image

Nama        : Goo

Judul         : It Must be Wrong Part [2/?]

Tag           : – Kim Sunyeong (OC)

–   Cho Kyuhyun

–   Lee Sungmin

–   and others

Genre        : Romance

Rating        : PG-15

Length       : Chaptered

Catatan     : Whew… minggu depan udah ujian semester aja. Selagi ada waktu, Goo ngepost nih 🙂 Terima kasih ya yang udah RCL part pertama. Nih, janjinya ditepatin… Semoga fanfic ini alurnya nggak kecepatan ><

 

Part 2

[On His Control]

“Aku tidak menyangka kalian akan berpacaran.”

Sungmin membuka suara, matanya menatap ke arah pengemudi bus yang tidak pernah bosan menatap jalanan Seoul yang kali ini tidak terlalu padat. Sunyeong yang duduk tepat di sebelahnya tidak segera menjawab. Matanya menerawang ke luar jendela, menatap jalanan Seoul yang meriah dengan berbagai jenis lampu berwarna di etalase-etalase toko. Ketika Sungmin tidak melanjutkan obroloan ke topik lain, Sunyeong akhirnya berani membuka mulut.

Sunbei, kamu sudah menyebutkannya untuk kesekian kali sejak beberapa menit yang lalu.”

Tawa Sungmin pecah. Pria berseragam rapi itu menatapnya dengan lamat. Matanya hampir hilang akibat tawa yang menguar. Membuat Sunyeong kesal, sekaligus senang. Setidaknya ia bisa melihat senyuman Sungmin yang selalu menjadi mood-makernya sejak dua tahun yang lalu. Senyuman yang kini jarang didapatinya. “Aku… benar-benar terkejut. Bahkan, aku membuat postingan blog mengenai kalian. Sepertinya Kyuhyun kena karma, ia tidak pernah menyukai jenis wanita sepertimu sebelumnya.”

 “Jinjjayo?” Sunyeong berpura terkejut, meski sebenarnya ia muak dengan topik yang diusung Sungmin malam ini. Rencana untuk mengecek blog Sungmin pun gagal total, Sunyeong tidak ingin menyakiti hatinya sendiri dengan melihat ucapan selamat yang tersemat di dalam Diary elektronik Sungmin itu.

“Eo, ia tidak suka dengan ulzzang. Ia tidak suka dengan wanita berambut pendek sepertimu, ya… meskipun kakimu jenjang, sih. Memangnya pertemuan pertama kalian bagaimana? Kyuhyun tidak pernah menceritakannya kepadaku.” Tuntut Sungmin dengan penasaran.

Benar-benar mengesalkan. Sunyeong tidak tahu cara mengelak. Ia tetap terbawa arus pembicaraan Sungmin yang malah membuat kepalanya blank. Bagaimana bila Sungmin tahu bahwa ia dan Kyuhyun baru saja bertemu tadi siang? Tentu, jawaban pertama adalah ekspresi marah Kyuhyun yang mengesalkan. Meski tampan, tetap saja, itu menakutkan.

“Rahasia.” Sunyeong berujar, menahan tawa sinis karena sadar dengan jawabannya yang tidak jelas. Sungmin menatapnya dengan kedua mata yang melebar. “daebak! Kalian pasti sangat cocok. Lagipula, aku lelah pula melihatnya berpacaran dengan gadis centil. Tidak jarang mereka menggodaku, membuat mereka segera diputuskan Kyuhyun secara tiba-tiba—itu alasan Kyuhyun disebut sebagai playboy. Ia tidak ingin aku dan dirinya bertengkar.”

“Hubungan kalian apa sih sebenarnya, sunbei?” tanya Sunyeong cepat, alih-alih menutup keterjutannya dengan alasan keplayboyan Kyuhyun yang disebut Sungmin barusan. Sempat ia teringat akan ocehan Mi Ja mengenai Kyuhyun. Gadis itu tidak rela melihatnya berpacaran dengan Kyuhyun karena keplayboyannya. Baginya, pacar Kim Sunyeong tetaplah seorang Kim Heechul, sosok ulzzang pria yang cantiknya melebihi wanita.

“Adik-kakak. Kami sudah berteman sejak kecil, maka dari itu, hubungan kami seperti adik dan kakak.”

“Sejak kecil?” Sunyeong keheranan. Ia sudah berteman dengan Sungmin sejak kecil, tetapi melihat Kyuhyun pun baru tadi siang. Padahal ia sering bermain bersama Sungmin, bahkan menurutnya tiada hari yang tidak dihabiskannya bersama pria itu. Dulu. Dan Kyuhyun…, tidak pernah dikenalnya pria itu.

“Eo, aku sering berkunjung ke rumahnya. Kami sering bermain game console bersama, atau ikut piknik ke atas bukit bersama keluarganya.”

Sunyeong mengangguk, kemudian melimpahkan pandangan ke luar jendela bus. Pikirannya kembali menerawang mengenai hubungan Sungmin dengan Kyuhyun. Hubungan yang membuat sebuah dinding di antara ia dan Sungmin terbata lebih tinggi. Sebenarnya, Sunyeong enggan memikirkannya. Namun, hal itu terus terngiang dalam benaknya. Mau tak mau membuatnya ikut menyetujui apa yang telah dihasilkan oleh pemikiran itu.

“Sunyeong-ah, gwencanha? Sejak tadi kau sering sekali melamun. Adikmu tidak apa-apa, kan? Apa Kyuhyun tahu mengenainya?”

Aniyo, nan gwencanhayo. Adikku tidak apa-apa.” Jawab Sunyeong dengan senyum lebar. Hal itu membuat Sungmin tertawa renyah, kemudian ditepuknya pundak Sunyeong yang kembali sibuk menonton pemandangan di luar jendela. “Kapan-kapan kau harus mengajaknya bertemu adikmu. Aku takut, adikmu akan mengamuk bila melihat kakaknya bersama seorang pria yang tidak dikenal  sedang berkencan.”

Napas Sunyeong terhela diam-diam. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban meskipun hal yang diutarakan Sungmin tidak pernah akan direalisasikannya. Baginya, hubungannya dengan Kyuhyun hanyalah sebatas membayar ganti rugi. Lagipula, mereka tidak harus berkencan. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang perlu dikhawatirkannya kini hanyalah kelangsungan hubungannya dengan Sungmin. Sunyeong terlanjur menyukai Sungmin dan ia tidak ingin seluruh usahanya runtuh hanya karena ganti rugi menyebalkan itu.

Ya, kalau perlu Sungmin harus tahu apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Kyuhyun.

 

_______

Maldo andwae.”

Sunyeong merasa tubuhnya bergetar. Suara itu khas suara geraman pria, menusuk gendang telinga karena sang pemilik menggeram tepat di sampingnya. Ketika geraman itu hilang, secepatnya Sunyeong menatap pria itu dengan kerlingan sebal. “Wae? Dia teman baikmu, bukan? Aku juga mengenalnya dengan baik. Jadi, tidak akan ada masalah bila ia tahu semuanya, Kyuhyun-ah”

“Aku bilang tidak.” Kali ini Kyuhyun mendesis. Langkahnya di atas lapangan sekolah terhenti dan ia balas menatap Sunyeong dengan mata elangnya, memusatkan seluruh fokusnya pada mata Sunyeong yang mengerjap ciut. “Wae? Kenapa kau bersikeras, sih?”

Dan tahulah apa yang terjadi pada Sunyeong. Ia terdiam sepi, mengalihkan pandangan pada tanah yang dipijakinya dengan kikuk. Alasannya hanya satu, ingin hubungannya dengan Sungmin tetap terjaga dengan baik. Namun alasan itu tidak dapat diutarakannya kepada Kyuhyun. Terlalu sulit untuk diceritakannya kepada orang yang dekat dengan Sungmin. Tanda bahaya mengerjap otaknya, ia tidak boleh ember dengan rahasia sendiri.

Aniya, hanya ingin saja.” ujar Sunyeong sekenanya.

“Ya sudah, tidak perlu.” Kyuhyun menyahut, kembali berjalan dengan langkah besarnya. Sunyeong yang sempat terdiam tidak ikut mengimbangi langkah pria berseragam lengkap itu, ia hanya memandang punggung Kyuhyun dengan rasa sebal yang memuncak di kepalanya. Bila saja ia tidak bertemu dengan pria itu di ruang dance beberapa hari yang lalu, bila saja Mi Ja tidak bersikap menjijikkan kepadanya, mungkin semuanya tidak pernah terjadi.

“Yaa! Palli!”

Kyuhyun memekik dari kejauhan sembari mengacung-acungkan tangan kanannya. Kali ini mereka harus berakting seperti dua sejoli yang dimabuk cinta. Akting sepasang kekasih yang tiba ke sekolah bersama dengan tangan yang saling bergenggaman. Benar-benar memabukkan. Membuat Sunyeong ingin muntah saat mendengar titah pria itu saat mereka bertemu di sebuah mini market dekat sekolah beberapa menit yang lalu.

Dan demi apa pun, Sunyeong menuruti pria itu. Dirinya seperti sedang berada di lingkaran setan. Ia dikontrol oleh Kyuhyun yang seenaknya menyuruhnya ini-itu. Sebelas duabelas seperti pembantu, meski kedudukannya lebih tinggi. Entah mengapa sikapnya yang cuek tidak dapat dielakkan begitu mendengar suara Kyuhyun yang berat, penuh ketegasan juga tajam. Sunyeong tahu, ia harus mencari jalan keluar atas perilaku Kyuhyun yang seenaknya. Ia harus membuat Kyuhyun tunduk kepadanya juga mengakhiri kepura-puraan mereka.

Ketika mereka berjalan menyusuri koridor, ribuan mata menyapu mereka dengan berbagai artian. Sunyeong yang awalnya bersikap cuek akhirnya merasa aneh saat Kyuhyun makin mengeratkan genggamannya sembari bercakap sepatah-dua-kata mengenai hal-hal umum, seperti “Sebentar belajar apa?” “Pulang jam berapa?” dan lain sebagainya. Wajah Kyuhyun berubah menjadi lebih manis dan lebih tampan, meski sulit diakui Sunyeong. Senyum pria itu membuat senyumnya ikut terkembang meski kesal masih memenuhi ubun-ubun kepala.

“Sunyeongi-ya, lihat aku bertanding basket ya saat jam makan siang.” Kali ini Kyuhyun mengakhiri perjalanan penuh kenistaan mereka dengan ajakan yang cukup menarik perhatian. Sunyeong membeo di depan pintu kelasnya, menatap Kyuhyun dengan tampang tidak percaya. “Basket?”

“Em…,”

Ani, maksudku, ka—”

“Eo, naega kalkae. Jangan lupa! Saat makan siang.” Ujar Kyuhyun mengedipkan salah satu matanya sembari mengusap puncak kepala Sunyeong dengan lembut. Namun Sunyeong tidak begitu memperhatikannya dan lebih memberi perhatian pada kata basket yang diucapkan Kyuhyun barusan.

“Yaa! Kau bengong juga diberikan kedipan maut pacarmu itu! tidak takut pada antifan?” Mi Ja menyahut dengan keki dari kursinya, menyadarkan Sunyeong yang tergagu mengingat-ngingat pertandingan basket yang tidak pernah absen ditontonnya.

Ani, aku hanya terkejut.”

“Terkejut melihat kegombalannya? Aku yakin, pria itu akan memutuskanmu dalam waktu beberapa hari. Kau belum terlambat Sunyeong-ah, kembalilah pada Heechul oppa!” ujar Mi Ja masih dengan emosi yang memuncak akibat ketidakpuasannya menerima kenyataan bahwa Sunyeong berpacaran dengan playboy sekolah, Cho Kyuhyun.

Sunyeong ingin mengelak dan bertanya mengenai kedudukan Kyuhyun dalam tim basket sekolah. Namun ia urung mengingat kepuraannya menjadi pacar Kyuhyun. Bisa saja timbul pertanyaan ambigu pada teman-temannya bila ia tidak tahu posisi pacar sendiri dalam tim basket. Pertanyaan itu akan disimpannya. Berharap saat makan siang nanti terjawab dengan jelas, siapa Kyuhyun yang sebenarnya. Ia pun tidak sempat membalas ujar Mi Ja yang menyebut sebuah nama yang sejak kemarin tidak menghubunginya. Kim Heechul.

Harusnya orang itu sudah kalang kabut melihat fancafenya gempar akibat pemberitaan Sunyeong dengan Kyuhyun. Atau mungkin saja Heechul sedang meredam emosi akan dirinya yang tidak pernah bercerita mengenai sosok pria yang kini menjadi pacar, ralat pacar bohongannya. Walaupun Sunyeong lebih berharap pria itu tidak tahu apa-apa. Lebih baik Heechul mendengarnya dari Sunyeong sendiri, bukan dari pemberitaan memuakkan itu.

 

_______

Kondisi lapangan basket indoor itu tidak terlalu ramai. Hanya empat orang duduk di bangku penonton melihat latihan tim basket, bahkan beberapa di antaranya hanya memainkan handphone sembari berbaring di atas bangku. Berbeda saat pertandingan inter atau antar sekolah. Itulah presepsi yang timbul pada otak Sunyeong saat melangkahkan kaki di lapangan. Tentu saja, demi melihat Kyuhyun, Sunyeong rela menggantikan makan siangnya dengan dua bungkus roti juga sekotak susu. Ia tahu, dua jenis makan siang itu tidak akan mampu menjanggal perutnya hingga jam 5 sore nanti.

“Yaa! Neo!”

Pekikan yang tidak asing bagi Sunyeong. Wajahnya terdongak dan segera menangkap bola basket yang terlempar ke arahnya. Bila Sunyeong tidak tanggap sedikit saja, maka bola itu akan mengenai wajahnya. “Mworago?!” Sunyeong balas memekik, kemudian melemparkan kembali bola basket kepada pria yang telah berbuat menyebalkan itu padanya.

Ani, ternyata instingmu kuat juga, khajja! Main basketlah bersamaku.” Sahut pria itu sembari menerima bola dari Sunyeong.

Sunyeong menggeleng keras. “Andwaeyo, aku yang akan melihatmu bermain, Kyuhyun-ah.”

“Kau takut?”

Mendengar nada mencemoh dari sosok Kyuhyun memanaskan otak Sunyeong. Ia menatap Kyuhyun yang kini mengenakan pakaian olahraga sekolah. Tubuhnya terlkihat lebar, meski tidak bidang seperti atlet basket kebanyakan. “Ani, aku bukan pemain basket. Aku pemerhati saja.”

“Cih, bilang saja bila kau—”

“Baiklah, kau cerewet sekali, sih.” Gertak Sunyeong sembari turun dari bangku penonton. Gadis itu tahu, Kyuhyun akan tetap menggodanya untuk bermain sampai dirinya setuju atas ajakan itu.

“One on one.” Kyuhyun menyahut sembari mendribble bolanya menuju sisi lapangan yang tidak digunakan tim basket untuk berlatih. Sunyeong mengangguk jutek, ia mengerti mengenai basket. One-on-one, dribble, pivot, dunk… dan banyak lagi. Dan sikap Kyuhyun seperti mencemohnya bahwa wanita tetap makhluk yang lemah dan tidak banyak tahu mengenai olahraga.

“Aku dengar kau menyukai basket, eo?”

Sunyeong menghela napas. “Kau tahu cara bermain basket?” tanyanya balik memutarbalikkan topik. Diam-diam Sunyeong menatap pergerakan kaki Kyuhyun, tidak ada gerakan pasti ingin ke arah mana. Kyuhyun mengangguk, ia mendribble bolanya mengitari Sunyeong.

“Dribblemu masih belum sempurna.” Sahut Sunyeong kemudian merebut bola dari tangan Kyuhyun dan membawanya lay up menuju ring. Dan tentu saja, satu angka untuk Sunyeong. Kyuhyun sempat terkejut, namun wajah pria itu kembali memperlihatkan senyum tipis yang  mencekam. Sunyeong yang awalnya ingin berleha-leha segera tanggap dengan memasang kuda-kuda normal dengan mata tertuju pada pergerakan tangan Kyuhyun yang menguasai bola.

“Kenapa kau tidak masuk tim basket wanita?” Kyuhyun bertanya sembari mendribble bola. Ia menatap Sunyeong lamat, gadis itu mulai berpeluh dan napasnya terengah-engah akibat permainan tanpa pemanasan mereka. “Aku hanya suka memperhatikan. Bukan berarti ingin menjadi atlet.”

Setelah mendengar pengakuan itu Kyuhyun membawa bola ke sisi ring dan melempar bola dengan penuh percaya diri. Satu angka tercipta dari Kyuhyun. Sunyeong tidak peduli, ia membiarkan Kyuhyun membawa bola tanpa ingin merebutnya. Namun, ketika bola sudah dikuasainya, Kyuhyun seperti tidak punya kesempatan untuk merebut. Sunyeong membuat defense yang kuat dengan menghalau pergerakan Kyuhyun lewat punggungnya. Tidak ada rasa lelah saat tangannya terus mendribble sembari membaca pergerakan Kyuhyun yang berapi-api. “Kau tahu apa yang membuat seorang pemain basket selalu menang?”

Mwoga?”

“Kesabarannya.” Jawab Sunyeong sembari bergerak ke kiri Kyuhyun yang tidak terjaga. Melihat kesalahan penyerangannya, Kyuhyun segera mengejar Sunyeong dan mengambil tempat di hadapan gadis itu. Ia tersenyum mengejek, bola basket tergenggam erat oleh Sunyeong yang terhalau untuk menshoot bloa ke arah ring untuk menciptakan angka fantastik. “Kau harusnya ingat jika proporsi tubuh pemain juga memperkuat kesempatan untuk menang.” Ejek Kyuhyun sembari merebut bola.

Sunyeong pikir Kyuhyun akan mendribble dan kembali mencetak angka, tetapi pria itu malah berdiri di hadapannya dengan senyum yang terkembang. Diam-diam jantung Sunyeong berdentam tidak karuan. Terlebih saat Kyuhyun memperpendek jarak antara keduanya. “Charesseo nae chagiya.” Ujarnya sembari mengacak puncak kepala Sunyeong dengan kasar.

Michin!” Sunyeong mengumpat dalam diam saat Kyuhyun bergeser menjauh sembari membawa bolanya mendekati tim basket. Pria itu. Sunyeong kesal melihatnya yang beranjak tanpa mengucapkan kata-kata yang lebih rasional dibandingkan charesseo nae chagiya.

Dari sisi lapangan itu Sunyeong berbalik. Ia menatap para pemain basket, juga Kyuhyun yang asyik mengumpulkan bola. Sepertinya mereka telah selesai bermain basket. Beberapa di antaranya melirik Sunyeong dengan pandangan menggoda ke arah Kyuhyun. Kali ini Sunyeong mengerti mengapa Kyuhyun mengajaknya bermain basket. Lagi-lagi akting untuk kepura-puraan mereka. Mengingatnya membuat tingkat kekesalan Sunyeong akan Kyuhyun makin memuncak. Meski belum mendapatkan jawaban pasti mengenai kedudukan Kyuhyun dalam tim basket, Sunyeong memilih untuk beranjak dari lapangan indoor itu. Masih ada sedikit waktu untuk menyantap makan siang daripada berdiam di sisi lapangan tanpa alasan pasti.

Namun, baru saja Sunyeong melangkah keluar ruangan. Kyuhyun telah mengejarnya sembari berteriak manis memanggil namanya. Segera Sunyeong menghentikan langkah, ia menatap Kyuhyun dengan kerlingan sebal sembari mengacak pinggang. “Mwoga?”

Ani, pergilah.” Sahut Kyuhyun cuek.

Lidah Sunyeong terasa kelu tiba-tiba, ia menjauhkan pandangan dari Kyuhyun dan segera memutarbalikkan langkah menuju kantin. Dasar! Sunyeong mengumpat di dalam hati, baru menyadari sikap Kyuhyun yang termasuk ke dalam kepura-puraan. Pria itu mencoba menjadi romantis dengan mengejar sang gadis di hadapan teman-temannya.

Dan benar saja, Sunyeong cukup mudah termakan akting itu, membuatnya ingin segera menohok diri sendiri karena terlalu bodoh mengartikan sikap Kyuhyun. Dirinya benar-benar berada dalam kontrol Cho Kyuhyun. Kontrol yang memuakkan.

 

To be continue…

 

Don’t forget to RCL guys 🙂 Fanficnya akan dilanjutkan bila ada yang baca, kalau nggak ya… nggak bisa dilanjutin dong, ya. Thanks for reading~~

Advertisements