namun apa yang diharapkannya itu hanyalah sebuah harapan belaka. Sungmin benar-benar memeluknya dan kali ini menangkupkan wajahnya yang tak menunjukkan ekspresi berarti.

“Dengar, aku tidak pernah mempermainkanmu Nam Junhee. Dan aku tidak bermain-main pula dengan permintaanku. Kau yang membuat kupon itu Junhee, apa yang aku minta akan kau lakukan dan tidak ada penolakan berarti. Aku tidak akan menerima alasanmu, mengenai pertunangan atau apapun itu. Tidak, karena kau milikku sekarang.” Jelasnya makin membuat Junhee melayang dalam sekian detik.

Tetapi kesadaran Junhee segera tiba saat semua mata memandang ke arahnya. Ia segera mendorong Sungmin, melepas pelukan pria itu lalu beranjak dari café dengan wajah memerah. Hatinya sangat sakit, mendapat sebuah kenyataan yang mampu membuatnya terjatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Kesalahannya pula, harusnya ia tak membuat kupon-kupon dengan masa berlaku selamanya sebagai hadiah ulang tahun kepada Sungmin. Bila ia tahu akan seperti ini, tentu Junhee tidak akan melakukannya.

“Nam Junhee!” Sungmin menyergahnya, kembali menahannya yang baru saja keluar dari café. Dalam hati kecilnya, Junhee memang sempat berharap bahwa pria itu menyergahnya. Dan hal itu terjadi, tetapi Junhee malah merasa bingung saat tak ada lagi alasan yang mampu ia katakan kepada Sungmin sebagai penolakan besar-besaran akan permintaan pria itu.

“Lepaskan aku!” Junhee berseru lirih, tak mampu memandang Sungmin dan terus menarik tangannya yang digenggam Sungmin dengan erat.

“Nam Junhee! Dengarkan aku!” Titah Sungmin tegas.

Junhee mendesah. “Mwoga?” lirihnya.

Napas Sungmin terhela. Junhee tak juga menatapnya hingga pria itu segera menangkupkan wajah Junhee agar dapat melihatnya dengan jelas. “Dengar, aku akan membatalkan pertunanganku asalkan kau mengabulkan permintaanku. Apakah itu cukup?”

Mendengar itu membuat kedua mata Junhee terbelalak. Ia segera menghempaskan tangan Sungmin dari wajahnya. Tatapannya berubah tajam saat rasa panas membakar dadanya. “Ani, kau tidak tahu dinding yang telah tercipta antara kau dan aku Sungmin-ah… kau tidak tahu apa yang akan aku rasakan saat semua orang tahu bahwa aku adalah penyebab kegagalan pertunanganmu dengan nona Lim. Aku hanya berkata dengan jujur, berharap kau tidak memutuskan hal ini secara gamblang tanpa berpikir dua kali.

Aku peduli padamu, tuan Sungmin. Saham keluarga nona Lim memegang kuasa dalam perusahaan, dan aku tidak ingin suatu yang buruk akan terjadi padamu, pada semua pagawaimu. Pertunangan itu sudah harusnya terjadi dan kau hanya perlu melupakan aku. Bahkan pertemuan ini, lupakan saja. Kupon itu, kembalikan padaku. Anggap semuanya tak pernah terjadi.”

Rahang Sungmin mengeras. Junhee sendiri merasa ling-lung setelah berkata panjang lebar, kata-kata yang benar diungkapkannya dari hati mengenai apa yang dipikirkannya selama ini, mengenai keputusan Sungmin yang hanya bersujud pada keegoisan. Sungmin mungkin tak berpikir mengenai para pegawainya bila perusahaannya bangkrut tiba-tiba bila nona Lim –tunangannya- meminta ayahnya menarik saham ketika pertunangan itu dibatalkan.

“Junhee,” Sungmin menggeleng. Saat ia ingin meraih pergelangan Junhee, gadis itu malah melenggang pergi. Berlari dengan kencang, berusaha menghilang dari muka bumi demi keputusan yang telah ia buat secara spontan.

@@@@@

Junhee terduduk di atas lantai kayu sebuah rumah kecil dengan pandangan kosong menerawang ke pemandangan kota Mokpo yang terpampang nyata di hadapannya. Kini ia berada di sebuah desa, di daratan tinggi kota Mokpo yang terletak cukup jauh dari Seoul setelah mengirimkan surat pengunduran diri kepada perusahaan tempatnya bekerja. Nam Junhee hanyalah seorang pengaguran. Untuk beberapa bulan ke depan, sampai ia merasa aman untuk kembali ke Seoul setelah kejadian yang membuat hatinya terluka begitu dalam.

Yang ia dengar dari mantan teman kantornya, Sungmin membatalkan pertunangan itu. Kondisi perusahaan tidak berubah, hanya saja hubungan Sungmin dengan pemilik saham sedikit merenggang. Kondisi Sungmin juga tak begitu baik, pria itu mengurus, tak begitu sehat dan sering terlihat menghabiskan wine sendirian saat malam tiba di ruangannya. Sejujurnya, Junhee merasa sangsi, ia jadi ingin ke Seoul karena mengkhawatirkan kondisi pria itu.

“Junhee-ya!” Titah itu membuyarkan lamunan Junhee. Suara neneknya itu cukup menggetarkan telinga. Cempreng dan kadang menyebalkan.

“Junhee! Palli, ada yang mencarimu.” Ujar neneknya itu dengan sedikit berat.

Kedua alis Junhee bertaut. Ia berharap orang yang mencarinya itu bukan siapa-siapa yang penting. “Nugu halmoni?” tanyanya tak juga bergegas ke pintu depan.

Mollayo! Cepat sana! Tidak baik membuat orang menunggu, lagipula kehadirannya diributkan oleh tetangga sebelah. Orang itu membawa mobil mewah, cepat hampiri dia! Dan katakan padanya untuk segera pergi dari desa sebelum orang-orang mengkotori mobilnya dengan tangan penuh lumpur!” Neneknya benar-benar cerewet. Sebelum Junhee bergegas ke depan, gadis itu menyahut, “ini musim dingin halmoni, lagipula Mokpo bukan kota tani!”

“Ah ye… aku melupakannya.” Gumam neneknya membuat Junhee menahan tawa.

Ia pun segera beranjak ke pintu depan, mendapati seorang pria berwajah tirus menatapnya dalam. Hati Junhee bergetar, dadanya terasa sesak mendapati kenyataan yang benar terjadi di hadapannya. Pria itu, Lee Sungmin.

“S…Su—”

“Nam Junhee, saranghae.” Ucap Sungmin sembari memeluk Junhee dengan erat. Pria itu seakan menikmati kesempatan yang ada tanpa ingin memberi celah sedikit pun antara dirinya dengan Junhee. Ia tak ingin melepaskan Junhee barang sedetik, seakan Junhee adalah morfin yang mampu membuatnya terkatung-katung dalam candu.

Kali ini Junhee tidak melakukan pergerakan berarti seperti apa yang telah dilakukannya sebelumnya. Hatinya luluh lantah setelah melihat kondisi Sungmin, ia jadi merasa bersalah. Harusnya ia tak meninggalkan Sungmin tanpa kabar, atau mengundurkan diri secara tiba-tiba setelah masalah itu. Mungkin, bagi sebagian orang masalah itu hanyalah masalah sepele. Tapi tidak bagi Junhee, karena selama ini ia yang paling tersakiti dengan sikap Sungmin yang selalu membuatnya terkatung dalam ketidakpastian.

Mianhae,” Sungmin berujar sembari merenggangkan pelukannya. Matanya menatap Junhee intens, kemudian kembali memeluk gadis itu dengan erat seakan tidak akan ada hari lain yang dapat menyatukan mereka.

Junhee benar-benar tak berkutik. Ia tersenyum tipis, membalas pelukan Sungmin dengan ling-lung. “Tidak, aku yang minta maaf. Aku terlalu kekanak-kanakan sampai memutuskannya secara tiba-tiba.”

Ani, aku yang terlalu egois. Aku tahu, ini pasti keputusan yang sangat berat bagimu. Kau hanya ingin menyelamatkan perusahaan, iya kan?” ucap Sungmin dibalas anggukan Junhee. Ya, hanya karena perusahaan juga orang-orang yang berada di dalamnya.

Keduanya terdiam dan hanya dapat saling berpelukan, mengeluarkan hasrat yang dipendam keduanya sejak lama. Mungkin kali ini Junhee harus mengalah, Sungmin sudah merelakan sesuatu demi dirinya. Saat Junhee ingin berucap, sebuah pukulan mendarat pada punggungnya. Kedua mata Junhee terbelalak, ia tahu siapa tersangka yang telah mengganggu susunan kosakata dalam benaknya itu.

Halmoni!”

Mwo? Kalian berbuat mesum di sini, eo? Dasar anak muda tak tahu malu! Kau Junhee, kenapa kau mau saja dipeluk oleh pria, eo!?” Teguran neneknya memenuhi suasana rumah, wanita yang telah berumur di atas 60 tahun itu terus melayangkan cantong nasi ke arah Junhee maupun Sungmin bergantian.

Junhee hanya dapat meringis, tapi tidak dengan Sungmin –karena pria itu terus tertawa sembari mengucapkan maaf berkali-kali. Sadar dengan tawa itu, Junhee malah tersenyum lalu segera memeluk neneknya dengan hangat agar wanita itu menghentikan tingkahnya yang dapat mencelakai tubuh ringkih Sungmin. “Mian, halmoni.”

Sungmin mengangguk, membungkuk berulang kali di hadapan nenek Junhee dengan penuh maaf. “Jwesonghamnida halmoni, jwesonghamnida. Aku Lee Sungmin, pacar Junhee… halmoni tidak keberatan kan bila aku memeluknya?”

Nenek  Junhee hanya dapat bergumam kesal. Hampir melayangkan cantong nasi ke punggung Sungmin untuk kesekian kalinya sebelum Junhee merebut benda itu dari tangan neneknya. “Halmoni, geumanhae!”

“Aish! Jinjja! Anak zaman sekarang.” rutuknya sembari meraih kembali cantong nasi dari genggaman Junhee. “Terserah kalian! Tiba-tiba kepalaku sakit,” sahutnya lalu masuk ke dalam kamar sembari memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa tegang.

Sepeninggal neneknya, Sungmin dan Junhee saling bertatapan. Keduanya kemudian tersenyum tipis, mengingat kejadian memalukan yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu. Junhee ingin berucap saat tiba-tiba Sungmin menyodorkan kupon melakukan apapun sembari bertitah dengan tegas. “Sekarang kau jadi milikku.”

Junhee mengangguk patuh, memanjangkan tangan kanannya untuk meraih kupon itu sebelum Sungmin menariknya mendekat untuk mencium bibirnya dengan lembut dalam kurun waktu yang sangat singkat. Junhee terhenyak, namun tak mampu pula menyembunyikan rona merah yang timbul pada kedua pipinya sehingga ia hanya dapat menundukkan kepalanya setelah ciuman itu.

Saranghae.” Sungmin berujar, menarik Junhee ke dalam pelukan hangatnya. Junhee mengangguk, membalas pelukan Sungmin dengan erat. “Na ttosaranghae, Lee Sungmin.”

END

Advertisements